
Dara mulai membuka tasnya dan mengeluarkan kartu debit di dompetnya.
Dara membeli beberapa pakaian dan mengubah penampilannya.
Dara memutuskan menggerai rambut yang belum pernah ia gerai, dan memakai super high heels yang telah lama tak ia pakai karena ia harus berusaha mengimbangi langkah Harry.
Saat ini Harry sedang berada dalam diskotik. Benarkah pria seperti Harry melakukan hal ini untuk menghilangkan kepenatan? Apakah pernikahan dengan Dara adalah sebuah kepenatan?. Dara terus bertanya-tanya dalam langkahnya, seraya mengingat ucapan Harry beberapa waktu lalu dan sikap yang ia tunjukkan kemarin malam.
Dara pun masuk dengan ragu.
Dua penjaga berbadan kekar berdiri tegap di pintu masuk. Ia menghadang dan menanyakan relasi orang dalam untuk masuk. Ponsel berdering, petugas itu mengangguk dan membiarkan Dara masuk.
Banyak wanita seksi di dalam. Dara melihat sekeliling bar dan tak menemukan Harry. Mungkinkah Harry berada diruang khusus bersama wanita lain?. Dara mulai berpikir hal terburuk yang harus ia terima.
Dara terus melihat sekitar ruangan yang benar-benar asing untuk dirinya.
Ternyata benar. Harry ada di lantai dua dan sedang berbincang dengan banyak wanita cantik dan seksi. Harry menggenggam jemari salah satu wanita di dekatnya. Harry tersenyum dari sisi yang berbeda.
Dara sangat terkejut, namun ia mencoba tetap berjalan kearah Harry setelah menghela nafasnya dalam-dalam.
Wanita disisi Harry mulai mendekati Harry, maka Dara berhenti.
"Apakah istrimu belum datang juga?! Seburuk rupa apa sih dia sampai kau tidak mau dengannya sampai seperti ini? Aku harus ke toilet dulu. Tenang aku ini bukan pekerja yang suka kabur setelah dibayar" ucap wanita seksi di sisi Harry.
Dara tak mendengarnya kecuali menyadari sikap mesra itu.
Wanita itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Dara melotot dan ia mulai mengingat wajah yang saat itu berjalan bersama Harry di hotel. Sebuah foto yang pernah diberikan seseorang melalui ponselnya.
'Mungkinkah ini keputusannya?!'.
Hanya itu bagian dari Harry yang paling dikenalnya. Ingin marah tak mungkin. Tak melakukan apapun tapi apa yang Harry lakukan telah membuat Dara sangat kecewa.
Mysterious relationship? Ya. Inilah Harry yang sebenarnya. Hyerin dan banyak wanita baru Harry yang mulai Dara ketahui
Dara membalikkan badannya, dan turun dari sudut ruangan tanpa kata. Dara menahan air mata dan ia merasa seperti pengecut karena terus mengingat penolakan Harry saat ia menyatakan cintanya. Menjadi pengecut yang takut mengatakan isi hatinya lagi. Kehidupan rumah tangga seumur jagungnya bahkan kacau sekarang.
Berlari dengan alunan suara yang gaduh terasa sedikit mampu menyamarkan perasaannya di hadapan orang lain. Dara merasakan hal yang kacau saat ini.
Ia berlari dengan sepatu tinggi yang sulit ia kendalikan. Tubuhnya berulang kali hendak jatuh karena pakaiannya juga.
Tak di sangka seseorang menarik tangan Dara dari belakang dan memeluknya. Dara menolak pelukan itu dengan tenaganya. Pria yang memeluknya bukan Harry.
Dara terus menolak dengan sekuat tenaga, namun tenaga pria itu tak mungkin di tepis oleh Dara. Dara hanya berteriak, meskipun suaranya beradu dengan suara diskotik yang gaduh.
