Tomboyish Girl

Tomboyish Girl
Dua Puluh Empat



Melihat Bella yang hampir saja menampar Vania, Leo pun langsung berlari kearah mereka dan mecekal tangan Bella. Sedangkan video dan rekaman pun masih berlanjut tanpa sepengetahuan Bella.


"Apaan sih lo." bentak Bella sambil menghentakkan tangannya agar terlepas dari cengkraman Leo.


"Lo yang apa-apaan. Buat apa sih lo gangguin dia?" tanya Leo dengan menekankan setiap kata. "Lihat ae tanggal main gue."


Leo pun langsung menarik tangan Vania pelan untuk menjauh dari antek-antek Stefani. Dan Vania pun mengikuti kemana ia akan dibawa Leo dan sampai di lorong mau menuju rooftop sekolah, mereka berhenti disana.


"Lo gapapa kan?" tanya Leo sambil meneliti keadaan Vania.


Vania melihat perlakuan Leo pun sedikit tersenyum, "gue gapapa kok."


Kini Vania dan Leo salinh diam dan menatap satu sama lain. Yang ada dipikiran mereka saat ini adalah mereka seneng entah itu karna apa. Dan akhirnya mereka pun tersadar dari lamunan ketika ponsel Vania tiba-tiba berdering.


'Bang Raka' gumam Vania. Vania pun langsung mengangkat telfonnya dan menjauh dari Leo.


"...."


"Iya bang. Gue abis ini kesana langsung." kata Vania dengan sedikit sebal melihat kakaknya yang begitu over.


"...."


"Hmm."


Vania pun kembali dan langsung menuju kelasnya untuk mengambil tas dan segera ke rumah sakit. Sebelum ia keluar kelas ia pun menghampiri Loe dan teman-temnnya dibangku paling belakang dan pojok.


"Le, makasih baut yang tadi." ucap Vania dan langsung berbalik melanjutkan jalannya.


"Gue balik dulu ya." pamit Vania kepada sahabatnya.


Vania pun berjalan melewati koridor kelasnya dan ia selalu mendapat tatapan kebencian dari siswa siswi. Dan Leo pun mengejar Vania dengan membawa tas ranselnya.


"Vania." teriak Leo. Dan sang empunya nama pun berhenti dan berbalik kearah Leo.


"Lo mau kemana?" tanya Leo dengan nafas ngos-ngosannya.


"Gue mau pulang." jawab Vania dan langsung kembali berjalan meninggalkan Leo yang masih menetralkan nafasnya.


Leo yang melihat Vania kembali melanjutkan jalannya pun ia kembali mengejar Vania. Leo pun langsung mencekal tangan Vania dan Vania pun hampir saja jatuh kalau Leo tidak cepat-cepat menahannya. Mereka pun saling pandang dan seketika juga para siswa dan siswi pun sudab melingkari Vania dan Leo. Secara Leo cowo badboy yang sangat anti kepada cewe dan Vania seorang cewe tomboy yang jarang sekali berteman dengan teman-teman yang lain. Menyadari itu, Vania cepat-cepat berdiri dengan pipi yang merah, sedangkan Leo, ia hanya menggaruk tengkuknya yang sudah pasti tak gatal.


"Bubar woy bubar." teriak Leo mengusir siapapun yang berada disini dan dengan polosnya, mereka pun bubar dengan sendirinya.


Setelah semua bubar, Vania langsung lari dan menuju parkiran, ia tak peduli kalau Leo harus berteriak-teriak nyebut namanya, yang penting sekarang vania harus cepet-cepet sampai di Rumah Sakit. Leo pun terhenti dari larinya ketika ponselnya berdering sedari tadi.


'Shit'  umpat Leo.


Leo mengambil ponselnya dan ternyata Caraka menelponnya dengan cepat Leo mengangkat panggilan dari Caraka tadi.


"Iya halo bang."


"..."


"Oh iya iya. Tapi ini Vania udah dijalan kayak nya bang. Abis ini gue nyusul." jawab Leo dan langsung memutuskan sambungannya sepihak.


