The White Glove

The White Glove
Lahan



Karisa menguap mendengarkan penjelasan dosennya.


Malas rasanya harus mengikuti jam pengganti di akhir pekan yang cukup cerah. Harusnya hari ini Karisa bisa pergi bersama Adit mengitari kota, tapi buruknya hal itu justru dibatalkan karena jam kuliah pengganti yang tidak masuk akal.


Ponsel Karisa berdering dengan keras. Dosen di depan kelas justru melotot.


"Keluar!" ucap dosen kepada Karisa.


Karisa justru menarik nafas dalam-dalam.


"Apa?!" ucapnya seraya menghubungi kembali panggilan yang tak terjawab dari nomor orang yang sering membuatnya kesal.


Karisa segera memutuskan sambungan telponnya sebelum Dika menjawab pertanyaan Karisa.


Dika mengerutkan dahinya lalu menelpon lagi.


"Aku di kampusmu. Kelasmu dimana? Ayo berkencan" ucap Dika dengan tenang.


"Kalau sudah tau aku dikampus, kenapa menggangguku?! Hah?!" tanya Karisa dengan tegas.


"Sudah, tutup dulu, aku sudah melihatmu" ucap Dika spontan.


Karisa menoleh.


"Gila, kau benar-benar orang gila. Tau kampusku darimana?!" ucap Karisa.


"Anak baik-baik tidak berbicara kasar" singkat Dika.


"Cepat jawab, tau kampusku darimana?!" tanya Karisa lagi.


"Internet" ucap Dika.


Karisa menoleh lalu menatap tajam-tajam.


"Ada apa melihatku dengan tatapan seperti itu?" tanya Dika.


"Penguntit!" singkat Karisa.


Dika memutar bola matanya.


"Terserah lah. Kau biasanya berkencan kemana saja dengan mantan-mantanmu?" tanya Dika spontan.


Karisa tak menggubris dan hanya menatap heran.


"Oh belum pernah kencan ya" ucap Dika lagi.


Karisa justru tersenyum kecut


"Aku tidak mengenalmu apalagi sampai benar-benar menjadi kekasihmu! Aku hanya mengakui itu di depan mba Dara" ucap Karisa spontan.


"Kalau begitu berbeda denganku. Aku serius dengan apa yang aku ucapkan waktu itu" ucap Dika.


"Terserah! Pulang saja sana!" ucap Karisa.


Dika menghela nafasnya.


"Bukankah katamu aku penguntit? Kenapa tidak mau membuktikannya dulu?" tanya Dika spontan.


Karisa menatap tajam.


"Kau benar-benar murahan! Baiklah ayo kencan!" ucap Karisa seraya menarik tangan Dika dengan spontan.


Dika tersenyum lebar, lalu mengerutkan dahinya.


"Kencan dengan ini?!" tanya Dika spontan seraya menunjuk motor Karisa.


Sebenarnya Karisa akan membawa Dika ke kantor polisi karena sudah menguntit. Lalu Karisa berencana menelpon Dara untuk mengatakan yang sebenarnya.


Lebih dramatis, tentu akan lebih baik.


Karisa mengangguk seraya memakai helmnya.


Dika justru terdiam seraya menaiki motor Karisa dengan ragu.


"Putar kuncinya!" ucap Karisa memaksa.


"Kita naik mobil saja!" ucap Dika yang masih duduk tanpa menggerakkan kaki atau tangannya.


"Kau pasti mau menculikku kan?!" tanya Karisa spontan.


"Menculik? Kenapa aku harus menculikmu?" tanya Dika lagi.


"Karena kau itu penguntit!" ucap Karisa lagi.


"Ah,oke-oke! Siap-siap, pegangan yang kuat!" ucap Dika dengan spontan.


Pedal gas di tarik. Karisa melotot. Puluhan motor justru terjatuh seperti domino berbaris di parkiran kampus Karisa. Karisa meringis setelah jatuh.


"Kenapa baru bilang tidak bisa naik motor?! Aduh ini lumayan lecet motorku, aduh, kalau motor lain sampai rusak parah bagaimana ini? Kau yang harus tanggung jawab ya?!" ucap Karisa spontan.


Dika membersihkan tangan Karisa dengan sergap seraya meniup dan mengelapnya.


"Lupakan motor, tanganmu juga lecet" ucap Dika.