Tak ada yang mendengar, tak ada yang memperhatikan. Peristiwa seperti ini memang seringkali terjadi di tempat seperti ini.
Seseorang mengantarkan ponsel Harry yang berdering dari ruang VIP. Pemilik Bar mengabarkan kedatangan Dara, istri dari pengusaha terkenal yang beberapa hari ini telah memenuhi sampul setiap media bisnis kota.
Harry turun setelah melihat sekitar lantai disco yang ramai.
"Adit!" ucap Dara dengan spontan saat Adit terhantam pukulan keras.
Karisa sempat mengukuti Dara saat wajah Dara berubah merah. Dengan sigap Karisa pun menelpon Adit untuk mengawasi kakaknya. Karisa hanya mengerti bahwa Harry telah melakukan hal yang jahat pada kakaknya setelah pernikahan. Membohongi keluarga saat mengatakan berbulan madu. Karisa menyadari semua ini adalah sebuah kebohongan besar. Pernikahan itu mungkin juga sebuah kejahatan yang sudah Harry lakukan untuk Dara.
Layaknya adegan action, Harry tak berucap dan tiba-tiba mulai membuat hantaman keras di wajah pria yang menarik Dara.
Genggaman terlepas dan kedua mata Dara justru terbelalak melihat sikap Harry.
Tak semudah perkelahian itu memenangkan salah satu pihak, enam pria lain dari komplotan pria yang Harry dan Adit hajar itu justru menghantam Harry juga. Petugas keamanan discotik kesulitan melerai perkelahian beramai-ramai itu.
Harry terjatuh, dan pria yang semula jatuh justru kembali menghantam dengan membabi buta. Adit menarik pria yang sedang menghatam Harry dan komplotan lain justru meninju perut Adit.
"Adit!!" teriak Dara dengan serius. Entahlah mengapa hanya nama itu yang keluar?
Pria itu tersenyum kecut dan lengan Dara kembali di tariknya.
Harry berteriak
"HOW DARE YOU TOUCH MY SECRETARY!!" ucap Harry seraya menghantamnya dengan sekali pukulan lagi hingga membuat pria itu tak sadarkan diri.
Harry menarik tangan Dara, dan mereka keluar dari tempat itu yang akhirnya kacau.
"Apa yang kamu lakukan dengan pakaian seperti ini? hah?!" ucap Harry seraya menutupi Dara dengan jaket yang Harry pakai.
Dara justru terdiam seperti patung. Baru kali ini pula, ia melihat Harry berkelahi dengan sangat ekstrim dan diperlakukan dengan ekstrim juga oleh orang lain.
Adit menoleh, melihat Dara berlalu bersama Harry. Dara bahkan tak menoleh sedikitpun.
Harry pun segera pulang mengendarai motornya membawa Dara keluar dari tempat itu.
Sejak tadi, Dara hanya bertarung dengan benaknya sendiri mencoba menyangkal semua hal tentang Harry. Dara hanya terdiam, lalu menangis diatas motor Harry, seraya memeluk Harry dengan erat. Satu hal lain yang saat ini Dara benci adalah tempat itu.
Setibanya di basement apartment. Dara mulai tersadar dan berhenti memikirkan hal kusut yang terus berputar dalam benaknya sendiri. Dara benar-benar tersadar ketika ia turun dari motor Harry dan Harry melepas helmnya seraya meringis.
"Wajah anda?!" ucap Dara spontan seraya menyentuh luka itu di pelipis wajah Harry.
"That's fine" ucap Harry masih meringis kesakitan.
"Tangan anda juga? Kaki anda? Tidak, ini tidak baik-baik saja pak! Saya obati, ayo kita obati. Tidak-tidak! Rumah sakit. Saya akan menghubungi ambulan. " ucap Dara seraya meletakkan helm Harry di atas motornya dengan gusar.
"Tidak perlu! Tidak perlu ke rumah sakit!" ucap Harry seraya berjalan dengan cepat mendahului Dara.
