Toxic Friendzone

Toxic Friendzone
Pahlawan Kesiangan



Suasana keributan yang sudah bagaikan pasar di ruangan tersebut, semakin membuat seorang gadis yang sudah panik semakin menjadi-jadi. Ketakutan dalam dirinya begitu mendominasi, ia benar-benar tidak tahu tindakan apa yang harus di ambil sekarang.


Jennita tak henti-hentinya berusaha membangunkan sahabatnya tersebut. Ini membingungkan, sekaligus aneh tapi nyata. Bahkan orang yang pingsan pun memiliki gejala sebelum terjatuh. Tapi ini? Jangankan gejala,  sahabatnya ini tidak ada keluhan apapun ataupun raut wajah kesakitan. Bahkan sebelum pingsan pun masih ada tawa kebahagiaan di wajah cantik Kayla.


"Kayla kenapa?"


Melihat kepanikan Jennita membuat teman sekelasnya yang lain datang menghampirinya. Kelas yang tadinya bagaikan pasar kini mendadak hening, dan semuanya mengerumuni Jennita dan Kayla yang dalam keadaan pingsan.


"Nggak tahu, tadi tiba-tiba saja pingsan. Tolong panggilkan petugas UKS cepat!" teriak Jennita entah pada siapa, ia benar-benar cemas pada Kayla. Terlebih ia mengetahui sahabatnya ini memiliki daya tahan tubuh yang lemah.


"Tolong, semuanya minggir!! Kenapa ditonton sih emang disini ada sirkus?"


Jennita sangat emosi, karna teman sekelasnya yang lain mengerumuninya seperti tengah menonton topeng monyet. Dirinya saja sesak, apalagi Kayla yang pelipisnya sudah dibanjiri oleh keringat dingin. Mungkin Kayla tidak merasakannya, tapi tetap saja Jennita khawatir karena begitu banyak orang yang mengerumuninya. Hal itu mungkin saja membuat pernafasan sahabatnya terganggu.


Bahkan petugas UKS sekolah belum juga datang, yang membuat Jennita bertambah kesal. Semuanya hanya menonton tanpa berniat menolong. Minimal ada yang menawarkan akan menggendong sahabatnya ini menuju tempat pengobatan. Jika ia bisa membawa Kayla sendirian, maka ia tidak akan meminta tolong pada siapapun.


Tapi lihat? Hanya tontonan yang ia dapatkan dari penghuni kelasnya.


Kadang lebih baik diam daripada menceritakan masalah kita pada orang lain, karna sebagian besar orang hanyalah penasaran bukan peduli. Sebagian lagi bisa saja mencibir atau menghakimi kita diam-diam.


Sifat tersebut sudah mendarah daging bagi penduduk bumi, mereka yang tanpa tau kejelasan dari permasalahannya hanya akan memberi cibiran yang pedas.


Inilah yang membuatnya enggan memulai pertemanan dengan penghuni kelas lain, dan hanya nyaman bersama Kayla yang polos dan ceria.


"Minggir semuanya!!"


"Kayla? Kenapa dia Jenn?"


Seorang laki-laki datang membelah kerumunan yang begitu menyesakkan Jennita, yang tengah memangku Kayla. Meski ia berteriak sampai tenggorokannya kering pun, tetap tidak akan bisa membubarkan para manusia yang tengah menontonnya heboh bagaikan kerumunan wartawan dan pecinta gosip.


Jennita diam, ia mendengar seseorang yang berteriak nyaring, untuk membubarkan kerumunan unfaedah tersebut. Tanpa disuruh dua kali semuanya melesat cepat dan kembali ke aktivitasnya yang sebelumnya.


"Kayla, bangun! Aku takut," lirih Jennita sambil menepuk-nepuk pipi sahabatnya.


"Kenapa dia?" tanya seorang laki-laki yang baru datang tersebut.


Kayla yang mendengar ucapan laki-laki tersebut menyaut ketus tanpa melihat, siapa yang bertanya.


"Jika hanya menanyakan apa, kenapa, dan bagaimana lalu setelahnya hanya menonton. Mending per--"


Ucapan Kayla terpotong dan Jennita tersentak ketika ia merasakan ada tangan yang mencoba mengambil Kayla. Ia menoleh dan terkejut melihatnya, sebuah pemandangan yang begitu ajaib. Akhir-akhir ini Jennita merasa terus saja melihat fenomena manusia yang mengalami sedikit perubahan. Mungkin jika sahabatnya tidak dalam keadaan pingsan, maka bisa dipastikan ia akan  terkejut sekaligus senang.


