
Leo beranjak dari kasur yang ia tempati buat tidurnya ketika sampai dirumah ini. Leo melihta jam yang bertengger di atas dinding kamar ini menunjukkan pukul sepuluh pagi, yang berarti itu artinya Leo terlambat sekolah tapi sabodo lah, toh Leo juga udah biasa nggak masuk sekolah.
Cklek...
Pintu kamar ini pun terbuka, muncullah Arsya dibalik pintu ini, "mandi sono, terus lo turun sarapan, mama sama papa gue udah berangkat dan lo masih tidur, lihat ini udan siang ***." kata Arsya dan kata terakhir dihadiahkan dengan bogem dilengan Leo.
Leo mendaratkan bokongnya diatas sofa ruang tami rumah sepupunya ini, Leo langsung menyambar remote tv yang tergeletak diatas meja. Leo sedari tadi hanya mengganti-ganti channel televisi.
"Lo kabur lagi dari rumah atau gimana?" tanya Arsya yang kini berjalan menuju Leo duduk.
Leo menoleh kesumber suara dan kembali melihat layar televisi yang ditayangkan film kartun, "lo ngagetin gue bego," kata Leo singkat.
"Yodah biasa aja kali mas kalo ngomong," kata Arsya dengan nada diimut-imutkan seraya merampas snack yang dibawa oleh Leo.
"Abisnya lo ngagetin gue anjing, untung gue gak punya penyakit jantung," Kata Leo sambil mengambil alih snack dari tangan Arsya.
"Yodah jawab pertanyaan gue Adeleo." kata Arsya dengan nada geram sambil memindahkan channel televisi.
Leo mengunyah makanan sambil menjawabnya, "gue diusir dari rumah, yodah gue pergi simple kan?" kata Leo enteng.
"Tumben banget Leo gak masuk sekolah?" kata Bastian seraya berjalan menyusuri koridor sekolah.
"Mana gue tau, ya kalo gue emaknya gitu," jawab Exel enteng.
"Yaa sapa tau bego." kata Bastian sarkas.
Selama berjalan menuju koridor, siswa-siswi berlarian menuju lapangan sekolah, entah ada apa Bastian dkk pun ikutan berbalik dan berlari menuju lapangan juga.
"Eh ada apaan sih kok lari-larian gitu?" tanya Carel ke salah satu siswa yang lari-larian ini.
"Anu Stefani sama komplotannya bikin ulah sama golongan tomboy itu." jawabnya dan langsung melenggang pergi ninggalin ketiga cowok itu yang kini diam seribu bahasa.
"Ah sial kalo kenapa sih si step itu ikut-ikutan bully mereka kan yang seharusnya yang pantas ngebully mereka itu kiya bukan dia." kata Bastian panjang lebar dengan nada marah nya.
Dengan cepag Bastian dkk berlari menuju lapangan, sesampainya dilapangan Bastian langsung menyingkirkan siswa siswi yang sedang asik menonton dipinggir lapangan. Bastian pun sekarang tepat dibelakang Stefani dan komplotannya dan disusul oleh Carel dan Exel.
"Ketua nya nggak masuk lagi," gumam Bastian. Exel dan Carel mendengar gumaman itu hanya mengangguk, namun Exel dan Carel sadar kalau anggukannya tak diketahui oleh Bastian.
Stefani tak sadar dengan kedatangan antek-antek Leo, Calista dan kedua temannya menyadari itu langsung menyunggingkan senyumnya.
"Ngapain lo senyum-senyum ha? Jijik gue lihat senyum lo." kata Stefani dan berjalan mendekat kearah Vania.
"Kalian jijik sama kita? Kita lebih jijik sama kelakuan lo apalagi sama gincu merah lo." kata Belva sambil menunjuk tepat diwajah Sftefani, Bella dan Clara.
Stefani dibuat kemarahannya diujung tombak, tangannya pun langsung mengepal, "lo kalo ngomong dijaga tuh mulut, nggak pernah diajarin sopan santun?" teraikanya.
Calista dan yang lainnya tercengang mendengar pertanyaan sekaligus pernyataan dari Stefani tadi, "apa? Gue bilang kayak gitu sesuai fakta! Gue dari kecil diajarin sopan santun, orang tua gue juga agamanya kuat nggak kayak kalian bitch!" kata Agnes dengan menekankan kata terakhirnya.
