
20 November 2026—19:25
Eloussa—nama malaikat itu, yang tak lama lagi akan bercinta padaku untuk pertama kalinya. Sudah enam bulan kuberjuang mendekati wanita cantik ini dengan jerih payah. Dengan kekuatan waktu, harta, dan rupaku—tetap saja hampir tidak berhasil mendapatkan wanita high class ini.
Eloussa berusia 10 tahun lebih muda dariku. Super cantik, badan seksi, tapi terlihat lugu dan tulus. Bak malaikat dari surga! Tak hanya parasnya yang elegan, tapi Eloussa juga sangat pintar dalam banyak hal. Ditambah dia juga masi perawan katanya. Ah, what a classy woman—dia begitu sempurna.
Malam ini semuanya sudah tertata rapi . . . Sudah kusiapkan kamar yang sangat romantis. Kuhias kamar dengan cantik, diterangi cahaya remang-remang dari puluhan lilin aromaterapi. Kelopak bunga mawar kutebarkan di atas kasur nuanasa putih bersih. Tak lupa kuletakkan sebotol wine dengan harga ratusan juta di meja kecil. Obat kuat juga sudah konsumsi sejam yang lalu. Semuanya pasti berjalan sempuna! Malam ini akan menjadi malam yang paling indah dalam hidupku.
Eloussa pun keluar dari kamar mandi, dengan handuk kimono putihnya. Ah damn, she's so fuckin' perfect!
Matanya yang begitu indah, dengan bibir mungil yang merah merona. Dan ditambah, aaah! Sudah terlihat lekuk tubuhnya di balik handuk kimononya . . . Ingin rasanya segera kulucuti handuk kimono tersebut!
Aku harus mengontrol diriku agar tetap terlihat cool dan gentleman. Calm down, kalem oi!—aku berusaha menenangkan diriku dalam hati.
"Kamu mandi lama skali," aku berdiri menghampirinya perlahan. "Kamu cantik sekali malam ini, Eloussa."
Eloussa hanya tersenyum manis, lalu tiba-tiba dia mendorongku ke kasur. Eh!? Kini malaikat ini berada berada persis di atas tubuhku?
Dug . . . Dug . . . Dug . . . Dug . . .
Jantungku berdebar sangat kencang. Ini momen spesial yang sudah lama kunanti.
"Love you," kataku dengan gentle.
"Love you too," balas Eloussa dengan suara lembut.
Aku begitu bahagia, sekaligus sangat terangsang!
Perlahan kucium bibir mungil Eloussa. Oh, aku sungguh menikmatinya, aku bisa merasakan jarinya meraba dada dan perutku perlahan. Perlahan-lahan kubuka handuk kimono yang membelenggu Eloussa. Lalu aku juga perlahan melepas pakaian singletku, memamerkan tubuh atletis yang telah kulatih selama ini.
Eloussa tiba-tiba mendekatkan bibirnya ke telingaku, berbisik lembut. "Aku punya surprise untukmu, sayang—"
Oh, so sweet! Mau kasih kejutan apa ya dia . . . ?
"Kejutan apa nih, baby?"
Kupejamkan mataku sesuai perintah Eloussa.
"No ngintip ngintip," bisik Eloussa lagi.
Agar lebih meyakinkannya, aku menutup kedua mata rapat-rapat dengan tangan kiriku.
"Surprise apa sih, aku kok penasaran banget?" tanyaku dengan tidak sabar.
"Sabar sayang, dijamin kamu bakal nggak nyangka surprise dari aku!" jawab Eloussa engan tenang dan lembut. Aku jadi makin penasaran dibuatnya.
Ada apa ini . . . ? Dia bukan cewek berbatang kan? Atau mungkinkah dia penggemar BDSM? Atau apa sih? Aaargh, aku penasaran banget!? Jantungku makin berdetak kencang.
Dug . . . Dug . . . Dug . . . Dug . . .
"Baby, kok lama banget, sudah boleh buka mata?" tanyaku lagi.
"Sudah, baby."
"Baiklah, aku buka mata perlahan ya," kataku sangat nggak sabar. Akhirnya! Akupun mulai menghitung mundur biar seru. "Tiga . . . Dua . . . Satu . . ."
Aku membuka mata, dan melihat sebilah pisau di tangan kanan Eloussa.
Eh!?
"Surprise . . . !" kata Eloussa tersenyum manis.
JLEB!
Dalam sekejap Eloussa langsung menghunuskan pisaunya, menembus tubuhku!
Aaargh!!!