
15 MEI 2039
Subuh mulai merekah dan aku terbangun dengan ide gila menyelubungi benakku!
Bagaimana jika—sejak awal aku tidak pernah menikahi Cherish? Maka aku tidak berbuat jahat kan? Aku bahkan tidak akan bisa disebut sebagai seorang yang selingkuh.
Ini adalah ide brilian yang sempurna! Aku akan kembali ke masa dimana aku masih lajang, bahkan sebelum aku berkenalan dengan Cherish.
Tapi, setelah nanti aku melakukan ini semua, pastinya aku tidak akan bisa mengulanginya lagi. Karena aku cuman bisa kembali ke masa lalu, bukan ke masa depan. Aku sudah pernah mencoba sebelumnya namun gagal.
Konsekuensi yang sangat besar akan menjeratku: Jika aku kembali ke masa ketika aku masih lajang, maka keluarga ini takkan pernah ada. Tidak akan ada lagi putraku tercinta—Eriel, karena berarti dia tidak akan pernah dilahirkan.
Kalaupun aku berusaha "menciptakan" dia di hari—bahkan jam, menit, dan detik yang sama: belum tentu istriku akan melahirkan eksistensi Eriel yang sama. Kemungkinan besar malah akan lahir individu yang berbeda.
Terombang-ambing oleh agitasi dan gejolak emosi yang berkecamuk dalam diriku, tiba-tiba aku menangis sendiri. Aku tidak siap berpisah dengan mereka. Pada dasarnya aku juga masih sayang dengan istriku, hanya berasa bosan saja. Sifat mudah bosan yang selalu menderaku, membuatku sulit merasa nyaman dengan status quo dan stagnasi dalam kehidupan.
Apa boleh aku menikah lagi saja? Aku tahu Cherish tidak akan pernah rela dan sudi jadi istri kedua.
"Sayang kenapa kamu menangis?"
"Ah tidak apa, aku baru saja selesai doa dan berterimakasih pada Tuhan."
"Ah, tumben— Baiklah, sarapan uda aku buat. Ayok, makan."
Kami bertiga sarapan bersama dan berbincang seperti biasa.
Makan dan sembari mengamati mereka, pikiran buruk kembali menggodaku. Aku merasa, aku layak mendapatkan keluarga yang lebih baik dari ini.
Kalau dipikir-pikir lagi, di dunia ini tidak ada yang abadi kan? Suatu hari, Eriel akan tumbuh dewasa dan pergi meninggalkanku, hidup bersama istrinya. Dan Cherish, suatu saat juga akan meninggal. Jadi apa salahnya aku yang meninggalkan mereka lebih awal? Ini bisa disebut sebagai langkah preventif.
Aku membulatkan tekadku. Aku akan menjalani hidup bersama mereka untuk terakhir kalinya, selama tujuh hari.
Kemudian aku benar-benar melakukannya, memanjakan mereka semaksimal yang aku bisa. Membelikan semua yang mereka mau. Kuhabiskan milyaran untuk mereka. Malam itu kupuaskan hasrat istriku meski dengan bosan dan terpaksa.
18 MEI 2039
Lalu di hari ketiga kami melakukan perjalanan ke Paris dengan menyewa sebuah jet charter.
Wah, dengan mudahnya aku menikmati kemewahan dunia ini. Seperti tadi baru saja aku mencoba menggantung diriku di apartemen studio yang sempit dan kumuh itu. Kini, aku berada di depan Menara Eiffel bersama keluarga tercinta—dengan pakaian branded, dan menginap di hotel bintang lima.
Ini pertama kalinya aku melihat Eiffel secara langsung, bukan dari foto. Ternyata aslinya berbeda dengan ekspetasiku selama ini. Jauh lebih mengesankan, megah . . . raksasa! Dihiasi cahaya lampu bewarna warni. Menakjubkan, sangat impresif! Oh Tuhan, terima kasih buat momen yang indah ini.
22 MEI 2039
Hari ketujuh pun tiba, hari terakhir dimana aku menjalani hidup bersama mereka.
"Pa, aku ingin ke London, apa boleh?" kata Eriel.
"Yok, besok kita ke sana," Kataku sambil mengelus kepalanya.
Tapi kurasa semua ini sudah cukup, aku sudah puas bersenang-senang bersama mereka. Bukannya aku tak mau bersama mereka lebih lama lagi. Tapi aku juga sudah tidak sabar kembali ke masa lalu. Aku orangnya mudah bosan, aku ingin sesuatu yang baru.
Ditambah lagi aku takut jika kekuatan ini hanyalah temporer, bagaimana jika nanti aku kehilangan kekuatanku ini sebelum aku melakukan semua yang aku inginkan?
Kemudian kukumpulkan mereka malam itu, di kamar hotel yang mewah ini.
"Boleh aku peluk kalian?" pintaku. Tanpa terasa mataku berkaca-kaca.
Eriel dan Cherish saling pandang seolah bingung, kenapa tiba-tiba aku seperti ini. Mereka mendekat, aku memeluk mereka erat-erat. Lalu aku menangis begitu deras, mereka bingung dan mencoba mengelusku.
Aku tahu, aku manusia sampah dan brengsek: aku memilih untuk pergi dan tidak mempertahankan keluarga kecil yang bahagia ini. Karena di lain sisi aku yakin tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini, termasuk kebahagiaan.
Bisa saja suatu hari kita bertengkar hebat. Di kehidupan yang berkelimpahan seperti ini, bisa saja Cherish akan berubah sifat semakin materialistis nantinya. Bisa saja suatu hari Eriel yang manis dan polos ini, berubah jadi anak manja yang nakal dan pembangkang. Mempertimbangkan semua itu, kurasa ini adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri semua ini saat ini juga: dimana keluargaku saat ini sedang dalam kondisi terbaik—Happy Ending!
"Terima kasih buat segalanya," diriku bergetar, air mataku mengalir deras. "Aku sayang kalian, terima kasih—"
"Ada apa sayang, kok seperti kita mau berpisah? Kamu baik-baik saja?"
"Maafkan aku karena begitu egois, aku memang . . . brengsek—"
Aku menangis lagi.
"Pa? Papa kenapa?" Eriel ikut menangis.
Bak virus, tangisan kami bertiga menular satu sama lain. Kami berpeluk dan bertangis-tangisan. Kalau begini caranya, bagaimana aku tega meninggalkan mereka?
Aaargh! Mereka begitu mencintaiku! Aku sungguh bahagia, apa aku hidup seperti sekarang aja ya? Sungguh bodoh dan jahat jika aku harus meninggalkan mereka.
Aku memutuskan untuk membatalkan dulu niatku dan berpikir ulang. Aku memberi tahu mereka bahwa aku hanya sedang galau, tidak terjadi apa-apa. Kami akan pergi ke London besok dan melanjutkan kehidupan bahagia kami bersama.