
...Setiap tindakan yang di ambil, nyatanya selalu timbul keraguan yang mendalam....
...___________________...
Bungkusan dari berbagai macam snack berserakan di atas meja kantin, di tambah dengan suasana yang begitu sunyi. Nyatanya bukan hanya mencicipinya saja, namun memakan semuanya dari segala jenis makanan ringan yang ada.
Seorang laki-laki yang duduk di samping gadis itu, hanya menatapnya datar. Rasanya ia ingin menghancurkan seluruh kantin sekarang, sampai rata tak tersisa. Ia tersenyum miring, biarlah gadis kecilnya ini menikmati apa yang ia tengah lakukan. Tenaganya pun tidak berkurang atau merasa lelah hanya untuk menasehati, ralat amarah. Suasana hatinya yang sekarang sedang tidak memungkinkan untuk mencegah apalagi memberi sebuah nasehat ataupun petuah. Rasa panas dalam dirinya bergejolak hingga, jika ia mengeluarkan sepatah kata maka akan berakibat buruk.
Laki-laki itu mengangkat sudut bibirnya sambil bersedekap dada, memandang intens pemandangan yang membuat kepalanya menjadi panas. Setiap hari, secara tidak langsung gadis kecilnya ini selalu melakukan hal-hal yang membuat rasa dalam dirinya berkobar.
Tapi ia bisa apa? Selain bisa menurutinya. Satu hal yang paling ia takutkan, bahwa melihat rasa takut di mata gadisnya untuknya. Seperti tadi ia sempat membentak bahkan menggulingkan meja kantin, yang membuat mata indah itu berpaling darinya meski sesaat. Karena sebuah kata larangan yang dilontarkannya. Meski sederhana, tapi baginya itu adalah kematian dunia.
Lihatlah sekarang, jangankan orang-orang yang akan mengisi perut laparnya. Bahkan pelayan kantin pun tidak terlihat di manapun, di kantin yang bagaikan tempat perjamuan kerajaan ini. Semuanya bagaikan kelinci yang masuk sarangnya jika sang raja hutan telah tiba. Tapi tidak semua menyadarinya, seperti burung yang terbang bebas dilangit, tanpa mengetahui bahwa dirinya tengah di intai pemburu atapun pemangsa.
Mungkin cinta diam-diam itu biasa, bahkan sangat biasa bagi para kaum pemalu ataupun rasa tidak pantas yang timbul di hati. Namun hukuman diam-diam itu terdengar lebih mengerikan dibandingkan secara langsung. Mengerikan jika diketahui sang korban, begitupun sebaliknya. Terror, sebuah kata yang berhasil membuat bulu kuduk merana bagi para pendengarnya apalagi yang mengalami langsung. Mungkin itu yang sedang dilakukan laki-laki itu.
Tapi, mungkin juga tidak.
Siapa yang tahu? Melihat dari sudut bibirnya yang terangkat misterius membuat orang yang melihatnya akan menaruh kecurigaan yang mendalam sekaligus ketakutan. Hanya dirinya dan yang di atas yang mengetahuinya.
Sebuah kursi berdecit ringan, dan seorang laki-laki yang sedari tadi duduk dengan tenangnya itu bangkit dan pergi entah kemana. Kayla masih saja menikmati makanannya tanpa menghiraukan segala sesuatu yang terjadi. Bahkan sahabatnya yang pergi tidak ia hiraukan sama sekali. Fokusnya hanya satu, yaitu makanan yang ia paling inginkan dari dulu, tengah ia nikmati dengan penuh suka cita, mie instan.
Siapa yang tidak menyukainya? Selain praktis, harganya juga terbilang ekonomis, rasa serta aromanya yang begitu menggugah di indra perasa, membuatnya dicintai oleh para penduduk bumi. Para penikmatnya juga tidak menampik betapa bahayanya makanan instan tersebut. Hal itu yang menyebabkan tidak semua orang bisa menikmatinya secara bebas.
