The White Glove

The White Glove
Pernyataan



Dika tersenyum kecil dari lantai tiga. Ia melihat Dara yang berjalan cepat memasuki lobby karena datang terlambat. Namun ini juga hal yang aneh karena Harry justru berangkat lebih awal dari Dara.


Hanya Dika yang menyadari bagaimana hubungan itu tampak sangat berbeda dari pasangan muda yang wajar.


Harry keterlaluan. Hanya itu yang ada dalam benak Dika soal Harry.


Jam istirahat berbunyi.


Dika mulai memperhatikan kantin dan memperhatikan meja yang sering Dara duduki bersama teman dekatnya, namun kali ini Dara tidak makan siang di kantin.


"Ketemu" ucap Dika dengan spontan, saat ia menemukan akun sosial media Karisa.


Dika mengirimkan pesan pada Karisa setelah meminta teman cybernya memberikan data pribadi akun yang Dika berikan.


"Ini Dika prakasa. Tolong simpan nomor ini mulai sekarang" singkat Dika.


Karisa melotot.


"Mel! Orang ini penguntit Mel. Kalimat pesannya juga kalimat penguntit Mel!" ucap Karisa dengan gusar.


"Sembarangan. Tau darimana?" tanya Imel dengan spontan.


"Dimana-mana, kalau orang yang normal, dia itu meminta baik-baik informasi pribadi dan biasanya minta iizin juga sebelum menghubungi. Ya kan?" tanya Karisa lagi.


"Telemarkerting? Sms voucer gratis? Tawaran provider? Memangnya mereka meminta izin?" ucap Imel lagi.


"Mereka itu dari lembaga yang sudah jelas" singkat Karisa.


"Pria itu juga dari lembaga yang jelas. Bekerja di kantorya mba Dara. Namanya dia di dunia juga sudah jauh lebih jelas dibanding nama kita" ucap Imel dengan tenang.


"Benar juga. Ini harus diselidiki. Dia pasti punya rencana yang buruk" ucap Karisa dengan lirih.


Imel menggeleng. Harusnya pria itu tidak menghubungi Karisa disaat yang tidak baik seperti hari ini.


***


Selama di kantor, Dara terdiam di hadapan monitor yang baru saja hendak ia non aktifkan selepas jam kerja. Seharian ini Harry juga tak banyak meminta bantuan Dara melakukan banyak hal.


"Thats my Secretary!" ucap Harry saat itu.


"Kenapa baru teringat sekarang?!" Dara menggerutu lirih. 'Akhirnya aku memang benar-benar menikah dengan pekerjaanku sendiri. Aku bukan nyonya, tapi tetap sekertaris' benak Dara kecewa setelah Harry memintanya untuk menyiapkan mobil kantor.


"Hari ini tidak pergi bersamamu?" tanya Merisa spontan, setelah Harry keluar dari ruangannya.


Dara menggeleng kecewa.


Merisa mulai mengerutkan dahi.


"Hubungan kalian baik-baik saja kan? Sikapmu aneh hari ini." tukas Merisa lirih.


Dara hanya mengangkat kedua bahunya.


"Ayolah jangan buat kakakmu ini penasaran!!" ucap Merisa ingin tau.


Dara hanya menggelengkan kepalanya dan menutup wajahnya rapat-rapat dengan kedua tanganya.


"Jangan bilang kamu sudah membuat tindakan yang bisa dikatakan tidak diampuni olehnya ya?!" tegas Merisa lagi.


Dara mulai memandang Merisa dan mengangguk.


Merisa mulai menutup bibir Dara dan menunggu orang terakhir keluar dari ruangan.


"Memangnya kamu sudah melakukan apa padanya? Jujurlah sekarang. Lebam di wajahnya bukan karenamu kan?!" tanya Merisa lagi dengan serius.


Dara mulai menghela nafas.


"Aku membuatnya tidak makan malam bahkan sampai sarapan. Dia lebam seperti itu juga karena ulahku" singkat Dara serius.


Merisa terkejut spontan. "Semua itu benar-benar tidak bisa diampuni. Bagaiamana bisa semua itu terjadi?" tukas Merisa.


