
Hari ini sekolah Vania libur seperti biasa dan hari ini adalah jadwal Vania untuk mengambil resep di Rumah Sakit. Vania kali ini berangkat ke Rumah Sakit bersama mamanya.
Vania sungguh bosan harus meminum obat-obatan. Sudah hampir tiga tahun dia mengkonsumsinya, dan bahkan dia harus meminumnya jika sedang kambuh tidak peduli itu dimana dan jam berapa.
Sekarang Vania sedang perjalanan menuju rumah sakit untuk mengambil resepnya bersama mamanya. Kali ini Vania pergi kerumah sakit daerah, bukan rumah sakit spesialis, karna menyesuaikan dengan jadal kakaknya bekerja.
10 menit...
20 menit...
30 menit...
Dan sekarang Vania telah tiba di Rumah Sakit Daerah. Vania dengan rasa malas harus turun dan diikuti oleh mamanya. Vania sungguh malas jika ia harus ikut untuk mengambil resep dokternya, karna bagi Vania obat sama sekali ga ngaruh terhadap penyakitnya, jika Tuhan menakdirkan umatnya untuk pergi, kita sebagai umatnya bisa apa? Mencegahnya? Tidak bisa kan?
"Mah, Vania males ngantri panjang. Vania keruang bang Caraka, ya?" renge Vania kepada mamanya dan diangguki oleh mamanya.
"Jangan lari-larian. Bilangin abang mu, mama akan keruangannya setelah mengantri," teriak mamanya dan Vania berhanti sejenak lalu menghadap kebelakang dan mengangkat tanganya membentuk tanda oke.
Vania berlarian kecil melewati koridor rumah sakit ini dan menaiki lift untuk sampai keruangan kakaknya. Dan setelah lift terbuka, Vania langsung berlari menuju ruangan kakaknya yang kini sudah berada didepan mata. Dengan senang Vania berlari tanpa melihat sekitar dan
Brugh
Vania menabrak seseorang dan itu membuat Vania dan orang tersebut sama sama terjatuh. Dengan cepat Vania berdiri dan menjulurkan tangannya kepada seseorang tersebut dengan maksud meminta maaf.
"Maaf ya gue ga sengaja. Gue buru-buru," kata Vania. Dan seseorang tersebut pun berdiri sambil membersihkan bajunya, "maka---," omongan seseorang tersebut terhenti ketika mengetahui jika cewe didepannya in adalah Vania, dan Vania menarik tangannya kembali ketika Vania melihat jelas sesorang tersebut, ya dia adalah Leo.
Tanpa pamit, Vania kembali berlari menuju ruangan kakaknya dan langsung masuk kedalam tanpa mengetuk pintunya. Leo melihat Vania yang begitu terburu-buru pun sedikit ada rasa penasaran dilubuk hatinya, tapi Leo tidak ingin mengikuti Vania jika keadaan yang sangat tidak memungkinkan seperti ini.
Vania menemui kakaknya dengan nafas yang ngos-ngosan dan tidak teratur, Caraka yang menyadari itu pun langsung menyodorkan gelas berisi air putih kepada Vania.
"Ngapain sih kamu lari-larian?" tanya Caraka sambil mengelus punggung adiknya itu.
Vania meletakkan gelas tersebut disebelahnya, "Vania ingin bertemu abang. Dan tadi Vania sempet nabrak seseorang bang," cerita Vania.
Caraka mengerutkan keningnya, "siapa?" tanya Caraka.
"Dia temen Vania disekolah, bang. Di---" ucapan Vania terpotong ketika pintu ruangan Caraka terbuka dan mamanya pun masuk kedalam.
"Hai sayang," sapa Dewi kepada anak-anaknya.
"Hai ma," jawab Caraka dan Vania bebarengan.
"Keadaan Vania sekarang gimana, Rak?" tanya Dewi kepada Caraka.
Caraka pun langsung berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan menuju meja yang berisi berkas-berkasnya, dan Caraka mengambil satu berkas dengan map warna biru, di luar map ada nama yang tertera disana, ya namanya Bellvania Aerlyn Cintakirana.
"Selama satu bulan ini, keadaan Vania baik-baik aja ma, meskipun habis pertandingan minggu kemaren," jelas Caraka sambil membolak-balikkan berkas ditangannya itu.
