
Leo merasa bosan di apartemen yang begitu besar ini. Akhirnya Leo memutuskan untuk mengabari teman-temannya untuk diajaknya ke mall untuk sekedar main time zone atau nonton bioskop. Setelah teman-teman Leo setuju dengan ajakannya, Leo pun langsung berganti pakaian santainya. Dan Leo pun langsung menuju ke Mall yang sudah ia janjikan tadi.
Sesampainya Vania di rumah Aldo, Vania disambut hangat oleh mamanya Aldo. Namun Aldo tidak terlihat sama sekali ketika Vania masuk ke rumahnya.
Vania pun menjabat tangan mamanya Aldo dan berpelukan sebentar sebagai pengobatan rasa kangennya.
"Aldonya ada tante?" tanya Vania akhirnya.
"Ada. Sebentar tante panggilkan dulu." dan mamanya Aldo pun langsung pergi. Vania memilih untuk duduk di sofa.
Tak lama itu pula, Aldo dan mamanya pun mendatangi Vania dengan keadaan Aldo duduk dikursi roda dan bantuan bernafas. Vania melihat itu rasanya ia tak bisa gerak, Vania langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tanpa sadar air matanya sudah membasahi pipinya.
"Tante tinggal dulu ya." pamit mamanya Aldo.
"Vania," sapa Aldo sambil tersenyum.
Mendengar suara Aldo yang begitu parau, Vania langsung menghampirinya dan memeluknya erat. Vania menangis dalam pelukan Aldo, Vania tak berbicara sekata pun.
"Kenapa nangis, Van? Gue gapapa kok, jangan nangis ya, gue ga bisa lihat cewe secantik lo nangis," kata Aldo menenangkan.
Vania pun melepaskan pelukannya dan tersenyum sedikit. Vania begitu sedih melihat keadaan Aldo yang seperti ini. Aldo pun berusaha menghapus air mata Vania. Bagi Aldo, Vania adalah wanita yang begitu tegar dalam menghadapi apapun.
"Do, lo netep di Indonesia terus kan? Gue kangen tau sama lo," ucap Vania sesekali memanyunkan bibirnya.
Aldo pun tersenyum dan mengusap puncak kepala Vania, "iya, Vania. Gue netep di Indonesia kok, ga pergi-pergi lagi,"
"Nah gitu dong. Eh btw, lo kenapa lagi? Kan kemaren lo gapapa?"
Mendapat jawaban itu, Aldo tak tau harus jawab apa, apa iya harus jujur, atau berbohong untuk kali ini?
"Emm anu gue susah nafas, akhirnya tadi pagi gue ke Rumah Sakit Dharmais buat check up eh taunya surub pake ini dan juga gue lemes banget tadi," jujur Aldo akhirnya.
"Ish kenapa ga bilang sih, Do. Suka bener bikin gue sedih," cibir Vania.
"Iya iya maaf little girl," Vania selalu blush kalo di panggil itu sama Aldo, karna cuma dia yang manggil seperti itu.
Dan saat itu juga, kepala Vania mulai terasa sakitnya, Vania berusaha menahannya sampai ia dirumah nya. Dan Vania pun memutuskan pamit dan berlalu pulang.
"Do, gue balik pulang dulu ya, jaga diri baik-baik, makan sama minum yang bayak biar ga kurusan, jangan lupa minum obat, ke Rumah Sakit juga harus rutin. Love you." tutur Vania dan mencium pipi Aldo sekilas, itu semua sudah menjadi kebiasaan Vania bersama Aldo.
"Iya, Bellvania. Lo juga ya, love you too." jawab Aldo dan balik mencium pipi Vania.
Dan Vania pun berjalan keluar rumah Aldo sedikit tergesa-gesa. Aldo tau kalau Vania seperti itu yang berarti kepalanya kembali sakit dan dia harus minum obat kalau nggak ke rumah sakit.
Sesampainya Vania masuk di mobil, Vania pun mengeluarkan isi tasnya untuk mencari obat yang selalu ia bawa. Dan ketika ketemu, hanya tinggal botolnya, obatnya habis.
