
Malam ini pertama kalinya aku mencoba tidur sejak mendapatkan kekuatan waktu.
Cherish yang berada di sebelahku sudah terlelap dengan nyenyak setelah sesi bercinta yang sangat ganas tadi. Kuluapkan segala nafsu dan rindu yang kupendam selama ini.
Namun aku susah tidur malam ini, meski tubuhku merasa sangat rileks karena hormon endorfin yang memenuhi tubuhku.
Aku tahu, kehidupanku tidak akan pernah sama lagi. Semua sudah berubah sejak mendapatkan kekuatan ini. Namun aku sangat, SANGAT khawatir, takut jika ketika nanti aku terbangun—semua ini ternyata hanyalah mimpi belaka! Bagaimana jika aku tidur, ternyata malah terbangun kembali ke dunia nyata?
Segala pikiran menghantuiku malam itu, tapi karena terlalu lelah akhirnya aku terlelap juga.
6 MEI 2039
Pagi itu aku terbangun. Di sebelah Cherish. Syukurlah, ini semua beneran bukan mimpi. Aku masih bangun di masa ini. Ini berarti aku benar-benar me-restart ulang hidupku. Aku akan memperbaiki semuanya, mulai detik ini.
Lalu hanya dalam beberapa hari saja. Aku sudah berhasil memperoleh beberapa milyar dengan mudah.
14 MEI 2039
Di akhir pekan, aku mengajak istri dan anakku makan di sebuah restoran di hotel bintang lima. Sudah lama kami sekeluarga nggak menikmati makanan semewah ini. Kami berasa kampungan dan norak, namun sangat antusias. Aku bahagia melihat wajah riang mereka.
"Pa, lobster ini enak sekali" Eriel terlihat riang. Ia menikmati setiap gigitan dengan perlahan dan hati-hati.
"Apa boleh kita makan semahal ini, Sayang?" tanya Cherish. "Ini bukan mimpi kan?"
Aku tersenyum, sebenarnya aku juga masih ragu, apakah ini cuman sekadar mimpi atau khayalanku belaka. Tapi aku tetap berusaha berpikir positif. Ya, ini semua nyata, ini adalah karunia, hadiah dari Sang Pencipta untuk menata ulang hidupku yang dulu sangat kacau.
"Ini bukan mimpi," kupertegas hal ini pada mereka. "Mulai hari ini, kita tidak akan hidup kekurangan lagi. Papa janji!"
Setelah makan malam yang luar biasa, kami pergi ke pusat perbelanjaan dan berbelanja sepuasnya. Ponsel terbaru, pakaian, tas, dan sepatu dengan harga puluhan juta rupiah. Aku bahkan membeli sebuah jam tangan senilai ratusan juta rupiah. Semua ini adalah hadiah untuk diriku sendiri setelah bertahun-tahun menderita.
Tapi kenapa makin ke sini, makin bosan ya? Sesi bercinta kami menurun kualitasnya, tidak seperti kemarin yang begitu menggebu-gebu bergairah. Aku mulai meragukan apakah Cherish adalah pasangan yang tepat untukku. Aku merasa, aku layak mendapat pasangan yang lebih baik dari Cherish. Dengan kekuatan dan kekayaanku, aku bisa mendapat wanita yang jauh lebih cantik dari dia.
Bahkan tiba-tiba aku menyimpulkan keluargaku sebagai liabilitas—penghambat kebahagiaanku. Terjadi disonansi dan gejolak konflik internal yang kontradiktif berkecamuk dalam diriku, peperangan batin antara hasrat yang terpendam dan moralku. Iblis sepertinya berbisik hal jahat dan nuraniku berusaha melawan balik.
Jika aku berselingkuh lalu bercerai, berarti aku benar-benar seorang lelaki brengsek sejati! Jika aku meninggalkan keluargaku, pastilah aku juga akan kehilangan putra yang kusayangi, Eriel. Aku akan kehilangan semuanya nanti jika aku tidak bersyukur dan mulai bertingkah lagi.
Bukankah ini semua adalah kesempatan kedua dari Sang Ilahi? Sudah tidak waraskah aku jika menyia-nyiakannya? Aku merasa seakan terbelah menjadi dua. Aku harus segera menghentikan segala paradigma liar ini sebelum aku makin memerosokkan diriku lebih dalam ke jurang yang sesat.
"Sayang?"
Cherish tiba-tiba membuyarkan pikiranku. Aku hampir lupa bahwa aku sedang bercinta saat ini.
"Kamu sedang tidak bergairah kayaknya. Apa kamu kelelahan?"
Aku ingin berkata aku lelah dan ingin menghentikan sesi bercinta yang membosankan ini. Tapi aku ingin mencoba menjadi suami yang baik. Dan aku takut karma. Jadi aku menyelesaikan sesi bercinta kali ini dengan cepat, dan agak terpaksa.
Setelah *******, istriku pun terlelap.
Aku kembali bergumul dengan pikiranku malam itu. Aku lagi-lagi mengharapkan istri yang jauh lebih muda dan cantik. Bahkan gilanya lagi, aku berharap bisa berpoligami, menikahi beberapa cewek cantik sekaligus. Pikiran liar dan jahatku makin kemana-mana.
Ah enyahlah kau wahai iblis! Aku tak akan melakukan semua itu.
Dalam lubuk hatiku yang paling dalam, mungkin aku hanya takut karma. Takut jika aku melakukan itu semua, aku malah akan kehilangan kekuatanku. Kehilangan segalanya, dan kembali hidup seperti manusia sampah seperti dulu lagi.
Manusia yang tidak belajar dari kesalahan hidupnya, akan hancur kembali pada lubang yang sama.