Karisa menarik tangannya dengan spontan.


"Kalau sampai kepalaku yang lecet, baru nyawamu yang melayang!" ucap Karisa seraya melotot dan hampir melempar helmnya kearah Dika.


"Wanita cantik, tolong bicara dan sikapnya yang baik..." ucap Dika dengan tenang, lalu berlari ke pos satpam.


Karisa membawa motornya dan menghampiri Dika di pos satpam.


"Hey, Cepat bereskan! Kalau semua anak keluar, kau bisa di pukuli sampai babak belur!" ucap Karisa seraya berteriak kearah pos satpam.


Dua petugas satpam dan Dika akhirnya mendirikan kembali motor-motor yang jatuh.


"Kenapa kau bisa dibebaskan begitu saja tadi?" tanya Karisa seraya mengendarai motornya.


"Kau terkenal! pak Satpam tadi mengenalmu dengan baik. Tadi aku menitipkan pesan, kalau ada motor yang sampai rusak parah, segera hubungi kekasih Karisa Adina" ucap Dika spontan.


Karisa melotot.


"Sembarangan saja kalau bicara! Kalau kau sampai kabur, akan ku cari sampai mati! Oh, Lihat tadi motorku juga sampai lecet! Apa kau akan ganti rugi juga kalau hanya sekadar lecet?" tanya Karisa.


"Biasanya orang akan memaafkan kalau ada niat bertanggung jawab. Aku berniat mengganti motormu. Mau beli motor dulu?" tanya Dika spontan.


Karisa terkekeh.


"Sudahlah tidak perlu hidup sok kaya! Semua itu akan membuatmu kesulitan" tanya Karisa spontan.


"Benar ku bilang. Kau sudah memaafkan kan?!" tanya Brian spontan.


Karisa membanting stir dan berhenti di salah satu show room motor.


"Cepat beli satu yang baru untukku!" ucap Karisa spontan.


"Kau serius?" tanya Dika dengan spontan.


"Iya! Aku mau Scooter matic yang warna merah!" ucap Karisa.


Karisa melirik heran. Apa Dika benar-benar sudah mapan?


Jadi Dika benar-benar sudah mapan?! Jadi, di tabungannya ada uang sebanyak itu ya? Jelas-jelas itu bukan kartu kredit. Itu Kartu debit!


"Untukmu saja! Aku bisa di interogasi di rumah kalau sampai membawa motor baru!" ucap Karisa.


"Motornya tidak bisa ku pakai juga. Lalu bagaimana? Sudah dibeli!" ucap Dika dengan spontan.


"Bukankah kau bisa belajar motor? Tapi, kalau kau ada trauma sampai tidak bisa naik motor, lebih baik disumbangkan atau dijual murah untuk amal!" ucap Karisa spontan.


"Trauma apa? Motor? Hahaha. Aku hanya belum pernah punya dan belum pernah tertarik. Nah. Benar juga! Kebetulan aku punya tempat dan ingin pergi kesana dengan motor baru" ucap Dika dengan spontan.


"Maksudmu?!" tanya Karisa dengan Heran.


"Titip motormu disini, kita pergi dengan motor baru ini" ucap Dika spontan.


"Jauh atau tidak?!" tanya Karisa lagi.


"Lumayan" singkat Dika.


"Beri tau aku apa nama tempatnya?" tanya Karisa spontan.


"Lapangan" singkat Dika.


Karisa tertawa.


"Budget kencanmu sudah habis ya?!" ucap Karisa spontan.


"Benar! Ini kencan pertama termahal untukku!" ucap Dika spontan.


Karisa melirik kearah spion.


"Jauh sekali! Sudah hampir satu jam! Aku lelah mengemudi!" ucap Karisa spontan.


"15 menit lagi, aku janji!" Ucap Dika dengan spontan.


Karisa melotot melihat hamparan tanah kosong yang sangat luas. Alat-alat berat masih mengangkut material-material tanah padat untuk diratakan.


"Loh, loh, bukankah di berita, wilayah ini akan dibuat maskapai penerbangan? Benar kan?" tanya Karisa spontan.


Dika menoleh, lalu terdiam sejenak.


"Ya. Benar" singkat Dika.


