
(Beberapa hari kemudian)
mereka bersekolah seperti biasanya, dan terlihat amira sudah sehat.
(Di kelas)
revan dan alfin sedang membaca buku sedangkan anan ia sedang menulis sesuatu.
"Hai revan" kata amel tersenyum
"ada apa ya" kata revan
amel tersenyum menatap revan.
"dia kenapa ya, kok malah senyum" batin revan bingung.
"reevaan.. kamu tampan deh" kata amel yang akan memegang pipi revan, seketika revan langsung berdiri untuk menghindari amel.
"maaf amel, apa maksud mu!" kata revan tegas
"ih! masa revan nggak terpesona sih sama aku!" batin amel.
di depan teman-teman, amel mengucapkan sesuatu.
"Aku Menyukaimu revan!" kata amel
revan hanya terdiam dengan tatapan datar.
"ini yang ke 4 kalinya, perempuan yang menyatakan cinta padaku" batin revan
"eh amel, revan itu.. " (ucapan anan terpotong oleh revan)
"maaf amel, aku tidak menyukaimu, aku hanya menganggapmu sebagai teman bukan lebih" kata revan
"tapi kenapa? tipe apa yang kamu suka" kata amel
(revan pergi meninggalkan kelas)
"eh amel, revan tuh suka perempuan yang berhijab" kata alfin sambil membaca buku.
~---~
(Pulang sekolah)
mereka pulang bersama dengan chelsea dan kedua temannya.
"chelsea, bagaimana? kau sudah bisa bermain bola basket?" tanya Anan
"iyalah, aku kan hebat" kata chelsea
"fin, bagaimana keadaan Indonesia di masa penjajahan tolong ceritakan" kata nisa
"oke dengar ya" kata alfin
(alfin pun menjelaskan)
sementara revan dan amira hanya terdiam, revan pun memulai pembicaraan.
"sudah sehat" kata revan
"eh.. iya" jawab amira
seketika revan tertawa menatap amira.
"kenapa?" tanya amira
"tidak, kamu terlalu tegang, santay saja berbicara dengan ku" kata revan
amira hanya tersenyum.
(beberapa saat kemudian)
Ada yang memanggil nama revan di belakang.
"revaaaaaan!" kata alyna
"alyna? ngapain kamu kesini" kata revan
"aku kangen kamu" kata alyna
"siapa van" kata anan
"eh kenalin saya alyna, teman masa kecil revan" kata alyna
(mereka pun berkenalan)
seketika alyna menatap amira
"hee.. jadi kamu pacarnya revan" kata alyna
"hah? bukan saya hanya temannya" jawab amira
"bagus kalo begitu" kata alyna
seketika alyna membisikkan sesuatu pada amira.
"revan itu milikku" bisik alyna
seketika amira merasa sedih namun ia tahan.
alyna pergi meninggalkan mereka.
"apa aku harus mundur ya" batin amira
"ada apa amira?" tanya revan
ia berpamitan pada revan dan yang lainnya untuk pulang sendiri.
"amira kenapa ya" kata nisa
"apa yang alyna bisikan pada amira" batin revan.
(Di kosan)
Revan terus memikirkan amira, kenapa amira menjadi cuek setelah alyna membisikan sesuatu.
revan mengirim pesan pada amira pun tidak di jawab.
"amira kenapa ya?" batin revan
"ada apa vin? lo lagi ada masalah?" tanya anan
"gak ada" jawab revan
revan pun pergi meninggalkan kosan tersebut.
"kemana van" kata alfin
"mushola" jawab revan
(Di mushola)
ia bertemu dengan arman dan pak kyai, kemudian revan menceritakan masalahnya pada arman, pak kyai sedang berwudhu.
"van, menurut ku ya, amira sedang cemburu, sepertinya alyna membisikan sesuatu tentang mu atau apalah yang membuat amira sedih dan perasaan cemburu pun muncul" kata arman
"ya aku rasa seperti itu" kata revan
"lebih baik kau tanyakan langsung pada amira dan ingat terus berdoa agar di beri kemudahan, sepertinya hubunganmu dengan amira sedang di uji van, kamu harus sabar" kata arman
"ya, Terima kasih man"kata revan
(Malam harinya)
Ada kabar dari chelsea bahwa amira hilang, dia tidak ada di rumah sejak pulang sekolah.
karena khawatir mereka mencari amira.
mereka berkumpul di rumah amira dan membagi tugas, mencari amira di malam hari dengan adanya hujan pasti sulit.
semua berpencar mencari amira, namun hingga jam 20.30 dia tidak ketemu.
di dalam kepala revan terus terpikirkan taman patung angsa, karena penasaran ia pergi kesana.
(Di tempat tujuan)
terlihat perempuan bergamis abu-abu dan berkerudung hitam sedang menangis.
"Amiraaa.." kata revan
"revan, kenapa ada disini" kata amira
revan pun memayungi amira karena sedang hujan deras
"kau ke hujanan amira, kau kenapa? apa yang kau lakukan disini sendirian" kata revan khawatir
seketika amira menangis di depan revan.
"aku takut.. aku takut kehilangan mu" kata amira
"amira.. disini berbahaya, pulang yuk" kata revan
"revan kau memilih alyna? kau menyukainya" kata amira
"sudah jangan menangis, kalau aku memilihnya untuk apa aku datang kemari, aku khawatir padamu amira, kau cuek dan dingin padaku" kata revan
revan pun memakaikan jaket pada amira.
"jadi kau memilihku" kata Amira
"ya" jawab revan tersenyum
seketika amira meraih pipi revan, ia ingin memegangnya.
"amira, belum saatnya" kata revan
"hm.. baiklah" kata amira.
"revan, kapan kau akan menyatakan suka padaku" kata amira
"Kau akan mengetahuinya juga" jawab revan tersenyum.
revan pun mengantarkan amira pulang.
(sesampainya di rumah)
semua temannya sangat bahagia melihat amira kembali.
"Terima kasih revan" batin amira
"Terima kasih ya revan, kau telah menemukan adikku" kata amir
"ya, sama-sama" jawab revan
kini hubungan revan dan amira pun membaik
mereka pun pulang kerumahnya masing-masing.
(Bersambung)