
Pagi ini Vania masih terbaring dikasur rumah sakit ini, lagi dan lagi dia harus absen kesekolah. Selama absen Vania tak pernah ketinggalan pelajaran, karna guru mapel selalu ngasih tau tentang materi yang telah disampaikannya.
"Bang kapan gue bisa pulang?" tanya Vania disela-sela makannya.
Alvaro mendengar pertanyaan itu langsung menghampiri adiknya, "lo bisa pulang asalkan lo nurut sama omongannya mama, papa, gue sama bang Caraka." tutur Alvaro panjang lebar kepada adik kesayangannya ini.
Vania menghela nafas panjang lagi dan lagi mendengar kata-kata itu, Vania sungguh bosan dengan kata-kata itu lagi, Vania bosan setiap sakit selalu tidut sini selalu minum berbagai macam obag-obatan setiap harinya.
Cklek...
Pintu ruangan ini terbuka, muncullah Caraka dibalik pintu. Caraka berjalan mendekat kebrankar adiknya dengan senyum diwajahnya.
"Gimana keadaan kamu sekarang dek?" tanya nya dengan meletakkan bubur ayam diatas nakas.
Vania masih saja menatap kedepan, "seperti yang abang lihat saat ini." ketusnya dengan nada datar.
Belva, Calista, dan Agnes mati-matian beradu dengan Leo. Lagi dan lagi Leo mengerjai mereka yang tak dosa itu.
Calista berjalan menuju kelas dari arah kantin, betapa terkejutnya ketika melihat semua murid di SMA ini lari berhamburan menuju lapangan sekolah. Calista pun bertanya kepada salah satu siswa, namun hasilnya? Tak dijawab bahkan menengok saja tidak. Tanpa babibu Calista mengikuti arah jalan mereka, dan betapa terkejutnya ketika Calista melihatnya sendiri. Dengan cepat Calista mengeluarkan ponselnya dan jari-jarinya menari lincah diatas sana.
Tak lama itu pula, Calista menerobos kerumunan siswa ditengah-tengah lapangan, dan oh lebih terkejut lagi ketika kursi yang ia tempati sedang bergelantung diatas sana dan juga tas mereka masing-masing. Saat itu juga Belva dan juga Agnes datang agak cepat, mereka bertiga melihat itu langsung geram dan berteriak membuat seluruh siswa berlari pergi meninggalkan lapangan laknat ini.
"Gue tau siapa yang ngelakuin ini, lo ga usah sembunyi bego, bangsul, kutil gajah mendingan lo dateng kehadapan kita, Leo!" teriaknya ditengah-tengah lapangan yang bisa dibilang cukup ramai siswa.
Prok... Prok.... Prok...
Mendengar tepuk tangan, ketiga cewek itu pun langsung membalikkan badannya, dan tepat didepan mereka terdapat Leo dengan komplotannya itu.
"Jadi kalian udah tau siapa yang ngelakuin ini semua?" kata Leo dengan smirknya.
"Jelas lah gue tau siapa lagi kalo bukan kalian anjing." teriak Calista dengan nada dinaikkan beribu-ribu oktaf.
Leo dan kawan-kawannya pun maju mendekat, "kalo ngomong dijaga ya!" katanya.
Calista juga pun ikut maju selangkah, "serah gue bego. Bukan urusan lo, sekarang cepet turunin kursi sama tas gue sama temen gue." kata Calista dengan menunjuk tepat didepan wajah Leo.
Seketika itu juga seluruh siwa dilapangan langsung bersorak melihat keberanian Calista dan teman-temannya yang dijuliki dengan nerd itu. Tak lama itu pula, Arka datang tepat ditengah-tengah lapangan itu juga.
"Lo bikin ulah lagi?" kata Nevan keada Leo tapi, Leo hanya mengendikkan bahunya seraya pergi ninggalin lapangan ini.
Dengan cepat Nevan mencekal pergelangan tangan Leo dan, "sebelum lo pergi, turunin tas mereka. Kalo sampe mama papa tau mereka bakalan marah." tuturnya dengan nada sedikit keras dan itu membuat seluruh siswa dilapangan tercengang kaget mendengar omongannya Nevan.
