Tomboyish Girl

Tomboyish Girl
Dua Puluh



Sekarang waktu menunjukkan pukul dimana seluruh siswa waktunya untuk istirahat. Dan selurub kelas XI mipa1 pun berlarian keluar kelas untuk menuju kantin, tapu tidak dengan Vania dkk ia tetap berada didalam kelas untuk memakan bekal yang ia bawa.


"Kantin, Le, gue laper." ajal Exel pada Leo.


Namun Leo menolak ajakan tersebut dan ia mengeluarkan sebuah tempat makan tupperware berwarna hitam itu. Ketiga temannya ini pun mengernyit kaget melihat Leo membawa bekal.


"Lo udah baikan sama bonyok lo?" tanya Bastian.


Leo mendengar itu pun langsung tersedak makanannya sendiri, "gue kan udah bilang, kalo gue ga akam baikan sama mereka. Gue udah kebiasa tanpa orang tua bahkan gue ngerasa ga punya orang tua," jawab Leo. Bastian mendengar itu pun memutar bola mata malas.


"Ya serah lo aja , Le. Kalo lo ada apa-apa awas aja kalo ga cerita sama kita-kita.!" ancam Carel dan langsung berlalu pergi meninggalkan Leo yanh sedang makan.


"Gue cabut kantin," teriaknya mereka bertiga ketika berada diambang pintu.


Lagi asik-asiknya makan, si Stefani dan antek-anteknya masuk ke kelas Vania dengan senyum yang tak dapat diartikan. Vania melihat itu pun hanha mengedikkan bahu cuek.


Brakk...


Gebrakan dimeja Vania pun membuat siapapun mendengarnua langsung terlonjak kaget. Vania pun juga begitu, ia cukup kaget.


"Kurang kerjaan banget sih lo gebrak meja orang, lagi makan juga.!" omel Vania kepada Stefani.


Stefani bersedakap dada dan tersenyum menyeringai, "lo bilang gak ada kerjaan? Kalo gue kesini itu namanya ada kerjaan bodo!." kata Stefani dan menunjuk tepat diwajah Vania.


Leo yang menyaksikan itu pun tak mau dengan cepat untuk menyelamatkan Vania. Leo ingin mencari waktu yang tepat untuk menyelamatkannya. Vania selalu mengabaikan omongannya Stefani dan ia lanjut makan, tetapi tidak dengan Bellva, Agnes dan Calista ia khawatir bagaimana kalo Stefani sampai jambak rambut Vania yang akan mulai rontok?


Stefani geram sedari tadi omongannya selalu diabaikan oleh Vania, dengan cepat Stefani langsung jambak rambut vania sehingga Vania mendongakkan kepalanya. Dugaan Bellva, Calista san Agnes pun benar.


Bellva membanting sendok makannya dan langsung berdiri, "jangan sekali-kali lo jambak rambut dia. Orang tuanya gak pernah jambak rambutnya!." berontak Bellva dan berusaha melepaskan tangan Stefani dari rambut Vania.


Setelah berhasil tangan Stefani lepas dari rambut Vania, rambut Vania pun rontok digenggaman tangan Stefani. Stefani melihat itu pun langusng melempar rambut Vania tepat diwajah Vania dan langsung berlalu pergi.


"Urusan lo semua belum selesai sama gue!." katanya, sebelum akhirnya ia tak terlihat dari dalam kelas.


Vania menatap nanar beberapa helai rambutnya, dan tak lama itupula kristal putih bening itu jatuh begitu saja dari pelupuk matanya. Vania sungguh sedih ketika rambutnya jatuh begitu saja, ia pun jongkok dibawah dan mengambili rambut-rambut yang jatuh ke lantai dengan air mata yang masih bercucuran keluar.


Agnes, Calista dan juga Bellva yang melihat itu pun langsung berjongkok juga, ia menenangkan Vania dan memeluknya erat. Mereka sangat terpukuk ketika orang lain tau tentang penyakitnya bahkan menjambak rambutnya sampai rontok begini. Vania masih saja sesenggukan dipelukan sahabat-sahabatnya ini.


"Gue ke kamar mandi dulu ya, gue pingin sendiri," kata Vania sambil merenggangkan pelukannya.


