
19 Juni 2044—10:00
Berhasil lagi!
Mau kuperintahkan diriku '3 jam sebelumnya' ataupun 'pukul 10 pagi hari ini': semuanya berhasil! Sungguh fenomenal!
Waktunya eskalasi! Sekarang aku tes hitungan hari, bukan jam lagi. Akan kutantang diriku kembali ke seminggu yang lalu—berarti tujuh hari sebelum saat ini—apakah bisa?
Kupastikan lagi tanggal hari ini: 19 Juni 2044. Baiklah, kuperintahkan diriku kembali ke 12 Juni 2044, pukul 13:00.
Kupejamkan mataku, berkonsentrasi sungguh-sungguh, lalu . . .
BZZT!
12 Juni 2044—13:00
Wah . . . Kini aku makin percaya diri dengan kekuatan superku ini! Aku merasa berkuasa atas waktu dan takdirku sendiri! Hahaha!
Euforia yang belum pernah kurasakan, belum pernah aku seantusias dan sesemangat ini. Jiwaku berkobar-kobar, banyak sekali yang ingin kulakukan segera! Seolah aku merasa hidupku baru saja dimulai dan siap mengambil alih dunia ini!
Dengan kekuatan seperti ini. Aku bisa kaya dengan mudah!
Aku langsung mempertaruhkan uangku di taruhan bola hari ini. Aku tahu persis tim mana yang akan menang, hahaha! Kepercayaan diriku membludak karena aku tahu aku takkan salah.
Tak berhenti sampai di situ, aku juga memantau pergerakan saham dan crypto hingga sore. Setelah memastikan emiten saham dan crypto mana yang harganya paling naik derastis, aku segera menarik diriku ke waktu dimana harganya masih rendah.
Oh Tuhan, aku cinta Kau!
Dalam semalam aku bisa mengumpulkan 50 juta rupiah dengan mudah. Aku pun bersujud dan menangis haru. Mengapa Tuhan tiba-tiba berbaik hati dan berkenan melimpahkan kekuatan super ini padaku? Apa akhirnya Sang Penguasa tergugah membelaskasihani diriku yang hina ini? Oh, sungguh beruntungnya aku!
Jangankan 50 juta . . . Hahaha! Meraih 50 milyar sekalipun hanyalah sebutir pasir di lautan kekuatanku! Aku akan menjadi milyarder segera. Eh bukan—TRILYUNER!
Hahaha!
Ah! Tapi belum saatnya aku jemawa.
Apalah artinya segala harta berlimpah dan kemewahan di masa ini, bila aku hanya menikmati seorang diri tanpa keluargaku—tanpa istri dan anakku? Semuanya pasti akan serasa hampa. Tiba-tiba aku kangen dan rindu dengan mereka.
Sangat rindu!
Coba kuingat-ingat dulu, kapan masa terakhir aku bahagia bersama mereka. Kubuka galeri di ponselku. Kujelajahi, kugulir foto-foto lama itu satu persatu, memori demi memori terlintas di kepalaku.
Ah—2039! Tepatnya 5 tahun yang lalu. Masa-masa aku sangat bahagia, keluargaku masih harmonis. Aku sangat disayang oleh istri dan anakku. Kami tinggal di rumah kecil sederhana tapi berkecukupan.
Tapi, waktu itu aku tidak bersyukur pada keadaanku saat itu. Aku selalu mengeluh.
Seakan tak pernah puas. Aku ingin hidup yang lebih baik lagi. Aku ingin lebih kaya lagi, aku ingin rumah yang jauh lebih besar lagi, dan parahnya bahkan aku ingin istri yang lebih cantik lagi. Oh sungguh lelaki brengsek dan bodohnya aku dulu.
Kita akan sadar sesuatu itu ternyata sangat berharga, hanya setelah kita telah kehilangannya.
Sungguh klise, tapi . . . tak terasa air mataku mengalir lagi. Aku begitu melankolis akhir-akhir ini.
Sekarang waktu nya memperbaiki itu semua. Aku akan kembali ke 5 tahun yang lalu. Please, Tuhan, biarkan ini berhasil lagi! Semoga kekuatanku ini bisa kembali ke waktu yang jauh sekalipun.
Baiklah, waktunya berkonsentrasi. Aku memerintahkan, wahai diriku! Kembalilah ke 5 Mei 2039, Pukul 1 siang.
Kupejamkan mataku, berkonsentrasi sungguh-sungguh, lalu . . . REVERSE!
BZZT!