Seluruh siswa yang kini berdiri dipinggir lapangan terlihat sekali kalo mereka kaget dan cukup tercengang mendengar jawaban-jawaban dari Calista, Agnes dan Bellva. Para siswa dan siswi tak percaya seorang pendiam cukup berani berkata seperti iti didepan Stefani, padahal para siswa disini semua pada takut dengannya.
Seketika itu juga, para siswa dan siswi terdiam seribu bahasa ketika Bastian, Carel dan Exel berjalan maju kearah golongan nerd. Saat Bastian berdiri tepat didepan nerd yang itu membuat Stefani dan antek-anteknya terdiam dengan seribu bahasa.
"Lo semua nggak berhak ngebully mereka, mereka nggak salah!" kata Bastian tepat didepan wajah Stefani.
Stefani dan antek-anteknya makin tercengang dan melongo, seketika itu juga Stefani merubah raut wajahnya dengan memohon kepada bastian, "pliss jangan bilang Leo ya masalah ini," katanya.
"Serah gue dong, dasar cabe. Sekali lagi gue tau lo ngebully mereka awas aja." ancam Bastian dan langsung pergi berlalu sambil menyeret tangan Calista, Exel dan Carel pun juga begitu.
Stefani melihat perlakuan itu terdiam mematung, "urusan lo sama gue belom selesai jalang." geram Calista.
Bastian menghentakkan tangan Calista begitu saja dikoridor kelas XI yang kini cukup sepi.
"Jangan harap lo udah bebas dari bully, gue nyelametin lo karna lo sama temen-temen lo hanya gue yang berhak ngebully bukan Stefani." kata Bastian dengan nada santai namun sedikit membentak.
Calista berbalik yang sekarang posisinya memunggungi Bastian, "siapa suruh lo nyelametin gue sama temen gue? Gue sama sekali nggak butuh bantuan itu!" kata Calista dan langsung memutar badannya menghadap kearah Bastian.
"Yuk cabut," intruksi Calista kepada Bellva dan Agnes untuk segera pergi dari sini.
Calista berhenti ketika sudah berjalan tiga langkah, calista pun berbalik badan dan, "oh ya gue sampe lupa, makasih lo udah nolong gue, tapi gue ga perlu pertolongan tadi. Tapi gapapa deh orang gue masih punya ati," kata Calista dengan senyum smirknya.
Saat itu juga mereka masing-masing ninggalin koridor ini, Bastian menuju rooftop sedangkan Calista menuju kelas. Bastian merogoh saku celananya dan mengambil sebuah benda kotak, setelah nama yang dicarinya ketemu langsung mendial nomor tersebut.
Leo terjengkit kaget ketika mendengar dering yang cukup panjang dari ponselnya, dengan segera Leo meraih ponsel tersebut dan melihat caller idnya lalu menggerser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ketelinganya.
"Halo ada apa Bas?" sapa Leo dari telfon.
"Ngapa lo ga sekolah? Eman cuy lo ga sekolah anjing" kata Bastian dari sebrang.
"Elah bacot banget sih lo, ngapain lo nelpon-nelpon gue hm?" tanya Leo to the point.
"Stefani sama antek-anteknya ngebully Nerd itu ditengah lapangan, alhasil gue nyelametin mereka," jelas panjang lebar dari Bastian.
"Ntar sepulang sekolah ke markas aja lo ceritain semuanya, gue mau boker." kata Leo dan langsung memutuskan sambungan teleponnya sepihak.
Bastian mengumpat kesal melihat kelakuan buruk Leo yang begini, ketika ada hal yang mau disampein selalu saja Leo memutuskan telfonnya sepihak dan itu pasti mau boker, ingat boker ya, tolong digaris bawahi.
Vania terlihat sangat bahagia, ketika sudah bertemu dengan keluarganya, hal yang paling disukai oleh Vania yaitu ketika keluarganya berkumpul lengkap tanpa terkecuali. Vania tersentak kaget ketika ponselnya berdering yang menandakan telfon masuk, dengan segera Vania menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ketelinga.
