
Setelah Vania pergi bersama Leo kemarin malam, ia jadi lebih ingin bahkan sangat ingin menjadi teman curhatnya bahkan ia ingin menjadi sandarannya saat dia terpuruk. Dan selama ia dipeluk Leo secara tiba-tiba, ia selalu senyum gajelas ketika ia mengingatnya.
Kini Vania sedang melamun, dan tanpa ia sadari ketiga temannya melihatnya dengan tatapan aneh. Dan ditambah lagi sekarang Vania sedikit senyum-senyum sendiri. Dan kini Vania sedang berada di kantik sekolah dengan ketiga temannya itu.
Brak...
"Astaghfir," ucap Vania dengan terlonjak dari duduknya.
"Ada apa tadi?" tanya Vania. Dan ketiga temannya hanya mengendikkan bahu.
Seketika itu, Vania duduk kembali dan melanjutkan makannya yang tadi tak sempat ia makan sama sekali. Vania begitu lahap menyantap makannya.
Setelah makanan dipiringnya habis, Vania langsung menyeruput minumannya sampai habis. Dan tak lama itu, dia menjadi ingat memori nya tiga tahun yang lalu. Dan ketika Vania mengingat itu ia langsung menundukkan kepalanya menatap sepatunya dengan lekat-lekat.
Agnes yang mengetahui itu, langsung mengusap punggung Vania. Vania masih saja menundukkan kepalanya kebawah tanpa menoleh.
"Van lo keinget sama temen lo? Yaudah nanti sepulang sekolah sekolah gue anter lo kerumah nya ya?" kata Agnes dengan begitu lembut.
"Makasih ya," jawab Vania dan langsung memeluk Agnes dan tak lupa Calista dan juga Belva.
Ketika sudah begini, Vania langsung mendongakkan kepalanya lagi karna ia harus berkunjung kesana. Dan ketiga temannya ini lah yang mengerti keadaan Vania dan sebaliknya juga.
Setelah acara pelukan, bel sekolah pun terdengar dan mau tak mau mereka harus meninggalkan kantin dan pergi ke kelas. Dan sesampainya dikelas, Vania mengikutin pelajaran hanya sekilas yang masuk ke otak, sebagian tidak, pikiran Vania kini kalang kabut.
Leo yang duduk paling pojok, ia memerhatikan gerak-gerik Vania yang baginya kini aneh. Bagi Leo ini belum Leo terang-terangan kalau ia harus menjaga Vania, cukup menjaga dari jauh itu saja sudah memenuhi amanat dari kakanya Vania.
"Le, kok lo dari tadi ngeliatin Vania gitu sih," kata Bastian.
Leo merasa dirinya diajak bicara, ia pun menolehkan kepalanya ke arah Bastian, "ga gue gapapa," jawab Leo yang jelas-jelas itu sangat bohong.
Bastian mendengus kesal melihat Leo seperti ini, "gue tau Le, kalo lo itu bohong. Ingat gue sahabat lo dari kecil," tutur Bastian dan Leo hanya manggut-manggut mengerti.
Akhirnya Leo menarik nafas kasar, "lo bakalan tau seiring berjalannya waktu, Bas." jawab Leo.
Bastian pun langsung mengalihkan pandangannya kedepan lagi. Ia tau kalau Leo punya rahasia kali ini tanpa ingin menceritakan kepada temannya.
Bel pulang sekolah sudah terdengar seantero sekolah, seluruh siswa pun berlarian meninggalkan area sekolah terutama Vania dkk. Leo yang melihat Vania telah meninggalkan kelas, ia dengan buru-buru keluar kelas tanpa memperdulikan teriakan dari teman-temannya.
Sesampainya diparkian sekolah, Leo harus mengendap-ngendap supaya Vania tak tau kalau Leo mengikutinya dan bahkan menjaganya. Vania begitu semangat untuk pulang hari ini.
Leo sedikit kaget kalau Vania hari ini membawa mobil, dan ketiga temannya pun masuk kedalam. Setelah mobil Vania meninggalkan pekarangan parkiran, Leo menancapkan gas motornya untul mengikutinya.
Selama perjalanan, Leo masih aman dan Vania tidan mencurigai apa pun. Sampai mobil Vania terhenti didepan sebuah toko bunga, disana Vania turun dan diikuti oleh teman-temannya.
