
19 Juni 2044—18:45
Terkulai lemas, kesadaranku makin pudar, air mataku mengalir deras.
Apakah benar aku harus mati sekarang?
Inilah detik-detik terakhir—momen akhir hidupku yang menyedihkan ini: dimana aku melihat diriku di cermin, tergantung di langit-langit dan meronta-ronta dengan putus asa.
Tunggu, tunggu, tunggu! Aku tiba-tiba berubah pikiran. AKU TAKUT MATI!
Aku nanti nggak bakal bisa main game lagi. Nggak bisa ngemilin awan lagi. Padahal kalau dipikir-pikir, tiga jam yang lalu aku masih menikmati semua itu: main game favoritku—The Final Relic—sambil ngemilin Floofy, snack unik berbentuk awan yang sedang sangat trend di tahun 2044.
Aaargh! Boleh nggak aku batal mati? Sudah terlambat kah? Aku sudah hampir kehilangan kesadaranku. Leherku kesakitan. Air mata deras membasahi pipiku.
Aku harus kembali ke masa lalu! Imajinasi liar itu menyerang kognitifku. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa aku punya kekuatan untuk bisa kembali ke masa lalu.
Andai benar demikian, andai benar kekuatan super itu nyata: kembalikanlah diriku ke tiga jam yang lalu. Kumohon!
Aku berkonsentrasi keras memerintahkan diriku kembali ke masa tiga jam yang lalu sebelum kesadaranku hilang total dan nyawaku meninggalkan tubuhku . . . Aaargh—!
BZZT!
Eh—?
Aku berada di kasurku, memegang iPad-ku yang menyala dengan aplikasi game The Final Relic!? Dan saat ini mulutku sedang mengunyah manisnya Floofy, cemilan awan favoritku. Aku menangis. Aku nggak jadi mati?
TUNGGU! Aku segera melihat tanggal dan jam yang ada di iPad-ku.
19 Juni 2044—15:37
Aku benar-benar . . . kembali ke masa lalu?
Aku mengkonfirmasi leherku. Ah syukurlah masih utuh tanpa luka. Tanpa sadar air mata membasahi pipiku lagi.
Bodohnya diriku jika harus mengakhiri hidupku. Aku sebenarnya takut banget mati. Tapi gimana aku harus memperbaiki hidupku yang berantakan ini?
Tapi yang paling penting, suatu fenomena mujizat yang baru saja aku alami!
Ok, lebih baik secepatnya aku memvalidasi semua ini. Akan kucoba lagi. Semoga ini bukan delusi semata!
Kuingat-ingat apa yang tadi kulakukan sebelum aku kembali ke masa lalu. Tadi aku memejamkan mata erat-erat dan mengkonsentrasikan pikiranku sepenuhnya—membayangkan keadaan diriku pada pada tiga jam sebelumnya. Waktunya aku mempraktekkan ulang!
Kupejamkan mata dan berkonsentrasi, tak lupa kumatikan game The Final Relic yang masih menyala di iPad-ku. Tak boleh ada distraksi!
Fokus . . . Fokus . . . Kukepalkan tanganku.
Kuperintahkan diriku kembali ke tiga jam yang lalu.
BZZT!
Kubuka mataku. Kulihat sinar matahari menerangi kamarku. Segera kulihat tanggal dan waktu di ponselku.
19 Juni 2044—12:37
Woooah, impresif!
Sekali lagi aku kembali ke masa lalu!
Dengan kekuatan luar biasa seperti ini. Aku bisa mengubah . . . SEGALANYA!
Jantungku berdebar kencang! Aku begitu semangat tiba-tiba! Tiba-tiba banyak hal gila terlintas lalu lalang menghujani pikiranku. Aku tak sabar! Belum pernah aku sesemangat ini dalam hidupku!
Tenang . . . Tenang . . .
Aku harus sabar melatih dan eksplorasi dulu kekuatanku ini baik-baik.
Sekarang akan kucoba kekuatanku dengan lebih spesifik lagi. Daritadi aku memerintahkan diriku kembali ke tiga jam yang sebelumnya saja. Kali ini akan kucoba ke rentang waktu yang berbeda, aku akan kembali ke satu jam sebelum saat ini. Akan kuperintahkan diriku kembali ke masa lalu berdasarkan angka waktu yang akurat.
Kulihat jam di tanganku saat ini—12:40.
Baiklah, akan kuperintahkan diriku kembali ke hari ini, pukul tepat sepuluh pagi!
BZZT!