Tomboyish Girl

Tomboyish Girl
Dua Puluh Tiga



"Gue tau Van penderitaan lo berat, mungkin penderitaan kita sama beratnya," ucap Leo kemudian.


"Maksud lo?" tanya Vania tak mangerti sambil terus menangis.


Leo pun melepas pelukannya terhadap Vania dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "abaikan. Gue pemit balik dulu," pamit Leo kepada Vania.


Leo pun langsung meninggalkan ruang latiahn Vania dan berjalan keluar rumah. Namun langkah Leo terhenti karena didepan ada ada Dewi, Leo memutuskan pamit kepada mamanya Vania.


"Tan, saya pamit balik dulu," pamit Leo sopan sambil bersalaman.


"Iya nak hati-hati, sering-sering main kesini ya." suruh Dewi dengan suara lantang dan mempersilahkan.


Leo hanya tersenyum dan langsung berlari ngacir keluar rumah. Tanpa berpamitan kepada Demas dan kedua kakak Vania.


Leo langsung mengendarai motornya keluar pekarangan rumah Vania dengan kecepatan maksimal. Leo pun langsung melajukan motornya menuju sebuah cafe, dimana dia yang sudah bekerja disana sejak kelas 1 SMP bersama ketiga sahabatnya itu.


Leo pun sampai di cafe tersebut dengan tepat waktu, dia langsung masuk kedalam setelah memarkirkan motornya dan ternyata didalam sudah terdapat Bastian, Carel dan juga Axel.


"Kemana aja lo? Ditelfon gabisa di line ga bales, dirumah Asrya gak ada." tatar Bastian kepada Leo.


Leo hanya tersenyum biasa dan langsung berganti bajunya, "gue dirumah sakit." jawab Leo singkat


"Lo sakit?" spontan Bastian.


"Bukan gue yang sakit, Vania yang sakit." jawab Leo dan langsung pergi ninggalin mereka bertiga.


Sepeninggal Leo, Bastian dan yang lain pun shock mendengar pernyataan Leo. Bastian langsung berlari ngikutin Leo menuntut penjelasn.


Leo selama berjalan merasa ada yang mengikutinya, tanpa aba-aba Leo lansung berhenti dan siapa pun yang berjalan dibelakang Leo tanpa fokus maka langsung nabrak punggung gagah Leo dan benar Bastian menabraknya.


Brak!!!


Bastian langsung jatuh terududuk dibawah Leo. Leo pun langsung berbalik badan dan mengulurkan tangannya seraya membantu Bastian berdiri.


"Siapa suruh ngikutin gue?" tanya Leo dingin.


"Euy mas dingin amat lo sekarang," jawab Bastian dan langsung berdiri.


"Makanya kalo gue belum cerita sendiri jan kepo ya." kata Leo dan langsung melenggang pergi, membiarkan Bastian melongo tanpa kepastian.


"Untung sohib ya." dumel Bastian.


Leo pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Dan kali ini Leo akan mengantar makanan menuju meja dengan nomor 02. Leo meletakkan makanan diatas meja dengan begitu sopan.


"Terima kasih."kata orang laki-laki yang paruh baya itu sambil mendongak melihat ke arah Leo, seketika Leo dan orang tersebut pun terkejut dan saling menganga.


Dengan cepat Leo pun langsung kembali ke arah dapur dengan berjalan sedikit lari untuk menghindari orang tadi. Ya orang tadi adalah Reza, Hana dan juga Nevan. Dan kebetulan sekali di dapur, ada Exel.


"Xel, kalo ada yang cari gue bilang gue udah ga ada." suruh Leo kepada Exel. Dengan tampang polosnya, Exel hanya mengangguki permintaan Leo tadi.


"Bilangin ke Bastian dan juga Carel." suruh Leo.


Setelah bilang gitu, Leo pun langsung mengambil topi yang bertengger di dinding dapur dan langsung memakainya dan Leo pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Dari arah jauh, Leo melihat kalay Reza sedang melihat mengelilingi sekitar, sepertinya Reza sedang mencari keberadaan Leo.


Dan tak lama, bahu Leo pun dipukul oleh seseorang, refleks Leo pun kaget, dan ternyata orang tersebut adalah Bastian.