"Intinya saat malam tidak sempat di makan dan di pagi hari sudah basi karena terbuat dari santan. Dan untuk lebam.. Aku tidak bisa cerita" singkat Dara memelas.


"Oke diluar masalah lebam itu. Intinya suamiku sering marah besar saat masalah isi perut sudah berbicara" singkat Merisa lirih.


"Lalu bagaimana dengan rumah tanggaku dan Karirku?!" tanya Dara gusar.


Merisa teridam sejenak.


Dara berpikir semakin gusar.


"Gawat. Hanya seumur jagung" singkat merisa dengan serius.


Dara mulai menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Merisa terkekeh. "Aku bercanda. Dengar. Kalau level sekertrismu sudah di tingkat paling atas, maka sekarang tugasmu belajar menjadi istri idaman" ucap Merisa lagi.


"Aku tidak yakin, dan kali ini beban yang sangat berat. 1000x lebih berat" ucap Dara dengan serius.


"Mau tidak mau harus belajar. Jangan sampai hal ini terulang lagi. " jelas Merisa yakin.


Dara menghela nafas dalam-dalam.


Ponsel Dara berdering. Harry berada dalam panggilan.


"Kali ini ada apa lagi?" tanya Merisa.


Dara bergegas berdiri dari kursinya.


"Lalu? Apa sekarang pak Harry masih di lobby?" tanya Merisa, sesaat setelah Dara tergopoh-gopoh keluar dari ruang kerja Harry.


"Tidak. Sudah 5 km dari gerbang utama kantor. Aku segera ke sana" tukas Dara lagi.


"Aku juga turun" singkat Merisa.


Dara mulai menutup pintu mobil dan berkendara keluar dari kantornya dengan segera.


Dara menghentikan mobilnya setelah ia mengenali mobil kantornya.


Dara berlari menghampiri Harry.


"Kita sudah pernah sepakat tentang ketelitian dalam bekerja dan juga kedisiplinan!. Tidak pernah ada kesempatan lain untuk siapapun bahkan untuk is... Bahkan bagi pegawai prioritas" jelas Harry dengan tegas.


Dara mengangguk seraya mengingat setiap sikap cerobohnya di dua hari terakhir ini


"Dan kapan tepatnya saya bisa mendapatkan berkasnya?" tanya Harry seraya menyodorkan tangannya meminta berkas yang sedang Dara pegang.


Dara mulai menggenggam tangan Harry, dan mencium punggung tangan Harry dengan sergap.


Harry melotot dan Dara juga segera memberikan berkas itu pada Harry.


"Silahkan di cek lagi isinya pak. Semoga semua berjalan dengan lancar. Sampai jumpa" tukas Dara seraya tersenyum lebar.


Harry hanya mengerutkan Dahinya, dan tak menganggapi sikap Dara yang spontan ia lakukan. Harry segera pergi bersama supir kantornya.


"Kenapa tidak bertanya artinya pak?! Seharusnya tadi aku menjawab.. 'itu yang dilakukan seorang istri kepada suminya yang akan berangkat kerja" tukas Dara setelah mobil Harry pergi dari hadapannya.


Harry melirik tangan kanannya berulang kali.


Dara berbalik arah untuk segera kembali ke Mobilnya. Namun ia mulai memperhatikan gedung lama yang masih ia ingat.


Dara mengintip jalan setapak dari gang kecil sisi kafe lama.


Adit berdiri memandang Dara yang mulai terdiam.


"Kamu disini?" tanya Adit dengan spontan.


"Aku hanya mengantar berkas kantor" ucap Dara spontan seraya menunduk melihat plastik komik-komik yang sedang Adit bawa.


Rasanya Dara mengerti bahwa Adit sedang mencoba mengulang kembali masa lalunya bersama Dara.


"Aku tidak pernah tau kamu melanjutkan pekerjaan Mas Reza. Bahkan hingga menikahi atasannya" ucap Adit lagi dengan serius.


Dara terdim sesaat.