"Tuh kan ma, Vania baik-baik aja," timpal Vania dengan nada membela abangnya itu.
Dewi pun mengusap puncak kepala Vania dengan sayang, "iya mama tau sayang, tapi kamu juga harus tebus obat kalau sudah habis, oke?" bujuknya. Dan Vania mengangguk lesu ketika mamanya membujuknya dengan begitu lembut.
Caraka pun melihat mamanya dengan raut senang, "Ma, Sallsa mau datang kerumah dia sudah boleh dinas di Indonesia,"
Vania dan Dewi mendengar itu pun matanya terbelalak dengan begitu bersinar, "oh ya? Kak Sallsa datang jam berapa bang? Vania harus cepet-cepet pulang," omel Vania dengan tergesa-gesa sendiri.
Caraka mengalihkan tatapannya ke arah lain dan berpaling dari adiknya, "sepulang gue dinas," jawab Caraka malas.
"Kok kamu baru ngasih tau mama kalo Sallsa udah di Indonesia?" tanya Dewi dengan tidak sabar.
Kini Caraka manatap mamanya lekat-lekat, "ma, mama kayak gatau aja gimana Sallsa. Dia bakal ngunjungi kerabat-kerabatnya terlebih dahulu," jelas Caraka.
Dewi tampak berfikir sejenak sebelum akhirnya ia tersenyum ke arah anaknya, "oh iya kerabat dia banyak," katanya, "yaudah ya mama sama Vania pulang aja mau masak banyak buat Sallsa," pamit Dewi dan menarik tangan Vania.
Seorang ibu dan anak ini pun berjalan keluar dari rumah sakit untuk segera pulang. Dan sampai mereka tiba diparkiran, mereka pun langsung masuk kedalam mobil dan melajukannya menuju supermarket.
Dalam perjalanan menuju supermarket, suara dering panjang dari ponsel Vania pun terdengar. Vania pun merogoh saku celananya dan menggeser tombol hijau.
Caller Id nya tertnyata itu dari Sallsa.
"Halo, Vania." sapa Sallsa dari sebrang.
"Halo, kak Sallsa," sapa Vania dengan senyum sumringah diwajahnya.
"Bilangin mama kamu ya, gue mau kerumah nanti sore," kata Sallsa dari sebrang dan itu membuat Vania semakin mengembangkan senyumnya.
"Oke kak, udahan ya, aku sibuk haha," kata Vania dan memutuskan panggilannya sepihak.
Dewi yang disebelahnya pun telihat sangat senang, karna sudah lama ia tak bertemu dengan Sallsa. Dan sekarang mereka sudah sampai di supermarket.
Vania memutuskan untuk menunggu mamanya didalam mobil, Vania sungguh tidak suka jika ia harus berbelanja didalam supermarket.
Caraka dan Alvaro kini sedang terlihat sangat memikirkan sesuatu. Mereka berdua terlihat sangat serius memikirkannya.
"Bang gue ada ide," kata Alvaro sambil berdiri dari duduknya.
Caraka menatap Alvaro sambil mengerutkan keningnya, "apaan?"
"Gimana kalo kita nyuruh Leo juga datang ke acara makan malam? Toh gue juga ngajak Tasya," jelas Alvaro.
Caraka sedikit menimbangkan omongannya adiknya ini, "setuju. Biar gue yang telfon dia." kata Caraka sambil mengambil ponselnya dari saku celananya.
"Dan gue yang kabari mama," kata Alvaro.
****
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 yang berarti Sallsa, Tasya dan juga Leo sebentar lagi datang. Vania pun sudah bersiap-siap setengah jam yang lalu. Satu persatu pun mulai berdatangan, dan ternyata Sallsa lah yang datang terlebih dahulu.
"Hai kak Sallsa," sapa Vania dan langsung memeluknya erat.
"Seperti yang kakak lihat," kata Vania sambil melepas pelukannya.
Sallsa melihat Vania sambil tersenyum, "kok penampilan kamu jadi tomboy lagi hm?"
"Ya kakak tau lah, aku susah buat jadi feminim." jelas Vania sambil berjalan menuju sofa dan duduk.
Sallsa mengikuti Vania duduk, "iya, Van kakak tau, kamu penampilan apapun tetap cantik kok," katanya, "yaudah kakak mau bantu mama kamu dulu ya." pamitnya dan langsung melenggang pergi ke dapur.