Tanpa memilih-milih lagi, Vania langsung saja mengambil bucket bunga mawar putih sebanyam tiga. Dan bunga tersebut langsung dibawa ke kasir.
"Van apa lo ga cari bunga yang lain?" tanya Belva. Dan Vania hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kenapa harus mawar putih?" tanya Calista kini.
Vania menimang-nimangkan jawabannya, "karna mereka suka dengan mawar putih," jawab Vania dengan senyuman dibibirnya.
"Mawar merah juga bagus, apa sebaiknya lo ga beli juga?" tanya Belva. Vania mendengar pertanyaan dari ketiga temannya itu sedikit jengkel, namun mau tidak mau Vania harus menjawabnya.
"Tidak mereka tidak terlalu suka dengan mawar merah," jelas Vania, "yaudah gue bayar dulu bunganya." lanjut Vania.
"Mbak, tolong kasih surat seperti biasanya ya," pinta Vania kepada penjaga kasir.
"Iya mbak. Kok lama ga kesini," tanya penjaga kasir kepada Vania.
"Hehe iya mbak, saya sibuk," elak Vania.
Setelah bunga terbayarkan, Vania dan ketiga temannya berjalan keluar dan melanjutkan perjalanannya lagi menuju tempat tujuan awal. Yaitu makam teman Vania.
Leo mengerutkan keningnya ketika melihat Vania membawa tiga bucket bunga mawar putih. Tanpa bertanya, Leo labgsung mengikuti kembali kemana laju mobil Vania.
Leo kini merasa hidupnya dipenuhi dengan teka-teki yang harus ia selesaikan. Ditambah lagi sekarang, Vania yang mengendarai mobilnya tidak ke arah rumahnya.
Dan sampai ditempat tujuan, yaitu Makam Islam. Leo mengerutkan keningnya ketika melihat mobil Vania berhenti didepan Makam.
'Siapa yang meninggal? Keluarganya? Gur rasa tidak. Lalu siapa?' batin Leo bertanya-tanya.
Leo memarkirkan motornya jauh dari mobil Vania, karna Leo tidak ingin Vania mengetahuo kalau dirinya mengikutinya bahkan Leo harus menjaga Vania meskipun jarak jauh.
Leo berjalan mengendap-ngendap selama masuk kedalam makam, dan Leo bersembunyi dibalik pohon yang tidak jauh dari Vania yang kini sedang berjongkok didepan Makam. Leo tidak tau persis siapa nama di batu nisan tersebut.
'Hai, apa kabar?'
'Gue kangen sama lo,'
'Hidup disana enak?'
'Gue kesepian kalo di rumah sakit,'
'Gue pingin berbagi lagi sama lo, sama yang lain juga,'
'Lo tau, gue dipaksa untuk cepet operasi. Tapi gue selalu menolak itu semua,'
'Gue punya alasan gue menolak itu semua, yaitu gue pengen nyusul lo kesana,'
'Sorry gue baru kunjung kesini,'
'Pasti lo ngira gue jahat banget kan,'
Ucapan Vania itu membuat Leo menjadi bingung. Ditambah lagi Vania yang berbicara dengan menangis.
'Hai, gue bakal nyusul lo kok, ga usah takut ya,'
'Gue beruntung punya temen kek lo semua.'
'Jangan bilang kalo lo udah lupain gue,'
Tangisan Vania kini lebih deras dari yang awal. Namun Vania membiarkan air mata itu mengalir dan membasahi pipinya tanpa ada niatan untuk mengusapnya.
Calista, Agnes dan Belva yang mendengar dan menyaksikan itu tak kuasa menahan air matanya juga, dan seketika mereka ikut menangis dan memeluk Vania dari samping. Vania pun hanya diam mendapat perlakuan seperti itu karna bagi Vania itu sudah hal terbiasa.
Tak lama kemudian, mereka melepaskan pelukannya pada Vania. Vania langsung menaruh bucket bunga mawar tersebut ke setiap makam yang sudah diajaknya berbicara tadi.
Vania menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia berdiri dan beranjak meninggalkan tempat ini. Sebenarnya, Vania begitu berat meninggalkannya tapi apa bisa buat, tidak boleh terlalu lama di makam.
Leo lebih bersembunyi lagi ketika melihat Vania dkk nya berjalan pergi meninggalkan makam. Tapi Vania dkknya pergi meninggalkan sebuah teka-teki yang harus diselesaikan oleh Leo.