Lamunan Jennita buyar dan ia mendapati sahabatnya itu sudah hilang dari pandangannya, dengan cepat ia berlari mengejar laki-laki yang membawa Kayla pergi tadi.


"Tunggu!"


Teriakan Jennita menggema di koridor yang membuat pasang mata mengarah padanya. Tapi apa pedulinya? Terserah bagaimana pandangan orang terhadap dirinya, ia sama sekali tidak peduli. Para manusia memang akan cepat menyimpulkan sesuatu, tanpa mengetahui akarnya terlebih dahulu. Hal itulah yang menciptakan buah bibir yang tidak bermutu dari orang yang kurang kerjaan, dan diterima dengan baik oleh orang idiot.


Teriakan yang menggema tersebut tidak digubris sama sekali. Laki-laki tersebut tetap berjalan, bahkan mempercepat langkahnya. Umpatan demi umpatan, Jennita keluarkan entah pada siapa. Tadi saja, orang-orang asik menontonnya dengan penuh suka cita, tanpa ada yang berniat menolong. Juga petugas UKS yang tak kunjung datang semakin membuatnya kesal setengah mati.


Biasanya petugas kesehatan, akan langsung datang seperti ambulance bila ada orang yang sakit.


Lalu sekarang? Pertolongan datang tiba-tiba dari orang yang tak terkira  dan langsung membawa sahabatnya pergi begitu saja. Entah kemana manusia aneh tersebut membawa sahabatnya pergi Katakanlah manusia aneh, jalannya saja secepat kilat yang membuatnya kesulitan untuk mengejar. Ruangan UKS pun sudah terlewatkan dan sekarang adalah jalan menuju tempat parkir.


Jennita berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya, kakinya tidak mampu untuk menyamai langkahnya dengan seseorang yang membawa sahabatnya tersebut. Ia kemudian mendongak menatap punggung laki-laki tersebut yang masih terlihat. Namun Jennita juga melihat seorang laki-laki yang tak asing bahkan sangat familiar di matanya, tengah mengikuti laki-laki aneh tersebut dari belakang. Ia memicing, berusaha melihat sesiapa orang tersebut.


Meski melihat dari belakang dan hanya terlihat punggungnya saja, tapi Jennita merasa mengenalnya. Namun laki-laki yang sepertinya ia kenal tersebut, tiba-tiba saja berhenti dan malah berbalik pergi. Dengan cepat ia melompat ke kelas lain untuk bersembunyi, kejutan seolah menjadi judul ceritanya hari ini. Tak heran jika ia mengenali punggung tegap itu dari belakang tadi, yang ternyata  adalah dia. Iya, Jennita mengenalnya dan bisa gawat kalau ia dilihat. Apa yang akan ia jawab bila ditanya?


Jennita yang masih bersembunyi seperti pencuri, mengelus dadanya pelan ketika melihat laki-laki tersebut sudah pergi. Kemudian ia keluar dari kelas tersebut, untuk mengikuti kembali orang yang membawa sahabatnya. Belum ada dua langkah, Jennita kembali membeku di tempatnya. Bagaimana bisa? Dua kata tersebut langsung muncul di kepalanya. Ini bukan cerita fantasi, dimana orang menghilang akan muncul di tempat yang berbeda.


"Matilah....." gumam Jennita pelan ketika melihat  laki-laki yang sudah pergi tadi, tiba-tiba sudah berada di hadapan orang yang ia tengah ikuti. Ia yakin sebentar lagi akan ada sebuah drama baru. Siapa lagi kalau bukan?


Kenzie.


***


Langkah kakinya yang lebar, menunjukkan betapa tidak sabarnya jiwa serta raganya ini untuk bertemu dengan gadis yang sempat ia antar tadi. Namun sekarang, ia akan menjemputnya lagi karna sesuatu akan terjadi. Langkah yang tergesa tiba-tiba terhenti, ketika melihat seorang laki-laki yang ia kenal tengah menggendong gadis yang ia cari.


Kenzie menggeram marah, kobaran api menyala-nyala dalam dirinya. Tangannya terkepal dan matanya berkilat merah. Ia mengenal laki-laki tersebut, bahkan sangat mengenalnya. Kenzie menghentikan langkahnya sejenak sambil memejamkan matanya erat. Kemudian ia berjalan kembali, untuk mengikuti langkah yang terlihat tergesa tersebut.


Sudut bibirnya tertarik keatas, ia akan melihat kemana laki-laki tersebut membawa miliknya.


Tidak.


Itu ide yang buruk, lebih baik cepat-cepat ia mengambil miliknya. Sebelum sentuhan dari tangan orang lain tersebut, menempel pada tubuh Kayla.


