Tomboyish Girl

Tomboyish Girl
Satu



Author POV


Vania seorang cewek yang tomboy namun cantik itu memiliki tiga orang sahabat dari kecil. Tidak ada satu orang pun yang berteman dengannya disekolah, semenjak Vania duduk dibangku SMP dan sampai sekarang ia sudah SMA. Semua siswa mengira kalau Vania cewek yang nakal seperti pada umumnya karna dari penampilan dia yang seperti itu. Namun, tanpa mereka ketahui, Vania adalah cewek yang baik dan suka menolong sesama,Vania juga seorang atlet karate semenjak Sekolah Dasar, saking sayangnya Vania terhadap orang sekitar sampai-sampai ia menyembunyikan sebuah penyakit yang di deritanya selama dua tahun belakangan ini.


Leo seorang cowok yang suka membully, pemalas disekolah, sering bolos, tapi sedikit pintar itu mempunyai tiga orang sahabat dari kecil dan sama seperti Vania. Leo yang hidupnya terbengkalai dari ia duduk dibangku Sekolah Dasar sampai sekarang, orang tuanya yang seakan-akan lupa dengan Leo dan lebih mementingkan kakanya yang terkena penyakit jantung. Dan Leo hanya ditinggalkan seorang diri dirumah yang begitu besar, sedangkan kedua orang tuanya pergi ke Singapura untuk pengobatan kakaknya dan kembali ketika Leo duduk dibangku kelas 9 SMP. Dan gara-gara itu, Leo merasa hidupnya tak beruntung, dan Leo hanya bercerita kepada sahabtnya dan keluarga yang sudah pernah merawatnya dulu.


Awal mereka masuk kelas setelah liburan panjang dan setelah kelasnya diacak, Vania dan Leo adalah satu kelas. Leo dan kawan-kawan yang selalu membuat onar dikelas, sedangkan Vania dan kawan-kawan selalu menegurnya. Leo merasa tidak terima jika ia ditegur sama seorang cewek, sama guru aja sering diabaikan, apalagi dengan cewek. Dan akibat Vania dan kawan-kawannya selalu menegurnya sampai-sampai merak beradu mulut didalam kelas.


Leo dan kawan-kawanya pun mempunyai ide untuk selalu membully Vania dan kawan-kawannya itu, namun rencana awal Leo berbanding kebalik dengan kenyataannya. Yang ada sekarang, Leo dipesani amanat oleh abangnya Vania untuk bisa menjaga Vania semampunya. Dan karna itulah sekarang Leo bisa dibilamg dekat dengan cewek pertama kalinya dan begitu juga dengn Vania.


"Gue bukan cewek seperti pada umumnya, gue bukan cewek sempurna seperti cewek layaknya, gue cewek yang selalu hidupnya menyusahkan orang lain, hidup gue selalu ketergantungan pada obat-obatan. Tidak semua orang tahu tentang penyakit gue, dan seperti yang lo tau, gue gak ada teman selain mereka bertiga. Gue jadi cewek tomboy punya alasan tersendiri. Dan satu hal yang harus lo tau, gue cewek yang begitu lemah yang hidup gue hanya diambang hidup dan mati," jelas Vania ketika ia berada ditaman Rumah Sakit bersama Leo.


"Lo nggak tau apa-apa tentang gue, yang lo tau tentang gue hanya sebagai cowok yang suka membully, pemalas disekolah, sering bolos, tapi sedikit pintar. Itu semua benar, tapi hidup gue gak seberuntung kehidupan lo, dan lo gak akan pernah bisa berada diposisi gue, karna apa, lo masih bisa merasakan yang namanya kasih sayang orang tua, dan orang tua lo gak akan pilih-pilih terhadap anaknya, dan juga selalu kemana-mana bareng keluarga. Seharusnya lo bersyukur mempunyai keluarga seperti itu." Jujur Leo kepada Vania terhadap apa yang dia alami selama belasan tahun ini.


Mereka berdua diam dengan pikiran mereka masing-masing. masalah diekhidupan mereka berdua kini telah terungkap satu sama lain. Sedih, bersyukur, senang, semua rasa bercampur jadi satu. Dan kini mereka berakhir bersatu dengan takdir yang begitu indah bagi dua insan yang terlahir indah pula.