'Teka teki ini akan mudah terselasikan kalau gue tanya abangnya Vania, meskipun tidak dikasih tau semuanya,' gumam Leo sambil berjalan pelan untuk keluar makam ini.
Setelah benar-benar keluar dari makam, Leo melihat sekeliling dan mobil Vania kini sudah pergi, yang artinya Leo tidak bisa menjaga Vania sampai rumah. Leo tak mau ambil pusing, ia langsung mengambil ponselnya dan mencari kontak abangnya Vania, Caraka.
Setelah menemukan kontaknya Caraka, Leo langsung mengirimkan sebuah pesan kepadanya. Setelah dirasa pesannya terkirim, Leo langsung mengendarai motornya menuju tempat yang sudah ia tentukan untuk berbicara dengan Caraka.
Selama Leo diperjalanan, ia hanya memikirkan Vania, apakah gadis itu sudah sampai rumah apa belum. Meskipun Leo badboy dia masih ingat dosa. Apalagi tidak menajalankan sebuah amanat.
Akan tetapi, gadis yang dipikirkan oleh Leo tadi sudah sampai rumah dengan selamat, bahkan gadis tadi masuk kerumah dengan berteriak seperti biasanya. Hal itu sudah biasa bagi Vania untuk berteriak-teriak sepulang sekolah.
'Asslamualaikum. Vania pulang, mama, papa, bang Raka, bang Varo.' teriak Vania yang terdengar seantero rumah ini.
Cukup lama Vania menunggu jawab dari salah satu yang udah ia sebutin tadi, tapi salah satu dari mereka tidak ada yanc menjawabnya. Akhirnya Vania pun melanjutkan jalannya menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Vania baru saja menaiki anak tangga ke tiga, Caraka sudah berlari-larian menuruni anak tangga dan itu membuat Vania sedikit tidam seimbang.
"Kebiasaan lo bang. Kalo kerumah sakit hati-hati ga usah ngebut," omel Vania dan memperingati kakaknya itu.
Caraka menajwab ocehan Vania tanpa menoleh atau pun berhenti, ia tetap terus berlari, "iya dek iya," teriak Leo dan masih dapat didengar oleh Vania.
Vania mendengar jawaban itu pun hanya menggelengkan kepalanya dan kembali melanjutkan jalannya menuju kamarnya. Hari ini Vania merasa sangat lelah, tenaganya cukup terkuras banyak.
Vania menutup pintu kamarnya dengan sangat cepat dan itu menimbulkam suara yang cukup keras. Vania langsung membuang tasnya kesembarang arah dan langusng menghempas tubuhnya ke kasur, tak lama kemudian Vania terlelap kedalam alam mimpinya.
Leo sudah setengah jam berada di cafe ini, oa menunggu Caraka untuk sedikit mendapat jawaban dari teka teki Vania untuknya. Tak lama itu pula, pintu cafe ini terbuka dan menimbulkan bunyi lonceng yang sangat halus, dan yang masuk adalah dia, Caraka.
Leo melambaikan tangannya mengisaratkan kepada Leo bahwa dirinya berada di bangku pojok. Caraka yang paham dengam kode tersebut pun langsung berjalan kearah meja Leo dan langsung duduk.
Setelah duduk dan meminum minumannya, Caraka langsung angkat bicara, "ada apa, Le? Tentang Vania?" tebak Caraka langsung.
Leo pun langsung mengangguk, "Vania pulang dari makam bang, tapi gue gatau yang meninggal siapa," kata Leo.
Caraka meneguk salivanya dengan susah, "oh ke makam sambil bawa mawar putih?" tanya Caraka lagi.
"Iya," jawab Leo antusias, "kalo boleh tau siapa yang meninggal? Kalo keluarga lo pasti Vania ke makam sama lo juga," lanjut Leo.
Caraka menghela nafas kasar sebelum akhirnya menjawab, "Vania kunjung ke temannya. Ya temannya ada yang sudah meninggal tiga anak, dan itu membuat Vania sangat sedih." jelas Caraka akhirnya.
Kini Leo sudab mendapat jawaban sedikit demi sedikit, meskipun tidak semaunya. Leo mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh Caraka kepadanya.
"Jadi mereka teman Vania? Yang mana? Toh disekolah Vania selalu bareng Calista, Agnes dan Belva," tanya Leo dengan sedikit meneliti.
