
Vania Pov
Kring... Kring...
Tidur ku merasa terganggu karena dengar suara alarm yang terus menerus. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk bangun mematikan alarmnya. Dan ketika aku mematikan alarm dan ohh sekarang sudah pukul 06.30 yang artinya setengah jam lagi udah masuk sekolah.
Aku pun segera melakukan rutinitas ku dipagi hari, setelah mandi aku pun segera mencepol rambut, dan memakai gelang. Setelah kurasa semua siap, aku segera turun kebawah dan rumah sudah sangat sepi. Tanpa babibu aku segera menyambar roti yang berada di meja makan dan langsung keluar rumah.
Aku mengendarai motor ku dengan kecepatan diatas rata-rata yang membelah ramainya jalan raya di Jakarta ini.
Tak memakan waktu lama, sampailah aku dipekarangan sekolah yang sangat luas ini, lebih tepatnya di pekarangan belakang sekolah. Aku pun memarkirkan motor ku dengan rapi disitu, dan aku mulai melepas helm, masker ku langsung turun dari motor.
Aku pun melewati koridor sekolah dengan menenteng tas, lengan baju dilipat, dan pandangan lurus kedepa. Siswa dikoridor ini pun melihat ku dark atas sampai bawah.
'Eh tomboy'
'Belagu banget'
Dan masih banyak lagi. Namun aku hanya menghiraukan omongan ga penting dari mereka.
'mereka bilang apa? Gur belagu? Bodo amat.' gumam ku selama berjalan menuju ke kelas.
Author POV
Selama Vania berjalan melewati koridor, banyak omongan-omongan tentangnya. Namun Vania tak menggubris nya sama sekali. Sesampainya Vania di kelas mata Vania langsung tertuju pada bangku bagian belakang. Ya itu adalah bangku gengnya Leo. Vania teringat perdebatannya kemarin dengan Leo yang tak berujung habis.
'Gue ga akan ngegubris ocehan dari siswa-siswi sini tentang gue.' gumamnya sambil berjalan menuju bangkunya.
Baru saja Vania mendaratkan bokongnya suara itu menggelegar seisi ruang kelas ini, yang benar saja mereka teriak-teriak. Sama saja mereka akan membuka jati diri mereka dalam waktu yang cepat.
Vania pun segera beranjak berdiri dan membungkam mulut Agnes dan Calista dengan tangannya.
"Lo jangan teriak-teriakan bego" bisik vania yang diyakini masih bisa didengar oleh sahabatnya itu.
"Eh sorry Van," ucap Agnes dengan senyuman kecil terlintas dibibirnya. Vania hanya menghentakkan kakinya dan berjalan menuju bangkunya.
"Lain kali kalian kayak gitu lagi, gue ga akan ngajak kalian jalan-jalan lagi" ancam Vania dengan enteng.
"Serah lo Vania" ucap Calista dengan pasrah, karena Vania tak pernah main-main dengan ucapannya itu.
"Hm" gumam Vania seraya mengambil benda persegi dari dalam tasnya. Vania pun terfokus dengan benda tersebut.
Vania terlonjak kaget ketika didengarnya suara dari Bu Diyah, lagi-lagi Leo dkk yang dateng telat. Vania pun menutup novel nya dan memasukkannya kedalam tasnya.
Setelah bu Diyah menyuruh Leo dkk pergi ke ruang BK, pelajaran pun kembali dilaksanakan seluruh kelas dengan hening.
Satu jam pelajaran bu Diyah telah berjalan, masuk lah Leo dkk ke kelas dan itu membuat cewek seluruh kelas menatapnya sambil menganga, terkecuali Vania, Agnes, Calista dan Belva.
Jam pelajaran pun berlanjut sampai tak terasa bel istirahat pun telah berbunyi. "Sekian dari pelajaran saya, Selamat pagi" ucap bu Diyah langsung beranjak dari kursi dan berjalan keluar diikuti seluruh siswa kelas ini.
Mengingat ini jam istirahat, Vania dkk segera pergi ke Kantin untuk sekedar membeli minum atau makan. Selama berjalan menuju kantin, banyak yang menatap Vania dkk dengan tatapan tak sukanya bahkan rasanya mereka ingin membully nya disini.
'minggir ad tomboy, ntar lo dibogem'
'Biasanya ya tomboy itu suka cari gara-gara'
'Ngeri gue lihatnya'
Dan masih banyak lagi omongan tak suka dari mereka. Namun Vania dkk masa bodo dengan omongan tak penting itu.
Namun di lain sisi, sekelompok cewek yang begitu terkrnal dengan bully nya menatap Vania dengan sinis, bahkan cewek tersebut akan menjadikanny Vania bahan bully nya.
Segerombolan cewek tersebut berjalan dengan anggun nya mengikuti Vania dkk dari belakang. Stefani. Ya dia adalah cewek gerombolan Stefani, yang ditakutin seluruh penjuru sekolah ini, karna dia tak pernah main-main dengan ucapannya. Tak lama Stefani berhenti dan memanggil Vania dengan suara kerasnya itu.
"Eh lo tomboy" ucap Stefani dan membuat Vania dkk membalikkan badan dan mendapati Stefani yang berjalan ke arahnya dan diikuti oleh antek-anteknya itu.
"Lo manggil gue?" tanya Vania polos.
Stefani mendengar jawaban dari Vania merasa geram, Stefani merasa Vania tak punya rasa takut dengannya.
"Iyalah. Gue manggil lo semua. Siapa lagi tomboy kalo bukan kalian hmm?" desis nya sembil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Ada keperluan apa lo manggil kita?" sekarang Agnes membuka suara dengan nada sedatar mungkin, karena benar Vania tak takut dengan siapa pun termasuk dia Stefani.