Harry terdiam sejenak melihat pandang mata Dara yang berubah.
"Adit?!" ucap Dara spontan.
Harry menoleh, dan Dara segera membuka ponselnya.
"Karisa tolong datang ke kafe lama, adit pasti disana. Tolong mba ya?" singkat Dara.
"Memang kenapa mba?" tanya Dara gusar.
"Ceritanya panjang. Yang terpenting tolong bawakan dia obat-obatan" singkat Dara.
Harry justru terdiam mendengar suara dara yang menggema di basement soal Adit.
Dara spontan mendahului langkah Harry untuk membukakan pintu lift setelah menutup ponselnya. Ternyata Dara sudah melepas high heels-nya untuk bisa berjalan lebih cepat.
Dara terus menekan tombol lift, sedangkan siapapun tahu bahwa hal itu tidak akan merubah kecepatan liftnya. Harry baru menyadari bahwa selama ini Dara mencoba menjaga sikapnya saat sedang menunggu lift saat ia bekerja.
Ketika lift terbuka, mereka pun masuk. Harry terus memandangi Dara tanpa alas kaki.
Dara masih berjalan cepat di depan Harry. Dara membuka pintu apartemen dan Harry masuk lebih dulu. Dara terdiam sejenak, Harry menolehkan pandangannya lagi ke arah Dara.
"Mobil saya masih di tempat itu". ucap Dara lirih.
"Keamanan di sana sangat baik. Mobilmu tidak akan hilang" ucap Harry tenang.
"Bukan itu. Makanan untuk anda juga ada didalamnya" ucap Dara gusar.
"Kita bisa pesan yang lain" ucap Harry.
Dara terdiam. Harry melirik, ibu mertuanya memang sempat mengirimkan pesan bahwa ia membuatkan masakan spesial untuk mereka.
"Baiklah nanti kita ambil" ucap Harry lagi.
Dara menganggukan kepala seraya menatap wajah Harry yang memar. Dara berjalan cepat dan mengambil kotak obat. Harry duduk di sofa dan melihat piring kotor sarapannya yang masih utuh di atas meja.
Harry menebak bahwa Dara tak pulang ke apartemennya sebelum ini.
Dara turun dengan membawa kotak obat dan duduk di sisi Harry.
Kini mereka berhadapan.
Dara hanya fokus dengan luka yang ada di wajah Harry. Harry memandang wajah Dara tanpa berkedip.
"Dara". ucap Harry.
"Hmm" tanggap Dara.
Setelah plaster terpasang, Dara terdiam dan mulai tersadar dengan apa yang dikatakan oleh Harry.
"A..anda memanggil saya pak?" Ucap Dara lirih.
"Harry. Just call me Harry. Maaf untuk peristiwa yang bodoh hari ini" ucap Harry.
Dara terkejut seraya menatap kedua mata Harry.
Dara mengedipkan matanya beberapa saat kemudian.
"Justru maafkan saya, karena saya yang ternyata membuat semua ini menjadi sangat rumit. Saya sudah memikirkan semuanya dengan matang, dan justru karena semua ini anda tidak sulit menceraikan saya pak. Rumornya bisa tentang sikap buruk saya pergi ke diskotik tanpa pak Harry" ucap Dara mencoba tersenyum lebar seraya berdiri dari posisinya.
Harry justru terdiam, dan spontan memikirkan Adit yang muncul saat itu. Apakah Dara benar-benar memikirkan ini dengan matang karena nama Adit?
Harry justru mengerutkan dahinya dan menajamkan padangannya pada pakaian Dara.
Dara spontan menunduk dan ia baru sadar dengan apa yang sedang dikenakannya. Pakaian ini baru terasa berbahaya jika hanya ada seorang wanita dan pria dalam satu ruangan yang sama. Dara pun menutup dadanya dengan jaket Harry yang masih dikenakannya.
Harry membuka jaket itu dengan paksa. .