Tomboyish Girl

Tomboyish Girl
Dua Belas



Nevan kini sedang berjalan menyusuri koridor sekolahnya, ia baru saja datang disekolah tapi, anehnya ia berjalan menuju koridor kelas sebelas, bukan kelas dua belas. Dan sampai didepan kelas sebelas mipa 1, ia langsung masuk kedalam tanpa mengucapkan salam. Dengan nafas yang ngos-ngosan ia menghanpiri meja Vania.


"Van lo udah masuk sekolah? Kok kemarin-kemarin gue nggak lihat lo disekolah, emang lo kemana? Ponsel lo juga ga aktif." ujar Nevan dengan nafas yang tersengal.


Vania pun menghela nafas mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari kakak kelasnya ini, "ahh iya kak, gue kerumah nenek gue dan gue lupa ga bawa charger," bohong Vania.


Nevan hanya mengangguk-anggukan kepalanya, dan setelah itu Nevan melihat sekeliling kelasnya yang disana sudah ada adiknya, Leo. Tatapan mereka bertemu, Leo menatap Nevan dengan mata elang yang ia punya selama bertahun-tahun ini.


Leo pun menyunggingkan senyum smirknya dan berdiri, "eh guys si tomboy sekarang punya malaikat pelindung." katanya dengan diakhiri gelak tawanya.


Nevan merasa bingung dengan kelakuan adiknya, makin hari makin aneh dan makin membencinya, seakan-akan Nevan adalah virus mematikan bagi Leo.


"Leo, kamu ngomong apa sih? Nanti mama mau kamu pulang kerumah," jelas Nevan sebelum akhirnya pergi ninggalin kelas Vania dan adiknya ini.


Vania mendengar ocehan antara Leo dan Nevan pun terdiam dan melongo seperti orang gak waras. Tapi dengan cepat Vania mentralkan pikirannya lagi.


"Ngapain sih lo pake acara masuk sekolah? Lo ga sekolah kelas serasa tenang." kata Leo. Dan itu membuat kemarahan Vania diatas ubun-ubun.


Vania tak mau jika harus jatuh cuma gara-gara mikir dalam, Vania pun tak menggubris omongan Leo sama sekali, ia lebih memilih duduk dibangkunya karna bentar lagi bel masuk sekolah berbunyi.


Bel masih saja belum berbunyi eh malah tiga curut yang dateng dan dengan tiba-tiba mereka menggebrak meja Vania dan itu membuat Vania mengucapkan sumpah serapah buat ketiga temannya itu.


"Kemana aja lo dua hari ponsel lo gak aktif?" tanya Calista sambil berjalan menuju bangkunya.


"Terus kenapa lo kayak mikir dalem gitu?" timpal Agnes seraya meneliti wajah Vania.


Bellva pun menempelkan punggung tangannya dijidat Vania, "badan lo anget, terus juga lu pucat, lo sakit lagi Van?" kini semua sahabatnya bertanya bertubi-tubi dan itu membuat Vania semakin pusing.


Belom sempat Vania menjawab pertanyaan ketiga sahabatnya, bel masuk sekolah pun terdengar seantero sekolah. Mau tak mau Vania dkk harus duduk kembali dibangku masing-masing. Tak lama itu pula, bu Hetty masuk kelas dan itu membuat seluruh siswa terdiam terkecuali Leo dkk, mereka masih saja asik ketawa dengan seenak jidat mereka.


Selama jam peajaran berlangsung, kelas terasa sangat sunyi, tapi tidak sepenuhnya sunyi, karna Leo dkk masih saja berbisik-bisik dan tak lama itu pula gelak tawa mereka berempat pun pecah.


Bu Hetty yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepala, karna percuma beliau mengingatkan kalau ujung-ujungnya masih tetap sama.


"Anak-anak ibu akan mengasih kalian tugas kelompok, tapi untuk kelompok biar ibu yang akan milihin kalian nggak boleh protes lagi." kata bu Hetty.


Baru saja seluruh siswa ingin protes, tapi niatannya diurungkan karna bu Hetty sudah bilang seperti itu yang artinya ucapannya benar-benar nggak bisa dibantah sama sekali.


"Kelompo pertama, Belvania dengan Adeleo." ucap bu Hetty. Orang yang punya nama langsung berdiri dan membelalakkan matanya lebar-lebar.


"Nggak bu, saya nggak setuju," kata Leo dan Vania bebarengan. Setelah itu mereka saling menatap satu sama lain.


"Tadi ibu sudah bilang ka? Jangan ada yang protes kenapa kalian masih protes?" kata bu Hetty dengan berkacak pinggang.


