
Vania memasuki rumah sambil bersenandung kecil yang tbtb diberhentikan dengan adanya suara dari tangga, "kebiasaan ya lo dek, masuk rumah bukannya salam malah nyanyi gajelas," ya dia Alvaro abang kesayangannya itu.
Vania hanya mendengun lalu mendaratkan bokongnya ke sofa dan mengambil remote tv, "kayak lo ga aja bang," cerocos Vania sambil memindahkan channel televisi.
Vania dengan asiknya menonton tv, sampai-sampai Vania tertidur disofa dan masih mengenakan seragam sekolahnya bahkan belom sempat melepas sepatunya. Mau tak mau Alvaro harus memindahkannya ke kamarnya sendiri.
****
Vania kebangun pas jam menunjukkan pukul 19.00 yang berarti sekarang waktunya makan malam bersama keluarganya, Vania dengan cepat mandi dan menggunakan pakaian santainya lalu berjalan menuruni tangga untuk sampai dimeja makan. Disana sudah lengkap hanya tinggal dirinya saja yang belum berada disana.
Alvaro yang menyadari akan kehadiran Vania langsung mendongak melihatnya, "kalo pulang sekolah tuh langsung ganti seragam taruh tas lepas sepatu jangan seenak jidat dugong tidur disofa dan gue harus ngangkat," omel Alvaro. Vania yang mendengar itu hanya mengeluarkan cengiran kuda khasnya.
"Sapa suruh ngangkat?" kata Vania sambil mengangkat alisnya.
Demas (papanya Vania) meletakkan koran yang sedari tadi dibaca, "udah-udah ga usah ribut lagi, sekarang makan dulu," katanya, menengahi perdebatan kedua anaknya itu.
****
Vania duduk dimeja belajarnya untuk menyiapkan mata pelajaran untuk besok, ketika diingatnya kalo besok ada UH fisika sampai matanya terbelalak mengingat kenyataan itu.
Diraihnya hpnya yang tergeletak diatas meja belajarnya, dengan lincah jemarinya menari diatasnya. Sampai membuka app line dan mencari grup konyolnya itu.
[Line]
BellVania: We jombs UH besok materinya apa dah. Gue kagak tau anjing.
Tanpa menunggu lama benda tersebut berdenting.
Calista D: elah Van baru aja gue mau tanya_-
Agnesia A: Alah ga usah belajar dah, kite-kite kan pintar yakan wkwk.
Calista D: Bacot lo dugong
Belva C: 2
BellVania: 3
Agnesia A: kfine gue pergi. Jangan kangen gue ya lo pada. Urusin tuh kutil babi lo. [READ]
Setelah perdebatan kecil melalui grup tadi,Vania mulai membuka bukunya untuk sekedar membaca dan memahami. Tapi hasilnya nihil tak ada satu rumus pun yang masuk kedalam memori ingatannya.
Vania tetap saja membalikkan halaman tiap halaman sampai-sampai matanya terpejam yang otomatis tidur sambil membawa buku fisikanya.
****
Disini diarea balapan yang biasa digunakan oleh anak motor untuk menghilangkan kegaduhan, kebosenan dirumah atau karna pasangan? Salah satu dari keramaian ini terdapat Leo, dia sendirian tanpa ketiga temannya itu.
Leo sudah siap diatas motornya sedari tadi dengan terus mengegas kan motornya dengan keras, tak kalah dengan orang yang tengah berada disamping kanan dan kiri Leo juga.
Sampai-sampai punggung Leo ada yang mukul, "kali ini yang kalah taruhannya apa?" tanya seorang cowok bertubuh jakung yang masih menggunakan helm. Dia adalah Boy, lawan balapannya malam ini.
Leo yang mendengar suara itu sudah tak asing baginya, "seperti biasa, kasih uang ke yang menang minimal 500 rebu," jawab Leo sambil menyunggingkan senyum dibalik helmnya itu.
Mendengar jawaban Leo cowon tadi langsung pergi dan kembali ke motornya dan balapan pun dimulai.
Masih tetap sama,Leo masih berada diurutan pertama, padahal ini udah seperempat lagi mau nyampe finish, tanpa disadari Boy telah disampingnya yang ingin melakukan tindakan curang terhadap Leo. Leo yang menyadari itu,dengan cepat menancpakan gas nya yang berarti Boy telah kehilangan keseimbangan dan jatuh. Biarin dah sukurin sapa juga suruh curan ya kan?
Lagi dan lagi Leo yang menang, begitu banyak sorakan dari gadis yang tengah berdiri dengan menggunakan baju kekurangan kain itu.
