Tomboyish Girl

Tomboyish Girl
Sebelas



Selesai melakukan kemoterapi, Vania harus dirawat dirumah sakit ini, ya rumah sakit Dharmais. Setelah dipindahkan keruang rawatnya, Vania langsung mematikan ponsel miliknya selama ia masih ditempat ini.


Vania masih merasa nyeri disekujur tubuhnya, Vania pun memutuskan untuk tidur. Tanpa Vania sadari, satu tetes air mata Caraka terlolos dari pelupuk matanya ketika melihat adiknya terbaring disini lagi?


Calista kini sedang kebingungan, kok tumben-tumbennya Vania sampai detik ini tak ada kabar, ngga biasanya Vania nggak pernah ikut nimbrung digrup, jangankan nimbrung read aja nggak. Akhirnya Calista hanya berfikir positif saja kepada temannya itu.


Caraka pun akhirnya menelpon sang mama untuk memberitahu keadaan adiknya sekarang, setelah percakapan antara anak dan ibu selesai, Caraka memutuskan untuk kembali mengerjakan tugasnya lagi.


****


Pagi ini Vania lagi dan lagi absen sekolah yang tanpa diketahui kenapa oleh Calista dkk. Calista mengira Vania hari ini datang terlambat, tapi sampai jam istirahat berlalu Vania pun tak kunjung datang juga.


Selain Calista, Leo pun juga begitu ia mencari sosok Vania untuk ia bully lagi dan lagi. Tapi rencana untuk membully itu lagi pun juga gagal lagi, akhirnya Leo kembali teringat ketika ia bertemu Vania di rumah sakit.


"Cal, kok gue hari ini nggak ngelihat Vania sama sekali?" tanya Nevan yang tiba tiba datang dan membuat Calista kaget.


Calista melihat sosok Nevan dan sedikit menggeran, "gue juga gatau kak, gue juga bingung, gue bbm juga centang, gue line juga ga dibales, gue telfon nomornya nggak aktif," jelas Calista panjang lebar dengan nada khawatirnya.


Nevan mendengar tuturan Calista pun ikut khawatirnya juga, karna apa? Karna Nevan mulai jatuh hati dengan sosok Vania. Tak lama itu Nevan langsung meninggalkan Calista dan berlari menyusuri koridor.


Sesampainya Nevan dikelas, Nevan langsung menyambar tasnya dan keluar kelas, ia pun juga menghiraukan pertanyaan dari teman teman sekelasnya. Setelah Nevan terlolos dari teman-temannya ia pun sekarang harus berurusan dengan satpam sekolahnya, dengan terpaksa Nevan harus berbohong.


"Pak saya barusan ditelfon sama mama disuruh pulang cepat karna ada keluarga mama saya yang dari Yogyakarta" bohong Nevan.


"Kamu jangan bohong ya nak," kata pak Botak yang menjabat sebagai satpam ini.


Nevan menghela nafas kasar dan mengacak-ngacak rambutnya frustasi, "ayo lah pak, saya kasih uang seratus rebu buat bapak ngopo disebelah ya pak," bujuk Nevan sambil mengeluarkan uang seratus dari dompetnya.


Pak botak pun terdiam berfikir untuk mengambil keputusannya, "iya deh bapak mau, saya buka kan pintunya dulu ya," kata pak botak dan langsung membukakan gerbang untuk Nevan.


Nevan pun melajukan motornya dengan sangat cepat, kini arah jalan Nevan adalah menuju rumah Vania. Setelah sampai didepan gerbang rumah Vania, Nevan pun memencet belnya dan tak lama seorang bapak paru bayah pun membuka kan gerbangnya.


"Pak apa Vania ada dirumah?" tanya Nevan kepada bapak tersebut. Ya bapak tersebut adalah Komang satpam dirumah Vania.


Pak Komang sedikit berfikir sebelum akhirnya menjawab, "maaf den, non Vania nggak ada dirumah dari kemarin pulang sekolah," jelas pak Komang.


Nevan mendengar itu pun dibuatnya lebih berfikir dalam lagi, "ah masak pak?" tanya Nevan lagi. Pak Komang pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Yaudah pak saya pamit dulu, kalau Vania pulang sampain salam saya kepada Vania ya," pamit Nevan dan langsung melenggang pergi.


