
Dara tetap tidak bisa memejamkan kedua matanya bahkan saat ia mencoba memaksa kedua matanya untuk terlelap. Dara tetap tak bisa menghilangkan bayang Adit dari ingatannya.
Dara tau, ia tidak akan tidur malam ini. Pikirannya benar kacau.
Harry baru kembali tepat di tengah malam.
Harry membuka lemari pendingin dan mengambil air mineral.
"Apakah pertemuan bisnis anda berjalan lancar pak?" tanya Dara setelah turun dari anak tangga.
"Ya, seperti biasa. Melihat langsung vendor yang di rekomendasikan divisi bahan baku. Ternyata perusahaan itu akan bergabung di bursa saham. Cukup menarik" ucap Harry setelah meneguk gelas mineralnya.
Dara mengangguk, lalu terdiam sejenak melihat langkah Harry.
"Pak, apakah klien anda juga menanyakan kondisi anda dengan lebam di wajah anda?" tanya Dara lagi, lalu melotot dan justru menggigit bibirnya menyadari pertanyaan konyolnya pada Harry.
Harry spontan mengerutkan dahinya.
"No, who cares?" ucap Harry dengan spontan.
Dara hanya tersenyum kecil dan mengangguk ragu.
Dara melirik Harry dengan spomtan.
"Hmm pak.. Sebenarnya tadi saya bertemu pria yang anda temui di rumah saya, dan kita temui di diskotik beberapa waktu lalu. Tapi itu tidak sengaja terjadi" ucap Dara dengan spontan.
Harry terdiam.
"Ini sudah larut malam" ucap Harry tiba-tiba.
"Benar juga, ini sudah larut malam. Jadi mungkin lain kali saja ya pak, meski sebenarnya saya ingin bertanya tentang Mas Reza" ucap Dara dengan ragu.
Harry justru berjalan ke arah meja makan dan duduk diatas kursi kaca yang terlihat modern.
"Duduklah" singkat Harry seraya meminta Dara duduk di hadapannya.
"Tadi kami sempat membahas Mas Reza pak" singkat Dara.
"Sebenarnya saya tidak ingin membahasnya lagi. Tapi ini saya lakukan agar pertanyaan ini tidak saya dengar lagi" singkat Harry.
"Terimakasih pak. Sebenarnya ini, jika boleh tau, kenapa pak Harry tidak pernah menyampaikan biaya perawatan Mas Reza?. Maksud saya, saat itu Mas Reza bisa pulih dengan cepat setelah beberapa kali sempat dirawat. Maka saya sempat berpikir kalau Mas Reza pasti mendapatkan biaya pengobatan terbaik dari anda pak" ucap Dara serius.
Harry mulai meneguk gelasnya lagi.
"Reza memang berhak mendapatkan semua fasilitas terbaik. Everything is equal in business and loyality" jelas Harry menegaskan.
"Tapi bolehkan saya tau alasan pak Harry tetap memperkerjakan saya? sedangkan pak Harry tau bagaimana buruknya pekerjaan saya dulu" tanya Dara lagi.
Harry terdiam sejenak.
"Tentu karena Reza, saya membiarkan kamu bekerja karena kontrak kerja saya dengan Reza. Bukankah kamu sudah tau jawabannya?" singkat Harry.
Dara tersenyum, lalu mengangguk.
"Kalau saya, sejujurnya saya tetap bekerja karena sudah jatuh cinta dengan pak Harry, dan saya sangat bahagia saat menikah dengan pak Harry" singkat Dara.
Harry mulai menyandarkan tubuhnya di punggung kursi.
"Kalau begitu, mulai sekarang, berlatihlah untuk membuang perasaan itu. Satu hal yang bisa saya janjikan padamu adalah jaminan hidup yang layak untukmu dan keluargamu setelah kita bercerai. Bahkan sampai kamu menikah dengan orang lain" singkat Harry dengan tenang.
Dara terdiam.
"Hmm, pernikahan ini artinya, sebenarnya bagaimana pak?" tanya Dara spontan.
Harry menghela nafas dalam-dalam.
"Maaf mungkin ini keterlaluan, saya sudah merugikan kamu dari berbagai hal, tapi saya akan menebus rasa bersalah ini secara materil sampai kapanpun waktu yang kamu inginkan" ucap Harry dengan spontan.
"Bolehkah saya memilih pilihan lain, agar rasa bersalah itu tidak perlu terjadi?" tanya Dara.
"Kamu akan merasa kesulitan menghadapi seseorang yang tidak akan pernah membiarkan perasaan cinta masuk menyentuh hati. Saya berjanji pada diri saya sendiri, bahwa saya tidak akan pernah jatuh cinta. Pernikahan denganmu sebenarnya hanya sekadar cara menghentikan sikap nyonya Wijaya tentang banyak perjodohan yang ia buat untuk saya. Nyonya Wijaya tidak mengizinkan saya menikahi wanita dari pemilik saham prioritas karena satu alasan privasi. Tapi karenamu, saya justru memiliki alasan yang kuat untuk melakukan semua itu setelah kita bercerai nanti" ucap Harry lagi.
Dara terdiam cukup lama.
Harry berdiri dan berjalan menjauh dari mejanya, kemudian mulai menaiki anak tangga.
"Kalau begitu, izinkan saya tetap menjadi sekertaris pribadi pak Harry sampai tenaga saya tidak dibutuhkan lagi" tanya Dara spontan.