Dan benar, mobil Vania sudah tidaj ada diparkiran. Dengan cepat Leo melajukan mobilnya untuk mengejar Vania dan benar Vania masih belum jauh dari arena sekolah yang berarti Leo masih bisa mengikuti Vania dari belakang.


Vania sedikit mempercepat laju mobilnya, ia sadar bahwa ada yang sedang mengikutinya. Vania tidak tau siapa yang sedang mengikutinya. Persetan dengan mobil dibelakang.


Vania pun sudah tergesa-gesa untuk cepet sampai di ruangan kakaknya. Dan sekarang ia sudah sampai dirumah sakit dimana ia akan melaksanakan kemo. Vania pun berlari menuju ruangan Caraka untuk segera melakukan kemo.


"Hai bang," sapa Vania saat ia baru saja masuk.


"Hai," sapa Caraka sambil menoleh kearah Vania.


Vania pun duduk disofa ruangan kakanya ini, "bang, vania udah siap buat kemo." katanya


"Yaudah ayo. Bentar lagi mama juga sampe kesini." jawab Caraka sambil berjalan keluar.


Vania pun mengikuti kemana Caraka akan berjalan. Dan benar dari arah depan, Dewi sudah tersenyum kearah Vania dan Caraka. Melihat itu, Vania langsung berlari kearah mamanya dan langsung memeluknya.


"Hai ma,"sapa Vania. "Mama ngapain kesini?


"Mama mau nemenib anak mama kemo," jawab Dewi sambil tersenyum.


"Yaudah ya ma, Vania kemo dulu." kata Vania dan sambil mengecup pipi mamanya itu.


Vania kembali berjalan megikuti Caraka yang sudah terlebih dahulu meninggalkannya. Kini Dewi pun mengikuti langkah Vania, namun tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya.


"Tante Dewi." sapa seseorang tadi. Ya dia adalah Leo.


"Leo." sapa balik Dewi.


"Iya tante. Tadi Lei dikasih tau sama bang Raka kalo sekarang Vanua sedang dirumah sakit. Tapi tadi Vania sedang sekolah, emangnya ada apa ya tante kalo boleh tau?" tanya Leo sambil sangat berhati-hati dari setiap kata yang ia ucapkan.


Mendengar pertanyaan dan kepedulian Leo kepada Vania, Dewi pun akhirnya menceritakan semuanya tentang keadaan Vania kepada Leo. Dan kini Dewi berjalan menuju kursi ruang tunggu dan diikuti oleh Leo.


"Jadi Vania selama ini terkena penyakit yang mematikan. Vania terkena kanker otak stadium 4. Kata dokter-dokter stadium 4 stadium yang udah sangat parah dan kebanyakan orang tidak akan bisa selamat. Tiga teman Vania yang terkena kanker otak sudah meninggal satu tahun yang lalu." cerita Dewi panjang dan dengan diikuti air mata yang sudah lolos keluar dari persembunyiannya. Leo melihat itu pun ia jadi merasa bersalah, karna Leo, Dewi jadi menangis mengingat penyakit anaknya.


"Jadi? Kanker Vania sudah sangat parah?" tanya Leo memastikan.


Dewi menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia melanjutkannya, "ya. Bisa dibilang begitu. Tante, om, sama kakaknya sudah sering membujuknya untuk operasi, tapi dia selalu tidak mau. Tante hampir putus asa untuk membujuknya, tante gak tega melihat dia setiap 2 kali seminggu harus melakukan kemo." Cerita Dewi dengan muka yang sangat teramat sedih. "Tante mohon jagain Vania ya, Leo. Selama ia menginjak SMA cuma kamu cowok satu-satunya yang pernah main kerumah dan begitu dekat dengan keluarga tante. Vania susah dibilangi kalo disuruh berhenti buat jadi atlit karate." samgunganya.


Leo mendengar cerita tentang Vania pun merasa hidup Vania begitu hancur, ia harus meminum obat-obatan dan melakukan kemo. Leo tau Vania cewe yang begitu tegar yang sampai sekarang ia selalu ceria dan seperti tidak punya masalah sama sekali namun kenyataan berbalik.


"Iya tante, Leo bakal berusaha buat jagain Vania." jawab Leo tegas dan itu membuat Dewi tersenyum.