Kini Vania tetap duduk disofa ruang tamu sambil bermain ponselnya dan kakinya pun terangkat diatas sofa. Dengan asiknya Vania bermain dengan ponselnya, ia tak sadar bahwa Caraka dan Alvaro datang dengan dua orang satu cewe dan satu lagi cowo.
"Ekhem," dehem Alvaro dan itu membuat Vania mengalihkan pandangannya dari ponsel menuju Alvaro sambil tersenyum tanpa dosa.
"Kak Tasya," teriak Vania dan langsung memeluk pacar dari kakaknya ini.
"Halo Vania," sapa Tasya balik dan memeluknya.
Vania masih saja memeluknya dan sampai rasa rindunya hilang baru ia lepaskan, "kok ka Tasya lama ga main kerumah?" tanya Vania sambi memajukan bibirnya.
Alvaro, Caraka dan Leo yang tau kelakuan manja Vania pun menahan tawa, karna apa? Vania terkenal dengan tomboynya, tapi dia begitu manja kepada orang yang sudah dekat dengannya, seperti saat ini.
"Ga malu mbak sama penampilannya? Tomboy kok manja. Hahaha." ledek Alvaro dan langsung duduk disofa disusul oleh Caraka dan Leo.
"Bisa diem gak lo?" kata Vania kasar.
Alvaro mendengus kesal, "ya serah lo aja dek, disini ada Leo lo ga mau ngajak dia ngomong?" pernyataan dan pertanyaan Alvaro membuat Vania mengalihkan pandangannya dan terfokuskan ke arah Caraka, Alvaro dan juga Leo.
"Kok ada dia disini?" tanya Vania meminta penjelasan kepada kakaknya.
"Sante dong dek, gue ajak dia biar lo ada temennya, biar ga keliatan jones gitu." jelas Caraka sambil menyeringai.
"Serah lo bang!" jawab Vania sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Caraka dan juga Alvarao. Leo? Hanya dilirik dengan tatapan tak sukanya.
Setelah perdebatan itu, Vania langsung menarik Tasya untuk menuju dapur menemui Dewi dan juga Sallsa. Vania masih saja cemberut dan kesel melihat kelakuan dua kakaknya itu.
"Lo harus tau kalo Vania itu beda antara di luar rumah sama dalam rumah." jelas Caraka kepada Leo.
Leo yang mendengar itu mengerutkan keningnya tak mengerti, "maksud abang? Dia alter ego?" tebak Leo. Tapi tebakannya itu salah sehingga ia mendapat jitakan dari Caraka dan juga Alvaro.
"Awsh," ringis Leo sambil mengusap-ngusap keningnya itu.
"Jadi, Vania itu kalo diluar rumah dia berani banget sama siapapun, ga peduli itu cowo sekalipun, bahkan dia bisa saja matahin tulang lawannya," jelas Caraka. "Tapi kalo sudah sama orang yang ia sayang seperti keluarganya, ia bakalan manja melebihi apapun, tapi sikap-sikapnya tetap jadi tomboy," lanjut Caraka.
Leo mendengar penjelasan itu pun manggut-manggut mengerti, "yaudah gue sama Alvaro kedalam dulu mau mandi, habis ini makan malam mulai." pamit Caraka dan disusul oleh Alvaro.
Sepeninggal Caraka dan Alvaro, Leo pun jadi melamun tentang pembullyan beberapa bulan kemarin, "jadi itu sifat Vania antara di sekolah dan dirumah? Dan juga itu alasana Vania cukup berani ngelawan gue sama temen-temen?" batin Leo.
****
"Apa kabar kalian? Tasya, Sallsa, dan kamu siapa ya, om lupa," kata Demas papa Vania sambil menunjuk kearah Leo.
Leo yang merasa dirinya ditunjuk pun tersenyum sebelum akhirnya ia menjawab, "saya, Leo om. Teman sekelasnya Vania." jawab Leo dan diakhiri dengan senyuman dan langsung menatap Vania.
Vania yang merasa dirinya ditatap pun, ikutan melihat Leo, tetapi Vania menatapnya dengan tatapan sinisnya. Caraka, Alvaro, Sallsa dan Tasya yang menyaksikan itu semua pun menahan tawanya.
