TIME TRAP

TIME TRAP
TOVAH



24 MEI 2039—11:15


Hari kedua di London, kami menginap di salah satu hotel mewah bintang lima, presidential suite. Muncullah salah satu sosok yang paling tidak ingin kulihat.


"Kak Cherish, sudah lama ngga jumpa!"


Tovah, nama cewek tomboy dengan rambut cepak yang saat ini sedang berpelukan, cipika cipiki dengan kakak sepupunya: istriku. Si tomboy sialan yang 5 tahun lebih muda dari Cherish ini—yang berarti 10 tahun di bawahku—adalah garda terdepan pembela Cherish. Dia tidak akan segan-segan memarahiku jika aku menyusahkan Cherish.


Aku dan Tovah memang saling kurang suka sejak dulu. Tapi saat ini sih, karena aku mengulang waktu, hubunganku dan Tovah sebenarnya masih bisa dibilang baik-baik saja. Tapi dulu di masa sebelum aku punya kekuatan waktu, Tovah sering bermasalah denganku.


Terutama sejak masa aku kesulitan ekonomi, dimana aku sering banget memaki Cherish juga Eriel sebagai pelampiasanku. Lalu waktu aku ketahuan selingkuh, Tovah begitu geram hingga sering memakiku.


Lalu klimaksnya ketika Tovah mengetahui fakta bahwa aku pernah menghajar Cherish dan Eriel saat emosiku memuncak. Emosi Tovah begitu meledak-ledak, dia menghampiri rumah kami membawa tongkat baseball dan menghajarku. Berani-beraninya si ****** ini, padahal jelas aku jauh lebih tua darinya. Sungguh bocah kurang ajar!


Dan pada akhir pernikahan kami dulu, si tomboy keparat inilah salah satu faktor perceraianku dengan Cherish. Tovah-lah sang kompor sejati yang sangat SANGAT mendukung dan menganjurkan perceraian kami hingga akhirnya Cherish dan juga orang tuanya setuju. Benar-benar tukang ikut campur urusan rumah tangga orang lain.


"Eriel sayang, ini Tante bawain coklat buat kamu! Kamu sukanya white chocolate kan?" Tovah memeluk Eriel dan mencubit gemas pipinya. Ukh, mual banget aku melihatnya.


"Yo, Kak Luno!" Tovah mencoba menyapaku.


"Hey, gimana kabarmu Tovah. Sudah makan, kah?" tanyaku sambil memaksakan senyum di wajahku. Kita berdua saling memasang topeng di depan istri dan anakku.


"Nggak usah repot-repot. Aku cuman mampir satu jam aja nih. Setelah itu aku harus ke kantor."


"Oh, oke."


Dasar lalat. Pake acara mampir sejam lagi. Ganggu acara kumpul keluargaku saja.


Lalu Tovah sibuk ngobrol dengan Cherish sambil sesekali bermain dengan Eriel. Mereka tampak begitu riang. Aku tak nyaman dengan kehadirannya, maka aku menjauh dari mereka dan menyibukkan diri dengan iPad ku. Ah! Mendadak aku punya ide cemerlang untuk meluapkan rasa jengkelku yang membuncah ini.


24 MEI 2039—11:43


Tovah sedang mengutak-atik ponselnya sambil cekikikan. Aku berjalan menghampiri Tovah dan tiba-tiba memanggilnya, "Hey, bi*ch!"


Aku menampar Tovah dengan cukup keras, lalu mendorongnya hingga terhempas ke lantai.


"KAMU SUDAH GAK WARAS YA, KAK LUNO?" teriak Tovah, menatapku tajam.


Aku mengambil cangkir kopi yang ada di meja, menyiramkan ke wajah Tovah.


Tovah mencoba berdiri tapi aku menendangnya.


"Stop, Luno sayang!" Cherish mencoba menghentikanku.


BZZT!


24 MEI 2039—11:43


Aku mengulang waktu sebelum semua tindakan gila itu kulakukan. Namun kurasa amarah dan dendamku belum reda, aku perlu melakukannya sekali lagi biar lega.


Seperti yang terjadi di waktu yang sama tadi, Tovah sedang mengutak-atik ponselnya sambil cekikikan.


Lalu kuulangi adegan serupa, Aku berjalan menghampiri Tovah dan tiba-tiba memanggilnya. "Hey, tomboy keparat!"


Lalu, aku menghajar Tovah hingga puas, dan . . . REVERSE!


BZZT!


24 MEI 2039—11:43


Sekali lagi aku mengulang waktu sebelum semua tindakan gila itu kulakukan, seolah semuanya tidak pernah terjadi. Baiklah, kurasa cukup. Dengan begini harusnya kita impas. Aku memaafkanmu, cewek sialan! Aku cukup puas, dan tidak ada dendamku lagi padamu! Huh!


Aku tahu semua yang aku barusan lakukan ini jahat dan tidak pantas. Tapi dengan kekuatan waktuku, aku merasa wajib meluapkan segala emosiku. Daripada dipendam, kalau bisa diluapkan tanpa menimbulkan dampak negatif, kenapa tidak?


Akulah penguasa waktu saat ini, berarti segala hal bisa kulakukan, dan semua dosaku bisa dihapus dengan sekejap dengan waktu yang diulang.


Aku bisa melakukan apapun yang aku mau, tanpa harus benar-benar melakukannya! Itulah hak ekslusif dari seorang penguasa waktu. Hahaha!


Lalu, siang itu Tovah pulang tanpa menyadari apapun.