
"Apakah saat pulang, kita tetap bisa seperti saat disini?" tanya Dara sesaat setelah Harry menggenggam jemarinya.
"Bercinta?" tanya Harry.
"dan bersikap romantis" ucap Dara.
"Saya berencana pergi ke Paris dan hongkong menemui mitra bisnis. Mungkin sekitar 2 sampai 3 pekan disana" ucap Harry tanpa menjawab pertanyaan Dara.
"Apakah ditemani nona Hyrin?" tanya Dara spontan.
"Ya" ucap Harry.
"Bolehkah saya ikut?" tanya Dara spontan.
Harry meletakkan sendok dan garpunya tengkurap diatas piring.
"Kalaupun kamu berada disana, saya akan jarang berada di hotel. Mungkin saja kami rapat sepanjang pekan" ucap Harry.
"Kalau begitu, bisakah anda tidak bermalam bersamanya?" tanya Dara lagi.
"Dara, mari tidak membicarakan ini. Saya akan bersiap, dan setelah ini mari kita berbelanja. Mungkin membeli beberapa buah tangan" ucap Harry.
Harry menoleh kearah Dara.
Sikap Dara cukup berbeda. Beberapa kali hanya menjawab ya dan tidak. Tidak mengucapkan apapun selain mengangguk dan menjawab "apapun keputusan anda" atau "apapun pilihan anda".
Harry menghentikan langkahnya.
"Dara, tolong hentikan sikap ini sekarang!" ucap Harry.
Dara memandang sejenak, kemudian mengangguk.
"Baik" hanya itu.
Harry tetap mendapati Dara bersikap hening.
Tidak ada yang berubah dari sikap dingin Dara.
Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Hotel.
Harry menarik tangan Dara saat Dara menutup pintu utama. Cindera mata yang Dara bawa terjatuh, Dara terkejut.
Harry kembali meraih wajah Dara dan mencoba mengecup Dara.
Dara menolehkan wajahnya.
"Maaf Pak, hari ini saya sangat lelah" ucap Dara spontan sesaat ketika Harry hampir mengecup Dara.
Harry melepaskan Dara.
"Terimakasih untuk sovenir-sovenir ini" ucap Dara sedikit tersenyum dan kembali mengangkat kantung belanjaannya.
Dara berjalan masuk tanpa menoleh.
Harry masih melirik Dara.
Dara tetap menyiapkan makan malam, tanpa mengatakan apapun. Bahkan tetap tidak mengatakan apapun saat keduanya menyantap hidangan makan malam. Hening.
'BRAKK'
Harry mehentakkan sendok dan garpunya dengan keras.
"Tolong jelaskan sikap ini. Saya sedikitpun tidak mengerti maksud sikapmu Dara" ucap Harry.
Dara mendongak.
"Saya hanya merasa lelah" ucap Dara.
"Apa kita sudahi pejalanan ini dan kembali lagi ke kota?" tanya Harry.
Dara terdiam sejenak, mendengar baik-baik ucapan Harry. Bagi Dara, ini jawaban dari pertanyaannya siang tadi.
"Baik" singkat Dara.
"Kenapa kamu mudah berubah pikiran? Apakah bulan madu ini membosankan?" tanya Harry lagi.
"Saya hanya menuruti keputusan anda pak" ucap Dara.
Harry mulai berdiri dari kursinya tanpa mengatakan apapun.
"Merisa mengatakan akan ada workshop divisi sekertaris, saya sedikitpun tidak mengetahui agenda itu. Kenapa saya tidak dilibatkan dalam urusan apapun, baik sebagai seorang istri maupun sekertaris pribadi?" ucap Dara spontan.
"Apa maksudmu Dara? Saya meminta manajer divisi sekertaris untuk tidak melibatkan kamu, karena kita sedang di luar kota, dan Bukankah kita sedang bulan madu?" ucap Harry.
"Saya baru menyadari bahwa bulan madu ini semu. Setelah perjalanan ini berakhir, anda kembali menjadi milik nona Hyrin dan anda akan lebih banyak pergi. Semua akan kembali seperti semula. Lalu, bagaimana cara saya menunjukkan rasa cinta jika anda tidak ada?" ucap Dara.
Harry menatap tajam Dara.
"Ya, saya tidak akan mengubah keputusan saya tentang perceraian itu dan saya akan mengganti momen semu ini dengan berapapun banyaknya materi yang kamu inginkan" ucap Harry.
