
20 November 2026—20:20
"Surprise—!"
Dalam sekejap Eloussa menghunuskan pisaunya menembus tubuhku!
AAARGH!
Perutku langsung bermuncratan banyak sekali darah! Seketika aku hampir kehilangan kesadaran. A-ada apa ini!? Aku sangat panik, sementara Eloussa masih tersenyum menatapku.
Tidak perlu banyak berpikir, aku segera memejamkan mataku, menggenggam erat-erat tanganku, berkonsentrasi dan . . .
BZZT!
10 November 2026—20:30
Saat ini aku berada di kamar tidurku, duduk di sofa dekat jendela. Tubuhku masih gemetar karena terkejut, keringat dingin membasahi kulitku.
Ada apa ini?? Kenapa wanita sesempurna Eloussa, sosok yang sangat aku dambakan selama ini, mencoba membunuhku? Hampir saja aku mati! Gila! Ini berarti ketiga kalinya aku hampir mati. Pertama waktu malam itu ketika aku mencoba bunuh diri. Kedua, beberapa tahun lalu aku sempat hampir meninggal di sebuah mal karena ada ledakan bom *******.
Untung aku bisa mind travel dan kabur dari kematian, lagi dan lagi.
Sebenarnya Eloussa ini siapa? Apakah dia seorang psikopat? Cewek stress? Gila? Atau jangan-jangan aku pernah berbuat salah padanya hingga dia menaruh dendam?
Aaargh! Aku makin parno dan ketakutan. Kurasa aku harus memundurkan waktu jauh lebih lama lagi biar merasa lebih aman! REVERSE!
BZZT!
1 Oktober 2026 —18:00
Aku memundurkan waktu lagi sebulan. Kudapati diriku berendam air hangat di bak mandiku yang mewah dan luas. Wah, pas sekali. Relaksasi adalah hal yang paling kubutuhkan saat ini, setelah melewati segala insiden mengerikan yang kualami.
Waktunya merenung dan berpikir. Kulihat waktu di smart watch ku. Baiklah, benar-benar menunjukkan waktu sebulan sebelum musibah tadi. Aku harus segera menyelidiki, kenapa Eloussa ingin sekali membunuhku. Saat ini, di bulan Oktober, hubunganku dengan Eloussa sedang hangat-hangatnya. Seharusnya dia belum ada motif untuk membunuhku saat ini.
Dulu kupuja-puja, kini aku jadi takut dengan Eloussa. Buat apa paras cantik kalo psikopat, ya kan? Tapi sungguh aku penasaran banget kenapa sih dia bisa seperti itu? Ini sungguh absurd, sulit dipercaya!
Semakin dipikir, aku semakin merasa penasaran dan terobsesi untuk mengetahui penyebabnya. Baiklah, aku akan segera mengajaknya makan malam. Akan kucoba mencari tahu dengan hati-hati. Ralat, SANGAT hati-hati.
Aku kembali meregangkan tubuhku dan memutuskan untuk menikmati kehangatan air panas ini sesaat lagi. Aku memejamkan mataku sesaat. Namun tiba-tiba pintu kamar mandiku terbuka, dan muncullah seseorang.
"Eloussa? Hah? B-bagaimana kamu bisa masuk ke sini?" aku sangat panik dan terkejut, merinding seperti melihat hantu.
"Surprise!" kata Eloussa dengan senyum manisnya. Tiba-tiba dia mengacungkan pistol ke arahku, dan . . .
DOR! DOR! DOR!
Aku langsung menggunakan kekuatanku lagi di detik-detik nafas terakhirku . . . , sebelum aku benar-benar meninggal.
BZZT!
10 Mei 2026—20:00
Aku berhasil kembali ke enam bulan yang lalu!
Saat ini rupanya aku sedang duduk di sebuah kursi first class yang sangat nyaman dalam sebuah pesawat, menuju ke Tokyo.
Kali ini bisa kupastikan seratus persen aman, karena ini adalah waktu dimana aku sama sekali belum saling kenal dengan Eloussa. Apalagi aku sedang berada dalam pesawat saat ini.
Aaargh, tiba-tiba aku frustasi dan marah! Padahal banyak sekali yang sudah aku kerjakan dan rencanakan dengan sangat baik selama enam bulan ini. Meskipun kelihatannya terlihat sepintas seperti hanya enam bulan di mata manusia normal, namun sebenarnya aku telah melakukan perjalanan waktu berkali-kali dalam interval tersebut. Mungkin aku sudah menghabiskan total waktu 'dua tahun' selama 'enam bulan' ini.
Karena aku baru saja mengulang waktu gara-gara Eloussa keparat itu, semua yang kulakukan selama '2 tahun' dalam '6 bulan' ini menjadi sia-sia!
Kulampiaskan ledakan amarahku dengan memukul jendela pesawat. Seorang pramugari cantik menghampiriku, "Are you okay, sir?"
Aku meminta padanya segelas champagne dan handuk hangat untuk menenangkan pikiranku.
Aaargh Eloussa brengsek, dasar betina ****** sialan!
11 Mei 2026—Pukul 16:00
Waktu berlalu. Sore itu, di Tokyo, aku sedang menikmati Kobe Beef, steak khas jepang yang sangat mahal di sebuah restoran.
Namun, seharian ini otakku masih belum bisa melupakan segala pengalaman mengerikan tersebut. Dua kali wanita gila itu mencoba membunuhku. Sebenarnya apa gerangan yang terjadi?
Aku harus sesegera mungkin menceritakan semua insiden ini ke sahabatku yang jenius, Aldon. Kurasa dialah satu-satunya orang bisa membantuku memecahkan teka-teki absurd ini.
Sewaktu aku sedang fokus dengan ponselku, tiba-tiba ada seseorang duduk di kursi sebelahku.
"Konnichiwa, Luno-san!" kata Eloussa dengan senyum manisnya.
Aku langsung kaget hingga terjungkal dari kursi. Aku sangat panik dan gemetaran, tapi aku memutuskan untuk melabrak wanita itu!
"Apa-apaan ini?! Seharusnya saat ini kan, KITA BELUM KENAL!!!" teriakku penih frustasi, sambil menitikkan air mata. "Ka-kamu . . . Kamu ini makhluk apa sebenarnya?"
"Nemesis," jawab Eloussa lembut dengan wajah polos dan senyum manisnya, menyodorkan pistolnya ke arahku. "Sayonara!"
DOR! DOR! DOR!