"Pagi semua" sapa Vania menuruni tangga untuk menuju meja makan. Semua yang berada di meja makan menatap Vania heran bahkan tercengang.


"Pagi juga Van kok penampilan kamu jadi berbeda gitu?" pertanyaan itu terlontar begitu saja sudah seperti yang aku perkirakan sejak tadi


"Eh iyaa ma, Vania pingin aja berpenampilan kek gini, biar beda dikit lah seperti biasanya dan juga kan Vania udah lama nggak kayak gini semenjak Vania divonis," jawab Vania sesuai dengan kenyataannya.


Vania pun duduk di antara saudaranya, Vania sekeluarga siap untuk sarapan. Keadaan pun hening, hanya dengar suara garpu, sendok dan piring beradu jadi satu. Tak butuh waktu lama, Vania pun selesai dengan ritual pagi nya, dan Vania berpamitan untuk pergi ke sekolah.


Padatnya jalan Jakarta ini membuat Vania terjebak macetnya jalan raya, namun Vania tak begitu tergesa-gesa karna ini sudah biasa bagi Vania.


Vania pun kembali membelah ramainya jalan raya Jakarta, dengan kecepatan maksimal agar cepat sampai digedung sekolahnya. Dan oh Vania hanya memakan waktu 25 menit untuk sampai di sekolah meskipun jalanan macet.


Vania memakirkan motor pribadinya di parkiran biasa sama dengan siswa yang lainnya. Dirasa motor tertata rapi, Vania pun segera melepas helm dan masker nya langsung turun dari motor.


Vania pun menyusuri koridor sekolah dengan tas ditentang sebelah pundak, lengan baju dilipet, rambut dicepol, gelang banyak ditangan, dan tatapan biasa. Para siswa disini pun melihat Vania dan mulai berbisik-bisik tentangnya, namun Vania tak menggubrisnya sama sekali.


Vania pun sampai di kelasnya yaitu kelas XI Ipa 2, dimana kelas yang paling dikenal oleh guru satu sekolahnya karena dari awal siswa kelas XI Ipa 2 sangat famous dengan kenakalannya, pencicilannya, urakannya namun mayoritas juga dengan kepintarannya. Mengingat kelas XI ini kelasnya diacak jadinya Vania belom kenal sama teman sekelasnya apalagi sekarang Vania berubah menjadi cewek tomboy, yang dulu sewaktu kelas X begitu pendiam dan tak mengenal siswa lain.


Vania pun langsung mencari tempat duduk yang kosong bagian tengah urutan no 3 dari belakang padahal bangku bagian depan masih kosong semua.


Tak lama Vania duduk datang lah tiga cewek dengan paras cantik, rambut tergerai dan wajah yang uhh tak bisa dikatakan.


"Ih Vania, kenapa lo jadi kek gini lagi?" kata Bellva dengan begitu shocknya melihat Vania menjadi tomboy


"Yodah lah serah gue, gue kangen sama style gue yang ini," kata Vania dengan cengiran yang membuat ketiga temannya terdiam.


Belva dan calista pun duduk di samping kiri dan kanan Vania sudah seperti biasanya. Mereka bertiga pun melihat sekeliling yang menatap mereka dengan tatapan tak bisa diartikan.


Bel masuk pun telah berbunyi semua penghuni kelas ini masuk semua dan disusul oleh wali kelas baru.


"Assalamualaikum. Selamat pagi bagi agama lain, saya akan menjadi wali kelas kalian. Sebelum peroses belajar mengajar berjalan dengan lancar ibu mau perkenalan satu persatu maju kedepan" Kata bu Hetty panjang lebar.


Dan sampai akhirnya giliran Vania yang memperkenalkan dirinya maju kedepan "Pagi semuaa. Kenalin nama gue Aerllyn Belvania Cintakirana. Gue biasa dipanggil Vania. Sekian dari gue terimakasih" Vania pun kembali ketempat duduknya lagi, ketika berjalan menuju tempat duduknya ada sepasang mata yang melihatnya tanpa kedip.