Leo pun berbalik menghadap ke Nevan, "serah lo ***!" katanya dan menepis cekelannya dari pergelangan tangannya.
"Jaga ucapan lo Le." kata Nevan sambil mendorong tubuh Leo dan Leo terhuyung kebelakanh.
Dan saat itulah pertengkaran antara adik dan kakak terjadi tepat ditengah-tengah lapangan sekolah. Tanpa babibu cewek cewek itu langsung pergi meninggalkan lapangan dan menerobos kerumunan siswa dipinggir lapangan.
****
Vania lagi dan lagi menatap nanar keluar jendela, fikirannya melayang kemana-mana. Vania sampai tak sadar jika Caraka masuk ke kamar inapnya.
"Dek lo hari ini udah bisa pulang," katanya dengan mengelus puncak kepala Vania.
Vania mendengar itu hanya menoleh sebentarn dan menggumam sebagai jawabannya. Caraka yang melihat adiknya terpuruk seperti hanya menghela nafas, karna Caraka tau ketika Vania terbaring disini pasti dia akan terpuruk.
Ketika semua alat dilepas dari tubuh Vania, Vania juga hanya diam dengan seribu bahasa, Vania sadar ketika tak terasa apa-apa disekitar tubuhnya.
"Dek ayo bangun, tapi tunggu sini abang mau ambil kursi roda dulu," kata Caraka dengan nada lembut, selembut kain sutra.
"Ah eh iya bang," kata Vania yang tak kalah lembutnya juga.
Vania pun berganti posisi menjadi duduk seraya menunggu abangnya untuk mengambil kursi roda, Vania merasa bosan akhirnya Vania meraih ponselnya yang berada diatas nakas dan tangannya menari-nari lincah diatas ponsel itu.
[Line]
BellVania : Hai gaes, gue boleh pulang hari ini yuhu.😅😅
Send...
Vania tau kalo chat nya itu tak mungkin dibalas oleh teman-temannya mengingat ini masih jam sekolah, Vania memutuskan untuk mengecek semua media sosial yang ia punya. Tak puas Vania mengecek media sosialnya, notif line pun masuk dari grupnya itu.
Agnesia A. : Yodah ntar gue kerumah lo nyet.
Calista D. : 2
Belva C. : 3
Read
Vania membaca balasan dari sahabatnya itu hanya tersenyum bahagia, karna hanya mereka yang tau tentang Vania. Sahabat yang baik akan selalu ada disaat salah satu dari mereka kesususahan, sahabat juga akan menjaga apapaun tentang sahabatnya itu, jika itu benar-benar sahabat.
Tak lama itu pula Caraka masuk ruangan Vania dengan mendorong kursi roda yang telah diambilnya untuk digunakan oleh Vania.
"Bang, yang lain mana?" tanya Vania seraya berpindah duduk diatas kursi roda.
Selama berada di koridor rumah sakit, banyak dokter, perawat, suster maupun orang-orang menyapa Caraka dan Vania namun sapaan itu hanya dibalas dengan senyuman oleb dua saudara itu.
Tak lama itu pula, ponsel Vania berdering lana yang bertanda ada panggilan masuk, Vania merogoh sakunya untuk mengambil benda tersebut dan menggeser tombol hijau lalu meletakkannya tepat ditelinga Vania.
"Halo," sapa Vania sopan.
"Halo dek?" sapa seseorang dari seberang sana.
"Iya bang, ada apa?" tanya Vania lagi dengan nada lembut.
"Sorry gue ga bisa dateng pas lo pulang, tapi habis ini tugas gue selesai," kata Alvaro dengan nada cukup cepat seperti kereta.
"Iya bang, lagian di--" ucpana Vania terptong karena dengan tbtb sambungan telepon dimatikan secara sepikah, Vania hanya mendengus dan menggelengkan kepala melihat kekhawatiran abang satunya itu.