"Shit." umpat Vania.
Akhirnya Vania mencari obatnya disekitar mobilnya, biasanya obat cadangan ada di mobil dan setelah mencari cukup lama, akhirnya obat nya pun ketemu, dan Vania langsung meminumnya.
Leo dan ketiga temannya pun asik bermain time zone ya meskipu banyak kalahnya dibanding menangnya, namun itu sudah menghilangkan rasa bosan Leo. Tanpa mereka sadari, banyak cewe-cewe yang selalu memerhatika mereka. Dan bahkan ada yang rela nunggu mereka sampai mereka selesai bermain time zone.
"Udah ah capek gue. Laper nih makan yok," ajak Leo dan di angguki oleh tiga temannya.
Selama Leo dan ketiga temannya keluar dari arena time zone, para kaum hawa pun memerhatikan mereka berempat sampai-sampai tak fokus dengan jalan. Namun mendapat tatapan itu, Leo dan ketiga temannya hanya masa bodo.
Sedangkan Calista, dia mengendarai mobilnya begitu cepat agar bisa cepat-cepat sampai rumah, ia tidak memikirkan keselamatannya kali ini. Kepala Vania sudah begitu sakit dan puyeng. Dan tak lama itu pula, Vania sampai dirumahnya, baru Vania keluar dari mobil, pandangannya sudah menggelap dan
Bruk
Vania tak sadarkan diri di bawah lebih tepatnya disamping mobilnya.
Tak lama itu pula, Alvaro datang dan ketika melihat Vania yang tergelatak pun langsung mengangkatnya dan dibawanya masuk, Alvaro sudah khawatir setengah mati melihat keadaan adiknya yang seperti ini. Ketika masuk kedalam, Dewi pun juga shock melihat putrinya, dengan cepat mereka menelfon Caraka untuk segera mendapat penanganan yang lebih.
Setelah menelpon Caraka, Vania pun langsung di larikan ke Rumah Sakit Dharmais. Dewi sudah menangis tersedu-sedu melihat Vania yang tak sadarkan diri ini, ia sangat ga tega melihat keadaan anaknya yang harus mengonsumsi obat-obatan terus.
Seusai mereka sampai di Rumah Sakit, Alvaro pun langsung menelpon Leo agar ia bisa kesini. Sedangkan Dewi hanya bisa menangis dan berdo'a untuk keselamatan anaknya.
Leo pun merasa keganggu ketika ia makan ada panggilan masuk. Leo mengabaikannya dan memilih lanjut makan, dan tak lama itu pula, panggilan masuk pun ada lagi, mau tak mau Leo mengangkat telpon tadi. Dan ternyata yang nelpon sedari tadi adalah Alvaro.
Leo langsung kaget ketika mendengar Vania masuk ke Rumah Sakit lagi. Leo akhirnya memutuskan sambungannya dan langsung pergi dari restaurant ini tanpa memberitahu ketiga temannya. Eits makannya sudah dibayar ya sama si Leo.
"Napa dah tuh bocah tumben amat kek gitu," kata Exel sambil melihat kepergian Leo.
"Mana gue tau lah bege orang Leo ga bilang apa-apa kan?" timpal Bastian.
"Gue tau, dia kemana, ikut gue sekarang." ajak Carel dan langsung berjalan keluar restaurant.
Carel pun jalan terlebih dahulu dan diikuti Bastian dan Exel. Dan ternyata, Leo baru saja keluar dari arena mall, yang artinya mereka bertiga masih bisa ngikutin Leo. Tapi you know Leo kalo naik motor seperti dikejar setan.
"Gue rasa, dia ke Rumah Sakit, dia kan kenal banget sama keluarga nya Vania." kata Carel sambil menyetir mobil.
"Gue juga ngerasa gitu." timpal Bastian.
"Sumpah ya seumur-umur kita kenal Leo, baru kali ini dia bisa akrab sama cewe, yang dulu notabenya bakal jadi bahan bully kita." kata Exel tak menyangkanya.