Vania dan Leo pun memutuskan untuk duduk kembali, tapi mereka masih saja mengucpakan sumpah serapah untuk bu Hetty yang super duper nyebelin ini.


"Untuk kelompok selanjutnya, Belva dengan Excel, Calista dengan Bastian dan Agnes dengan Carel." ujar bu Hetty menyebutkan nama kelompok masing-masing. Lagi dan lagi kelompok yang disebutin ingin protes tapi apa daya?


Seluruh siswa dikelas ini ingin sekali protes, tapi omongan Bu Hetty sama sekali nggak bisa dibantah sedikit pun, sekalinya membantah maka siswa itu namanya akan dicoret.


"Sekarang kalian duduk dengan kelompom yang udah ibu sebutin tadi." kata Bu Hetty dengan berkacak pinggang.


Dengan malas, Leo berjalan menghampiri bangku Vania. Vania hanya dian saja ketika Leo duduk tanpa minta izin kepada Vania.


"Oke sekarang tugas kalian adalah mengerjakan 50 soal itu, deadline minggu depan mengerti?" kata bu Hetty dan hanya diangguki oleh siswanya ini.


Bel istirahat berbunyi, siswa siswi pun mulai berhamburan keluar kelas untuk pergi ke kantin. Tapi berbeda dengan Vania ia berpencar dari ketiga temannya, ia pergi keruang olahraga yang dimana disana sudah terkumpul para peserta karare minggu ini, salah satunya adalah Vania.


Kini panitan karate sudah datang, dia adalah Bima. Bima mulai duduk dikursi paling depan.


"Oke kalian pasti tau, kalau karate akan dilaksanakan minggu ini. Apa kalian sudah mempersiapkam fisik?" tanya Bima dengan halus.


Baru saja Vania ingin menjawab, sebuah keributan dari luar membuat rapat ini disudah kan, mengingat ruang olahraga yang dekat dengan lapangan jadi keributan pun terdengar begitu jelas.


"Oke rapat saya tutup, besok istirahat kita kumpul lagi. Saya permisi." kata Bima dan pamit undur diri.


Semua peserta kini berjalan meninggalkan ruangan ini, dan Vania berjalan paling belakang. Setelah Vania berada diambang pintu, tangan Vania langsung ditarik oleh Calista untuk berjalan kearah lapangan.


Vania pun memberontak untuk melepaskan tangannya dari cengkraman Calista, "ada apa sih Cal, gak usah cengkram tangan gue sakit." omel Vania.


Dan ketika Vania berada di pinggir lapangan, Vania melihat disana ada Leo dan Nevan yang sedang beradu pukul tanpa ada yang mau mengalah. Vania dengan tekat yang kuat memisahkan mereka berdua, yang lain hanya sebagai penonton pertarungan dadakan ini.


Setelah Vania tepat ditengah-tengah lapangan dan tepat berdiri diantara Leo dan Nevan, barulah mereka berhenti adu pukul.


"Ngapain lo disini, mau jadi jagoan ha?" tanya Leo dengan nafas yang memburu.


Vania menggeleng-gelengkan kepalanya melihat adik kakak yang sedang beradu pukul tanpa tau masalahnya.


"Kalian tau? Ini area sekolah, kalian udah gede. Daripada kalian berantem tanpa sebab, mending kalian ikut pertandingan karate minggu ini. Mengerti?" tutur Vania kepada Leo dan Nevan. Namun omongan Vania tak digubris oleh Nevan dan Leo.


"Pokoknya hari ini lo harus pulang kerumah!" kata Nevan kepada Leo sebelum akhirnya ia pergi dari lapangan.


"Bilang ke nyokap lo suruh jemput gue dirumah Arsya kalo mau gue pulang!" teriak Leo.


Dengan cepat Vania menarik tangan Leo menjauh dari area lapangan, Leo yang tangannya ditarik pun hanya diam dengan seribu bahasa. Leo hanya nurut kemana ia ditarik oleh Vania, sampai tiba didepan UKS, vania membuka pintunya dan masuk.


Leo pun duduk diranjang kasur UKS, sedangkan Vania kini mencari obat untuk mengobati lebam diwajah Leo. Setelah semua dirasa telag diambil, Vania pun duduk disamping ranjang Leo.


"Lo sok jadi jagoan banget sih pake acara misahin gue sama anak manja kayak dia." omel Leo.


Meskipun Leo mengomel dan mengolok Vania dengan apapun, Vania masih setia mengobati lebam diwajah Leo, tanpa mereka sadari dibalik jendela UKS, seorang cowok berpostur tubuh tinggi dan gagah tengah menyaksikan Vania yang sedang mengobati Leo.


