
Leo pun menunggu motornya sampai dirumah Vania. Leo memutuskan untuk menunggunya di ruang tamu sambil main ponsel, sampai sebuah suara mengganggu kefokusan Leo.
"Le, lo mandi sana, bajunya udah mama siapin." ya yang bicara adalah Vania.
Leo pun menoleh ke arah Vania dan tersenym simpul. "Ga usah, Van. Lagian bentar lagi motor gue sampe." tolak Leo.
Mendengar jawaban itu dari Leo pun sudah seperti dugaan Vania sebelumnya. Vania pun langsung pergi meninggalkan Leo sendiri. Vania pun berjalan ke kamarnya, dan merebehkan badannya diatas kasurnya.
'Ternyata orang jahat, tidak selamanya jadi jahat. Tapi tidak tahu jika sifat kejahatannya kembali menguasi dirinya.' gumam Vania sambil memandang langit-langit kamarnya.
Dan setelah kepergian Vania, motor Leo pun datang dibawa oleh supir pribadi dikeluarga ini. Leo pun masuk kedalam mencari keberadaan Dewi dan berpamit untuk pulang.
"Tante, aku balik pulang dulu, maaf ga bisa pamit ke Vania, sepertinya dia udah tidur." ujar Leo dan menjabat tabgan Dewi untuk bersalaman.
"Yaudah nanti tante sampein, kamu hati-hati ya dijalan, dan makasih udah banyak membantu keluarga tante." kata Dewi dan dibalas anggukan dan senyuman oleh Leo.
Leo pun keluar dari rumah Vania dan langsung mengendarai motornya keluar dari halaman rumah Vania. Hari ini, hari rabu dimana hari rabu ada balapan ditempat biasanya, Leo pun mengendarai motornya dengan begitu cepat agar bisa sampai di rumahnya? Dan Leo hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai dirumah. Leo mulai masuk dan berlari menuju kamarnya di lantai dua, sedangkan dilantai bawah, ada mama, papa dan juga kakaknya yang ia abaikan tanpa ia sapa. Mereka yang melihat Leo pun hanya diam tanpa kata namun hati nya begitu terluka.
Leo pun segera mandi dan berganti baju menggunakan baju santai namun elegan untuk mengikuti balapan itu. Setelah semua dirasa rapi, Leo pun kembali turun sambil bersiul dengam sedikit berlari, hampir saja Leo keluar selangkah dari pintu, namanya sudah dipanggil, mau tak mau Leo pun berhenti tanpa menoleh.
"Leo." ujar Reza dari araj jauh belakang Leo.
Leo pun hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab panggilan tersebut.
"Baru pulang, udah mau pergi lagi. Kamu pikir ini tempat apa? Wc umum? Ini rumah! Ini rumah, Leo!" ujar Reza dengan dengan membentak dan menggunakan suara yang keras.
Leo pun akhirnya berbalik dan bersedakap dada. "Saya sangat tau, kalau ini rumah. Tapi bisa kah anda tidak melarang saya ini itu lagi?"
Reza pun mulai geram melihat sikap anaknya yang makin hari makin seperti ini. "Dasar anak gak tau diuntung ya kamu! Sekarang juga, kamu pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembali kesini lagi." bentak Reza sambil menunjuk wajah Leo.
Mendengar itu pun, dada Leo rasanya naik turun tak karuan, Hana yang mendengar itu pun langsung menangis sesenggukan. Leo pun kembali masuk kedalam kamarnya yang tidak tau apa yang akan dilakukannya. Dan juga, Leo mengurungkan niatnya untuk ikut balapan itu.
Reza pun sadar akan apa yang diucapkan keada Leo barusan. Reza langsung terduduk disamping Hana yang sedang menangis sesenggukan. Sedangkan Leo, dia sibuk memasukkan semua baju-bajunya dan barang-barang pentingnya kedalam koper dan tasnya. Ia sekarang benar-benar diusir dari rumah ini. Leo pun keluar dari kamarnya dan menuruni tangga sambil membawa dua koper dan satu tas ransel.