Selama perjalanann mengikuti Leo, mereka kehilangan jejaknya. Dan Carel pun memukul setir mobilnya kesal. Tapi setelah itu, Carel bersikap biasa saja karna dia tau kemana tujuannya Leo. Dan Leo memutuskan untuk melewati jalan tikus agar dia bisa cepat sampai di tujuannya Leo.
"Kita kehilangan jejak, Leo?" tanya Exel.
"Iya, tapi tenang gue udah tau kemana dia pergi kemana." jawab Carel dengan satu tarikan nafas saja.
****
"Bang Var, sorry gue gabisa jagain Vania," sesal Leo ketika sudah berhadapan dengan Alvaro.
Alvaro menepuk pundak Leo, "lo ga perlu menyesali ini, Le. Vania memang sudah sakit di awal, makanya gue sama bang caraka nyuruh lo buat jagain dia," tutur Alvaro.
Dan tak lama itu pula, Caraka pun datang dengan suster yang sedari tadi membantu Caraka dalam penanganan Vania.
"Vania udah stabil, dia bisa pulang sekarang kok. Ma, Var, Le aku pamit dulu ya, masih ada pasien yang butuh penanganan." pamit Leo dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
Mereka pun langsung pergi masuk kedalam ruangan Vania. Dan Leo pun juga ikut masuk. Kini Vania sudah sadarkan diri dan masih terbaring di atas kasur.
"Bang, ma, maaf Vania tadi abis dari rumah Aldo, tiba-tiba kepala Vania sakit, obat Vania yang ditas habis tapi masih ada obat dimobil," jujur Vania.
Dewi pun mendekat kearah vania dan mengusap puncak kepala Vania dengan sayang, "yaudah, Van gapapa kok, yang penting kamu baik-baik saja kan sekarang."
Leo pun hanya diam, berdiri disamping Alvaro dan hanya menatap kedepan. Vania yang melihat itu pun merasa aneh dengan diri Leo.
"Ma, bang bisa tinggalin vania sama Leo disini?" kata Vania. Dan langsung diangguki oleh Dewi dan Alvaro.
Hampir sampai dipintu, Alvaro pun menoleh ke arah Vania, "jangan macem-macem ya." mendengar itu, Vania malah tertawa.
Sedangkan Leo, ia terlihat kebingungan ketika Vania menyuruh mama dan abangnya keluar, Leo pun memutuskan untuk ikut menyusul mereka keluar, tapi diurungkan ketika Vania memanggilnya.
"Leo," panggil Vania dan sang empunya nama pun menoleh.
"Wajah lo kenapa kok kelihatannya nyesel gitu? Dan tumben amat lo udah ganti baju, biasanya jam segini masih kelayapan," kata Vania sekaligus menatatarnya.
Leo mendengar itu pun meneguk ludahnya susah payah. Bagaimana tidak, secara halus dia di ejek oleh Vania.
Leo pun menggaruk tengkuknya, "iya lah, orang gue sekarang pengen jadi rajin. Tadi abis dari jalan sama temen-temen," jawab Leo.
Vania hanya mangangguk sebagai jawabannya. Dan sekarang keadaan pun kembali hening, mereka yang sibuk dengan jalan pikiran mereka masing-masing.
Ekhem
Leo pun berdehem membuat Vania menatap Leo dengan tatapan 'ada apa?' namun, sang empunya malah tersenyum melihatkan deretan gigi putihnya itu.
"Lo tadi kan habis pulang dari rumah si Aldo, dan keadaan lo tadi masih baik-baik aja kan?" pertanyaan Leo. Sontak membuat Vania terdiam seribu bahasa mendapat pertanyaan itu.
Dengan sesegera mungkin Vania menetralkan raut wajahnya, "iya, gue tadi pulang dari rumah Aldo, kenapa?"
"Lo sebenarnya sakit apa sih?" pertanyaan Leo itu lagi dan lagi membuat Vania mati kutu, belum saatnya untuk menceritakan semuanya.