Selain Nevan dan Calista dkk, ternyata Leo juga mencari sosok cewek yang telah ia bullynya, ya dia adalah Vania. Leo pun datang kerumah sakit yang kemarin ia bertemu dengan Vania.


"Maaf sus, apa disini kemarin ada pasien yang bernama Vania?" tanya Leo kepada resepsionis Rumah Sakit ini.


Suster yang menjaga resepsionis pun menatap Leo sekilas, "oh mbak Bellvania, dia kesini kemarin cuma jemput dokter Caraka mas, untuk selebihnya maaf ini rahasia keluarga mereka," jelas sang suster.


Leo mendengar itu langsung mengangguk paham, "yaudah sus terima kasih," ucap Leo dan langsung melenggang pergi.


Kini Leo keluar dari rumah sakit dan menuju motornya, selama dijalan Leo bingung harus kemana ia sekarang, sampai akhirnya, Leo memutuskan untuk ke jembatan penyebrangan.


Leo manatap kendaran yang berlalu lalang dari atas dan seperti tampak berfikir dalam tentang perasaannya sendiri.


'Gue bingung sama perasaan gue sendiri, ketika ngeliht Vania gue ingin sekali membullynya lagi dan lagi meskipun itu akan gagal, tapi pas dia gak ada gue nyariin dia habis-habisan,' gumam Leo sambil tatapannya masih fokus ke kendaraan yang berlalu lalang dibawah.


Leo masih saja bergulat dengan pikirannya sendiri, sampai ia merasa frustasi setengah mati dan memutuskan untuk turun dan pulang kerumah Arsya lagi.


Selama perjalanan pulang, Leo mengendarai motornya dengan begitu cepat, seperti ia tak peduli dengan keselamatannya. Leo hanya berpikir untuk cepat sampai rumah Arsya dan menenangkan pikirannya ini.


Vania kini sedang bersenda gurau dengan kedua kakaknya itu, layaknya orang yang sama sekali tak punya beban hidup. Sesekali Vania sampai terbahak-bahak mendengar gurauan dari Alvaro.


"Bang, udah lah berhenti bercandanya, Vania capek ketwa terus," ucap Vania disela-sela ketawanya.


Mendengar itu, Alvaro dan Caraka semakin menjadi-jadi bercandanya dan itu membuat Vania lagi dan lagi ketawa dan serasa perutnya mati rasa.


"Udah-udah Al, gue capek denger lawakan lo dari tadi, Van sekarang kamu siap-siap buat pulang ya, cairan infus kamu juga bentar lagi habis." tutur Caraka dan diangguki oleh Vania sebagau jawabannya.


Alvaro juga pun berhenti dengan lawakannya yang sekarang berganti menyibukkan diri membereskan barang bawaan adik perempuannya itu. Dengan telaten Alvaro memasukkan barang-barangnya kedalan tasnya.


Sesampai Leo dirumah Arsya, Leo langsung berjalan menuju kamarnya yang berada dilantai dua, ia langsung merebehkan tububnya diatas kasur king size ini. Leo mengecem semua media sosialnya, Leo berfikir dengan mengecek media sosialnya ia bisa menemukan kabar atau apa tentang cewek yang telah ia bullynya.


Pintu kamar Leo terbuka begitu saja dan muncullah Arsya dibalik pintu tersebut. Asrya yang melihat ekspresi kaget Leo, Arsya hanya tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.


"Ngagetin aja lo, Sya." kata Leo. Pandangan Leo kini kembali fokus kelayar ponselnya.


Arsya berjalan menuju ranjang Leo dan ikut rebehan disana, "abisnya lo sejak tadi keliatannya sibuk banget, yodah gur samperin aja kesini," jelas Arsya. Namun tak ada sahutan sama sekali dari Leo.


"Terus lo mau apa kesini?" tanya Leo. Namun tatapan Leo masih masih saja fokus kelayar ponselnya.


"Lo streaming apaan sih kok keliatannya penting banget?" tanya Arsya, dan itu berhasil membuat Leo mengalihkan tatapannya kearah Arsya.


Leo pun menjitak jidat Arsya, "ya kali gue streaming, orang gue lagi stalk orang." jujur Leo kepada Arsya yang itu membuat Arsya membelalakkan matanya.


Arsya merubah posisinya menjadi duduk, "sejak kapan lo ada hobi stalk orang? Bukannya hobi lo cuma berantem, balapan, bolos, clubbing doang?" tanya Arsya dengan nada terkejutnya.