Reza dan Hana hanya melihat Leo dengan keadaan menyesal, terutama Reza.
"Leo..." teriak Hana sambil berlari menuju arah Leo, namun Leo sama sekali tak peduli dengan itu.
Leo pun menaruh dua koper dan tas ransel itu kedalam mobil, dan ia pun kembali masuk dan berjalan ke kamarnya. Hana pun menangis lebih dalam, ketika ia diabaikan oleh Leo.
Leo pun kembali tutun sambil membawa satu koper lagi dan satu ransel, satu tangannya sedang mencari sesuatu diponselnya. Ya Leo sedang mengabari teman-temannya untu tidak memgikuti balapan kali ini.
"Hallo," sapa Leo ketika telponnya sudah diangkat oleh Bastian. Ya Leo sedang menelpon Bastian.
"...."
"Gue gajadi ikut balapan, cancel semuanya."
"...."
"Nanti gue ceritain semuanya, abis ini gue line alamat yang harus lo tuju." kata Leo dan langsung mematikan sambungannya sepihak.
Leo pun langsung masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya dengan begitu cepat. Leo tak pedulikan teriakan Hana dengan tangisannya itu. Leo sudah dongkol kepada mereka, Leo sudah tak dianggap anak disana.
Leo melajukan mobilnya menuju ke sebuah gedung yang menjulang begitu tinggi dan besar.
[Line]
Adeleo Orlando : lo sama yang lain ke alamat ini Jln. Ach. Yani no. 146 gue tunggu secepatnya.
Send...
Setelah pesan tersebut terkirim, Leo pun langsung berjalan melewati koridor apartement ini sambil membawa satu tas ransel dan juga dua koper. Sedangkan tas ransel yang satu dan koper satunya masih ia tinggalkan di dalam mobil. Leo pun memasuki lift dan memencet tombol ke lantai 10.
Ting...
Denting lift pun sudah berbunyi yang menandakan sudah sampai dilantai 10, Leo pun langsung keluar dan berjalan menuju apartemen dengn nomor 1945. Ya apartemen ini, adalah apartemen milik Leo sendiri yang ia beli satu bulan yang lalu dengan uang hasil jerih payah nya selama ini.
Baru saja Leo masuk kedalam apartemennya, notif Line pun sudah berbunyi dari ponselnya dan mau tak mau Leo mengambil ponsel itu dan membuka notif tersebut.
[Line]
Bastian Dinersy : gue udah di depan, lo dimana ege.
Adeleo Orlando : lo sama yang lain sekarang ke apartemen dengam no. 1945. Gue tunggu.
Send...
Setelah pesannya terkirim, Leo pun merapikan baju-bajunya kedalam almari dengan santai. Dan tak lama kemudian, pintu apartemen ini pun terbuka dan masuklah Bastian, Carel dan juga Exel. Mereka bertiga masuk pun begitu kaget melihat apartemen milik Leo ini. Warna yang begitu minimalis dengan perpaduan warna putih dengan abu-abu ini yang terlihat begitu elegan, ditambah lagi sofa dengan warna nada yang sama, dengan tangga yang begitu indah namun elegan.
Leo pun menggoyang-goyangkan tangannya ke depan wajah mereka bertiga, saking kagumnya, mereka gak sadar kalau empunya apartemen sudah ada didepan mereka sambil melambaikan tangannya.
"Woy." teriak Leo dan mereka pun tersadar dari lamunan mereka.
"Apaan woy." balas mereka bertiga bebarengan.
"Kampret lo bertiga,"
"Ya sorry, bro." kata Carel sambil menepuk bahu Leo. Sedangkan Bastian dan Exel langsung duduk di sofa milik Leo.
"Gue butuh bantuan kalian," ucap Leo pada akhirnya.
"Yaudah cepet ngomong. Kek sama siapa aja lo."