Ketiga sahabatnya yang paham dengan maksud Vania pun mengangguk mengerti dan membiarkan Vania pergi sendiri. Meskipun ketiga sahabatnya itu was-was tapi apa boleh buat?


"Kalo ada apa-apa cepet kabaru kita!" teriak Calista dari dalam kelas. Vania yang berada diambang pintu pun berbalik dan tersenyum tipis.


Leo yang melihat Vania pergi sendiri pun perasaanya mulai tak karuam, ia memutuskan untuk membuntutinya tanpa harus ketahuan. Dari jauh, Leo melihat Stefani dan antek-anteknya berjalan menuju kamar mandi, dan Leo membuntutinya. Stefani pun berhenti dibalik lorong sebelah kamar mandi perempuan.  Leo mengeluarkan ponselnya ia sengaja merekam semuanya dan dugaannya benar kalau ia akan membuat rencana untuk mencelakain Vania.


Leo tak ingin merusak rencana mereka yang ada rencana Leo yang sudah ia susun berantakan. Leo hanya membiarkan Stefani bertindak tapi, sekali Vania ada yang terluka, Leo gak akan memaafkan Stefani sedikit pun.


Setelah pembicaraan rencana Stefani selesai, mereka keluar dari lorong dan berjalan menuju kamar mandi. Dan posisi Vania kini masih berada didalam.


Ceklek


Pintu kamar mandi yang ditempati Vania pun pintunya terbuka dengan cepat Clara dan Bella pun menyeret Vania keluar dan Stefani langsung membungkam mulut Vania dengan sebuat kain. Mereka bertiga pun langsung menyeret Vania kearah belakang sekolah. Leo melihat itu semua pun langsung mengambil video untuk menjadi bahan bukti kepada kepala sekolah nanti.


'Ini arah kegudang tua itu,' gumam Leo selama mengikuti Stefani membawa Vania.


Dan dugaan Leo pun benar, kini mereka masuk kedalam gudang. Vania pun didudukkan disebuah kursi, tangan dan kakinya pun diikat. Vania ingin memberontak, tapi phobia Vania lebih tinggi untuk membrontak.


"Udah berapa kali gue bilang ha? Jangan sekali-kali lo deketin, Leo!." kata Vania.


Satu tamparan mendarat mulus dipipi sebelah kanan Vania, dan itu menghasilkan sudut bibir Vania berdarah ditambah lagi, Vania gak bisa lama-lama berada diruangan gelap dan pengap. Ia sangat takut dan kini pikiran Vania ngelantur kemana-mana.


"Jawab gue bodo!" kata Vania dan mencengkram dagu Vania dan begitu saja ia langsung menghempaskannya begitu saja.


Sekarang bukan hanya Stefani yang main tangan, Clara pun juga. "Jawab dia bego!" bentaknya dan menjambak rambut Vania.


Ingin sekali Vania menendang ketiga anak ini, tapi phobianya sudab menguasi dirinya dan ia tak dapat mengendalikannya. Tak lama Vania pun langsung pingsan begitu saja. Melihat itu, Stefani dan antek-anteknya langsung pergi keluar gudang.


Leo kini yang sudab berada diruang BK, menunjukkan semua aksi yang telah dilakukan oleh Stefani dan antek-anteknya, Leo gak peduli meskipun ia kakak kelasnya. Bu Ina selaku guru BK pun langsung mengajak Leo keluar dan mencari keberadaan Stefani. Dari kejahuan, terlihat Stefani sedang berjalan menuju kelasnya dengan cepat Leo berlari menghampirinya.


"Eh kak Stefani. Makin hari makin cantik deh." basa basi Leo kepadanya.


Stefani yang mendapat pujian seperti itu dari orang yang ia suka pun langsung salah tingkah sendiri, "ah kamu, bisa aja. Kalo gitu kapan kita jadian?" tanya Stefani dengan pedenya.


"Kamu bisa jadian sama Leo kalau kamu sudah selesai berurusan dengan saya. Sekarang kalian bertiga ikut ibu keruang BK!" kata Bu Ani dengan berkacak pinggang dari arah belakang Leo.