"Kalo emang gue jagoan kenapa?" tanya Vania dengan sedikit menekankan di lebam sudut bibir Leo.


"Awsh..." rintih Leo, dengan reflek Leo mencekal tangan Vania yang kini sedang mengobati lebamnya.


Mata mereka kini bertemu saling pandang memandang, dan sedetik kemudian mereka pun mengalihkan pandangan mereka masing-masing kearah lain.


"Diobati ngerintih kesakitan, tapi pas tawuran kenapa gak merintih kesakitan hm?" ejek Vania dengan menyunggingkan senyum smirknya.


Setelah dirasa lebam diwajah Leo telah diobati semua, Vania mengembalikan semua obat-obatan ditempat semula. Vania pun beranjak pergi meninggalkan ruangan UKS ini.


Leo yang menyaksikan kepergian Vania hanya diam mematung dan sesekali tersenyum melihat betapa telatennya Vania mengobati lebamnya. Setelah dirasa Vania bener-bener pergi, Leo pun pergi meninggalkan ruangan ini juga.


****


"Assalamualaikum" salam Leo ketika masuk dan berjalan menaiki tangga, seolah-olah Leo tak melihat apa-apa disini.


"Waalaikumsalam" jawab Arsya dan mamanya bebarengan.


"Leo," panggil Arsya. Leo merasa dipanggil Leo pun membalikkan tubuhnya.


"Apa?" kata Leo ketus. Mamanya pun melihat Leo dengan senyuman, entah itu senyuman kebahagiaan atau senyum kesedihan, Leo tak tau itu. Arsya pub menepuk-nepuk sofa sebelahnya yang bertanda menyuruh Leo untuk duduk disini, leo yang mengetahui itu dengan malas Leo duduk disamping Arsya.


"Leo, mama minta kamu pulang ke rumah lagi ya." pinta mamanya dengan nada memohonnya.


Leo mendengar itu hanya mendengus kesal, dan langsung mengeluarkan ponselnya, jarinya dengan lincah menari-nari diatas ponselnya. Arsya yang melihat Leo mengabaikan mamanya pun menegurnya.


"Le nyokap lo ngomong sama lo, respon kek," tegur Arsya tegas.


Leo mendengar itu hanya mendengus kesal, bagaimana tidak? Secara dia yang mengusir dari rumah dan dia juga lah yang memintanya untuk kembali? Kenapa?


"Selalu begini, anda dan suami anda yang mengusir saya, tapi kenapa anda meminta saya untuk kembali?" tanya Leo. Pertanyaan itu membuat mamanya diam seribu bahasa.


Mamanya pun menghela nafas panjang, "mama sama papa khilaf nak, maafin mama sama papa, kamu mau kan kembali kerumah lagi?" tanyanya lagi.


"Jika anda memaksa saya untuk pulang, saya nggak akan pernah mau jika bukan keinginan saya sendiri. Sudah berapa kali saya bilang tentang ini? Apa anda lupa?" bentak Leo dengan keras yang itu berhasik membuat mamanya menangis.


Arsya yang mengetahui adegan itu pun langsung berpindah duduj menjadi duduk disamping tantenya itu. Arsya mencoba menenangkannya.


"Tante lebih baik pulang dulu. Nanti Arsya coba bujuk Leo biar mau pulang ya," kata Arsya dan itu membuat tantenya luluh dan berpamitan untuk pulang.


Leo pun menyaksikan kepergian mamanya dengan diam, entah apa yang ada dipikirannya saat ini.


Vania kini sedang berlatih fisiknya untuk pertandingan beberapa hari kemudian belakangan ini. Jika sudah berlatih ia selalu mengabaikan apapun, salah satunya adalah ponselnya.


Kini Vania istirahat sejenak, untuk menghilanhkan peluh sebelum akhirnya harus melanjutkan latihannya lagi. Vania mengecek ponselnya dan ternyata ada beberapa notif line disana. Vania pun membuka aplikasi chat line itu, dan mulai scroll dari bawah, selain dari oa dan grup ceweknya ternyata ada satu notif dari Leo? Vania melihat notif iti pun membelalakkan matanya.


[Line]


Adeleo Orlando: Hai cewek tomboy, kapan kita bisa mulai ngerjain tugas?


Bellvania Aerlyn: serah lo aja, gue suh free-free aja. Sekarang ini juga bisa.


Tak menunggu waktu lama untuk mendapat balasan dari Leo. Satu notif pun masuk.


Adeleo Orlando: oke sekarang ya, gue kirim alamatnya, nanti lo langsung masuk aja.


Bellvania Aerlyn: oke, kirim cepat alamat lo.