Seperti halnya waktu adalah uang, Kenzie tidak akan mengulur waktu hanya untuk melihat kemana laki-laki itu membawa Kayla dan bla bla bla.


Lebih cepat, tentu saja lebih baik.


Kenzie berbalik pergi, amarahnya susah padam dan berganti dengan smirk diwajahnya. Jangan mengira ia akan pergi begitu saja dan meninggalkan gadis kecilnya. Itu tidak akan terjadi, tidak akan pernah. Sejengkal saja Kay-nya pergi maka ia akan menariknya kembali, untuk pulang ke dunianya.


Senandung kecil keluar dari mulutnya, lalu dengan santai ia mengambil sepuntung nikotin dan menyalakannya. Hembusan asap mengepul, sedang langkahnya tidak terhenti sedikitpun. Merokok di kawasan sekolahnya, sangatlah dilarang. Jangankan menikmatinya, memegang saja akan di kenakan sanksi di keluarkan secara langsung dari sekolah. Namun siapa yang berani menghentikannya?


Tidak seorang pun.


Langkahnya yang terlihat santai menandakan hatinya sedang tenang. Namun siapa yang tau? isi kepalanya yang dipenuhi dengan rencana yang  berbisa. Ken kembali tersenyum. Sepertinya membuat kejutan akan sangat menyenangkan, untuk orang yang istimewa.


Seluk beluk sekolahnya ia sudah sangat tau luar dan dalam. Kenzie tahu kemana laki - laki tersebut akan membawa Kayla pergi, karna itu ia akan memberi kejutan yang istimewa. Kenzie menjatuhkan puntung rokoknya dan menginjaknya. Sekarang ia tidak sedang berjalan di koridor yang di penuhi oleh para manusia.


Langkahnya yang angkuh mulai tergerak, di lorong yang di penuhi oleh kegelapan jauh dari keramaian serta tanpa sinar mentari yang menyinari langkahnya. Kenzie terus berjalan hingga ia menemukan sebuah pintu kayu usang yang masih terkunci. Dengan cepat ia mengambil sesuatu di sakunya, sebuah benda yang berisi ratusan kunci kecil-kecil dengan pahatan yang berbeda. Setelah membukanya dan menguncinya kembali, Kenzie melanjutkan langkahnya kembali.


Kemudian dengan cepat Kenzie sudah menghadang jalan laki-laki tersebut sambil bersedekap dada. Senyumnya semakin terbit ketika melihat raut wajah datar dari orang di hadapannya ini. Sudah ia duga gadis kecilnya akan dibawa ke tempat parkir, untuk menuju rumah sakit.


"Minggir!!"


Kenzie menaikkan alisnya sebelah mendengar kalimat tajam tersebut.


"Jangan ketus-ketus sama saudara sendiri." ujar Kenzie sambil tersenyum.


"Sejak kapan kita saudara sialan!"


"Begitu banyak kemarahan. Oke, langsung saja keintinya, berikan Kayla!"


"Kayla? Will never!"


"Jangan sekarang! Cepat, berikan dia!"


Desis Kenzie tajam yang membuat laki-laki dihadapannya itu malah tertawa sinis. Kata 'jangan sekarang' yang dilontarkannya menandakan bahwa ia tidak ingin berdebat sekarang. Laki-laki itu semakin tertawa, bahkan ia mengangkat dagunya dengan angkuh. 


"Apa urusannya denganmu?"


"Urusan? Banyak. Cepat berikan, selagi aku memintanya baik-baik!"


"Gimana tuh kalau cara tidak baik? Jadi penasaran." tantang laki-laki tersebut dengan nada ledekannya, yang semakin membuat emosi Kenzie tersulut. Apa ia sedang di remehkan sekarang?


"Penasaran? Maka rasakanlah!"


Setelah mengatakan hal tersebut datang lima orang berbadan kekar, berseragam hitam lengkap dengan senjatanya. Kelimanya menunduk hormat sebelum menerima perintah dari tuannya. Kenzie hanya menunjuk dengan dagunya, lalu dengan cepat kelima anak buahnya sudah memegangi laki-laki tersebut.


"Lepaskan aku! Dasar pengecut!" teriak laki-laki tersebut sambil berontak sekuat tenaga.


Kenzie berjalan maju, lalu dengan cepat ia mengambil Kayla dan mendekapnya erat.


"Pengecut? begitulah cara tidak baik-ku dan rasa penasaran mu akan terbayarkan! Have fun, Azka."


Kenzie melenggang pergi setelah mengatakan hal tersebut. Umpatan demi umpatan serta makian kasar, ia dengarkan dengan senyuman. Memang apa alasan untuknya marah sekarang?


...tbc....