Stefani mendengar itu pun mengernyit kaget, "tapi, buk kami punya masalah apa?" tanya Stefani polos.


"Kalian gak usah sok polos lagi deh. Jijik gue lihat lo semua!." kata Leo sambil menunjuk wajah mereka dengan jari telunjuknya.


"Leo kamu cari bantuan buat selametin Vania. Kalau dia kenapa-napa bisa panjanh urusannha nanti," suruh bu Ani dan diangguki oleh Leo.


"Leo bantuin aku dong." pinta Stefani kepada Leo.


"Bodo amat!" kata Leo dan berlalu pergi.


Leo pun mengambil ponselnya dari dalam sakunya. Ia pun mencari kontak Caraka dan Alvaro, setelah ketemu ia langsung mengetikkan sesuatu disana. Setelah pesan terkirim, Leo langsung berlari menuju gudang untuk menyelamatkan Vania.


Leo kini sudah bediri didepan pintu gudang tua ini dimana yang didalam ada Vania. Leo tak ambil pusing, dengan cepat dan nafas yang masih ngos-ngosan ia langsung mendobrak pintu gudang tua ini, dan dengan mudah pintu itu langsung hancur.


"Lo harus bertahan, Van. Gue bakal bawa lo ke UKS," oceh Leo selama melepaskan ikatan tali ditangan dan kaki Vania.


"Gu... Gue ta... Takut ba... Bawa gu... Gu... Gue ke... Ke... Keluar." rancau Vania dengan gagap dan nafas yang tak teratur.


Mendengar rancauan dari Vania, Leo dengan segera mengangkat tubuh Vania untuk segera keluar dari sini. Leo membawa Vania dengam sedikit berlari untuk segera sampai di UKS.


Selama berjalan dikoridor, siswa siswi melihat kejadian itu sedikit kaget dan melongi. Tanpa mempedulikan tatapan itu, Leo langsung membawa Vania menuju UKS.


"Dok ini Vania kehabisan nafas tolong periksa semua keadaan dia. Saya mau panggil kakaknya." kata Leo sambil menurunkan Vania di kasur UKS dan langsung berlalu pergi.


Sebelum ia menuju ruang BK untuk memanggil kakak Vania, ia menyempatkan untuk datang ke kelasnya. Dan kebetulan kelasnya lagi free class. Leo langsung memberi tau sahabat Vania.


"He lo bertiga cepet ke UKS. Vania terbaring disana. Gue mau ke ruang BK." kata Leo dan langsung pergi keluar kelas.


Calista, Agnes dan Bellva yang mendapat kabar itu pun langsung berlari keluar kelas menuju ke UKS. Sedangkan Bastian, Carel dan Exel, mereka bingung melihat Leo yang dengan tiba-tibanya ia langsung berubah sikapnya. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuntuti kemana Leo pergi.


Dari jauh, terlihat kalau Leo masuk keruang BK. Bastian dan yang lain pun sedikit mendengarkan apa yang terjadi sehingga Leo sangat berbeda.


"Lo lagi lo lagi. Ga capek bikin adek gue terbaring lemah di rumah sakit? Bosen gue lihat muka lo." caci maki Alvaro selama diruang BK.


"Maaf aku gatau kalau itu adek kalian. Abisnya dia beda banget dia jadi tomboy padahal dulu dia gak gitu," bela Stefani. Sedangkan Clara dan Bella hanya diam saja.


"Bu saya mau dia di drop out biarkan dia ga ikut UN." kata Caraka menentukan keputusannya.


"Tapi kak, nanti orang tua gue gimana?" tanya Stefani dengan cucuran air mata.


"Gue gak butuh air mata lo. Orang tua lo? Udah tau. Bu saya pamit keluar. Selamat siang." kata Caraka dan diakhiri dengan ia pamit.


Caraka keluar ruang BK dan diikuti Alvaro dan juga Leo. Caraka berjalan sambil menetralkam emosinya terlebih dahulu.


"Bang sorry gue gabisa jagain Vania," sesal Leo selama berjalan menuju UKS.


"Lo ga salah kok, Le. Lo udah jagain adek gue." jawab Alvaro.


"Bener kata Varo, Le." kini jawab Caraka.


