
Pagi harinya di hari senin bulan September, alfin berangkat ke sekolah sendirian tanpa anan dan revan.
"sudah biarkan saja nan" kata revan
"iya juga sih" jawab anan
mereka berdua pun berangkat ke sekolah.
(Di sekolah)
Seperti biasa nisa sudah menunggu di depan kelas.
"selamat pagi alfin" kata nisa
"selamat pagi" jawab alfin tersenyum
alfin pun duduk di tempatnya, tak lama kemudian anan dan revan datang.
"nisa, kamu ada waktu nanti pulang sekolah, kita bisa bertemu di taman" kata alfin
"eh, gimana ya, aku sudah janji sama arvan dia ingin aku mengajar pelajaran yang belum ia ketahui" kata nisa
"tapi kenapa harus padamu" kata alfin
"katanya semua teman klub sastra terlihat sibuk" kata nisa
"ouh oke" jawab alfin singkat
(Jam pelajaran pun di mulai)
saat di ajar alfin tidak fokus pada pelajaran dan dia di suruh menjawab pertanyaan di papan tulis, untungnya dia bisa menjawabnya.
sambil memandang keluar jendela ia berfikir.
"kenapa arvan meminta bantuan pada nisa, yang lain kan ada, aku tau arvan tak punya banyak teman, tapi kenapa harus nisa, sabar alfin, berfikir positif jangan yang aneh-aneh" batin alfin.
"aduh kenapa si alfin, tumben gak fokus pelajaran, padahal ini pelajaran kesukaannya" batin revan
"alfin kenapa ya?" batin nisa
(Jam istirahat)
Anan langsung pergi ke kantin sedangkan revan langsung pergi ke mushola.
"fin kamu mau kemana?" tanya nisa
"ke kantin nyusul anan, kalo kamu" kata alfin
"di kelas aja, nemenin amira yang lagi puasa" kata nisa
"ouh" kata alfin pergi menuju kantin
(Di kantin)
terlihat Anan yang sedang makan mie ayam, alfin pun menghampirinya.
"lagi ada masalah fin?" tanya anan
"ya kurasa" jawab alfin
"coba cerita, mungkin gue bisa bantu" kata anan
alfin pun menceritakan masalahnya dengan nisa.
Anan hanya menjawab Kalo ingin tau kebenarannya tanyakan langsung pada orangnya.
selesai mereka berdua mengisi perut, merekapun kembali ke kelas.
di perjalanan menuju kelas, ada satu siswi dari kelas sebelah yang tak sengaja menabrak alfin.
alfin pun menolong siswi itu agar tidak terjatuh ia menarik pergelangan tangan siswi itu, seketika mereka saling memandang.
dan tak sengaja terlihat oleh nisa, nisa merasa sedih, ia berlari entah kemana.
"maaf saya tidak sengaja" kata siswi tersebut
"ouh oke" jawab alfin cuek
"Fin lo harus temuin nisa, dia tadi liat lo" kata anan
"hah!" kata alfin
(Alfin pun berlari menuju kelas)
"Nisa!" kata alfin
"eh alfin, bukannya nisa tadi ke kantin ya, katanya di mau nemuin kamu, kok kamu yang nyari" kata amira
"iya, tadi sih ada, sekarang mana nisa" kata alfin
"tidak tau" kata amira
"jangan sampai dia salah paham" batin alfin
Alfin mencari nisa ke berbagai tempat namun tak menemukannya, dan saat dia melihat di belakang lapangan bola yang terhalang tembok besar, nisa sedang menangis di pundak arvan.
betapa sakitnya hati alfin melihat kejadian itu, ia melihat nisa menangis di sandaran pundak arvan dan arvan pun membersihkan air mata nisa.
setelah kejadian itu alfin dan nisa tidak pernah saling menyapa, mereka terus terdiam.
"gawat nih, makin buruk" bisik anan pada revan
"benar, sepertinya alfin akan menyerah" kata revan
"kita gak boleh biarin hubungan mereka rusak" bisik chelsea
"benar itu, tapi bagaimana, mereka berdua salah paham" kata amira
(3 hari kemudian)
sifat alfin berubah menjadi pendiam dan tak banyak bicara, padahal di selalu terlihat bahagia, namun kini dia seperti putus asa, kesehariannya kini hanya membaca buku, buku dan buku.
(Di sekolah)
"fin, lo mau ikut ke kantin gak" kata anan
"gak" jawab alfin singkat
"alfin, kamu gak ke klub mu lagi" kata revan
"ya" jawab alfin
"aduh gagal lagi" batin anan dan revan secara bersamaan.
(Di posisi nisa)
"sudah tiga hari alfin cuek padaku, apakah dia salah paham saat aku bersandar pada arvan" batin nisa
"aduh nisa melamun terus" batin amira
(pada saat yang sama)
Alfin memikirkan hal yang sama seperti nisa, sudah tiga hari dia tidak menyapa nisa dan bersikap dingin padanya.
"Apakah aku harus bilang duluan" batin alfin
alfin pun memutuskan untuk pergi ke klub sastra.
di sana ia bertemu dengan arvan, dengan tatapan datar alfin menanyakan soal nisa tiga hari yang lalu.
"jadi maksud mu, aku nikung kamu gitu? aku nusuk dari belakang gitu? maaf alfin aku gak seperti itu, aku hanya kasian pada nisa, dia menangis entah kenapa" kata arvan
"benarkah" kata alfin
"iya alfin, aku kan sahabat kamu, masa sih nusuk kamu dari belakang atau nikung kamu, gak akan pernah" kata arvan
(Di saat yang sama)
nisa menanyakan kejadian tiga hari yang lalu pada anan, betapa terkejutnya ia hanya salah paham saja.
"aku harus bertemu alfin" kata nisa
"hah alfin? tadi gue liat dia di klub sastra" sambung aldo
Nisa pun berlari menuju klub sastra, dia melihat alfin yang sedang melamun.
"alfin!" kata nisa menangis
ia berlari menuju alfin dan memeluknya.
"eh? ada apa" batin alfin
"ada apa ini, jangan memelukku" kata alfin melepaskan pelukan nisa
"maafkan aku alfin, aku sudah salah paham padamu tentang kejadian tiga hari yang lalu" kata nisa dengan air mata mengalir di pipinya.
alfin hanya bisa tersenyum sambil mengusap air mata nisa.
"aku juga minta maaf" kata alfin
"kita baikkan fin" kata nisa
alfin hanya tersenyum menatap wajah nisa.
Anan dan revan melihat mereka berdua baikkan lagi.
"akhirnya kelar juga tuh salah paham" kata anan
"ujiannya berakhir bahagia ya" kata revan
"seneng banget deh liat mereka baikkan" kata chelsea bersandar pada anan
"semoga mereka tidak bertengkar lagi" kata amira
{__/} {/}
( > 。<) (*´︶`*)ฅ♡
/>❤<\ <\ <
(Bersambung)