Alvaro yang melihat perubahan wajah Vania, langsung menatap Vania seolah-olah berkata 'siapa yang nelfon?' Vania hanya mengendikkan bahu saja sebagai jawabannya.
"Halo" sapa Vania.
"...."
"Yodah lah nunggu gue pulang aja ceritanya, biarin aja udah," jelas Vania kepada sang penelfon.
"...."
Saat itu juga Vania langsung memetuskan sambungannya sepihak dan sudah bisa dipastikan kalau Agnes kini sedang kesal kepadanya.
"Yodab cabut kelas, kita udah telat pelajaran apalagi ini mapel guru kiler." kata Bellva dan langsung berjalan menuju kearah kelasnya.
Dan dugaannya benar selalu benar, kalau kelas sudah dimulai yang itu bertanda mereka telat. Baru saja mengangkat tangan mau ngetuk pintu Leo dan antek-anteknya datang, what the hell?
"Telat juga ya kalian, gue kira kalian nerd yang takut dengan telat." kata Leo dengan smirknya yang ahh tak bisa diuraikan.
Agnes hanya mengangkat alisnya sebelah, "emang cuma kalian yang boleh telat hem?" tanya-nya. "Kita-kita juga bisa telat!" bentak Agnes tepat didepan wajah Leo dan menunjuk wajahnya dengan jari telunjuknya.
Perdebatan pun berterus-terusan sampai mereka tak sadar bahwa bu Hetty sudah berada diambang pintu dengan berkacak pinggang.
"Ekhem..." deheman bu Hetty membuat mereka kaget dan melihat bu Hetty dengan senyum manisnya itu.
"Udah telat berantem lagi, sekarang kalian harus nyapu seluruh penjuru sekolah." bentaknya dengan suara dua kali lipat oktaf.
"Gara-gara lo kan gue jadi kena hukum." cerocos Calista sambil menyapu halaman.
Selama hukuman berlangsung mereka cepat-cepat menyelesaikannya sebelum bel pulang bunyi. Tak lama itu pula, bel pulang mulai terdengar seantero sekolah, dan saat itu juga hukuman mereka selesai mereka pun heranjak menuju kelas untuk mengambil tas dan pulang.
"Bu, hukuman kami selesai." jelas Calista ketika masuk kelas.
"Yaudah sekarang kalian duduk," ujar bu Hetty. Kami pun duduk ditempat kami semula.
Leo pun tanpa duduk langung ngambil tas dan berjalan kedepan untuk pulang, tapi kegiatan Leo terhenti ketika mendengar deheman dari bu Hetty.
"Carel, Bastian, Exel duduk. Siapa yang nyuruh kalian pulang?" kata bu Hetty sambil berkacak pinggang.
Bastian mendengus kesal, "kan bel pulang udah bunyi setengah jam yang lalu ibu." kata Bastian sambil menekankan kata terakhirnya.
"Ibu nggak nyuruh pulang dulu, ada hal yang mau ibu sampein, sekarang kalian kembali ketempat duduk kalian masing-masing." teriak bu Hetty dan mereka langsung duduk kembali.
Murid dikelas ini diam dan menunggu bu Hetty untuk melanjutkan pembicaraannya itu. Bu Hetty melihat wajah satu persatu dari wajah muridnya dan bu Hetty nunjuk Bellva, Agnes dan Calista yang empuya nama merasa ditujuk pun saling pandang memandang kebingungan.
"Kalian bertiga kan biasanya sama Vania, Vania ini sering nggak masuk, kemana kok absen terus-terusan?" tanya bu Hetty.
Mereka bertiga menatap bu Hetty dengan melongo, mereka bingung dengan pikiran mereka masing-masing, bu Hetty pun kembali bersuara.
"Katanya Vania sakit, sakit apa? Jawab ibu ya?" katanya lagi dan itu semakin membuat mereka bertiga melongo.
Calista menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu, "anu bu, emm Vania... Iya Vania sakit bu," kata Calista dengan wajag ragu, gugup, takut ahh tak bisa diartika.
"Ahh iyaa bu Vania sakit, tapi dia besok baru bisa pulang dari rumah sakit." jelas Agnes dan langsung mendapat tatapan mematikan dari Calista dan juga Bellva.
Seluruh siswa dikelas ini menatap kearah Calista, Agnes dan juga Bellva terkecuali Bastian dan antek-anteknya.