Sampai pada akhirnya sekarang giliran dia yang maju kedepan buat memperkenalkan dirinya "Pagi semua kenalin nama gue Adeleo Orlando Arsenio. Biasa gue dipanggil Leo. Sekian dari gue. Thank's"


"Leo kamu itu niat sekolah apa tidak? Masukkan baju mu sekarang" oceh bu Hetty dan hanya dihiraukan sama si Leo.


"Duh ibu kalo Leo di sini yaa berarti Leo niat sekolah lah masak mau gembel ya nggak" jawabnya ketika sampai dibangkunya.


Agnes pun yang melihat sikapnya itu gak tahan udah mulai emosi dan dia pun membuka mulut nya sambil menggebrak mejanya "Eh lo cowok sombong. Lo tuh kalo ngomong dijaga ya. Dia itu guru, yang bakal ngasih lo ilmu tolol."


Leo tak terima dikatain seperti itu. Apalagi dia nerd, bukan levelnya. "Lo mending diem deh." kata Leo.


"Lo kalo ngomong dijaga ya. Jan langsung nyeplos deh. Lo cowok beraninya sama cewek aja lo?" oceh Calista yang melihat temannya di ejek.


Perdebatan pun dimulai cuma gara-gara masalah sepele. Karna Vania tak suka dengan keramaian yang ga jelas akhirnya Vania pun menengahi pertengkaran ini "Udah deh lo kalo cari masalah sama mereka sama aja lo cari masalah sama gue"


"Cih ketuanya tomboy, mulai marah ya?" kata Bastian dan semua anak ketawa. Vania tak tahan melihatnya vania pun langsung keluar kelas. Tak menggubris ocehan-ocehan yang tak ada ujungnya. Vania pun disusul dengan kedua sahabatnya itu dirooftop sekolah.


"Sumpah deh gue kesel ya lihat tuh cowok. Ga bisa apa ngehargain guru dikit? Udah jelas deh kalo dia tuh bad boy" kata Vania panjang lebar dengan mendaratkan bokongnya kerooftop sekolah.


"Udah deh Van biarin aja dia gatau siapa lo sebenarnya," kata Belva dengan wajah sombongnya. Namun tak digubris dengan yang lainnya.


Vania POV


Aku pun kembali ke ruang kelas mengingat sudah bel masuk, dan diikuti dengan ketiga sahabat ku. Males masuk kelas? Jelas iyaa tapi aku ingat kalo aku niat sekolah. Dan sampai dikelas empat sejoli itu belum ada dikelas, pasti dia masuk nya terlambat.


Bu Ika pun masuk ke kelas untuk memperkenalkan dirinya dan mengajar mapel apa. Tak lama bu Ika duduk datanglah empat cowok yang langsung duduk dibangkunya tanpa mengucapkan salam.


"Eh kalian ber-empat maju kedepan" kata bu Ika memperingati nya, namun tak digubris sama sekali dengan mereka.


"Eh kalian ga denger apa? Kalian suruh maju bego," ucap ku dengan lantang membuat seisi kelas menjadi diam. Bodo amat lah yaa.


"Lo diem deh tomboy gue ga budek kali" decih Axel sambil maju kedepan mengikuti sang ketua.


"Nama gue Vania bukan tomboy." Ucap ku memperingatinya biar tau kalo gue cuma pura-pura nerd.


"Ya serah lo aja deh." kata Leo dingin


Dan sampai nya dia didepan, bu Ika pun tanya baik-baik kepada mereka eh merekanya malah jawabnya nyolot. Bener-bener ya tuh anak.


Sampi akhirnya sesi wawancara dan perkenalan pun selesai, dan bel pulang pun telah berbunyi nyaring. Bu Ika pun keluar kelas dan diikuti oleh seisi kelas ini ikit keluar kecuali Aku, Belva, Agnes, Calista dan keenpat cowok resek ini.