"Dana pembebasan lahan dan infstruktur pasti lebih dari hutang negara. Kenapa tidak memperbaiki infrastuktur daerah dulu saja?! Menurutku kota ini tidak perlu maskapai lagi. Kota ini tidak begitu jauh dari ibu kota" tanya Karisa lagi.


Dika mulai tersenyum lalu melirik.


"Kabarnya akan ada pembangunan real estate juga tak jauh dari sini. Kota modern dalam kota. Entahlah" ucap Dik spontan.


"Mana bisa negara membiarkan ini terjadi?" tanya Karisa spontan.


"Ini urusan konglomerat" singkat Dika.


"Aku akan ikut unjuk rasa kalau sampai itu terjadi" tukas Karisa.


Dika menoleh.


"Kau bisa mati kalau sampai berani" singkat Dika.


"Lebih baik mati, daripada diam saja melihat ketidak adilan seperti ini!" ucap Karisa spontan.


Dika tersenyum lebar.


"Dari dulu, tipikal wanita yang ku suka adalah wanita yang pemberani" singkat Dika.


"Heh! Kalau ku hitung-hitung, kau sudah seenaknya menggodaku beberapa kali. Apa rencana jahatmu? Cepat katakan sekarang!" ucap Karisa lagi.


"Memangnya salah jika menggoda kekasih? Rencana jahatku adalah mengecup bibirmu setelah selesai berkencan" ucap Dika lagi.


"Aku akan melaporkanmu ke polisi untuk banyak tindakan kriminal!" ucap Karisa dengan tegas.


Dika tertawa, lalu mengambil kemudi motor Karisa.


"Cepat naik, ajari aku mengendarai ini sekarang" ucap Dika dengan sontan.


Karisa menekuk wajahnya di beberapa waktu kemudian.


"Kakimu kan panjang! Tahan dengan kaki! Aku bilang jangan di gas! Ya jangan!" ucap Karisa spontan, saat motor yang dikendarai Dika terperosok di gundukan pasir dan mereka terjatuh.


"Motornya masih bisa hidup, ayo sekali lagi. Kali ini tidak akan jatuh" ucap Dika dengan spontan.


"Tidak mau! Enak saja!" singkat Karisa.


Karisa melotot tak percaya.


Dika berputar dengan mahir dan bisa mengendari dengan lihai hanya di kesempatan ke-dua.


'Ini gila, apa dia sejenius ini?!' benak Karisa spontan.


"Aku sudah lulus kan?!" teriak dika tetap memainkan gas motornya.


"Belum! Nanti pulang dari sini, kau yang bawa! Coba di jalan raya!" teriak Karisa.


"Tapi aku belum punya SIM" ucap Dika spontan.


"Benar juga. Dasar payah!" tukas Karisa spontan.


Dika tersenyum lebar.


"Kenapa payah?!" tanya Dika masih berteriak.


"Kau memang payah!" ucap Karisa lagi.


Karisa justru spontan tersenyum lebar.


Dika tersenyum lebar memperhatikan wajah Karisa *****-*****. Wajahnya benar-benar seperti Dara saat senja mulai jatuh. Benar-benar serupa.


Dika menghampiri Karisa dan menghentikan motornyaa di sisi Karisa, Ia melepas helm seraya menyetandar dan duduk menghadap Karisa.


"Sudah gila? Mau menabrakku ya?!" ucap Karisa spontan.


Karisa melangkah mundur dengan spontan, namun Dika justru menarik tangan dan mendekap Karisa


"Lupakan ini, nanti" ucap Dika spontan


Dika mengecup bibir Karisa dengan spontan.


Karisa melotot, lalu mencoba mengelak Dika.


Tidak bisa.


Dika justru spontan berdiri, masih mengecup, lalu memeluk Karisa.


Karis melotot, dan sekuat tenaga melepaskan dekapan Dika. Dika spontan melepaskan nya. Karisa justru meninju Dika dengan kepalan tangannya. Dika meringis, hidungnya berdarah.


Dengan penuh amarah, Karisa justru membawa motor Dika dan meninggalkan Dika sendirian.


"Karisa, bagaimana aku pulang?!" teriak Dika dengan spontan saat Karisa menarik pedal gasnya dengan cepat.


Karisa sangat tidak masuk akal bagi Karisa, akhirnya benar-benar terjadi. Tidak disangka ciuman pertamanya justru dengan Dika "Masa dengan penguntit?!" ucap Karisa lirih berulang kali.