"Carel, ikut gue pulang ke rumah ambil motor gue. Bas, Xel tolong ambilin koper sama tas gue dimobil, kunci mobil dikamar."
Leo pun langsung keluar apartemen dan diikuti oleh Carel. Mereka berdua berjalan melewati koridor dan mereka pun berbasil membuat cewek disini melihat kearahnya seperti kehausan seorang cowok.
Leo dan Carel tidak mempedulikan tatapan itu semua dan kembali fokus ke tujuan awalnya. Mereka berdua pun sampai diparkiran dan Langsung mengambil motor Carel dan Leo pun diboncengnya. Sedangkan Bastian dan Exel mereka berdua mengambil koper dan tas ransel Leo dimobilnya dan dibawanya ke kamar apartemen Leo.
"Bas, Leo kenapa lagi dah. Gue rasa dia ada yang sedang disembunyiin dari kita-kita," ujar Exel sambil merapikan baju-bajunya Leo sedikit.
*****
"Mah, Leo udah pulang?" tanya Vania ketika ia terbangun dari tidurnya.
Dewi pun kaget dan melihat ke arah belakang. "Kok udah bangun, sayang. Iya Leo barusan pulang, dia gak berani pamit ke kamu, katanya kamu tidur." dan Vania pun hanya tersenyum miring mendengar jawaban Dewi itu.
"Yaudah mah, Vania tidur lagi. Night mom." kata Vania dan mencium pipi Vania.
Sesampainya Vania dikamar, Vania mengecek semua media sosialnya, dari Instagram, Twitter, Line, Path, Sarahah dan yang ia punya.
Vania tersenyum ketika melihat satu pesan line dari display name Aldo. Ya chat dia yang selalu bikin semangat Vania kembali.
Aldo : Hai, Van. Ada kabar nih buat lo, haha ya gue rasa kabar ini ga ada gunanya sih. Gue netep di Indonesia terus dan ga ke Singapura lagi.
Membaca pesan itu dari Aldo, membuat senyum diwajah Vania semakin mengembang. Vania senang mendengar kabar gembira ini, dan Vania akan selalu bisa bertemu dengannya tanpa penghalang tempat dan waktu.
Vania : yah akhirnya do'a nya cecan dikabulin haha. Ini kabar gembira buat gue tau. Dan kalo gini, gue sama temen-temen gue bisa main bareng dong tanpa penghalang apapun yakan?
Send...
Setelah mengirim itu, Vania kembali melanjutkan tidurnya tadi. Vania gak mau besok sekolah akan kesiangan atau yang lain.
Leo pun masuk gerbang dengan santai tanpa takut sedikit pun. Leo datang ke rumah ini tidak untuk kembali, melainkan untuk mengambil motornya.
Leo pun menyalakan motornya dan langsung mengendari motornya dengan cepat, ia tidak peduli jika kelakuannya mengganggu mereka yang sedang tidur.
Tanpa Leo sadari, ada seseorang yang sedang melihatnya dari balik jendela. Orang tersebut melihat Leo begitu menyesal dan mengelus dadanya. Ya dia adalah Reza.
Setelah Leo keluar dari pekarangan rumahnya, ia mengendarai motornya dengan begitu cepat untuk menuju ke apartemennya. Selama dijalan, Carel selalu berada disamping Leo, takutnya Leo akan nekat dijalanan.
"Rel, mendingan lo sama yang lain tidur di apartemen gue ae lah," teriak Leo
"Halah gue mah gampang. Nyokap bokap gue barusan berangkat luar kota," jawab Carel dengan berteriak juga.
Setelah mendengar jawaban Carel, Leo pun semakin mempercepat laju motornya untuk segera sampai di apartemen. Dan setelah sampai disana ternyata, Bastian dan Exel sudah terlelap di ruang tamu dengan televisi yang menyala.
"Mending lo sekarang tidur, Rel." suruh Leo dan Carel mengangguk.