"Ngapain lo pake topi segala?" tanya Bastian.


Leo pun langsung membekap mulut Bastian dengan tangannya, "diem lo bocah. Lo lihat meja no 2, perhatiin itu meja yang nempati siapa?" Leo sambil menunjuk kearah meja yang dimaksud.


Bastian melihat meja yang dimaksud oleh Leo tadi, dan melepas tangan Leo dari mulut Bastian, "mereka orang tua lo, Le."


"Makanya itu gue males ngelihat mereka jadi gue pake topi." kata Leo jujur.


****


Vania kini sedang menata penampilannya didepan kaca sebelum akhirnya ia berangkat sekolah. Vania menyisir rambut nya sebelum dicepol namun, ketika disisir, rambut indah itu rontok dengan sendirinya. Melihat itu, Vania hanya tersenyum masam, karna bagi Vania cepat atau lambat dirinya sudah tiada.


Dimeja makan, sudah berkumpul semua keluarga kecuali Vania, tak lama juga Vania pun datang dan menyambut dengan begitu riang. Tanpa sepengetahuan mereka, Vania menyembunyikan tentang rambutnya yang sudah mulai rontok.


"Pagi kalian." sapa Vania dan langsung duduk disebelah mamanya.


"Pagi." sapa mereka bebarengan.


"Van, besok kamu ada jadwal kemoterapi, sepulang sekolah kamu langsung ke Rumah Sakit Dharmais dan langsung ke ruangan abang ya," kata Caraka. Vania mendengar itu lansgung mendongak dan menganggukkan kepalanya.


"Mama antar ya, Van?" tanya Dewi kepada Vania.


"Ga perlu ma, Vania sendiri aja." jawabnya dan kembali menyantap sarapan didepannya.


Vania dan yang lain pun menikmati sarapannya dengan keadaan hening hanya suara sendok, garpu dan piring beradu jadi satu. Vania selesai makan pun langsung meminum susu yang sudab disediakan oleh mamanya.


"Ma, pa, bang, Vania berangkat dulu ya. Assalamualaikum." kata Vania dan langsung berdiri hendak meninggalkan meja makan.


"Van, ini bekal kamu, terus ini buat Leo ya." kata Dewi dan diangguki oleh Vania.


****


Vania berjalan melewati koridor sekolah yang cukup ramai, kali ini Vania berjalan seperti biasanya tapi masih saja siswa siswi disini melihatnua dengan tatapan yang tidak suka. Sampai Vania maumenaiki anak tangga yang pertama, punggung Vania pun dipukul pelan oleh seseorang, dia adalah Nevan.


"Pagi, Van." sapa Nevan.


"Pagi juga kak." sapa Vania dengan sedikit kaget.


Setelah itu Vania kembali melanjutkan jalannya untuk menuju kelasnya, dan si Nevan ternyata masih saja mengikutinya. Akan tetapi dari arah belakanh mereka, Leo melihat kejadian itu pun langsung mengepalkan tangannya dicelananya.


"Kok ga pernah sekolah,Van? Lo sakit?" tanya Nevan basa-basi.


"Nggak, kak. Ada urusan keluarga." jawab Vania yang benar-benar bohong itu.


Leo pun merasa dadanya sakit melihat kejadian itu, dengan cepat Leo langsung berlari kearah mereka dan Leo langsung berada diantara mereka. Leo dengan cepat menarik pelan Vania untuk mengikutinya dan Vania hanya mengikuti saja. Sedangkan Nevan, ia merasa jengkel dengn Leo, karna perbincangan tadi adalah suatu kesempatan bagi Nevan yang telah sekian hari tidak bertemu.


Lama kelamaan pergelangan tangan Vania merasa sakit karena cengkraman Leo yang makin kencang. Tanpa aba-aba Vania langsung menghentakkan tangannya untuk vida terlepas dari cengkraman Leo, dan setelah lepas, Leo kaget dengan sikap Vania yang mulai kasar. Leo tau kalau Vania seorang atlit karate, dan juga Leo tau Vania memiliki tenaga besar seperti cowok pada umumnya.