"Anda baru saja menerjemahkan kesungguhan saya dengan sesuatu yang tidak sebanding dengannya. Saya permisi beristirahat lebih dulu" ucap Dara mulai berjalan menjauhi Harry.
Harry tidak lagi memperpanjang perdebatan ini, dan tak lama kemudian keluar dari kamar hotel. Dara hanya menoleh, lalu tak menggubris.
Kacau.
Harry baru menyadari bahwa tak seharusnya ia mengikuti saran Hyrin. Bukankah urusan ini nantinya akan berpengaruh pada pekerjaannya juga? Akan ada banyak jadwal pengganti rapat demi urusan bulan madu ini. Bagaimana cara memperbaiki kerumitan persoalan ini? Ternyata Harry tidak mempertimbangkan risiko dari wanita yang sedang jatuh cinta.
Harry pun kembali ke hotel tepat tengah malam.
Semua ruangan sudah gelap. Sisa makan malam sudah tidak berada di meja makan. Harry pun membuka pintu kamar, mendapati Dara tertidur diatas ranjang besar itu.
Dara membuka kedua matanya.
"Bolehkah saya meminta bayaran dimuka untuk momen semu ini pak? Saya khawatir, sikap ini akan mempengaruhi pekerjaan nantinya" tanya Dara.
Tepat.
Benar-benar tepat Dara memberikan pilihan ini.
"Boleh" singkat Harry tanpa berpikir panjang. Harry berjanji apapun itu akan Harry lakukan, demi pekerjaannya.
"Bisakah saya menerima setangkai bunga jika anda memutuskan bermalam di luar? Maka nanti, saat anda berada di luar negeri, anda cukup mengirimkan saya 1 foto tangkai bunga setiap hari dan mengirimkannya maksimal di malam sebelum anda tidur" ucap Dara.
Harry justru mengerutkan Dahi.
"Maksudmu satu bucket bunga?" tanya Harry lagi.
"Tidak pak, 1 tangkai bunga yang masih baru. Bunga apapun yang anda temukan di hari itu" ucap Dara lagi.
"Hanya itu?" tanya Harry lagi.
"Ya, jika anda setuju, maka mulai saat ini saya berjanji tidak akan bersikap seperti ini, dan mencampurkan urusan pribadi dengan sikap profesionalitas perkerjaan" ucap Dara.
"Setuju" singkat Harry.
Dara pun berdiri, kemudian berjalan menghampiri Harry yang masih berdiri disisi Ranjang.
Dara spontan memeluk Harry. Harry tak bergeming.
"Jika anda sudah bersedia membayar, maka saya akan melayani dengan baik. Saya ingin menghabiskan malam ini, dan pekan ini sesuai dengan apapun yang anda inginkan" ucap Dara.
"Kamu ingin bercinta?"ucap Harry lirih.
Dara melepaskan pelukannya, kemudian mengangguk.
Malam memberikan ketenangan yang sama.
Rasa nyenyak yang sama bagi Harry di hari itu.
Namun esok berbeda.
Harry membuka kedua matanya, dan ia masih mendapati Dara tertidur pulas disisinya.
Harry menatap lebih lama. Harry bahkan tak pernah memandang wajah Hyrin selama ia memandang Dara. Sangat lama, bahkan hingga Dara terbangun.
Harry pun tertangkap basah memandang Dara.
"Selamat pagi" ucap Dara lirih.
Cantik sekali.
Hanya ada kata itu dalam benak Harry pagi ini.
"Apa agenda hari ini?" jawab Harry spontan tanpa mengedipkan kedua matanya.
Dara mendehem.
"hmmm, sebenarnya saya hanya ingin bermalas-malasan sambil menonton banyak film? Ah, itu impian saya baru baru ini" ucap Dara dengan ucapan yang renyah.
Harry tersenyum lebar.
"Deal! Setelah lari pagi" ucap Harry.
"Dengan piyama?" tanya Dara.
Harry tersenyum lebih lebar.
Pagi berlalu dan malam pun cepat berganti.
Satu pekan terasa semakin cepat melaju.
Menghabiskan masa romantis Harry dan Dara.
Jadwal padat Harry segera mengisi menit menit Harry, dan bagi Dara, setiap momen bersama Harry tetap menjadi bagian hidupnya yang berharga.
Harry tertegun, ternyata kota tidak menyambut kepulangan mereka dengan situasi yang sama.