The White Glove

The White Glove
Silam



Dara mulai melihat jam di tangannya. Harry tidak pulang semalaman.


Ponsel berdering.


"Sudah berangkat?!" tanya Merisa spontan.


"Belum" singkat Dara.


"Belum karena pesawat? Atau pak Harry belum datang?" tanya Merisa spontan.


"Keduanya. How did you know this?" tanya Dara.


"Benar dugaanku. Pak Harry sepertinya masih di ruang rapat. Belum ada yang keluar dari ruang rapat dari pagi" ucap Merisa spontan.


"Ada rapat apa di akhir pekan? Aku bahkan tidak membuat jadwal apapun untuk itu" tanya Dara spontan.


"Tadi aku sempat melihat konglomerat LandConstruction masuk ke ruang rapat" ucap Merisa dengan serius.


"LandConstruction? Aku yakin konsorsium dari Perancis dan China pasti juga datang. Ini rapat besar. Semua staff ahli dan para insinyur lokal juga pasti disana" ucap Dara lebih serius.


"Benar. Bahkan nyonya Wijaya" ucap Merisa spontan.


Dara justru tertegun, Mengapa ia tidak dilibatkan dalam rapat besar ini?


"Kenapa di grup tidak ada pemberitahuan tentang rapat ini?" tanya Dara heran.


"Sepertinya ini urusan politik keluarga Wijaya. Mereka hanya meminjam gedung pertemuan. Tadi malam saat aku lembur, gedung 3 ruang utama rapat juga telah dipersiapkan" jawab Merisa.


"Lalu untuk apa kamu ke kantor hari ini?" ucap Dara lagi.


"Approval laporan anggaran workshop divisi Sekertaris bulan depan, jika semendadak ini dilakukan, pasti ada pekerjaan besar di depan mata" tukas Merisa spontan.


Dara kembali tertegun, mengapa ia bahkan tidak dilibatkan dalam persiapan agenda workshop divisi sekretaris?


Harry berdiri, sesaat setelah nyonya Wijaya membuka rapat. Rapat pagi ini adalah rapat luarbiasa eksekusi perdana ratusan hektar lahan kosong bakal bandara dan real estate bergengsi. Setengah dari ribuan unit bakal realestate bahkan telah laku terjual. Konsorsium Perancis dan China mendesak agar eksekusi ini tetap dilaksanakan.


Masalahnya kini, hembusan rumor penolakan warga bahkan kabar korupsi pejabat pengesahan lahan justru mencuat hebat saat pembangunan mulai dilakukan.


Menggiring opini publik, mengkondisikan politik bisnis dan rutin melakukan rapat berkala pembangunan adalah PR besar untuk pemenang tender fantastis ini. Jika salah langkah, maka berakhir sudah.


Rapat baru selesai menjelang tengah malam.


Nyonya Wijaya menoleh kearah Harry, setelah para konsorsium pergi meninggalkan ruang rapat.


"Bisa kita bicara empat mata Harry?" tanya Nyona Wijaya.


"Rapat sudah ditutup nyonya" singkat Harry.


"Kamu tau seberapa besar pengaruh Hyrin dalam politik ini nantinya?" tanya nyonya Wijaya lagi.


"Dia akan menjadi bagian dari LandContruction, bukankah semua sangat menguntungkanmu dan akan memperkecil resiko kerugian?"tanya Harry spontan.


"Opini publik tentang ketenaran dan perselingkuhannya denganmu, bagaimana kamu menangani itu? Tidak hanya politik dalam bisnis ini, tapi kita perlu politik pemerintahan yang mendukung pemecahan masalah ini. Kamu bahkan tau dia sedang memainkan api mendekati anak pejabat pemerintahan! Seluruh negeri bahkan lebih tau!" ucap nyonya Wijaya dengan tegas.


Harry menghela nafas, terdiam sejenak.


"Anda berlebihan menyikapi semua masalah ini nyonya. Kita bisa diskusikan ini lagi nanti" jawab Harry.


"Semua masalah ini membawa kita ke titik awal Harry, satu persen progres ada padamu, dan satu persen progres pun tidak berarti apa apa sekarang" ucap nyona Wijaya seraya merapikan blazernya dan keluar dari ruang rapat.


Harry terdiam cukup lama, duduk menyandarkan punggungnya di kursi rapat. Ia bahkan lupa bahwa hari ini harusnya ia terbang memenuhi janjinya pada Dara untuk berbulan madu.


Harry justru segera kembali ke ruang kerjanya, mengambil beberapa dokumen, kemudian menghubungi Hyrin dan akan bermalam di apartemen Hyrin.


Hyrin tersenyum lebar dalam panggilan.


"Bagaimana rapat besar malam ini? Aku yakin nyonya Wijaya menyebut namaku, sampai sampai kau menelponku selarut ini" tanya Hyrin spontan saat Harry menelpon.


"Aku penat, aku akan bermalam di apartemenmu" singkat Harry.


Hyrin justru tertawa kecil.


"Kenapa mulai memerintah dan melarangku akhir-akhir ini?" tanya Harry kesal.