"Udah yuk cabut, ga betah gue lama-lama disini." kata Leo ketus sambil beranjak dari bangkunya


"Cih emangnya lo aja yang ga betah disini? Kita juga ga betah lama-lama disini apalagi ada kalian berempat ih." Ketus ku sambil berdiri dan mengambil tas berjalan keluar dan diikuti ketiga sahabat ku.


Kami pun berjalan menuyusuri koridor sekolah, untuk menuju keparkiran tak peduli dengan sorot mata yang melihat dengan enaknya kami tetap berjalan santai. Sampai nya diparkiran kita pun berpisah untuk menaiki motor kami masing-masing. Setelah perlengkapan buat pelindung terpakai semua, kami pun meninggalkan halaman parkiran ini.


'Jangan bilang kalo itu mobilnya cowok resek tadi, mau apa dia ngikutin gue pulang? Pen tau rumah gue apa' gumamku sambil melajukan motor.


Dan sampai lah aku dipekarangan rumah ku. Saat aku turun dari motor dan menoleh kebelakang dan oh ternyata benar, mobil tadi adalah mobil segerombolan cowok resek tadi. Mau apa dia?


Tanpa babibu aku pun masuk kedalam rumah. "Assalamualaikum. Maa Vania pulangg" teriak ku.


"Duhh iyaa Van mama di dapur" Teriak mama dan aku pun menyampirinya dengan lari-lari kecil.


"Gimana sekolah pertama nya Van dengan penampilan mu yang begini?" pertanyaan yang tak ingin kujawab.


"Vania sebel ma. Gimana ga sebel coba, ada empat sejoli yang ga tau sopan santun sama guru" kata ku sambil ngehentakin kaki lalu berlalu pergi meninggalkan dapur


"Emangnya dia kenapa Van. Kok sampai kamu kayak gitu? Terus Agnes, Calista, sama Belva gimana? Mereka juga sependapat sama kamu Van?" mama pun kembali bertanya yang jawabannya selalu sama, dan yang dibahas orang yang sama.


"Udah deh ma, ga usah bahas dia lagi, Vania males bahas dia terus. Vania ke atas dulu ma" Ucap ku sambil menaiki tangga satu persatu sampai di depan pintu kamar.


Entah mama dibawah bicara apa aku tak tau. Pokoknya sekarang tuh aku sebel sama dia. Ya dia Leo


Aku pun merebehkan tubuh ku diatas kasur king size ku, sambil menatap langit-langit kamar. Aku pun berfikir 'cowok tadi pasti jadi pembully, dan yang dibully pertama adalah cewek yang cari masalah, dan cowok yang cari masalah pasti tawuran.


Aku pun tersadar dari lamunan ku dengan suara mama yang teriak dari bawah, menyuruh ku untuk turun dan makan siang. Aku pun bergegas ganti baju langsung turun ke meja makan untul makan siang. Setelah makan siang, aku ingin kembali ke kamar, namun ketiga teman ku pun datang ke rumah.


"Ngapain kalian kesini?" tanya ku sambil berjalan duduk disofa.


"Lo tadi pulang ada yang ngikutin kan?" tanya Belva to the point.


"Bentar kok lo tau. Yang ngikutin gue cowok resek dikelas tadi" ucap ku ketus tanpa mengalihkan pandangan daru televisi.


"Iyalah gue tau orang gue tadi puter balik. Mau jemput adek gue lewat depan rumah lo bego" jawab Belva sambil menjitak kepala ku.


"Btw misal mereka jadi pembully, pasti yang dibully cewek." kata Calista mebuat aku dan yang lain menatapnya tajam.


Calista pun satu pemikiran dengan ku tadi. Pasti cewek-cewek yang cupu dan korban pertama bahkan seterusnya. Namun aku mah bodo amat. Meskipun aku di bully bakal aku bales sendiri kok. Dan sampai akhirnya kita bikin rencana biar gagal kalo mereka mau ngebully orang lain ataupun kita.


Author POV


Vania dan teman-temannya pun merencanakan apa yang akan dilakukan suapaya mereka cowok tengil gagak untuk membullynya. Setelah dirasa semua beres mereka bertiga -Belva, Agnes, Calista- berpamitan untuk pulang kerumah masing-masing.