Adeleo Orlando: Jln. Ach. Yani perum Pitaloka Indah. Blok Uranus B no 31A. Rumah paling mewah seperum itu rumah orang tua gue.


Bellvania Aerlyn: oke, setengah jam lagi gue otw.


Setelah Vania merasa chatnya hanya diread, ia memutuskan untuk segera membersihkan diri dan berganti pakaian untuk segera berangkat. Disisi lain, Leo mau tak mau harus pulang kerumahnya, toh tadi juga mamanya yang minta.


Vania merapikan penampilannya didepan cermin, ia hanya menggunakan kaos polo oblong berwarna biru laut dan juga dibaluti dengan hem polos berwana hitam, danĀ  mengenakan celana jeans panjang dan juga tak lupa mencepol rambut panjangnya itu, setelah dirasa penampilannya sudah bagus, ja langsung menggunkana sepatu ket adidas superstars nya.


Leo pun juga begitu, ia melihat penampilannya didepan cermin, setelah dirasa gak terlalu buruk, Leo pun keluar dan segera berpamitan kepada Arsya kalau dia akan pulang kerumah nya lagi.


Leo pun mengendarai motornya dengan kecepatan diatas rata-rata ia ingin cepat sampai rumah sebelum Vania sampai terlebih dahulu. Dan sesampai nya dirumah, dugaanya benar Vania belum sampai dirumahnya.


Vania menuruni tangga dan langsung berpamitan kepada mamanya dengan berteriak seperti biasanya.


"Maaah Vania pergi kerja kelompok ya, maghrib pulang kok. Assalamualaikum." teriaknya.


"Iya sayang, pulang jangan malem-malem ya. Waalaikumsalam." balas mamanya yang didapur dengan berteriak juga.


Kini Vania telah berada didepan gerbang berwara putih yang menjulang keatas, ya ini adalah rumah Leo. Vania pun memutuskan untuk memencet bel yang berada didepan.


Pintu gerbang pun terbuka dan muncullah seorang paruh baya, "ada yang bisa saya bantu non?" katanya. Setelah Vania melihat name tag nya, ternyata dia satpam dirumah Leo. Ia adalah pak Bagus.


"Ah ya, apa benar ini rumah nya Leo?" tanya Vania dengan sopan.


"Benar non, ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Bagus pada Vania.


"Leo nya ada dirumah? Saya teman sekelasnya." jelas Vania.


"Ada non, mari masuk." aja pak Bagus. Vania pun mengikuti langkah satpam didepannya ini.


Vania pun memasuki rumah Leo yang sangat megah ini, bahkan hampir sama dengan rumahnya, ralat rumah orang tuanya.


Leo kini sudah stay diruang tamu dan didepannya sudah ada buku-buku yang ingin sekali untuk disentuh dan dikerjakan. Leo pun menyambut kedatangan Vania, dan langsung menyuruhnya untuk duduk dan langsung mengerjakan tugasnya.


Dengan tekun Vania mengerjakan tugasnya, tapi Leo hanya menonton televisi, makan dan ngerjai Vania.


"Kalo pusing dan butuh bantuan bilang," kata Leo. Vania pun mengangkat tangannya tanda ia menyerah mengerjakan tugasnya.


Kini Leo mengambil alih semua buku yang dihadapan Vania, dan Leo kini sedang fokus dengan soal-soal didepannya, Vania sesekali memerhatikan Leo yang sedang fokus mengerjakan tugas.


"Pinter juga ya lo," ledek Vania sesekali melempari Leo dengan biskuit.


Tak lama itu pula, mama Leo datang dengan beberapa kantong kresek, Vania pun beranjak dari duduk nya dan bersalaman dengan mamanya.


"Halo tante, kenalin saya Vania" sapa Vania sopan.


Mamanya pun langsung menaruh bahan belanjaannya dibawah, "iya, panggil saja tante Hana ya, temannya Leo?" tanya mamanya dan diangguki oleh Vania.


"Mau Vania bantu tan?" tawar Vania berbaik hati.


"Ah ngga usah Van, kamu lanjutin ngerjain tugas saja," kata mamanya dan langsung melenggang pergi.


Vania kini kembali melanjutkan mengerjakan tugas yang tadi sempat ia tinggal. Dan oh ternyata tugasnya hampir selesai hanya tinggal lima belas soal saja.


"Udah ah capek, besok aja dilanjutin nugasnya." kata Leo sambil menutup bukunya.


Vania hanya menganggung-anggukan kepalanya tanda mengerti. Vania pun juga memebereskan semua buku-bukunya, karna ia akan segera pulang, toh besom tugasnya dilanjut lagi.