Harry menoleh, lalu menunduk.
"Saya berencana mempersiapkan berkas-berkas pemindahan kewarganegaraan saya, setelah tender maskapai penerbangan dan akuisisi provider sengketa jutaan dolar itu saya dapatkan. Tidak lama, kemungkinan paling lama 6 bulan, tapi sepertinya lebih cepat karena perusahaan kita cukup kuat" ucap Harry seraya tersenyum tipis.
Dara justru merasa semakin sesak dengan ucapan tegas Harry.
"Kalau, seandainya saya tidak bisa menghilangkan perasaan ini, bagaimana pak?" tanya Dara spontan.
"Kamu tidak akan saya pecat, kamu tetap akan bekerja di perusahaan itu bersama pimpinan baru tangan kanan keluarga Wijaya. Tugas dan jam kerjamu yang tetap padat pasti akan membuat semuanya jauh lebih mudah" ucap Harry.
Dara mengangguk, kemudian dengan spontan menanggapi lagi.
"Besok, anda ingin sarapan apa pak? Saya coba siapkan besok pagi ya pak?" tanya Dara lagi dengan spontan.
Harry menoleh.
"Tidak perlu. Tadi saya sudah meminta kembali pelayanan esktra apartemen termasuk menyiapkan sarapan, dan makan malam" ucap Harry seraya melangkah menaiki anak tangganya lagi.
Dara mulai menekuk wajahnya dengan kecewa.
Dara benar-benar tidak bisa tidur malam ini.
Kantung matanya benar-benar hitam saat pagi.
Dara melirik saat Harry melahap sarapannya seraya membaca koran pagi.
Dara berdiri, lalu mengambil cangkir dan menuangkan kopi hangat, lalu memberikannya pada Harry.
"Saya tidak memintamu membuat kopi" ucap Harry.
"Kita berbincang sampai larut malam, saya khawatir jika pak Harry mengantuk pagi ini" ucap Dara dengan spontan.
Harry tidak mengatakan apapun, dan mulai menyeruput kopi hangatnya.
Harry dan Dara harus melewati hari panjang di perusahaan raksasanya. Berjalan dengan tenangnya, walau sesekali melihat jam tangan untuk memeriksa waktu yang akan ia lakukan.
Sama halnya seperti bola panas yang terus melaju. Waktunya adalah bola panas, yang tak boleh dingin sebelum semua agendanya terlaksana.
Dara mulai memegang setir dan berangkat bersama Harry. Tak ada agenda di luar, dan jadwal Harry hari ini hanya menghadiri laporan pertanggung jawaban setiap departemen.
Seperti biasa, parkiran VIP telah tampak sepi, kecuali beberapa petugas kebersihan yang berlalu lalang di sekitarnya.
"Sebentar pak" tukas Dara seraya mengangkat tangan kanan Harry, dan akan mengecupnya lagi.
Harry justru menariknya dengan spontan.
"Kamu tidak perlu menghormati saya dengan cara seperti itu. It just too much!" ucap Harry.
Dara menarik nafasnya dalam-dalam.
"Itulah ungkapan rasa sayang saya pada anda, pak!" ucap Dara dengan cepat.
"Dara, apa kamu mengerti dengan baik ucapan saya semalam?" singkat Harry.
"Mengerti pak. Selama masih ada waktu di 6 bulan bahkan kurang, saya ingin menunjukkan rasa cinta saya dengan serius" ucap Dara seraya tersenyum lebar.
"Baiklah, tapi jangan terlalu yakin" ucap Harry seraya membuka pintu mobilnya.
"Apa kira-kira hal manis yang tidak akan pernah dia lupakan?" ucap Darra dengan lirih seraya membawa beberapa dokumen Rapat Departemen nanti.
Ruang rapat, perwakilan tiap departemen, dan para komisaris direksi pun telah siap dengan hasil pertanggung jawaban yang matang. Harry mulai mengawali rapatnya langsung pada poin pentingnya.
Pada periode berjalan ini, Harry mulai menetapkan kebijakan pemecahan saham, karena angka saham perusaaannya telah mencapai angka yang fantastis. Kali ini, bukan lagi perusahaan-perusahaan besar incarannya, melainkan perusahaan-perusahaan baru yang sedang menaiki tangga puncak usaha. Kepemilikan mereka atas bisnis Harry hanyalah simbol kecil, dari tujuan Harry menetapkan jaring besar usahanya.
Ekspansi besar yang akan Harry canangkan dalam waktu dekat sudah membuka pintunya lebar-lebar. Harry memang memiliki bakat merangkul dan membuatnya meningkat stabil. Membangun jaringan bisnis yang kuat adalah strategi besar Harry di pasar bisnis yang semakin kompetitif. Semua hanya agar usahanya tetap berada di posisi yang aman dan selalu berada diatas.
Harry benar-benar tampak lebih sibuk setelah pekan rapat departemen itu dilakukan. Begitu pula dengan Dara, ia pun mau tidak mau harus menyeimbangi setiap perintah harry yang harus dilakukannya. Khususnya untuk ekspansi besar-besaran yang mampu menyita waktu dengan pekerjaan yang semakin menyita perhatian juga.
Dara terus melirik. Tidak terasa sudah sepekan lebih sejak hari itu, hubungannya dengan Harry tidak menunjukkan progres apapun.