Lagi dan lagi Leo menjitak jidat Arsya yang itu membuat Arsya sedikit meringis mendapar jitakannya, "sejak gue ngebully cewek tomboy yang sekelas sama gue. Dan gue ngebully dia itu selalu gagal, berhasil pun cuma dua kali aja." jelas Leo.


Lagi dan lagi juga, Arsya dibuat terkejut sama Leo, "sejak kapan lo mulai tertarik pada seorang cewek?" tanya Arsya puitis pada Leo.


Leo menghela nafas sebelum pada akhirnya Leo menjawab dengan tulus dan dari hati, "asal lo tau Sya, Cinta datang tanpa diundang seperti layaknya maling, dan cinta datang karna terbiasa," jelas Leo dan diakhiri dengan seulas senyuman tulus darinnya.


****


Tok... Tok... Tok...


Pintu kamar Vania pun diketuk oleh seseorang yang tanpa diketahui siap yang mengetuknya, Vania pun membuka pintunya dan ternyata itu bi Ida, pembantu yang sudab bertahun tahun bekerja dengannya.


"Ada apa bi?" tanya Vania sopan.


Bi Ida pun mendongak sekilas dan kembali menundukkan kepalanya, "disuruh ibu turun buat makan siang non," ucap bi Ida.


Vania pun meyunggingkan senyumnya, "ah ya makasih ya bi," kata Vania dan memelu bi Ida sekilas. Hal ini sudah menjadi kebiasaan Vania dan kedua kakanya itu.


"Iya non," jawab Bi Ida dan melenggang pergi setelah Vania melepas pelukannya.


Sepergian bi Ida, Vania kembalu masuk kamar untuk mengganti bajunya dengan baju santai, kini Vania mengenakan kaos polo oblong berwarna biru dengan celana jeans selutuh dan tak lupa menyepol rambur panjangnya itu. Setelah melihat penampilannya dikaca sudah baik, Vania keluar kamar dan berjalan menuruni anak tangga.


Setelah sampai dimeja makan, Vania pun langsung duduk diantara Alvaro dan Caraka. Vania juga langsung mengambil selembar roti tawar dan selai coklat kesukannya.


"Kebiasaan banget sih lo dek." omel Alvaro sambil menatap Vania kesal. Vania hanya menyunggingkan senyumnya.


Sang mama pun menghampiri ketiga anaknya itu, "oh ya Van, kamu bentar lagi kan akan pertandingan disekolah kamu?" tanyanya dan diangguki Vania sebagai jawabannya.


****


Pagi ini Vania mulai melakukan rutinitasnya kembali, dan hari ini juga Vania akab kembali masuk sekolah yang artinya, Vania akan kembali masuk kedalam bully Leo dkknya yang selalu sering gagal dibanding nggaknya itu. Namun Vania hanya mengabaikan semua itu, jika sudah takdir Vania terjebak dalam perangkapnnya, pa boleh buat?


Vania menatap dirinya didepan cermin, dan sedikit merapikan seragamnya dan juga merapikan cepol rambutnya. Vania merasa penampilannya ini nggak terlalu buruk.


"Morning." sapa Vania ketika menuruni anak tangga yang paling bawah. Vania berlari dan mecium pipi mereka satu persatu sebelum akhirnya Vania benar-benar duduk.


Demas, papa Vania, melihat anak perempuannya ini begitu senang, ia pun juga ikutan senang, "tumben kamu ceria banget hari ini, ada apa?" tannya. Vania hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.


Vania menyelesaikan sarapannya dengan lahap, dan menghabiskan susu yang sudab disiapkan untuknya.


"Van, kalau rambut kamu rontok, kamu gak usah takut, karna itu efek dari kemoterapi. Tapi abang sudah kasih obat biar rambut kamu bisa tumbuh kembali," jelas Caraka ketika semua sudah selesai melakukan sarapannya.


Vania mendengarkan penjelasan kakanya itu dengan seksama, "ah oke baiklah bang, tapi makasih udah ngasih obat penumbuh rambut lagi, padagal aku sempet pasrak jika rambut aku gak bakal tumbuh lagi." ucap Vania sejujurnya.


Kini mamanya lah yang angkat bicara, "nggak mungkin lah abang kamu biarin kamu botak, minta ditampol sama papa," kata mamanya dan saat itu juga tawa mereka berlima pecah begitu saja.