Vania tak menjawab pertanyaan Leo tapi, Vania lebih memilih membuka tas ranselnya dan mengambil satu bekal. Vania langsung menyodorkan sebuah tupperware kepada Leo yang berisi bekal.


"Nih buat lo dari mama." kata Vania dan langsung berlalu pergi.


Leo dengan tampang polos ia menerima bekal dari Vania. Dan Leo membiarkan Vania jalan menuju kelasnya sendirian, dengan cepat Leo sadar dari lamunannya itu dan langsung mengejar Vania.


Kini Vania telah masuk ke kelas nya dengan raut muka yang tak dapat ditebak oleh siapa pun. Vania langsung duduk dibangkunya, dan langsung mendapat tatapan dari ketiga sahabatnya itu.


"Ngapa lo, Van?" tanya Bellva kepada Vania.


Vania hanya memutar bola matanya malas, "sebel gue sama Leo." jawabnya


Mendengar kata Leo, Calista, Bellva dan Agnes langsung menganga, mereka kaget ketika mendengar itu. Spontan Calista langsung menggebrak meja didepannya ini.


"Lo ada hubungan apa sama dia? Lo diapain sama dia?" tanya Calista bertubi-tubi.


"Gue sam..." ucapan Vania terpotong ketika ada suara yang menjawab terlebih dahulu. "Gue sama Vania PDKT an. Ga suka?" ya dia adalah Leo.


Dan mereka dibuat menganga lagi ketika mendengar jawaban dari mulut Leo. Tanpa respon, Vania langsung meninggalkan kelas sendiri.  Vania pun berjalan santai menyusuri koridor,  ia tak tau ia harus kemana yang jelas Vania sekarang merasa penat.  Dan dengan tiba-tiba,  mulut Vania pun dibungkam dengan seseorang,  yang tak tau itu siapa.


Byur


Vania terbangun ketika ia merasa dirinya disiram dengan air,  Vania kaget melihat antek-antek Stefani. Vania langsung berdiri dan mendorong dua perempuan tadi dan Vania pun langsung keluar dari kamar mandi. 


Vania pun berjalan santai dengan baju yang basah kuyup, dan ia pun bertemu dengan Calista, Agnes dan juga Bellva.  Mereka bertiga tau keadaan Vania yang basah kuyup pun langsung terkejut.


"Lo kenapa, Van?" tanya Calista. "Gue keluar kelas ini buat cariin lo,"


"Gue gapapa kok," jawab Vania sambil tersenyum.


Dan dari arah belakang Vania datanglah antek-antek Stefani. Mereka pun langsung bertepuk tangan.


Prok...


Prok...


Prok...


"Ini masih belum seberapa ya, Van. Lo tunggu aja tanggal mainnya kita." kata Bella dan ia pun langsung menjambak rambut Vania, seketika rambut itu rontok dilantai.


Calista,  Agnes dan Bellva yg tau kalau rambut Vania rontok pun langsung melihat kearah rambut tadi.  Vania yang tau akan itu pun langsung mengambil semua rambut-rambutnya yang berjatuhan dan dimasukkannya kedalam saku.


"Gue ganti baju dulu ya." pamit Vania kepada temannya.


Calista dan yang lain pun mengikuti Vania dari belakang.  Dan Vania pub berhenti didepan lokernya,  ia terduduk disana dan Vania pun menangis.


"Ya Allah rambut gue,  rontok lebih banyak." rancau Vania sambil menatap rambut yang ada ditangannya.


Ketiga temannya pun tau keadaan Vania yang makin parah pun ikutan sedih,  bagaimana pun juga dia adalah sahabatnya dari kecil.  Dan tanpa sepengetahuan Vania, dari arah satu sisi ada yang sedang memerhatikannya, ya dia adalah Leo dan ketiga sahabtanya.


Calista dan yang lain pun langsung menyusul dan memeluk Vania, mereka sekarang nangis. Vania kaget melihat sahabatnya yang nangis cuma gara-gara melihat keadaan Vania yang semakin parah.


"Kalian kenapa? Lihat, gue gapapa kok," kata Vania menenangkan ketiga sahabatnya ini.


Mereka masih sama masih menangis dalam diam, sedangkan Leo, ia tak tau kenapa Calista, Bellva dan juga Agnes begitu sedih melihat keadaan Vania yang seperti ini.