Caraka Alvaro dan Leo tidak memperdulikan itu lagi, yang paling utama saat ini adalah keselamatan Vania. Bahkan, Leo sedari tadi dipanggil oleh sahabatnya pun tak menggubrisnya sama sekali.


Caraka kaget ketika melihat keadaan Vania yang masih tak sadarkan diri. Dengan cepat Caraka mengangkat adiknya untuk dibawanya kerumah sakit.


"Calista, Agnes, Bellva tolong kalo jam sekolah sudah selesai kalian bawa tas Vania kerumah sakit deket sini. Kalian tetap belajar ya, see you." pamit Caraka dan langsung berjalan keluar UKS diikuti Alvaro dan Leo.


Caraka pun langsung berlari menuju dimana ia memarkirkan mobilnya tadi, "Le, lo duduk belakang sama adek gue." suruh Caraka dan diangguki oleh Leo.


****


Keadaan Vania pun masih sama tak sadarkan diri. Kini keluarga Vania berada diruang tunggu rumah sakit, Caraka sama perawat yang lain masih memeriksanya.


"Leo, gimana sih awalnya kok bisa si Stefani ngurung Vania di gudang?" tanya Alvaro mengintrogasi.


Leo menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnua iya menajwab, "panjang, bang ceritanya. Stefani juga sering bikin masalah sama Vania. Bahkan tadi dikelas, Stefani sempag menjambak rambut Vania sampai rambutnya rontok." jelas Leo sebagian.


'Shit!' umpat Alvaro.


"Vania itu phobia sama kegelapan dan juga ruangan pengao," jelas Alvaro. "Sekali dia berada diruangan tersebut ia selalu berfikiran yang aneh-aneh dan saat itu juga ia merasa sakit dibagian kepalanya." lanjut Alvaro menjelaskan.


Demas yang mendengar penjelasan dari Leo dan Alvaro pun terlihaf kaget, "jadi yang bikin Vania seperti ini, Stefani?"


"Iya, om." jawab Leo.


"Lagi-lagi Stefani. Gak kapok dia di drop out waktu SMP?" amarah Demas memuncak.


"Pa sudah pa. Jangan pikirin dia dulu, ini gimana keadaan Vania, pa." tenang Dewi kepada Demas.


Caraka keluar dari UGD bersama perawat yang tadi membantunya, "keadaan Vania gapapa kok ma, pa. Mama sama papa tenang aja," kata Caraka. "Mama sama papa bisa masuk kedalam."


Tak lama itu pula, Calista, Agnes dan juga Bellva datang, mereka terlihat sangat khawatir dengam keadaan Vania. Caraka menyuruh mereka masuk untuk melihat keadaan Vania, dan Demas Dewi pun keluar.


"Ma, pa, Var. Ada yang mau Raka omongin, ini soal Vania." kata Caraka dan itu berhasil membuag mereka bertiga shock bukan main.


"Dia kenapa, Rak?" tanya Dewi dengan air mata yang sudah bercucuran.


"Ma, mama harus sabar menunggu Caraka menjelaskan semuanya." bujuk Demas untuk menenangkan istrinya.


Caraka menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya ia menjelaskan tentang keadaan Vania yang sebenarnya, "kanker Vania sudah memasuki stadium 4." jelas Caraka dengan satu tarikan nafas.


Mendengar itu, tubuh Dewi langsung ambruk begitu saja. Ia tak kuasa menahan air matanya, bagi Dewi ini berita yang sangat menyayat hatinya.


"Secepatnya kita harus melakukan operasi," lanjut Caraka.


Dewi mendengar itu pun langsung berlari menuju ruang rawat Vania, Dewi melihat anaknya yang kini sedang terbaring lemah. Dewk lagi-lagi menumpahkan air matanya itu.


"Mama yakin, kamu pasti sembuh Vania," rancau Dewi dari balin jendela.


Alvaro melihat mamanya yang sangat terpukul itu tak kuasa menahan kesedihannya, bagaimana pun juga Vania adalah adik satu-satunya.


Kesedihan bisa dirasakan sama siapa pun, tidak peduli itu cewek atau pun cowok, karna semua orang mempunyai perasaan.