
"Sekadar flu bukanlah masalah, saya bisa menanganinya" ucap Harry seraya menatap dalam-dalam kedua mata Dara.
Dara menelan ludah.
"Apa.. Apa setelah kita melakukannya, perjalanan ini berakhir juga pak?" tanya Dara gugup.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Harry lagi.
"Saya ingin perjalanan ini benar-benar kita habiskan satu pekan" ucap Dara
"Permintaanmu cukup banyak sejak kamu sampai disini" ucap Harry.
"Saya ingin diperlakukan sebagai seorang istri yang dicintai selama disini" ucap Dara lagi.
"Benar-benar permintaan yang banyak" ucap Harry mulai tersenyum, mencoba mengecup Dara.
Dara mencoba menahan tubuh Harry, kemudian berbisik.
"Semua ini saya lakukan karena saya sangat mencintai suami saya" ucap Dara lirih.
Harry terdiam, ia justru menegakkan tubuhnya menjauhi Dara.
Dara menahan tangan Harry untuk tetap disisinya, dan Dara mulai membuka kancing piyama merah muda yang dia kenakan.
Saat 3 kancing sudah terlepas, Harry justru menutupi Dara dengan selimut.
"Kita lakukan besok" ucap Harry.
Sangat aneh. Rasanya Harry tak tega mempermainkan kesungguhan yang ia tatap dari wanita ini.
Dara justru terdiam bingung.
Apakah Harry tidak menyukai sikap yang Agresif?
Dara menepuk dahinya berulang kali, ia tidak mungkin bisa tidur malam ini.
Ponsel Harry berdering. Dr. Kim dalam panggilan.
"Seperti yang Hyrin sarankan, aku sedang bulan madu" ucap Harry, sesaat setelah ia mengangkat ponselnya.
Dr. Kim justru tertawa.
"Lalu tujuanmu berbulan madu hanya untuk bercinta? Sesuai sarannya?" tanya Dr. Kim spontan.
"Apa yang salah?" tanya Harry mulai mengambil buku tebalnya dan duduk disofa
"Apa kalian mendengarkanku baik-baik saat konsultasi?" tanya Dr. Kim lagi.
"Harusnya aku mengganti dokter yang lebih muda, agar lebih mudah dimengerti"ucap Harry spontan.
"Benar. Lebih baik aku menimang cucuku daripada mengurusi urusan kalian" ucap Dr. Kim mulai kesal.
Harry mulai tersenyum lebar.
"Apa saranmu?" tanya Harry lagi.
"Philophobia hilang dengan jatuh cinta, bukan bercinta" singkat Dr. Kim.
"Aku tutup telponnya, bulan ini aku tidak akan membayar biaya Konsultasi" ucap Harry.
Dr. Kim tersenyum getir
"Hanya 7 kata yang ku sampaikan tadi. Ingat baik-baik. Tujuanmmu bulan madu adalah jatuh cinta dan aku tidak memerlukan bayaran" ucap Dr. Kim yang justru menutup ponselnya lebih dulu.
Harry spontan tertawa kecil, lalu mengubah gurat senyumnya. Apa bedanya bercinta dengan jatuh cinta untuk pria dan wanita dewasa?
Esok berganti.
Dara membuka kedua matanya, dan Harry sudah berdiri di sisi Dara yang masih tertidur di Sofa mewah.
"Kamu ingin berkeliling? Ingin lari pagi bersama?" tanya Harry ramah.
Dara justru masih merasa malu dengan sikapnya semalam.
"Hmm, hmm, saya masih kurang sehat" singkat Dara.
Harry menyentuh dahi Dara, mengecek suhu tubuh Dara.
Wajah Dara memerah.
"Benar. Wajahmu tampak lebih merah mungkin karena demam, ayo kita ke dokter" singkat Harry.
Bukan. Seratus persen suhu tubuh meningkat dan wajah yang memerah karena Harry kembali melakukan hal yang aneh. Perhatian.
Dara justru mulai duduk.
"Saya ingin lari pagi saja" ucap Dara spontan, lalu berdiri, dan masuk kamar mengganti pakaiannya.
Harry menoleh memandang Dara yang selalu tertinggal. Lari dengan lambat dan terlihat tidak menikmati aktivitasnya.
Harry berhenti, sampai Dara mendekat. Dara justru menatap heran, entah apa yang Harry lakukan, ia justru menggenggam jemari Dara dan lari dengan santai mengikuti langkah Dara.
"Apa tidak terlalu dipaksakan? Badanmu masih sedikit hangat" tanya Harry spontan.