"Kita cabut dulu Van. Sampai ketemu besok disekolah" kata Agnes dan berjalan keluar, Vania pun hanya merespon dengan cengiran wajah tanpa dosanya.


Setelah dirasa temennya pulang, Vania pun kembali ke kamarnya, dan mengecek semua social media nya, siapa tahu ada notif atau berita apa.


Vania pun terlonjak kaget kalo Instagramnya di Follow sama salah satu cowok gatau diri itu, dan yang ngefollow itu adalah Leo, Vania pun bingung apa yang akan dilakukan. Tapi untungnya Vania tak pernah post foto tentang dirinya.


Dan sampai akhirnya Vania pun ngeFollback instagramnya si Leo. Setelah di follback Vania pun mulai menstalk Ig nya dan ternyata cuma ada tiga foto di Ignya.


Vania pun mulai berfikir, Leo tau username Ig nya dari siapa? Apa jangan-jangan dia stalker? Ah sudahlah tak penting juga untuk tau.


Setelah Vania cek Ig, Vania beralih buka Line, dan Vania lagi-lagi terlonjak kaget, ketika ada notif dari Adeleo Orlando A. Dengan cepat Vania pun add back balik Id nya. Setelah selang 10 menit. Ada notif chat di line betapa terkejutnya Vania ketika tau siapa orang yang nge-chat nya di malem seperti ini. Dia adalah Leo, ya dia Leo.


AdeLeo Orlando: Malem tomboy.Lo siapin mental sama fisik lo ya. Suatu saat gue sama temen gue mau ngasih kejutan ke lo sama temen lo itu karna lo udah berani sama gue. Hahaha


BellVania :  Lo mau ngelakuin apa aja ke gue sama temen gue, gue bakalan siap sedia kok. Lo santai aja.


AdeLeo Orlando: Rupanya lo sama temen lo udah siap yaa? Yaudah tunggu tanggal main nya aja deh.


BellVania : Kapan pun itu gue bakaln nungguin permainan lo.


AdeLeo Orlando : Oke deh bagus. Mending sekarang lo tidur udah malem. Ntar besok lo ga bisa bangun gue ga bisa ngebully lo dong haha


BellVania : Tanpa lo suruh pun gue bakaln tidur bego. Bhay


Dirasanya chat nya cuma diread. Vania pun segera ngasih tau ketiga sahabatnya tentang ini, karna Vania merasa bahwa dugaannya tadi siang semuanya benar. Tanpa babibu Vania dengan cepat membuka grup Ciwi Ciwi nya


BellVania : Melem guys. Besok kalian bawa seragam cadangan. Besok juga berangkat agak pagian dari biasanya, seragam kalian taruh loker.


Selang beberapa menit tak ada respon sama sekali, bahkan di read aja tidak. Vania pun merasa jengkel akhirnya Vania pun kembali mengetik.


BellVania : Eh curut respon anjing. Gue ngomong seriusan ini. Lima menit gak ada respon, gak ada kata ampun buat kalian!!!


Send...


Tanpa menunggu lama Belva pun merespon nya. Tapi ini kan masih jam 9, namun yang respon hanya Belva. Yang lain kemana?


Belva C. :  Emang ada apaan sih Van kok kayaknya darurat banget. Sorry baru buka hp gue hehehe


Sudah seperti dugaannya Vania. Pasti Belva bilang nya baru buka Hp, dasar emang jones yaa. *Eh author juga sih wkwk


BellVania : Intinya lo sama yang lain besok bawa seragam cadangan. Karna si Leo sama golongannya, mau ngerjain kita tapi gatau itu kapan. Gue barusan dichat sama ketua genk nya.


Calista D. : Yang bener deh lo Van. Jan canda deh.


BellVania :  Gue beneran bego. Yaudah gue mau tidur bhay. Lop you😚


Agnesia A. : Najis anjing


Belva C. : 2


Calista D. : 3


Vania pun akhirnya meletakkan hpnya di atas nakas dan menatap langit-langit kamarnya. Vania memikirkan semua nya apa yang akan Leo perbuat kepadanya, sampai akhirnya Vania pun tertidur pulas