Leo tersentak kaget ketika punggungnya di pukul oleh seseorang, "nih bayaran lo malam ini. Dan selamat lo lagi yang menang," kata Yudis dengan berjabat tangan ala cowok.
Setelah menerima uang, dengan cepat Leo meninggalkan tempat laknat yang bikin kecanduan itu.
Sesampainya di pekarangan rumahnya, Leo memarkirkan motornya di garasi rumahnya dan masuk kedalam rumah sambil melepar dan menangkap kuci motor yang dilempar keatas.
Langkah Leo pun terhenti saat mendengar suara berasal dari sofa ruang tamu, "dari mana aja kamu? Setiap jam segini baru pulang? Ini sudah jam dua belas lewat," katanya. Dia dia adalah Reza papanya Leo, namun Leo hanya menghiraukannya saja dan kembali berjalan untuk menuju kamarnya.
Sebelum sampai masuk ke kamar lagi dan lagi Leo terhenti dengan suara berat yang sangat ngantuk, "lo dari mana aja sih Le? Lo gatau apa mama sama papa itu khawatir sama lo," kata cowok tersebut. Dia adalah Nevan, kakak satu-satunya Leo tapi Leo tak pernah menganggap dia seorang kakak? Maybe.
Leo menghembuskan nafasnya berat ketika mendengar pertanyaan dan pernyataan tersebut, "gue? Yang jelas gue nyari kebahagian gue sendiri, gue nyari ketenangan. Mereka khawatir? Buat apa hah?" kata Leo dengan nada yang sedikit keras lalu masuk ke kamarnya dan membanting pintunya dengan keras.
Blam!!!
"Jaga ucapan mu Le," kata Nevan yang tak kalah kerasnya dengan Leo.
Leo mendengar itu dari luar hanya mengabaikannya saja, toh selama ini Leo dianggap tak pernah lahir disini. Leo dengan cepat menggeleng-gelengkan kepala, tak ingin memeori itu kembali mengusik kehidupannya sekarang, tapi Leo bakalan ingat kejadian apa saja yang dialaminya sewaktu kecil.
Leo membanting tubuhnya ke atas kasurnya seraya merogoh kantong celananya dan mengambil sebuah rokok dan pematiknya. Leo langsung menghisan ujung rokok dan mengeluarkan asapnya melalui mulut dan hidungnya sembari berjalan karah balkon kamarnya.
Leo membuyarkan lamunannya ketika mendengar ada notif telpon, dengan malas Leo mengambil hpnya yang berada disaku celana jins nya itu. Seperti biasa tanpa melihat id caller, langsung menjawab telponnya itu.
"Le besok sepulang sekolah ada yang nantangin ngajak tawuran ditempat biasa" kata sang penelpon diseberang sana. Leo kembali menari hp nya dari telinganya dan melihat caller Id nya ternyata dia adalah Carel Frederic.
Setelah melihat caller Id, Leo kembali meletakkan ponselnya ketelinganya, "boleh aja sih, yang lain gimana? Itung-itung lama ga pernah tawuran," kata Leo dengan senyum smrik nya, yang jelas Carel tak melihatnya.
Carel mendengus kesal mendengar jawaban Leo, "yang lain mah oke-oke aja, tinggal lo aja yang belom pasti dugong," kata Carel dengan suara naik satu oktaf?
"Coeg. Sama sekolah mana besok," jawab Leo yang tak kalah kerasnya itu.
"Sama SMA Taruna Jaya, yodah gue tutup," kata Carel dan memutuskan saluran sepihak.
Setelah sambungan telepon terputus, Leo memutuskan untuk masuk kembali kekamarnya dan langsung membanting tubuhnya keatas kasurnya itu.
Leo menatap langit-langit kamar dan, 'lagi lagi sama SMA Taruna Jaya ga kapok apa sampe babak belur' Gumam Leo dengan mata sedikit terpejam.
****
Pagi ini Vania bangun kesiangan yang otomatis berangkat sekolah juga kesingan dan itu bakalan masuk gerbang sekolah dengan TELAT!!!
Kali ini Vania memutuskan untuk minta antar oleh abangnya, namun Vania juga meminta tidak untuk menurunkan didepan gerbang sekolah karna itu bisa membuat penyamaran dirinya terbongkar.
Vania yang menyadari itu, langsung meronta kepada satpam untuk membukakan gerbangnya, tapi hasilnya nihil tidak dibukakan.
Vania berhenti meronta ketika suara khas cowok terdengar, "tumben ya lo telat padahal kan biasanya selalu berangkat pagi," kata Leo dengan senyum smirk nya. Ya dia Leo.