Dara menggeleng.
"Kemarin banyak meminta, tapi sekarang justru patuh dan tidak banyak protes" ucap Harry.
Dara menghentikkan larinya.
"Kenapa anda menolak saya semalam?" tanya Dara spontan.
"Bukankah kamu yang selalu menolak saya?" tanya Harry lagi.
Dara terdiam. Ia justru mulai tertawa memandang Harry yang sedang menjawabnya dengan serius.
"Kenapa?" tanya Harry spontan.
"Sikap anda seperti anak anak" ucap Dara.
dan saya ingin mengucapkan Terimakasih" ucap Dara spontan, mulai berjalan mendekat, dan mengecup pipi Harry, Dara tertunduk malu dan berlari lebih dulu.
Harry terkejut dengan ucapan manis Dara.
Dengan refleks ia menyentuh pipinya yang berbekas kecupan dari Dara. Harry mengerutkan Dahi.
"Seperti anak-anak? Dari sisi yang mana??" benak Harry.
Sejak kecupan itu, sikap Dara yang kaku spontan berubah menjadi ceria dan manja.
Berkali kali meminta berjalan bergandengan, beberapa kali meminta berhenti di pedagang kaki lima, beberapa kali bertanya saat mencoba topi-topi pantai.
"Apakah saya cocok jika memakai ini?" tanya Dara berulang kali.
Harry sedikitput tidak pernah menolak ucapan Dara, menurutinya seperti seorang pelayan menuruti permintaan Ratunya. Patuh sekali.
Hingga..
Tak terasa hari berlalu.
Surya perlahan menenggelamkan bulatnya. Laut menguning bagai kilauan emas.
"Apakah anda tau satu hal?" tanya Dara spontan seraya berjalan ditepi laut, ia tetap menggenggam jemari Harry.
"Saya belum mandi hari ini" ucap Dara seraya berbisik.
Harry justru tersenyum lebar.
"Rasanya seperti mimpi, saya melihat anda, seperti anda yang pertama kali saya kenal dulu. Ramah, mudah dimengerti dan hangat. Terkadang sering bertanya tanya, sejak kapan anda berubah? Kenapa berbeda?" ucap Dara.
Harry memandang Dara.
"Jika saya tidak bersikap ramah dan berusaha berbicara dengan cara yang mudah dimengerti, bagaimana pegawai baru tanpa pengalaman bisa siap menggantikan posisi sekertaris lama?" jawab Harry.
Dara justru tersenyum lebar, kemudian kembali mengecup pipi Harry lagi.
"Terimakasih banyak" ucap Dara.
Harry spontan menggenggam jemari Dara.
"Kita berpegangan tangan dan kamu beberapa kali mengecup saya tanpa meminta izin, semua ada balasannya bukan?" tanya Harry lagi.
Harry spontan mengecup bibir Dara dihadapan Matahari oetang raksasa yang hampir hilang tertelan malam.
Dara meraih kedua sisi wajah Harry, dan Harry memeluk erat Dara dengan erat. Sebuah Rasa yang berbeda.
Harry berkeringat, lalu melepaskan Dara tiba-tiba.
"Maaf, kita lakukan ini lagi nanti" ucap Harry. Sikapnya mulai berbeda dan Harry mulai berjalan menghindari Dara.
"Anda bukan berjanji pada diri anda untuk tidak jatuh cinta pak" ucap Dara tiba tiba.
Harry tetap berjalan tanpa berhenti mendengarkan ucapan Dara.
Dara akhirnya mengerti arti sikap Harry selama ini.
Namun, kenapa Harry dengan bersikeras ingin menikahi Hyrin? Kenapa sangat ingin menghilang setelah pernikahan ini?
Harry segera masuk ke kamar tanpa mengatakan apapun.
Dara membuka pintu kamar hotel.
Harry menoleh.
"Maaf saya lancang membuka pintu tanpa izin" ucap Dara spontan.
"Sudah siap melakukannya malam ini?" tanya Harry spontan.
Dara menggeleng.
"Saya berhasil menghilangkan rasa takut saya untuk jatuh cinta. Saya membiarkan diri saya menerjemahkan cinta baru dan membiarkan anda masuk membakar memori yang telah usang" ucap Dara spontan.
Harry memandang Dara lamat-lamat.
"Saya menerjemahkan cinta dengan bercinta" ucap Harry.
"Ternyata tanpa itu, dan dengan jelas, anda mulai mencintai saya pak, anda menikmati kecupan itu" ucap Dara.
Harry mencoba mengalihkan pandangannya dari tatapan tajam Dara