"Gue? Cuma sakit biasa aja kok, kepo banget sih lo," jawab Vania dengan nada sedikit dingin.
'Gue tau, Van lo pasti kena kanker, secara lo aja selalu dirawat di Rumah Sakit Dharmais.' batin Leo.
Tanpa mereka sadari, dibalik pintu ada tiga cowok yang sedang memerhatikan mereka. Dari cara pandang, cara bicara, dan semua itu tidak dapat ditebak oleh mereka. Ya mereka adalah, Carel, Exel, dan juga Bastian.
Dan tak lama mereka bertiga pun masuk kedalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan itu membuat Vania dan Leo kaget.
"Ada perlu apa kalian kesini?" tanya Vania tanpa menatap mereka.
"Sante aja napa kalo tanya. Gue kesini mau nyamperin, Leo bukan lo." cibir Bastian.
Leo hanya bisa menghela nafas melihat mereka berdebat. "siapa juga yang mau lo jenguk. Yaudah sana ajak temen lo pulang. Gue harus istirahat total." usir Vania.
Akhirnya Leo pun memisahkan perdebatan antara Vania dan juga Bastian. "bisa diem gak? Gue gamau pulang, gue tetep disini," jawab Leo dan itu membuat Bastian, Exel, dan juga Carel melotot. Bagaimana tidak, baru kali ini Leo lebih mementingkan seorang cewek.
"Le, kalo lo ada apa-apa cepet kasih kabar." kata Exel mendekati Leo. Leo pun hanya mengangguk.
"Bro, gue tau lo udah jatuh ke dalam pesona Vania, semoga lo bisa dapetin dia ya." bisik Carel sambil menepuk punggung Leo.
Mendengar bisikan itu, Leo memberontak, "gak lah."
"Bisa diam gak?" bentak Vania. Sontak semua yang ada disini diam dan saling mencolek satu sama lain.
Bastian pun menggaruk tengkuknya sambil tersenyum miring, "Le, kita balik dulu ya. Ati-ati sama dia, inget misi kita di awal dulu." kata Bastian sambil berbisik.
Leo mendengar itu pun hanya tersenyum miring. Bagaimana bisa ia melanjutkan misinya sedangkan Leo sekarang sudah dikasih amanat untuk selalu menjaga Vania.
******
Aldo, lagi dan lagi ia asik menuangkan tinta kedalam lembaran-lembaran berbentuk buku itu, meskipun i harus tetap berada dikursi roda.
Aldo begitu senang jika ia menulis nama Vania. Bagi Aldo, Vania cewek yang begitu tegar untuk apapun, namun Aldo selalu menyembunyikan perasaannya terhadap Vania.
Aldo begitu kangen dengan masa-masa Vania dulu, ketika Vania ada tournament Aldo selalu ada disampingnya. Kebahagiaan Aldo cukup ada di Vania.
"Aldo," teriak mamanya dari luar. Mendengar teriakan itu, Aldo cepat-cepat menutup bukunya itu.
"Ada apa ma?" jawab Aldo pelan.
"Kamu hars menjalani pengobatan di Singapura lagi, nak," pinta mamanya sambil memegang tangan Aldo dengan sayang.
Aldo pun tersenyum dan memegang kembali tangan mamanya, "ma, Aldo cukup berobat di sini aja, Aldo gamau buang-buang uang mama sama papa. Jika Aldo ditakdirkan untuk terus Alhamdulillah jika tidak, Aldo hanya bisa pasrah. Kalaupun Aldo berobat di Singapura, kalau sudah takdir bagaimana?" tutur Aldo. Dan itu berhasil membuat mamanya manangis terharu mendengarnya.
Mamanya Aldo pun langsung memeluknya erat seakan-akan ia tak ingin kehilangan anaknya satu-satunya. "Aldo, mama janji bakal jagain kamu nak, mama tau kalau kamu ingin dekat dengan Vania. Mama tau, kamu gamau Vania khawatir sama keadaan kamu kan?" tutur mamanya dan Aldo hanya mengangguk pasrah mengetahui itu semua.