TIME TRAP

TIME TRAP
KELUARGA



5 MEI 2039—13:00


Aku melihat . . . Putraku! Dia berdiri persis di hadapanku.


"Eriel—?"


Aku melihat putraku Eriel yang berusia 11 tahun saat itu, sedang menangis.


Bukan, bukan dia terharu karena lama tak berjumpa denganku. Tampaknya aku di masa lalu baru saja memukulnya beberapa detik yang lalu, saat itu.


Eriel berlari masuk ke dalam kamarnya. Mengunci pintunya.


"Ah, Eriel—"


Aku seketika menyesal pada diriku yang dulu yang memukulnya saat ini. Coba kuingat-ingat apa yang terjadi saat itu. Maksudku . . . , saat ini!


Saat ini aku masih berusia 40 tahun. Bukannya ini saat-saat aku masih bahagia dan keluargaku harmonis?


Ah aku ingat, Mei 2039, ini adalah mula-mula krisis ekonomi terjadi di seluruh dunia. Keadaan ekonomiku yang pas-pasan, perlahan mulai rentan menghadapi gejolak dunia. Emosiku mulai tidak stabil saat itu. Aku mulai menyalahkan dunia, menyalahkan diriku, bahkan melampiaskan amarahku pada keluargaku.


"Sayang? Kenapa kau pukul anakmu?" tiba-tiba kulihat istriku, Cherish, menghampiriku, "Eriel hanya minta dibelikan drone untuk pekerjaan rumahnya. Kalau kau sedang tidak ada uang, kau bisa menjelaskannya baik-baik!"


"Iya, emosiku sedang tidak stabil, karena masalah ekonomi yang saat ini—"


"Andai saja si jenius Aldon masih ada," potong Cherish, "pasti bisnismu tak akan seburuk ini sekarang."


"Maafkan aku, Cher—"


"Kalau kamu terus seperti ini, jangan salahkan Eriel jika dia membenci kamu nanti!" tegas Cherish.


Cherish kemudian pergi ke kamar Eriel dan mengetuk pintunya perlahan-lahan. Eriel membukakan pintu dan Cherish memeluknya dengan lembut.


Air mataku mengalir.


Aku memohon maaf dalam hati—maafkan Papa, Eriel. Mulai hari ini, Papa janji akan membuatmu bahagia.


Baiklah. Waktunya menggunakan kekuatanku. Aku membuka aplikasi saham dan crypto di ponselku, aku memeriksa emiten mana saja yang akan melonjak derastis harganya lalu . . . REVERSE!


Dengan cara yang sama, aku memainkan waktu berulang dan dengan mudah aku mendapatkan sekitar 500 juta rupiah sore itu.


Lalu setelah semua uang itu kudapatkan, aku membuka aplikasi belanja online dan membeli drone termahal untuk Eriel dan bahkan membelikan PlayStation 7 yang baru muncul. Oh ya, tak lupa sekalian memesan tas Hermes yang diidam-idamkan istriku.


Saat aku memasuki kamarnya, Eriel sedang membaca komik dan pura-pura tidak melihatku. Aku bertanya padanya dengan nada lembut, "Eriel, kamu tidak apa?"


Eriel menggangguk. Wajahnya murung.


"Maafkan Papa, Eriel. Tadi papa nggak ada maksud—"


"Papa kan bisa ngasih tau Eriel kalau Papa lagi nggak ada uang. Eriel ngerti kok."


Lalu kukeluarkan hadiah-hadiah itu dari kantong.


"Ini . . . buat kamu. Jangan sedih lagi. Papa sayang kamu, Eriel."


Eriel masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, memandangi dua kotak yang kukeluarkan dari dalam kantong itu.


"Drone Gixamax 9? PlayStation 7? Ini beneran Pa?"


Aku mengangguk, tersenyum. "Coba kamu buka."


Namun Eriel masih tampak ragu, menatapku dengan ekspresi yang berubah-ubah. Lalu buru-buru Eriel merobek plastiknya, dan membuka kemasannya tergesa-gesa. Eriel mengamati dengan seksama PlayStation 7 itu serta Drone tersebut, masih fresh dalam kemasan.


"Papa kan lagi nggak ada uang . . . Aku suka ini tapi ngga usah, Pa."


Eriel tiba-tiba memelukku.


"Aku sayang Papa. Aku ngga mau nyusahin Papa. Papa jual aja ini semua, Eriel nggak perlu ini semua. Drone juga Eriel bisa pinjem temen kalo memang Papa lagi nggak bisa beli. Aku nggak mau papa kesusahan karena beli barang-barang mewah ini buat Eriel . . ."


Ah sial. Air mataku hampir mengalir lagi. Aku nggak boleh terlihat cengeng di depan anakku. Kupeluk Eriel erat-erat. "Tenang aja . . . Eriel. Papa baru dapat bisnis baru, keadaan keuangan kita akan sangat membaik. Papa janji Aku akan membahagiakan Eriel, juga Mama. Kita semua tak akan kekurangan lagi."


Kami berpeluk dan bertangis-tangisan. Apalagi aku sudah tak melihatnya bertahun-tahun, air mata tak terbendung membanjiri wajahku. Aku bener-bener kangen dan sayang dia. Aku tak ingin kehilangan dia lagi. Aku akan menjagamu baik-baik, nak!


Tiba-tiba Cherish masuk ke kamar.


"Ini apa, sayang? Tas Hermes Birkin ini asli? Aku lihat struk pembelian, ini autentik dan sangat mahal. Bukannya kita sedang tidak ada uang?"


Aku segera berusaha menjelaskan padanya seperti yang telah kujelaskan pada Eriel tadi. Lalu kita bertiga saling berpeluk dan bertangisan malam itu. Sudah kuputuskan ini adalah babak baru dalam hidupku. Aku bersumpah untuk membahagiakan mereka, mulai saat ini.


Inilah adalah awal dari babak baru dalam kehidupanku.