"Apakah rasa masakan di rumah makan ini masih sama?" tukas Dara seraya menunjuk ke arah restoran yang masih buka.


Malam ini Dara hanya berniat mengakhiri baik-baik hubungannya dengan Adit. Mungkin sebagai sebuah komunikasi terakhir membahas hal yang telah usang.


Adit masih menanyakan pertanyaan yang sama, dan Dara masih terpaku risau menanggapi pertanyaan dari masa yang kelam.


"Tidak ada yang tau sebelumnya kalau Mas Reza pernah dirawat berulang kali di rumah sakit dit" singkat Dara.


"Lalu bagaiamana bisa semua itu terjadi padanya? Sejujurnya aku tidak menyangka semua itu terjadi" tanya Adit dengan terkejut.


"Katanya diagnosa pertamanya karena penyumbatan oksigen ke otaknya. Saat itu mas Reza meminta Pak Harry untuk menutupi kondisinya karena saat itu aku sudah merencanakan pernikahanku denganmu. Tapi setelah pernikahanku dibatalkan, dua bulan setelah kami mendengar kondisimu yang semakin memburuk, di saat yang bersamaan pembuluh darah mas Reza pecah. Nyawanya tidak bisa tertolong" jelas Dara dengan serius.


"Dara kamu tau aku tidak akan menyalahkanmu atas apapun, karena semua ini salahku. Tapi kenapa kamu harus melakukan ini? Menikahi atasanmu karena balas budi?" tanya Adit lagi lebih serius.


"Dia tidak menikahiku karena itu Dit. Dia justru yang menerimaku bekerja karena dulu aku masih punya banyak tanggungan keluarga Dit. Kamu pun tau sebelum kita merencanakan menikah, papaku baru juga di PHK, Aku masih kuliah, ibuku hanya ibu rumah tangga biasa dan Karisa mulai masuk SMP. Maka saat itu aku bersyukur pak Harry mau menerimaku melanjutkan kontrak kerja mas Reza sebagai pegawainya" jelas Dara seraya menatap wajah Adit yang mulai terlihat menyesal.


"Seandainya aku bisa mengulang waktu untuk kita. Dara maaf untuk semua itu" singkat Adit tampak menyesal.


Dara terdiam.


Dara mulai tersenyum lebar.


"Semua mungkin hanya bagian dari takdir agar aku bisa bersama pak Harry Dit. Aku sangat bersyukur untuk itu sekarang" ucap Dara.


"Aku hanya benar-benar menyesal membuatmu melalui masa-masa sulit itu sendirian" ucap Adit seraya memandang Dara dalam-dalam.


"Sudahlah Dit, lagipula semua sudah berlalu" singkat Dara tenang.


"Lalu bagaiamana dengan perasaanmu, maksudku apakah pernikahan itu memang keinginanmu?" tanya adit gusar.


Dara terdiam, lalu perlahan mengangguk.


"Aku benar-benar jatuh cinta padanya dengan mudah Dit. Dia membuatku kuat menghadapi hidupku yang kacau saat itu. Aku akhirnya sadar, aku terbiasa membutuhkannya dalam hidupku dit" tukas Dara seraya tersenyum lebar.


Adit terdiam sejenak.


"Syukurlah, jika seperti itu adanya" ucap Adit kecewa.


"Ya" singkat Dara.


Tak banyak perbincangan lain setelah makanan telah habis di lahap.


Adit tetap berdiri melihat Dara menginjak pedal gas mobilnya.


Adit berteriak seraya meninju batang pohon di sisi jalan raya. Semua mata menoleh, bahkan darah yang menetes dari kepalan tangannya tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa yang terus berteriak menyebut nama "Dara" bahkan selalu nama itu yang terngiang dalam hidupnya selama ini.


Dara mencoba tersenyum setelah pertemuan itu, namun hatinya tetap saja tidak bisa kembali tenang. Ia menghentikan mobilnya, dan menangis lagi. Harusnya tidak boleh seperti ini.


Ternyata Adit adalah masa lalu yang juga tak pernah bisa Dara lupakan begitu saja dalam hidupnya.