Leo pun masuk ke kamarnya untuk merapikan baju-bajunya dan meletakkan barang-barang yang menurutnya penting.
Ditempat lain, seseorang sedang mencatat sesuatu disebuah buku. Dia menulis dengam begitu indah dan tertulis dari hatinya yang paling dalam.
Dia menuangkan semua isi hatinya ke tulisan yang hanya dibaluti dengan perasaan. Ya dia adalah Aldo.
Entah apa yang sedang ditulis Aldo dibuku tersebut, yang jelas bagi Aldo buku ini sangat berarti dan begitu banyak kenangannya jika dibuang atau dibakar.
Aldo terus menuangkan tinta tersebut sampai akhirnya ia tertidur di atas buku tersebut.
*****
"Cal, Nes, Bel hari ini gue mau kerumahnya Aldo, kalian ikut?" tanya Vania sambil merapikan buku-bukunya dimeja sebelum pulang.
"Aldo di rumah? Sejak kapan?" jawab Calista antusias.
"Gue gatau sejak kapannya, pas kemaren gue di Rumah Sakit ketemu dia."
"Gue ga bisa ikut deh, Van. Mama gue ngajak gue ke acara keluarga." keluh Agnes dengan nada sedihnya.
"Yah yaudah deh gapapa ntar gue sampein. Cal, Nes kalian ikut tidak?"
"Gue pingin banget ikut tapi, gue harus prepare buat ke Semarang besok. Sorry ya, Van." keluh Agnes.
"You know, Van gue ada pindahan rumah dua hari kedepan." kata Calista.
"Oke deh, gue kesana sendiri. Gue jalan duluan ya papay." pamit Vania dan langsung berlari kecil kelur kelas.
Vania berjalan melewati siswa siswi disekolah ini dengan santai, bahkan Vania sambil bermain ponselnya. Dan Vania pun berhenti ketika namanya dipanggil oleh seseorang.
"Vania..." teriak seorang cowok dari arah belakang Vania.
Cowok tersebut pun berada disamping Vania, "pulang bareng gue yuk," tawarnya.
Vania pun melihat ke dia dan kembali melanjutkan jalannya lagi, "emm sorry kak, gue udah ada janji buat main ke rumah temen gue. Lain kali ya kak. Gue jalan dulu." jawab Vania dan langsung berjalan dulu. Ya dia adalah Nevan.
Dari arah kejahuan, Leo begitu senang ketima melihat ajakan Nevan ditolak oleh Vania. Leo pun menghampiri Nevan yang masih terdiam ditempatnya.
"Sabar ya bro, dia ga tertarik sama sekali sama lo, mending lo mundur aja deh." kata Leo sambil menepuk pundak Nevan.
Leo pun langsung berjalan melewati Nevan dengan kemenangannya. Dan disusul oleh tiga temannya.
Leo pun mengejar Vania sampai diparkiran mobil, Leo pun menghalangi Vania yang hendak menutup pintu mobilnya. Vania sebel melihat kelakuan Leo yang seperti ini.
"Apaan sih lo, minggir gue ada janji," bentak Vania.
Namun Leo tidak pergi melainkan sandaran dimobil Vania, "kemana? Gue ikut."
"Gak. Ngapain sih lo selalu ingin tau kemana gue pergi?"
"Gapapa, gue ikut ya?"
"Gak, Le. Gue mau ke rumah Aldo. Sekarang lo minggir." Vania pun mendorong tubuh Leo menjauh dan langsung menutup pintu mobilnya.
Mendengar jawaban Vania pun Leo tidak mau mengikutinya, karna Leo tau kalau Vania begitu senang ketika melihat Aldo di Indoseia dan juga Vania masih begitu kangen dengannya.
Leo pun memutuskan untuk mengambil motornya dan pulang ke apartemennya. Selama di perjalanan menuju apartemen, Leo begitu yakin kalau Vania tidak suka dengan Nevan, melainkan Vania suka dengan Aldo, mungkin?
****