Langkah Harry terhenti tepat di basement gedung 3.


Seorang wanita paru baya dengan busana serba hitam dan topi yang menutupi kepalanya tersenyum lebar, berdiri tepat di depan parkiran mobil Harry.


Harry sangat mengenal wanita dihadapannya, tak akan ia lupa, ia terkejut dan spontan menutup ponselnya.


"Kenapa aku tidak pernah dilibatkan lagi dalam konsorsiummu Harry kecil? Ah, sudah memiliki istri, sudah dewasa rupanya" ucapnya tersenyum lebar.


"Sudah larut malam, tidak baik anda berada disini sendirian" ucap Harry dengan tatapan yang tajam, Harry mencoba menghormatinya.


Wanita itu justru tertawa.


"Aku sudah berada di jeruji besi sendirian, sangat lama, kapan kira kira terakhir melihatmu? Ah, 20 tahun lalu, berapa usiamu? 10 tahun? Ah, yaampun aku sudah mulai lupa" ucapnya lagi.


"Apa tujuan nyonya menemui saya selarut ini?" tanya Harry menatap wanita itu lamat-lamat.


"Hanya ingin ikut memastikan, kalau LandConstruction adalah tameng yang lebih kuat untuk tender sefantastis ini, partai politik apa yang kalian dukung? Kedengarannya pak Presiden dan lembaga parlemen juga terlibat. Menarik. Kalian sangat kuat sekarang. Jika terjadi unjuk rasa besar besaran, pasti tidak akan ada pengaruhnya sama sekali. Benarkan?" ucap wanita itu lagi.


Harry justru mencoba mengalihkan pandanganya.


"Apa kaliamat ini juga yang anda sampaikan pada nyonya Wijaya?" tanya Harry.


Wanita itu masih tersenyum, lalu bertepuk tangan.


"Luar biasa! Kamu memang anak yang sangat pintar" ucapnya riang, lalu berjalan menjauh dari Harry setelah mengeluarkan kunci mobilnya.


Sinar lampu mobil dari wanita itu menelan kesunyian dari kejauhan.


"Saya mohon, agar anda tidak mempermainkan situasi ini nyoya" ucap Harry.


Langkah wanita itu justru terhenti.


"Memohon? ah, sungguh ucapan yang sangat baik, sangat menyentuh dan sangat disayangkan permohonan peringanan hukuman jeruji besi 20 tahun silam juga kalian tolak. Sesunggunya sampai tak ada satupun yang tersisa dari hidup saya" ucapnya lagi.


"Tuan Wijaya sama sekali tidak pernah melibatkannya dalam urusan kalian, kami tidak tau apapun tentang kesepakatan kalian, bahkan tentang apa yang kalian pertaruhkan untuk tender 20 tahun silam" ucap Harry lebih tegas.


"Dari siapa ucapan dusta itu? Tau apa anak kecil soal urusan ini?!" ucapnya mulai melotot.


"Bukankah dulu suami anda selalu mengatakan bahwa saya anak yang pintar? Teramat pintar untuk anak seusia saya?" tanya Harry dengan tenang.


"DIAM!" ucap wanita itu, Harry berhasil mengendalikan emosinya.


"Bukankah suami nyonya yang menjebak tuan Wijaya untuk menandatangani tender bermasalah itu? bukankah suami anda yang telah mengarahkan mata peluru ke tubuh tuan Wijaya? Bukankah kalian sendiri yang menyuap partai untuk semua itu?! satu hal lagi, kalian tidak pantas menyalahkan saya dan nyonya Wijaya dalam urusan kalian" tukas Harry dengan nada ucapan tinggi nan tegas.


Wanita itu berjalan cepat kearah Harry, lalu berhenti sangat dekat dihadapan Harry.


"DIAM! Ku bilang darimana ucapan dusta itu?!, aku dan suamiku adalah korban keserakahan Wijaya! Dia pantas menerima semua itu, dan aku pastikan akan membalas kalian!" ucapnya lagi mengancam.


"Jangan menyakiti siapapun lagi, ku mohon" ucap Harry masih tenang.


Wanita itu memejamkan kedua matanya menghela nafas dalam-dalam setelah mendengar kata mohon untuk kedua kalinya. Kata yang sangat ia benci, kata yang tidak berguna.


Wanita itu justru melangkah mundur menjauhi Harry.


Kembali tersenyum. Kali ini tersenyum getir.


"Apa kamu akan pergi menemui Hyrin malam ini? Hyrin yang cantik, tapi menurutku lebih cantik sekertarismu, aku jauh lebih menyukai istrimu dan ia bahkan sudah menunggumu dipulau yang kamu maksud. Aku melihatnya terbang sendirian tadi pagi. Kasihan" ucapnya tersenyum riang.


Harry baru ingat, ia sudah memiliki janji dengan Dara.


Harry justru tak bergeming saat wanita itu turut menyebut kedua nama itu, namun percakapan malam itu berakhir, wanita itu telah pergi dari hadapan Harry.


Apa yang akan ia lakukan?


Harry mulai gusar.