"Yaudah yang ibu tunjuk, berarti itu yang ikut mewakili kelas buat jenguk Vania" jeda bu Hetty sebelum melanjutkan katanya, "Belva, Calista, Agnes, Carel, Bastian dan Exel kalian mewakili, udab nggak pake protes" lanjutnya.
Bastian mendengar itu langsung mendengus kesal dan langsung mengalihkan pandangannya menuju jendela luar. Belva yang mengetahui perubahan wajah Bastian dia gak terima kemungkinan perdebatan pun mulai.
"Meskipun lo benci sama temen gue, gitu-gitu juga dia juga temen lo." kata Belva sambil menatap wajah Bastian dengan tatapan yang tak biasa.
"Serah gue dong," kata Bastian sambil mengangkat satu alisnya.
Bu Hetty mendengar perdebatan itu hanya berkacak pinggang sambil geleng-geleng kepala.
"Kalian ini ya, bisa diam atau tidak sih!" katanya dengan suara yang ahh seperti halilintar.
Mereka pun langsung terdiam diri dengan seribu bahasa di pikiran mereka masing-masing.
"Bastian, Leo tadi ijin ke ibu, kalau dia tidak sekolah karna dia ada acara keluarga dan ibu barusan tadi habis telpon dia ibu minta Leo juga ikut jenguk Vania di rumah sakit." kata bu Hetty panjang lebar dan mendapat tatapan kaget dari Belva, Agnes dan juga Calista.
Sesampainya di Rumah Sakit, bu Hetty menyuruh Calista untuk berjalan dibagian depan sebagai petunjuk arah, Calista tanpa menolak suruhan dari grunya itu.
"Sok tau kamarnya lo, belagu lagi," kata Leo dengan sedikit menyindir, tetapi Calista mendengar itu hanya cuek.
"Diem lo," kata Calista sarkastik, "noh coba lihat, ini tuh ruangannya Vania," sambung Calista lagi dan Leo hanya cuek.
Bu Hetty pun mengetok pintu ruangan ini, dari luar terdengar suara beberapa orang yang sedang tertawa. Calista, Agnes, dan Belva tersenyum kecil dibibirnya ketika mendengar tawa tadi.
Tak lama itu pula, pintu terbuka dan muncullah cowon remaja berpawakan tinggi, gagah, rambut acak-acakan pakai kaos oblong, celana selutut tak lupa sepatu vansnya, ya dia adalah Alvaro kakak kedua dari Vania. Saat itu juga, Calista, Agnes dan Belva langsung menerobos masuk keruangan Vania tanpa disuruh masuk oleh Alvaro.
"Silahkan masuk," kata Alvaro lembut mempersilahkan yang lain untuk masuk.
Mereka pun masuk kedalam, Leo baru saja masuk sudah memperlihatkan tatapannya yang sangat tak suka dengan Vania.
"Bagaimana keadaan kamu nak?" tanya bu Hetty sambil mengusap puncak kepala Vania.
"Alhamdulillah saya baik kok bu," jawab Vania dengan senyum diwajahnya, yang siapapun melihat senyumnya itu langsung terasa nyaman dihati.
"Jangan sering-sering tidur sini ya, kan habis ini kamu mau pertandingan di sekolah kan ya," kata bu Hetty sambil mengasih sedikit motivasi untuk Vania.
"Halah cewek manja ya ternyata lo, cuma sakit pusing, batuk, pilek aja sampe opname di rumah sakit," cibir Leo sambil bersedekap dada.
"Terima kasih untuk ejekannya," jawab Vania sekenannya.
Leo mendengar jawaban Vania hanya mendengus kesal dan langsung berpamitan pulang terlebih dahulu dibanding bu Hetty.
"Heran ibu lihat Leo, dia selalu begitu, padahal kakaknya rajin loh," kata bu Hetty sambil melihat kepergian Leo yang lama kelamaan menghilang dari penglihatan.
Vania melihat bu Hetty sambil tersenyum dan, "mungkin Leo begitu punya alasan tersendiri bu, kita tidak boleh suudzon terlebih dahulu ke orang lain," jelas Vania panjang lebar dan diangguki oleh bu Hetty.
****