"Udah-udah Vania berangkat dulu ya ma, pa, bang." pamit Vania sambil menyalami tangan mereka satu persatu.


Belum sampai Vania dipintu utama, Alvaro sudah berteriak memanggil namanga sambil berlari mengejar Vania. Vania yang merasa namanya dipanggil pun berhenti dan berbalim menatap Alvaro, seakan-akan berkata, 'ada apa bang?' .


"Van kamu sekolah biar abang antar aja ya?" kata Alvaro disela-sela nafasnya yang masih tersengal karna lari-larian.


Vania mendengar penuturan itu mengerutkan kening sambil kebingungan menatap abang nya ini yang tiba-tiba saja berubah 180°.


"Ha? Ada apa sih bang? Kalo ngomong yang jelas ngapa." omel Vania. Dan kembali berjalan keluar rumah.


Alvaro pun mencekal pergelangan Vania dan itu kembali membuat Vania bingung, "kamu sekolah biar abang antar Vania adik perempuan abang." jelas Alvaro sambil menekankan setiap kata yang ia lontarkan kepada Vania dan Vania hanya mengangguk pasrah dengan kelakuan aneh abangnya ini.


Selama perjalanan menuju sekolah, Alvaro dan Vania pun hanya terdiam dan sibuk dengan fikirannya masing-masing, tapi Vania ingin sekali menanyakan kenapa tiba-tiba Alvaro begini, dengan rasa gugup dan takut akhirnya Vania memutuskan untuk mananyakannya.


"Bang?" kata Vania dan sambil menggigit bibir bawahnya, Alvaro hanya berdehem sebagai jawabannya.


"Kenapa lo tiba-tiba mau nganterin gue ke sekolah?" tanya Vania pada akhirnya dan itu membuat hati Vania sedikit lega.


Alvaro menatap adiknya sekilas dan menjawab pertanyaan dari adiknya itu, "kenapa? Gak boleh? Karna mulai sekarang gue mau jadi antar jemput lo," jelas nya.


"Tapi kan bang, lo juga kuliah pulang lo ga nentu ngapain sih pake acara antar jemput segala?" protes Vania sambil memanyunkan bibir pucatnya itu.


Alvaro menghela nafas panjang mendengar protesan adiknya itu, "mama, papa sama bang Caraka juga bakalan jadi antar jemput kamu Van, kami bakalan giliran." jelasnya lagi dan itu semakin membuat Vania sebal dengan orang disektarnya.


"Tapi kan bang--" ucapan Vania terpotong begitu saja, ketika Alvaro berhenti tepat didepan gerbang sekolah Vania.


"Udah sana kamu turun, sekolah yang bener," tutur Alvaro.


Sebelum Vania turun, Alvaro lebih dulu turun untuk membukakan pintu mobil adiknya, "sekolah yang pinter, jangan terlalu memikirkan hal-hal yang berar." tutur Alvaro. Sebelum Vania benar-benar pergi, Alvaro menciun kening adiknya itu, hal itu sudab menjadi kebiasaan keluarga mereka terhadapa Vania.


Vania terlihat begitu malas, "iya bang, Vania akan ingat itu, always." kata Vania dan langsung melenggang pergi masuk kehalaman sekolah.


Selama Vania berjalan menyusuri koridor, sepasang mata dari siswa siswi disini pun menatap Vania dengan tatapan yang tak biasa, namun Vania hanya masa bodo melihat itu semua, selain tatapan omongan yang tak sesuai fakta pun banyak.


'Eh gitu-gitu dia punya cowok loh'


'Cowoknya ganteng pula, Leo dkk aja kalah'


'Kok cowoknya mau ya, Vania kan tomboy cewek gak bener'


'Mending sama gue aja tuh cowoknya'


'Tajir ganteng pula'


Vania mendengar itu, berhenti dan menatap kesekeliling sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, semua gosipan itu omong kosong belaka, mereka hanya mengetahui ku dari orang lain, bukan dari diriku sendiri.


Mereka yang ngomongin kamu dengan cara gosip, yakinlah bahwa mereka iri dengan apa yang kamu punya. Yakinlah bahwa kamu telah berada dipaling atas dari mereka. Jangan sesekali kamu menanggapi  omongan mereka, jika kamu menanggapi orang gosip, maka sama saja kamu akan menggosipkan orang lain dan dirimu sendiri. Omongan mereka lah yang akan membuat kamu mendapat pendukung.