Tanpa aba-aba Vania langsung berjalan dan berhenti tepat dihadapannya dan sekali meludah kesamping, "serah gue dong, dikamus gur yang namanha telat itu ada," kata Vania dengan suara naik satu oktaf dan mendoronh bahu Leo dengan cukup keras sampai Leo terhuyung kebelakang.
"Cuma segitu doang kekuatan lo!?" tanya Vania dengan menyunggingkan senyumnya.
Rahang Leo mengeras mendengar pertanyaan serta ejekan itu? "Emang kekuatan lo seberapa ha!?" tanya Leo tepat dihadapan Vania kini.
Vania mendengar itu tak menggubrisnya sama sekali, lagi dan lagi Vania meronta untuk masuk kedalam sekolah, "pak tolong bukain gerbangnya, Vania baru telat sekali aja loh," katanya dengan nada semelas mungkin, namun itu sama sekali tak membuat sang bapak Tamrin luluh.
Takbada keputusan lain, Vania memanggil pak Tamrin dengan sebutan pak kumis, karna memiliki kumis yang tebal Vania berbisik sesuatu agar bisa masuk ke kelas.
"Pak bukain gerbang nya ya, aku Bellvania Anaknya bapak Demas Jauhari Abrizan, ini saya cuma pura-pura pake ginian," Bisik Vania dan akhirnya gerbang pun dibuka mempersilahkan Vania masuk kecuali Leo dkknya.
****
Vania memasuki kelas yang langsung disambut dengan sedikit mendapat omelan dari Bu Nur guru fisikanya, akibat masuk jam pelajarannya telat setengah jam, dan mau tidak mau Vania harus menjawab soal ulangan hariannya didepan, ralat dimeja guru.
Ulangan harian pun selesai,Vania dipersilahkan kembali ketempat duduknya lagi, dan ternyata Leo beserta temannya itu baru masuk kelas yang berarti mereka bakalan kena hukum.
Vania duduk dan langsung disambut dengan beribu pertanyaan yang sama, "tumben sih lo telat Van?" Tanya Agnes dengan mata tertuju pada Vania.
Vani tertawa kecil dan, "gue kesiangen sumpah mana gue telat barengan sama mereka," kata Vania sambil menunjuk keempat cowok yang sedang berdiri didepan.
Calista yang mengetahui itu langsung menganga mendengarnya, "sumpah lo? Tapi kok mereka baru masuk Van? Sedangkan lo udah setengah jam tadi," sekarang Calista yang berucap.
Dengan cepat Vania mendengus kesal, "ya bisa lah, Vania gitu," Kata Vania dengan nadasedikit keras dan berbangga diri karena bisa masuk terlebih dahulu dibandingkan mereka.
****
Setelah melakukan ulangan harian fisika, masuklah tiga orang dua cewek dan satu cowok mereka adalah, Fernanda, Viranda dan Anggi.
"Assalamualaikum wr.wb." kata cowok itu. Dia adalah Fernanda ketua osis di sekolah ini.
"Waalaikumsalam wr.wb." jawab seluruh kelas dengan serempak.
Kali ini Viranda yang berbicara, "kami kesini akan memberitahu kalau bulan depan sekolah kita bakal mengadakan sebuah pertandingan, petandingannya adalah pertandingan karate. Dikelas ini siapa saja yang mengikuti ekstra karate disekolah? Atau mungkin ikut diluar? Juga boleh," katanya panjang lebar.
Vania mendengar informasi itu langsung maju kedepan, tak peduli dengan tatapan dari seisi kelas, "gue ikut pertandingan ini, gue Vania 11 ipa-2," Bisik Vania dan langsung ditulis oleh Viranda.
Vania kembali ketempat duduk itu dengan mendapat tatapan tajam dari ketiga temannya itu, seakan ingin membununuhnya sekarang juga.
****
Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 dan tepat sekarang bel pulang telah berbunyi. Vania dan ketiga sahabatnya itu langsung pulang kali ini. Tapi tidak dengan Leo dan sahabatnya, mereka masih berada dikelas dan sepertinya sedang merencanakan sesuatu. Tapi Vania melihat itu masa bodo.
Sesampai Vania dirumah, Vania langsung naik keatas berganti baju dengan baju olahraganya, dan langsung berlari menuju ruang bela dirinya.