Dari arah kejahuan terlihatlah dua orang suami istri yang sedang lari-lari kecil kearaha Vania dan caraka tak lupa pula, dua orang tersebut tak lepas dengan senyumannya itu. Ya mereka adalah orang tua Vania.
Dengan cepag mama Vania langsung memeluk Vania erat dan, "mama seneng kamu kembali lagi kerumah sayang, ninggalin tempat laknat ini katamu," ucapnya yang sambil melonggarkan pelukannya dan berganti dengan mencium puncak kepalanya.
Vania yang mendapat perlakuan itu hanya tersenyum bahagia, "iya ma, Vania pulang tapi Vania tetep harus ikut pertandingan bulan depan ya?" tanya nya dan kini wajahnya berupa jadi sedih memohon dengan puppy eyes andalannya itu.
Mama Vania mendengar keluhan dan raut wajah anaknya itu, hanya bisa bernafas panjang dan mengangguk dengan seulas senyum dibibirnya. Dan itu Vania kini tersenyum lebar dan memeluk mamanya itu dengan erat.
Selama perjalanan pulang, Vania tak lepas dengan senyumannya itu, Vania merasa bahagia karna dia keluar dari tempat laknat itu, selain itu juga Vania dibolehkan untuk mengikuti pertandingannya bulan depan dan yang paling bikin bahagia adalah kini abangnya yang pertama telah pulang ke tanah kelahirannya lagi.
Sesampainya dirumah, Vania langsung disambut baik dengan pengurus rumahnya ini, Vania mendapat perlakuan itu langsung memeluknya dengan perasaan kangennya. Setelah acara kangen-kangenan, Vania langsung beranjak menuju kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur king sizenya ini.
Sedangkan ketiga temannya itu bernafas lega karna rencana Leo yang ini gagal lagi dan lagi, dengan cepat ketiga temannya itu mengambil tasnya dan segera beranjak dari kelas untuk pulang, persetan dengan guru maupun satpam.
Tak lama itu pula, ketiga sahabatnya itu tbtb masuk kekamrnya dengan seenak jidatnya sendiri. Vania sempat kaget melihat ketiga sahabatnya itu yang langsung memeluknya dan berteriak seperti toanya masjid depan rumah. Vania melepaskan pelukan itu dengan kasar.
"Apa-apaan sih kalian main masuk-masuk kamar orang, teriak-teriak pula." kata Vania seraya beranjak dari kasur menuju balkon kamarnya. Ketiga cewek itu pun hanya menyengir kuda.
"Lo kok bisa sih masuk tempat laknat itu Van?" tanya Belva seraya beranjal dari kasur menuju rak novel milik Vania.
Vania berbalik dan berjalan menuju ketiga temannya itu, "gue juga gatau sih kenapa, mungkin karna gue mulai masuk kedunia bela diri lagi," katanya dengan nada sesantai mungkin.
Agnes mendengar jawaban itu langsung melempar ponselnya asal dan merubah posisinya jadi duduk, "lah? Udah tau kalo kanker otak lo stadium lanjut, tapi kenapa lo malah masuk lagi kedunia bela diri Bellvania?" katanya dengan nada dinaikkan satu oktaf.
"Lo itu susah banget sih dibilangi Van?" kini Calista sembari berjalan dari rak novel Vania.
"Tapi guys gue pingin terjun lagi kedunia itu, gue udah lama vakum dari karate semenjak gue tau kalau gue ngindap kanker otak yang bisa bikin konsentrasi gue hilang begitu aja," kata Vania yang lagi dan lagi membela dirinya sendiri dan kalimat terakhir yang diucapnya, langsung merubah raut wajahnya menjadi sedih.
Ketiga temannya itu mengetahui perubahan raut wajah Vania, dengan segera mereka memeluk tubuh kecil Vania dan tak lupa selalu memberikannya support. Merekalah yang tau segalanya tentang Vania, ingat hanya mereka bukan yang lain.
"Gue beruntung banget punya sahabat kayak kalian," kata Vania dengan tulus.
"Udah deh lo ga usah kek gitu, kita udah kayak saudara kan? Orang tua kit aja sama-sama sahabatan masak anak-anaknya nggak?" kata Calista dengan bangganya.