"Nama lo semua siapa?" tanya nya sambil memperhatikan Vania dari bawag sampai atas, bukan hanya Vania, tetapi Belva, Agnes dan juga Calista.
"Nama gue Vania" Vania menjawab sambil mengulurkan tangannya untuk sekedar berjabat tangan, namun setelah itu Vania kembali menarik tangannya.
'Duh gue lupa kan situ cabe pastj dia pasti jijik salaman sama gue' gumam Vania sambil tersenyum.
'Cantik juga dia' batin Stefani dan tak lepas menatap Vania.
"Ga usah batin ungkapin aja" kata Vania yang langsung membalikkan badan dan kembali melanjutkan jalan untuk menuju ke kantin.
Stefani dibuatnya geram lagi sampai-sampai Stefani berjalan sambil menghentakin kaki jenjang nya itu ke lantai. *kan kasian lantainya:((
'lo bilang gitu sama aja lo cari masalah sama gue' gumam Stefani disela-sela jalannya menuju ke kelasnya lagi.
Vania dkk pun sampai di tengah-tengah ramainya kantin dan mata mereka mencari-cari meja yang kosong untuk tempat nya makan, sampai tatapan Vania berhenti disatu titik yang dirasa meja itu kosong, tanpa babibu Agnes faham dengan tatapan Vania, langsubg berjalan mendahului nya menuju meja tersebut. Agnes tak peduli meskipun meja itu adalah meja komplotannya Leo.
"Kalian mesen seperti biasa kan?" tanya Calista memastikan apa yang akan dipesan oleh temannya itu. Dan mereka hanya menjawab dengan berdehem dan menganggukan kepala.
Calista berjalan santai menuju warung yang bisa dibilanh sebagai langganannya.
"Mang biasanya ya" ucap Calista sopan dan langsung diangguki oleh bapak paruh baya tersebut.
Setelah Calista memesan makan dan minum, Calista kembali berjalan menuju tempat mereka duduk tadi.
Sembari menunggu pesanannya datang, Belva membuka topik dengan deheman yang menbuat ketiga temannya terfokus kearahnya.
"Apaan sih Va" sinis Agnes
Calista mengedarkan tatapan ke seluruh penjuru kantin dan berhenti di meja tengah dan Calista langsung menunjuk bagian meja itu"Eh lihat tuh komplotan cabe. Masih ade kelas udah belagu"
"Oh mereka? Salah satu dari mereka ada yang tetangga jauh gue sih. Ga usah kaget dah lihat mereka, orang kakanya aja juga kek gitu" kata Vania dengan tatapan tetap fokus dengan benda yang ada ditangannya saat ini.
Belva pun mendecak karan tak percaya "Beneran lo Van? Kap..." ucapan Belva terpotong karna kehadiran mang Achmad yang nganter pesanan makan tadi.
Braakk
Ditengah asiknya makan, meja pun digebrak oleh Leo beserta antek-anteknya itu.
'udah gue pastiin kutil kuda ini bakal nyamperin' Batin Vania sambil melihatnya sekilas dan kembali melanjutkan makannya.
Leo pun dibuatnya geram lalu Leo memutuskan untuk buka suara "Lo ga denger gebrakan meja tadi? Apa lo gatau artinya apa" Ucap Leo.
Vania dkk hanya melihat sekilas ketika Leo berhenti bicara dan kembali fokus ke makanan mereka. Dan lagi-lagi Leo dibuat nya geram.
"Lo semua budek ha? Gue lagi ngomong sama lo semua nerd" Cerosonya lagi.
Vania menatap Leo tajam seraya mengunyah makanan yang ada dimulutnya
"Sorry gue ga budek" jawab Vania enteng.
Leo berdecak sebel dengan jawaban Vania yang begitu entengnya "Terus kalo ga budek napa lo ga nggubris omongan gue?"
"Gue lagi makan. Makan ga boleh ngomong, oh satu lagi gue tau maksud lo gebrak meja ini tadi" katanya "Lo nyuruh gue sama temen gue pergi dari meja ini kan?! Woi nyadar. Ini sekolah, kantin? Buat semua siswa disini"
"Suka-suka gue dong. Emang lo sapa ha?" decak Leo sebal. Vania langsung pergi meninggalkan meja itu.
Seisi kantin kembali lagi dengan kegiatan mereka yang sempat tertunda tadi.
Leo segera mengambil duduk di meja tersebut ketika Vania dkk telah pergi dari hadapannya.
****
Teeett... Teett...
Bel pulang sekolah pun telah menggema di seluruh penjuru sekolah dan itu pertanda semua murid akan bebas dari cengkraman pelajaran.
Waktu demi waktu sekolah mulai sepi, hanya tinggal beberapa anak yang berada disini untuk kegiatan. Namun tak lain dari mereka adalah Vania dkk.
Sudab terbiasa mereka pulang selalu akhir dan alasannya cuma satu. Nunggu parkiran motor sepi.
Setengah jam sudah Vania dkk berkeliling sekolah ini dan sampainya diparkiran sekolah Vania bertemu lagi dengan mereka. You know yes!!
'Dia lagi dia lagi bosen' gumam Vania. Leo hanya menaikan satu alisnya.
****
Motor terparkir rapi di depan rumah, lebib tepatnya di halaman depan rumah. Vania pun masuk kedalam rumah dengan berlari kecil dan bersenandung ria.
"Eh anak mama udah pulang" sapa seseorang wanita separuh baya itu. Ya dia Hana mamanya Vania.
Vania mendengar suara itu hanya menjawab nya dengan dua kata 'iyaa ma' dan langsung melanjutkan jalan menaiki tangga.
Vania langsung merebehkan tubuhnya ke kasur setelah berganti pakaian, Vania hanya menatap langit-langit kamar sampai Vania pun tertidur pulas.