Entah kenapa, Leo ingin sekali mengenal Vania lebih dalam, mengetahui tentang kehidupan Vania. Akan tetapi disisi lain, Leo ingin sekali mengerjain Vania lagi dan lagi karna bagi Leo, mengerjain Vania itu sudah menjadi kebiasaannya.


"Tante kesana dulu ya, nanti kamu nyusul aja kalo kemonya sudah selesai." pamit Dewi dan langsung pergi meninggalkan Leo sendiri diruang tunggu.


'Jangan sampai dia tau tentang keadaan Vania. Yg ada dia malah lebay.' gumam Leo sambil merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.


Leo mengotak-atik layar ponsel tersebut dan sampai ada notif line dari Bastian. Leo segera membuka notif tersebut.


[Line]


Bastian Dinersy : Le, ada tugas matematika dan tugas nya kelompokan dan lo tau, gue sekelompok sama Calista, Carel sama Agnes dan Exel sama Bellva. Dan lo sama Vania.


Leo membaca chat dari Bastian pun tersenyum miring. Ia tak akan rela jika Vania satu kelompok sama yang lain terkecuali dengan sahabatnya. Dan seketika Leo sadar dan ia mengendikkan bahunya. Ia merasa risih jika satu kelompok dengan Vania. Leo masih ragu dengan jalan hatinya yang tau harus kemana. Dan saat itu juga pun ada yang menepuk punggung Leo, Leo yang merasa pun kaget dan hampir saja Leo menonjok orang tersebut. Ya dia adalab Carel.


"Apaan lo, elah ngagetin ae." omel Leo sambil menetralkan detak jantungnya.


Carel pun hanya tersenyum layaknya ia tak melakukan apa-apa terhadap Leo dan dengan seenaknya, ia pun langsung duduk disamping Leo. "Lo ngapain disini? Gue sengaja buntutin lo tadi," jujur Carel kepada Leo.


Leo benci dengan kebohongan, dan Leo lebih suka orang disekitarnya jujur ya meskipun itu harus membuat Leo berantem.


Leo hanya diam saja, seakan ia tak mendengar apa omongannya Carel. Leo mencoba biasa saja didepan Carel. Carel pun sengaja diam dan kemudian ia mengulangi omongannya tadi.


"Lo ngapain disini? Gue sengaja buntutin lo tadi," ulang Carel dengan kalimat yang sama kepada Leo.


Leo pun memutuskan untuk menjawabnya, jika tidak maka Carel akan terus menanyakannya. "Gue disini buat jagaim Vania." jawab Leo dengan satu tarikan nafas.


Carel mendengar jawaban Leo pun serasa tak percaya dan ia langsung melotot mendengar itu. Bagi Carel ini berita yang harus disebar luaskan, karna semenjak Carel mengenal Leo, Leo tak pernah punya hubungan dengan wanit, jangankan hubungan temenan akrab aja gak pernah.


"Sejak kapan lo peduli sama dia?" tanya Carel akhirnya.


"Sejak gue kenal sama kakaknya dan orang tuanya." jawab Leo dan Leo langsung meninggalkan Carel.


Carel melihat Leo yang pergi pun merasa bingung dengan sikap Leo akhir-akhir ini. Leo sering gak masuk sekolah dan Vania pun juga. Carel memutuskan untuk menghubungi Bastian dan Exel tentang kabar ini.


****


Jam sekolah pun telah berakhir, seluruh siswa dan siswi berhamburan keluar kelas untuk segera pulang kerumah. Sedangkan Calista, Bellva dan Agnes, mereka harus pergi ke Rumah Sakit untuk mengetahui keadaan sahabatnya yang paling batu itu.


"Cal, kita harus cepet-cepet sampai kesana. Gue khawatir sama keadaan Vania. Dan kita harus beritahu tentang tugas yang dia satu kelompok dengan cowok gila itu." omel Bellva dengan nada gregetan.


"Lo kenapa sih, Bel? Kok keliatannya sebel banget gitu?" tanya Agnes kepada Bellva.