Meski dirinya berbinar bahagia, namun hatinya sedari tadi selalu bertanya. Kenapa ia diberi izin untuk memakan semua ini? terlebih makanan instan yang tengah ia nikmati ini. Selama 17 tahun ia menapakkan kakinya di bumi, baru kali ini Kayla menyentuh serta memakan makanan yang ia impikan dari dulu yang tak lain adalah mie instan. Makanan yang paling pantang untuk dimakannya, jika bundanya sampai tahu maka ia akan diberi ceramah 1001 bahasa yang akan membuat telinganya menjadi panas.
Hari yang sama detik, menit, serta jam. Seorang laki-laki terlihat menjauhi area kantin. Mata tajamnya hanya fokus pada satu titik, meskipun ia tengah berbicara lewat telfon. Bagaikan melihat setitik cahaya di kegelapan malam, matanya menghunus bagai sebilah pisau yang membelah kegelapan yang menyelimuti kalbunya, hanya dengan setitik cahaya yang lebih terang dari ribuan cahaya di pandangan matanya. Seorang gadis kecil periang yang menemani kesepian jiwanya.
"Ya, siapkan semuanya!"
"........"
"kosongkan!"
"........"
"Protes? Bunuh saja!"
"........"
Tut.
Sambungan telepon ia putuskan, karna ia tidak suka berbasa-basi lebih lama lagi. Kemudian matanya melihat gadis yang ia pandangi sedari tadi itu celingukan mencarinya. Ia berjalan perlahan untuk mendekat, dengan senyum yang tidak luntur sedikitpun.
Setelah mangkuk yang berisi mie instan itu habis tidak tersisa, baru Kayla menyadari bahwa Kenzie menghilang. Ia pun celingukan mencari keberadaan sahabatnya itu. Setelah terjadinya perdebatan kecil tadi, dengan mudahnya ia diberikan izin memakan apapun yang ia inginkan. Kayla yang tidak menyia-nyiakan kesempatan jadilah ia memakan segala yang diinginkannya selama ini, dengan berpikir positif tentu saja.
Mata bulatnya tak lelah menelisik sekitar, untuk mencari keberadaan sahabatnya. Kayla juga baru menyadari kalau keadaan kantin sekarang kosong, dan hanya ada dirinya dan Ken. Namun entah kemana perginya laki-laki itu sekarang.
Tiba-tiba bibir mungilnya terangkat diiringi matanya yang memancarkan kebahagiaan. Ketika melihat seorang laki-laki berperawakan tubuh tinggi kekar dengan pahatan wajah bak dewa Yunani datang kearahnya. Namun tetap saja mata gadis itu memancarkan sedikit rasa takut yang terselip.
"Dari mana saja?"
Kayla bertanya dengan ragu bahkan suaranya hanya berupa bisikan. Kenzie terus mendekat dan ia mendengar pertanyaan dari gadis kecilnya itu dan kemudian tersenyum penuh arti. Ia tidak menjawab namun ia mengangkat tangannya keudara seakan menjawab pertanyaan dari gadis kecilnya itu, tangan yang berisi sebuah handphone. Kayla yang mengerti hanya mengangguk. Kenzie beralih duduk disebelah gadis itu, tangannya terulur mengelus surai hitam legam Kayla sambil tersenyum.
"Udah selesai? Hmm."
"Udah." Kayla mengangguk polos yang membuat Kenzie tersenyum gemas.
"Kita ke kelas?"
Setelah sampai pada pintu keramat yang tertutup rapat itu, Kayla hanya menatapnya dan kemudian berbalik lagi memandang sahabatnya. Ia kemudian berbalik lagi setelah melihat Kenzie yang tersenyum sambil mengangguk seolah mengatakan 'semuanya akan baik-baik saja'
Dengan ragu Kayla membuka pintu, ia merasa sedikit takut setelah kejadian tadi pagi. Setelah pintu terbuka seketika matanya membola melihat pemandangan di hadapannya. Kayla kembali menoleh kebelakang dan mendapati bahwa Kenzie telah pergi dari sana. Ia melangkah menuju tempat duduknya dan melihat sahabatnya tengah fokus dengan buku di tangannya. Ternyata kelasnya kosong, tidak ada guru dan para penghuninya semua bersantai ria. Kayla terkejut, karna ini bukan hal yang biasa terjadi.
"Dimana gurunya?" tanya Kayla sambil menepuk punggung Jennita yang membuat empunya berjingkat kaget.