Satu persatu melonggarkan pelukan mereka, "udah deh nggak usah mellow lagi ya," kata Agnes dengan senyum sumringahnya.
****
Nevan kini sering terbayang dengan sosok wajah nerd Vania, entah kenapa serasa Nevan merasakan hal yang beda dengan dirinya ketika menyebut nama itu. Pada dasarnya, Nevan belum tau jelas tentang adik kelasnya itu.
'Akhir-akhir ini kok gue nggak pernab ngeliat batang idung nya Vania ya? Jangan kan ngeliat batang idungnya, tau kelasnya aja nggak,' gumamnya seraya menatap langit-langit kamarnya ini.
Berbeda dengan Leo, Nevan yang jarang keluar malam. Ya, kini Leo sedang berada diarena balapan liar dijalan dekat sekolahnya. Leo ikut balapan liar ini karna dia ingin mencari kebahagiaan tersendiri, Leo juga merasa bosan dengan kehidupannya yang begitu flat.
Diarea balapan ini, sudab sangat banyak cewek berpakaian mini, dan cowok dengan motornya masing-masing yang tak lain tak bukana adalah Leo. Entah kenapa kali ini Leo dikerumini dengan cewek-cewek itu, Leo paling benci dengan cewek-cewek berpakaian mini itu.
"Hai bro, malam ini lo lawan gue lagi." kata seorang cowok dan langsung berhigh five dengan Leo, dia tak lain tak bukan adalah Boy.
Leo mendengar itu hanya tersenyum miring dibalik helmnya. Sampai kapan pun Leo tak mungkin takut dengan Boy, dia selalu bermain curang dalam hal apapun.
"Kali ini yang kalah bakalan ngelayani cewek dengan baju ketat warna merah." kata Boy, dengan menunjuk cewek yang dimaksud. Leo hanya menggut-manggut dibalik helmnya sebagai tanda mengerti.
"Tapi kalau menang karna curang, dianggap kalah, gimana setuju?" kini Leo membuka suara dengan menanyakan pertanyaan yang membuag hati Boy goyah.
Boy menarin nafas dalam-dalam, "oke tantangan cukup mudah itu bro." katanya dengan satu tarikan nafas. Tapi berbeda dengan hati Boy yang masih ragu dengan ucapannya itu.
Balapan pun dimulai, Leo masih sama masih diurutan pertama dibanding Boy. Garis finish sudah terlihat jelas dan oh ternyata Boy sudah tepat disamping Leo. Leo menyadari kehadiran Boy dengan cepat, Leo menancapkan gas motornya sebelum Boy bertindak curang. Lagi dan lagi Leo lah yang menang.
Tepat saat Boy menginjak garis finish, saat itu juga suara sirine mobil polisi berdatangan, semua anak yang berada disini berlari menyelamatkan diri dari polisi, namun usaha Leo melarikan diri gagal dia malah tertangkap oleh salah satu dari polisi-polisi itu, dengan nurut Leo mengikuti kemana ia dibawa.
Sesampainya dikantor polisi, ternyata kedua orang tua Leo sudab berada disana dan juga kakaknya, Nevan. Mamanya Leo mengetahui anaknya tertangkap polisi akibat balapan liar langsung menangis sejadi-jadinya bahkan sempat tak sadarkan diri. Saat itu juga, orang tua Leo membebaskan putranya dari kantor polisi.
Baru saja sampai dirumah, Leo hendak memasuk kamarnya langsung dicegah oleh papanya, "sampai kapan kamu ikut balapan kayak gitu hah?" bentaknya dan tak segan-segan memukul pipi anaknya itu.
Leo mendapat perlakuan seperti itu hanya diam, karna pukulan seperti itu tak ada rasa sakitnya dibandingkan dengan masalahnya dua belas tahun belakangan ini.
"Mau pukul Leo, mau bunuh Leo, mau ngusir Leo? Silahkan Leo ga butuh apapun dari kalian!" kata Leo dengan nafas yang memburu dan langsung beranjak menuju kamarnya.