
Setelah kesalahan pahaman antara alfin dan nisa selesai, kini di hari sabtu mereka bertiga (satu kelas) mendapatkan ulangan harian dari guru matematika.
"untung gue belajar tadi malem" batin anan senang
"kok soalnya hampir mirip di ulangan harian yang lalu, atau cuma perasaanku saja ya?" batin alfin
"tumben soalnya ada 20, biasanya kan ada 35" batin revan
Selesai mengerjakan ulangan harian, mereka menunggu jam ganti pelajaran dan jam istirahat.
namun saat pelajaran kedua, revan di panggil oleh guru BK katanya ada yang ingin di bicarakan.
"revan kok di panggil bu Dewi sih, ada apa ya?" batin anan
(Bu Dewi adalah salah satu guru BK di sekolahan tersebut)
"ada apa ya, kok aku di panggil?" batin revan
(Di ruang BK)
sesampainya di ruang BK, revan di persilahkan duduk oleh bu Dewi.
"jadi gini van, katanya ibu kamu sakit, sekarang dia sedang di rawat di rumah sakit, kenapa ibu kamu gak ngabarin kamu ya?" kata bu Dewi
"saya baru tau bu, kemarin HP saya jatuh ke air, jadi gak nyala bu, emangnya ibu saya sakit apa?" kata revan
"tetangga ibu kamu yang mengabarkan, katanya ibu kamu terkena kanker otak" kata bu Dewi
"Astagfirullahalazim, kenapa saya baru tau" kata revan panik
seketika kyai salim yaitu pamannya revan datang dari pesantren.
"assalamu'alaikum warohmatulohi wabarakatuh, maaf mengganggu, revan ibu kamu van" kata pak kyai
"Waalaikumsalam" ucap bu Dewi
"Waalaikumsalam, paman eh pak kyai, ibu kenapa pak, dia baik-baik saja kan" kata revan
pamannya revan pun duduk di samping revan
"paman dapat kabar dari rumah sakit, katanya ibu kamu akan di oprasi van" kata pamannya revan
"tapi, revan tidak punya biayanya" kata revan
"sudah-sudah, lebih baik kita langsung menuju rumah sakit itu" kata bu Dewi
"tapi pelajaran saya bu" kata revan
"nanti ibu urus" jawab bu Dewi
(Di posisi kelasnya revan)
"aduh mana sih revan, kok gak balik-balik sih, kan jadi khawatir" batin anan
"revan mana ya" batin amira
di kelas mereka sedang di ajar pelajaran Bahasa Inggris
"revan melewatkan pelajaran bahasa Inggris lagi" batin alfin
(Di posisi revan)
ia sangat cemas pada keadaan ibunya, dia takut kehilangan ibunya, ia selalu berdoa dan berdzikir di dalam hatinya sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
(1 jam kemudian)
mereka sudah sampai di rumah sakit dimana ibunya revan di rawat.
mereka langsung menanyakan dimana ruangan ibu Fatimah ibunya revan di rawat.
Sesampainya di depan ruangan ibunya revan, terlihat Ibunya sangat lemas.
dokter pun datang dan meminta persetujuan keluarga untuk melaksanakan operasi pada pasien.
mereka pun mengiakan dengan harapan bisa terselamatkan.
setelah persiapan, ibunya revan di bawah ke ruang oprasi.
"ibu, aku ingin ibu sehat, ibu tetap ingat pada Allah, selalu berdzikir bu" kata revan menggenggam tangan ibunya
"iya anakku, ibu akan selalu ingat" jawab ibunya revan lemas
5 jam berlalu
revan terus saja khawatir, lalu ia putuskan untuk pergi ke mushola di rumah sakit ini.
revan terus berdoa dan berdzikir, kemudian ada yang menepuk pundak revan.
"kak Amir? kok disini, sama siapa" kata revan
"iya van, tuh sama anan dan kawan-kawannya" kata kak amir
"van gue sekarang tau apa yang lo rasakan saat ini, gue hanya bisa bantu doa van" kata anan
"kamu harus tetap sabar van" kata amira
revan hanya membalas dengan senyuman saja.
"eh kalian kan sekolah" kata revan
"di bubarin, katanya ada rapat penting" kata chelsea
"ouh rapat" batin revan
mereka pun ikut mendoakan keselamatan ibunya revan
"kami tunggu di luar saja ya" kata nisa
"ouh iya" jawab revan
Chelsea, nisa dan amira menunggu di depan ruang oprasi bersama bu Dewi.
setelah menunggu sangat lama, akhirnya dokter pun keluar dari ruang oprasi.
"Bagaimana dokter keadaan ibu saya" kata revan
"Maaf untuk sebelumnya, tapi oprasi kami gagal" kata dokter
"gagal? gagal apanya dokter, apa maksudnya?" kata pamannya revan.
"kondisi pasien terlalu lemah, dan tidak bisa tertolong, ibu anda sudah meninggal" kata dokter
Seperti tersambar petir di hari yang cerah, hati revan seketika sakit dan sedih, ia tak percaya Ibunya telah meninggal, ia meneteskan air matanya.
"innalillahi wa innailaihi rojiun" ucap mereka semua termasuk revan
"gak mungkin, ibu.. ibu! ibu!" kata revan meneteskan air mata
"sabar van, ini sudah kehendak Allah, ini sudah takdir van" kata pamannya revan
revan nampak tak berdaya ia langsung duduk dengan perasaan yang sedih.
"dulu ayah, sekarang ibu" batin revan sedih
Teman-temannya revan mencoba untuk memenangkan pikiran revan.
"sabar van, masih ada kami disini" kata alfin
"revan, kamu harus kuat jangan putus asa, ini sudah takdir" kata bu Dewi
~Skiiip~
Di hari pemakaman ibunya revan
air mata revan terus keluar membasahi pipinya.
perasaan revan kali ini sangat sedih, ia kehilangan orang yang di sayanginya untuk kedua kalinya.
setelah pulang dari pemakaman ibunya, revan memang tak menangis namun ia hanya terdiam dengan tatapan datar.
"van bicara dong, jangan diem terus" kata alfin
"iya van, sudah ikhlaskan saja van, ini sudah takdir" kata anan
"ya" jawab revan dengan tatapan datar tanpa ekspresi
untuk sementara revan tinggal 1 minggu di rumahnya yang jauh dari sekolah.
di temani pamannya dan arman sodaranya (anak dari pamannya revan)
(Bersambung)
{___/} {__/}
(╥ω╥) (---- )
/>💔<\ <\💓<