"Uh, kau membuatku kaget saja!"
Jennita mengelus dadanya sambil menormalkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Kayla yang melihatnya juga ikut kaget, kemudian ia melirik buku yang dipegang oleh sahabatnya. Lalu ia mengerti kenapa Jennita begitu kaget, karna sahabatnya itu terlalu fokus membaca novel bergenre horror tersebut.
Setiap kaum hawa di bumi pasti menyukai novel yang memiliki genre romantis. Namun berbeda dengan dua kaum hawa ini. Kayla dan Jennita adalah partner yang cocok untuk urusan novel bergenre horror, misteri, dan thriller. Kayla mengulum senyum dan seketika tawanya pecah.
"Hati-hati nanti hantunya keluar dan mengikutimu!"
Kayla tertawa terbahak-bahak ketika melihat wajah sahabatnya yang pucat seperti melihat hantu beneran. Jennita hanya mendengus dan kembali fokus pada bukunya.
"Jadi dimana gurunya?" Kayla bertanya sekali lagi setelah menghentikan tawanya.
"Tidak tau, katanya guru yang mengajar tiba-tiba sakit."
Jennita meletakkan bukunya seolah ia tidak berminat lagi. Ia duduk menghadap sahabatnya yang juga seperti tengah berpikir. Sebenarnya dari tadi ia juga penasaran, namun ia alihkan dengan membaca novelnya karna Kayla tidak berada disini tadi untuk bercerita.
"Aneh," gumam Kayla pelan.
"Tapi untung sih, jadi aku gak kena hukum hari ini." lanjutnya dengan cengiran lebar. Jennita yang melihat hanya menggelengkan kepalanya pelan, sambil menepuk dahinya. Menurutnya sahabatnya ini sangat polos.
"Oh iya, dari mana saja kau?" tanya Jennita setelah teringat bahwa Kayla baru datang entah dari mana.
"Ehehehe, kantin."
"Kantin? Bukannya tadi kau ditarik pergi sama Kenzie?"
Kayla yang mendengar pertanyaan Jennita, langsung menceritakan kejadian di kantin dan apa saja yang ia makan hari ini dan itu membuat perutnya penuh. Jennita yang mendengarnya hanya mangut-mangut paham. Namun setelahnya, "Apa?!"
Teriakan Jennita menggema di kelasnya yang membuat semua penghuni kelasnya menatapnya dengan pandangan yang berbeda-beda. Jennita yang ditatap seperti itu segera kembali duduk dan tersenyum canggung. Ia kembali menatap Kayla yang sepertinya juga terkejut karna teriakannya.
"Kenzie? Memberimu izin memakan semua itu?" tanya Jennita penuh penekanan dengan pandangan yang begitu menelisik, ini terasa begitu mustahil.
"Humm."
Kayla hanya mengangguk polos yang membuat Jennita memijat pelipisnya. Kepalanya mendadak pening memikirkan segalanya. Entah dari mana ia harus bertanya dulu.
"Apa kau tidak merasa curiga?"
Jennita bertanya tanpa melihat sahabatnya, ia masih memijat pelan pelipisnya. Merasa tidak ada jawaban, Jennita menoleh dan melihat Kayla menelungkupkan wajahnya seperti orang yang tertidur. Ia kemudian merasa heran, baru saja ia bicara dan Kayla tertidur begitu cepat?
"Kayla!"
Jennita menepuk pelan punggung Kayla, jikalau sahabatnya itu tertidur tidak akan membuatnya merasa terganggu. Namun setelah sekian lama ia menepuk pelan punggung kecil itu, sama sekali tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan Kayla akan terbangun. Jennita mendadak panik dan ia membalik wajah sahabatnya dan mendapati wajah pucat serta mata yang tertutup rapat.
"Kayla!"
Jennita berusaha membangunkan Kayla dengan menepuk pipi gadis itu pelan. Tadi sahabatnya baik-baik saja bahkan sempat bercanda dengannya. Lalu sekarang? Ia tidak mengerti, Jennita sungguh panik dibuatnya.
Kayla sahabatnya tiba-tiba saja jatuh pingsan.
...Tbc....