"Suatu saat teka teki ini akan terselasikan dengan sendirinya jika waktunya sudah tepat. Maaf gue harus pergi ada pasien yang harus gue tangani. Gue balik dulu." jawab Caraka sekaligus berpamiy untuk pergi terlebih dahulu.
Leo mengangguk sambil mencerna setia kata Caraka. Bagi Leo ini sebuah teka-teki yang sangat sulit untuk dipecahkan, teka teki ini tidak ada bocoran sedikit pun dan ini harus real diselesaikan oleb Leo.
Leo pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan cafe ini, ia sungguh merasa jenuh hari ini dan hari ini adalah hari yang sangat penuh dengan teka teki. Leo tidak terlalu berat untuk memikirkannya karna bagi Leo suatu saat akan terjawab semua. Benar kata Caraka, semua pertanyaan kita akan terjawab tanpa kita minta jika waktu sudah sangat tepat.
Leo mengendarai motornya dengan kecepatan sedang dan ia melamun. Leo kini pikirannya tidak karuan dari teka-teki Vania, masalah BK, masalah balapan dan lain sebagainya. Dan sampai Leo tidak bisa mengendalikan motornya pas rambu rambu lalu lintas berganti dengan warna merah, ia tetap melajukan motornya tak lama kemudian
Brakk....
Leo tertabrak sebuah mobil, keadaan Leo cukup parah sampai-sampai Leo tak sadarkan diri. Orang-orang pinggir jalan yang menyaksikan kejadian itu pun langsung berlarian menghampiri Leo untuk membantunya dibawa ke Rumah sakit.
"Dok, suster tolong ini ada korban kecelakaan," teriak seseorang yang menolong Leo tadi ketika sudah masuk di loby rumah sakit.
Dan kebetulan sekali, saat itu Caraka sedang berjalan dengan seorang suster dengan cepag Leo mengambil brankar untuk Leo. Dan seketika itu juga, Caraka kaget ketika melihat korban kecelakaan itu ternyata Leo. Bagaimana bisa?
Dengan cepat Caraka membawa brankar Loe kedalam UGD disana Leo sedang diperiksa oleh dokter, tapi bukan Caraka. Caraka hanya menunggu didepan untuk mendapatkan hasil periksanya Leo.
"Gimana keadaanyaa, Mas?" tanya Caraka kepada dokter tersebut. Dan dokter tersebut bermama Hermas.
"Lo tenang aja, dia gapapa cuma dia kehabisan darah, tapi untungnya stok darah disini masih ada jadi lo ga perlu cari orang," jelas dokter Hermas kepada temannya ini, Caraka.
Caraka menghela nafas lega ketika mendengar penjelaasan dari Hermas. Caraka kini bingung ia harus mengabari siapa kalau Leo sedang kecelakaan?
Tak lama itu pula setelah Leo mendapag donor darah, Leo dipindahkan ke ruangan nya untuk nya dia dirawat. Untuk sementara yang mengurus semua registrasi adalah Caraka, secara Caraka mengenal Leo dan Leo sudab diberinya amanat untuk menjaga adiknya, Vania.
Caraka masih setia berada diruang rawat Leo, dengan alasan menunggunya untuk mengintrogasinya selai itu, Caraka juga harus menelpon salah sati keluarganya Leo untuk mengetahui bahwa Leo kini sedang terbaring lemah di rumah sakit.
Satu jam...
Dua jam...
Tiga jam...
Tiga jam sudah Caraka menunggu Leo sadarkan diri, dan saat ini orang yang ditunggi Caraka pun sadarkan diri. Caraka pun langsung menghampirinya dan memeriksa detak jantung Leo.
"Le, lo harus kasih tau orang tua lo kalau lo kecelakaan," jelas Caraka selesai memeriksa nya.
Namun Leo menggeleng, "ga perlu bang, mereka gak peduli sama gue. Lo telpon aja Arsya, dia sepupu gue." jelas Leo dan diangguki oleh Caraka.
"Lagian besok gue udah boleh pulang kata dokter," jelas Leo dan diangguki oleh Caraka.
Berjam-jam sudab Leo berada dirumah sakit dan waktu yang ditunggu-tunggu kini sudah tiba. Pagi ini Leo akan pulang dan meninggalkan tempat gak berfaedah ini.
*****