Vania terus memukuli samsak didepannya itu, dengan semua yang telah dipelajari dan yang diberikan kepada murid-muridnya. Ya Vania telah menjadi Sensei, ralat menjadi pelatih. Terus menerus Vania memukuli samsak itu sampai keringat membanjiri tubuhnya itu. Dua jam Vania berada disini, dan berlatih kemampuannya lagi masih ada waktu satu bulan untuk mrngasah semua ilmu bela dirinya.
****
Kini Leo dan ketiga sahabatnya itu sedang berada di tempat biasa mereka berantem. Dan kali ini mereka akan berantem dengan SMA Taruna Jaya yang ga ada kapok-kapoknya melawan Leo dan komplotannya itu.
Leo yang melihat lawannya langsung turun dari motor dan melepas helmnya, "ada masalah apa lagi sih sampe-sampe lo ngajak tawuran segala?" tanya Leo to the point dengan kedua tangan dilipat didepan dada.
Tanpa aba-aba satu bogeman mentah mendarat dipipi mulus Leo, bogeman itu membuat rahang Leo dan ketiga temannya mengeras dan nafas yang memburu.
Bugh
Satu bogeman mentah meluncur di ulu hati lawan yang itu berhasil membuat lawan tersungkur. Leo berjalan maju dan mencengkram kra baju nya lagi dan lagi bugh Leo mendaratkan lagi tepat disudut bibirnya sehingga mengeluarkan cairan merah disana.
Lagi dan lagi SMA Taruna Jaya yang kalah mereka pulang dengan wajah yang cukup mengenaakan tapi beda dengan Leo dan ketiga temannya itu, Leo dan ketiga temannya itu hanya sobek dibagian sudut bibir dan pipi yang bengkak.
****
Vania menghampiri papanya yang sedang asik menonton televisi di ruang keluarga, "pa Vania daftar ikut pertandingan karate di sekolah," katanya dengan menatap mata papanya dengan intens.
Papa Vania langsung berpaling menghadap keanak perempuannya itu, "ya silahkan loh de, itu hak kamu papa sama mama pasti dukung kok, tapi jaga pola makan dan juga kesehatan ya," jawab papa Vania sambil mengacak rambut anaknya itu.
Vania langsung menepuk jidatnya ketika teringat dengan sesuatu, "oh ya pa, peralatan karate Vania dimana ya? Kan harus Vania siapin dari sekarang meskipun pertandingannya bulan depan," kata Vania dengan nada sedikit tinggi, alhasil itu membuat papa Vania tersenyum melihat tingkah anaknya yang gegabah ini.
Setelah mengatakan itu, Vania langsung berlari menuju tempat bela dirinya, Vania mencari sebuah tas besar yang berisi peralatan pertandingannya namun, setelah mencari kesana kemari tak ditemukannya Vania terduduk lesu.
Vania keluar dari tempat itu dan langsung berteriak, "paaaa peralatan Vania ga ada ditempat latihan," katanya, "papa tau dimana peralatan Vania?"
Papa Vania pun datang sambil membawa tas yang sedari tadi dicari oleh anaknya itu, "kamu nyari ini kan? Tadi papa mau kasih tau tapi kamu keburu lari aja," jelas papanya dan itu membuat Vania semakin cemberut.
Vania langsung mengambil alih tas itu dari tangan papanya dan, "pa ini semua udah ga layak pakai, terus Vania waktu pertandingan gimana?" kata Vania sambil memerhatikan satu persatu peralatan tersebut. Memang iya peralatan itu sudah tak layak pakai.
"Yaudah besok beli lagi kan bisa de," kata mamanya yang berjalan menghampiri papa dan anak perempuannya yang langsung disusul oleh abangnya, Alvaro.
Vania mendengar itu langsung berdiri dari posisinya, "tapi kan ma, beli itu juga pake uang," kata Vania dengan kepala menunduk lesu.
Dengan cepat mama Vania langsung menangkup wajah nya dengan kedua tangnnya, "itu semua sudah kewajiban mama sama papa buat ngebiayain ini itu buat kamu sama abang, jadi lain kali kamu ga usah ngomong kayak gitu lagi oke?" pernyataan mama meyakinkan Vania dan langsung Vania hadiahi dengan anggukan kepala.
****
"Pasti lo habis tawuran lagi ya kan?" tanya Arsya, sepupu dari Leo.
Leo yang mendengar suara bariton itu langsung mendongak ke asal suara, "pertanyaan lo ga pantes dijawab bego," jawab Leo seraya menoyor kepala sepupunya itu.
Arsya yang mendapat toyoran itu hanya nyengir, "kalo habis berantem kesini mending ga usah sok berantem dugong," katanya dan langsung menonjok luka disudut bibir Leo.
****