"Oh gue tau, dia kayak gitu gara-gara ia greget satu kelompok sama Exel, yakan?" tebak Calista dengan sedikit tertawa mengejeknya.


"Oh paham gue," timpal Agnes. "Santai aja kali, Bel. Gue tau kita-kita itu gak akan bisa akrab sama mereka. Tapi apa salah toh kita cuma kelompokan aja." lanjut Agnes.


"Nah kalian tau kan? Gue tuh ga sreg satu kelompok sama dia." omel Bellva


"Udah-udah nanti kita omongin aja sama Vania." kata Calista memberi solusi dan sekarang mereka perjalanan menuju rumah sakit.


Tanpa sepengethuan mereka, Bastian dan Exel pun juga perjalanan kerumah sakit yang sama. Mereka mau menyusul Leo dan juga Carel. Bastian dan Exel berharap bisa terlebih dahulu sampai dirumah sakit dibanding Calista dkk.


Setelah sampai, mereka langsung berjalan karaha dimana Leo dan Carel berada, dan benar Calista dkk belum sampai disini. Bastian pun langsung mengageti mereka berdua yang sedang duduk didean ruangan.


Dorr


Leo dan Carel pun terlonjak kaget, setelah mengetahui siapa yang mengagetinya pun Leo menjitak kepala Bastian. Namun Bastian hanya menyengir tanpa salah.


"Denger-denger lo deket ya Vania?" to the point Bastian.


Mendengar itu, Leo melihat kearah Bastian dengan tatapan yang tak dapat diartikan. "Gue deket sama dia? Nggak." jawab Leo.


Bastian pun menepuk pundak Leo. "Santai aja kali, bro." kata Bastian.


Dan belum sempat Leo menjawab, Caraka sudah keluar dari ruangan Vania dan mencari Leo. Leo pun segera mengahmpirinya.


"Vania masih belum sadarkan diri, mungkin setengah jam lagi dia sudah sadar. Dan tolong jagain dia ya. Gue pergi dulu." pamit Caraka.


"Iya bang pasti." jawab Leo dan kemudian masuk ke dalam ruangan Vania.


Ketiga teman Leo pun juga ikut menyusulnya masuk kedalam ruangan Vania. Dan tak lama kemudian, Calista dkk pun juga ikutan datang dan langsung masuk, betapa terkejutnya mereka semua.


"LOH?!" kaget Calista, Bellva dan Agnes ketika melihat Leo dkk berada diruangan Vania.


Mendengar suara itu, Leo, Exel, Carel dan juga Bastian menoleh serempak. "Kalian?" kaget Carel, Exel dan juga Bastian.


Dan sekarang ceritanya mereka sedang kaget-kagetan. Dengan sikap masa bodo, ketiga cewe ini langsung berjalan kearah brankar Vania dan menyingkirkan Leo dengan paksa. Keempat cowok pun mengalah dan mereka pun duduk disofa tak lama itu pula, pintu ruangan pun terbuka dan masuklah Dewi.


"Eh Calista, Bellva, Agnes. Sudah lama kalian?" tanya Dewi dan mereka bertiga pun menjabat tangan Dewi.


"Nggak kok, tante." jawab Calista mewakili teman-temannya.


"Eh ini temen-temen Leo sama Vania juga?" tanya Dewi kepada Leo.


Dengan cepat ketiga cowok itu menganggukkan kepalanya semangat. "Banyak juga ya teman Vania. Baru kali ini Vania punya temen cowok kayak kalian." jujur Dewi.


Dan tiba-tiba terdengar suara serak khas bangun tidur, dan semua orang yang disini pun langsung menoleh kesumber suara ternyata itu suara Vania.


"Ma.."


Dewi pun langsung menghampirinya, "Vania udab baik-baik saja? Mama panggilin bang Raka ya?"


Vania menggeleng sebagai jawabannya. Dan saat itu juga Vania melihat sekelilingnya yang sudah ada Leo dkk berada didalam ruangan Vania.


"Kalian?!" kata Vania dengan kaget.


___________________________________________


Seberapa lo mencoba menjauh, melarang dan menghilangkannya gak akan bisa. Gimana pun juga ya itu yang namanya nyaman.