"Sudah-sudah sekarang kita makan malam," kata Demas mengakhiri semua tatapan itu semua.
Keadaan makan malam ini pun sangat hening hanya suara sendok, garpu dan piring beradu jadi satu. Bahkan tidan ada satu orang pun yang mengucapkan satu kata. Tapi dari gerak-gerik Leo, ia sangat terlihat kalau ia tak bisa duduk berlama-lama dimeja makan.
Setelah acara makan malam selesai, semua orang yang berada disini pun berpindah tempat jadi ditaman belakang, untuk bercerita dan kangen-kangen disana terutama Sallsa. Yang lain hanua mendengarkan dan menimpali sedikit-sedikit. Leo pun mulai ikutan bicara sedikit meskipun awalnya ia harus jaim namun setelah dirasa cukup seru ia mulai berbicara.
"Yaudah kami pamit kedalam ya, kalian lanjutin ngobrolnya. Jangan macam-macam ya, awas aja kalo sampe terjadi," ancam Demas dan Dewi hanya tersenyum dan berlalu pergi.
Setelah kepergian Demas dan Dewi, mereka berenam pun kembali melanjutkan ceritanya kembali. Tetapi mereka berpencar, Vania, Sallsa dan Tasya berada di ayunan kayu dekat kolam renang. Sedangkan Caraka, Alvaro dan juga Leo mereka duduk diatas rumput menghadap langsung ke kolam renang.
"Van, kakak boleh tanya gak?" kata Tasya membuka pembicaraan.
"Boleh lah kak, tanya aja deh kayak sama siapa aja," kata Vania. Tasya dan Sallsa pun saling pandang dan langsung tersenyum simpul.
"Kamu suka kan sama Leo?" tanya Sallsa to the point. Dan itu berhasil membuat Vania tersedak salivanua sendiri.
"Yailah kak, gak lah orang dia badboy, sukanya cari gara-gara bahkan dia selalu ngebully Vania sama temen-temen Vania.
Tasya dan Sallsa mendengar itu pun tersenyum sambil menggelengkan kepala, "gini ya anak ABG," kata Tasya dan mereka langsung tertawa kecuali Vania.
Vania merasa dirinya diledek, ia bercedak kesal dan langsung bersedakap dada, "gak asik ah kalian."
Dari arah jauh, terlihat Caraka, Alvaro dan Leo sedang tertawa lepas. Bahkan Leo serasa sangat akrab dengan mereka.
"Le, lo kalo suka sama adek gue ngomong aja udah, ga usah ditahan-tahan ga afdol," kata Caraka sambil bergurau.
"Ha? Apaan sih lo bang receh tau gak," jawab Leo.
"Asal lo tau, Le. Vania selalu memendam apapun yang ia rasakan, tanpa mau berbagi. Tapi dia gak salah pilih sahabat yang selalu ngertiin dia. Dan gue sama keluarga gue juga selalu tau keadaan dia. Tanpa dia ketahui, disekolah dia ada paparazi yang selalu mengawasi Vania." jelas Caraka panjang Lebar dan membuat Leo menganga tak menyangka.
"Dan lagi, gue sama bang Raka udah mercayai lo buat jaga adek gue, kalo sampe dia kenapa-napa lo harus nanggung semuanya. Siap gak?" tanya Alvaro.
Leo meneguk salivanya susah bagaimana tidak, kedua kakak Vania sungguh mempercayainya untuk menitipkan Vania kepada Leo. Bagaimanapun juga, Leo mulai penasaran dengan kehidupan Vania yang sebenarnya dan penasaran dengan apa yang Vania pendam.
'Clue apa lagi ini bagi gue?' tanya Leo pads dirinya sendiri.
"Semua yang lo tanyakan akan terjawab dengan sendirinya, lo ga perlu khawatir." kata Alvaro dengan tiba-tiba.
Setelah pembicaraan tersebut, Caraka, Alvaro dan Leo melihat ke arah Vania, Sallsa dan Tasya yang sekarang sudah kosong pun akhirnya mereka memutuskan untuk masuk kedalam rumah.
"Lo tidur sini aja, Le." kata Caraka selama berjalam memasuki rumah.
"Tapi bang---" ucapan Leo terputus, "seragam? Gue ada kok. Lagian seragam gue masih bagus banget," jawab Alvaro kemudian.