"Van,  apa penyakit lo begitu parah?" tanya Agnes disela-sela tangisannya. Mendengar pertanyaan itu,  Vania hanya tersenyum masam dan tanpa sadar bulir air mata nya jatuh.


Vania pun menggeleng pelan, ia tak mampu menjawan sekata pun. Leo melihat kejadian itu semua pun merasa dirinya mendapat sebuah clue lagi? Dan kini Leo pun langsung meninggalkan tempatnya tadi.


****


Kini jam sudah menunjukkan jam istirahat, Vania pun memakan bekalnya yang sudah dibawakan oleh mamanya. Dan Vania baru saja memakan makanannya satu sendok dengan tiba-tibanya Leo duduk bangku samping Vania tanpa bicara sekata pun, dan Leo juga langsung memakan bekal yang tadi pagi diberi oleh Vania.


"Enak." tiba-tiba Leo berucap seperti itu dan Vania hanya menoleh sekilas dan kembali melanjutkan makannya.


"Nanti pulang bareng gue ya," tawar Leo kepada Vania.


"Sorry gue gabisa gue ada urusan dan juga gue bawa mobil." jawab Vania tanpa menoleh sedikit pun kearah Leo.


Dan seketika itu Calista, Bellva dan juga Agnes kembali dari kantin yang langsung dihadiakan oleh pertunjukan Vania dan Leo sedang duduk berdua.


"Vania..." teriak Calista dengan suara toa nya.


Vania pun menatap mereka bertiga dengan tatapan aneh, "apaan?"


Calista langsung berlri kearah Vania dan menggebrak mejanya Vania pelan, "biasa aja bisa ga?" jawab Leo sarkastik.


"Gue gak tanya lo!" kata Calista dengan menekankan setiap kata nya. Dan Leo hanya mengendikkan bahunya saja.


Kini Bellva dan Agnes sudah berada di depan Vania dan Leo. Dan kini mereka bertiga sudah bersedekap dada, sedangkan Leo dan Vania melihat itu pun hanya mengendikkan bahunya saja.


"Lo utang cerita sama gue. Sepulang sekolah gue harus kerumah lo!" pernyataan Calista membuat Vania tersedak dengan makanannya ini.


Vania tak terima jika dengan tiba-tibanya Calista harus datang kerumahnya hari ini juga dan sepulang sekolah? What the? Vania jelas tidak ada ada dirumah, hari ini adalah jadwalnua untuk kemo sampai besok.


"Apa-apaan? Ke rumah gue hari ini? Dan sepulang sekolah ini? Gue gak bisa. Gue ada urusan sama bang Caraka." jelas Vania panjang lebar. "Lo ga perlu tanya ini urusan apa. Yang jelas ini urusan gue sama keluarga gue." lanjut Vania dan langsung pergi meninggalkan mereka tanpa membereskan bekalnya terlbib dahulu.


Vania hanya tertuju disatu tempat yang menjadi tempat favoritnya disekolah ini adalah taman belakang sekolah. Vania berjalan kearah taman itu sendiri tanpa ada yang mengetahuinya.


Vania pun duduk dibangku besi yang ada ditaman ini. Namun, tanpa Vania sadari, antek-antek Stefani sedari tadi mengikutinya dan, dan juga tanpa mereka sadari, mereka telah diikuti oleh Leo dan direkamnya semua kelakuan antek-antek Vania.


Dan dengan cepat mereka berdua menarik paksa Vania sehingga ia harus berdiri. Vania pun memberontak dari cengmraman mereka, cengkraman awal gagal, dan akhirnya untu cengkraman yang kedua berhasil. Bella dan temannya pun merada geram karena Vania terlepas dari kendalinya.


Plak


Bella menampar pipi kanan Vania, Vania yang mendapat tamparan pun hanya tersenyum kecut dan meludah kesamping. Leo yang melihat Vania ditampar pun rasanya ia ingin membawa Vania lari dari mereka namun, Leo mengurungkan niatannya untu itu.


"Cuma segitu yang lo bisa?" tanya Vania dengan bersedekap dada dengan nada memancing emosinya.


****