Toxic Friendzone

Toxic Friendzone
Tidak Punya Hak



"Elfata orang baik Jenn,"


Jennita menghela nafasnya pelan, ia tidak ingin berpikiran buruk tapi hatinya tidak pernah mengarah pada pikiran baik mengenai lelaki itu. "Sudahlah," gumam Jennita sembari membuka buku matematika di tangannya, seribu rumus kehidupan yang membuat kepalanya semakin pening.


"Aku tidak tau akan menjawab apa nanti."


Kayla menoleh lalu tertawa, "Jawab saja apa yang kau pikir benar."


Semilir angin berhembus pelan, seiring dengan matahari yang mulai meninggi. Di bangku taman sana terdapat dua orang gadis dengan buku di tangannya, sebentar lagi mereka akan menghadapi ulangan matematika. Namun keduanya hanya berbekal nekat, bukan materi. Jennita mendengus, jika sudah berhadapan dengan matematika tidak ada yang ia pikir benar.


"Ayo ke kelas," ajak Kayla sembari membuang bungkus permennya.


Keduanya berjalan beriringan menuju kelas dan sesekali tertawa. "Wajahnya tadi itu sangat lucu," kekeh Kayla seraya menutup mulutnya sendiri, ia tidak bisa menahan tawanya lagi ketika mengingat betapa awkwardnya suasana di mobil tadi.


"Raut wajahnya persis seperti ojol!" gelak Jennita seraya memukul bahu Kayla pelan, kedua sahabat itu terus tertawa keras. Menertawakan betapa malangnya raut wajah Kenzie ketika menjadi supir pribadi mereka.


Kayla tersenyum senang, entahlah ia merasa cukup puas akan hal itu. Mengingat raut wajah Kenzie yang pasrah, namun terlihat memendam amarah yang kapan saja akan meledak semakin membuat Kayla tertawa keras. Cukup membuatnya puas, namun belum setimpal dengan apa yang telah lelaki itu perbuat padanya.


"Kayla!"


"Eh kak Azka?" gumamnya ketika melihat seorang lelaki yang berlari ke arahnya.


Lelaki itu tersenyum sembari menormalkan nafasnya, lalu ia merogoh sakunya dan mengambil sesuatu yang mampu membuay Kayla tercengang. Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan ia sekarang.


"Ini buat kamu."


Kayla menghela nafasnya dan melirik Jennita yang tersenyum menatapnya seolah berkata bahwa terima saja pemberian lelaki itu.


"Hah buat aku?" beo Kayla sambil menunjuk dirinya sendiri, siapa yang tidak speechless jika seorang Azka Melviano Deerwod tiba-tiba saja memberikannya coklat.


Azka terkekeh lalu mengambil tangan gadis yang masih tercengang itu dan menaruhnya disana, sangat cantik. "Iya Kay, ini untukmu dan semangat untuk hari ini."


Lelaki itu tersenyum dan mengacungkan jempolnya lalu segera pergi, meninggalkan Kayla yang masih mematung di tempat.


"Sadar woy!"


Jennita mengguncang tubuh sahabatnya kasar ketika melihat Kayla masih mematung di tempat.


"Aku nggak akan makan coklatnya." gumam Kayla sembari memasukkan coklat itu ke sakunya. "Ayo Jenn ke kelas!" Kayla menyeret tangan sahabatnya yang membuat Jennita terpekik kaget. Terkadang sifat Kayla yang berubah-ubah benar-benar membuatnya kaget.


Keduanya segera masuk kelas untuk bersiap menghadapi ulangan matematika yang sebentar lagi akan di mulai.


***


Brak!


"Berani sekali kau!"


Kenzie menendang pintu itu kasar dan menampilkan seorang lelaki yang terkekeh sembari menyesap rokoknya perlahan. Sudah ia duga, jika sebentar lagi akan ada boom yang siap meledak dan ternyata tidak butuh waktu lama. Azka membuang puntung rokoknya dan menghampiri Kenzie Lelaki itu tertawa, "Tenang, kenapa kau suka sekali marah-marah?" ujarnya sambil menepuk pundak Kenzie pelan yang ditepis kasar oleh empunya.


"Bacot anjing!"


Azka mengangkat tangannya seraya terkekeh, ketika Kenzie menarik kerah seragamnya kasar. Sepupunya ini begitu pemarah. "Santai brother.."


"Jauhin Kayla!" desis Kenzie tajam yang membuat Azka semakin tertawa. Berani sekali lelaki ini untuk menyuruhnya, memang apa hak nya?


Lelaki itu berdecih dan melepas tangan Kenzie kasar. "Kau tidak punya hak untuk itu!"


Kenzie terdiam dan menendang meja di depannya kasar. Azka tidak salah, ia memang tidak punya hak untuk itu.


Lelaki itu tersenyum smirk, tidak apa-apa. Untuk saat ini ia memang belum memiliki hak apapun terhadap gadisnya, tapi akan ia pastikan Kayla terikat dengannya untuk selamanya.