The White Glove

The White Glove
Agressive



Merisa telah memastikan setiap pintu kosong, dan begitu juga lorong senja itu.


"Bagaimana? Dengannya?" tanya Merisa lagi dengan spontan saat Dara sedang berada di toilet.


Dara menggeleng.


"Aku masih perawan. Mer, hanya denganmu aku bisa cerita seperti ini. Aku harus bagaimana lagi?" singkat Dara.


"More agressive bee! Dont be silly!" ucap Merisa kecewa.


"I'm not kind of that women!" bantah Dara dengan serius.


"Kalau untuk suami, tidak ada kata murahan!" ucap Merisa dengan spontan.


"Aku bisa bercerai kalau bersikap macam-macam" singkat Dara.


"Kalau satu atau dua kali, dia pasti memaafkamu. Dia pasti berpikir ini ketidak-sengajaan, tapi sebenarnya ini adalah kode keras untuknya kalau kamu sudah siap disentuh" ucap Merisa spontan.


"Stop it! Dont make me think that much!" ucap Dara seraya mmberjalan keluar dengan langkah yang sengaja ia percepat.


Merisa terkekeh.


"Jebak dia untuk menyentumu! Ingat!" ucap Merisa lagi.


Dara terdiam memandang Harry dari jauh.


Ia hanya bisa menghela nafasnya.


"Impossible!" ucap Dara lirih.


Waktu pun berlalu dengan sangat cepat.


Dara pulang dengan Harry yang masih serius memperhatikan gadgetnya selama perjalanan. Dara melirik berulang kali.


"Hari ini saya akan menemui klien secara pribadi, turunkan saya di restauran park mall. Kemungkinan malam ini saya tidak ke apartemen. Jadi besok berangkatlah lebih pagi untuk membawa pakaian saya dan berkas vendor rapat tadi siang" ucap Harry dengan spontan.


"Tidak pulang pak?" tanya Dara spontan.


"Bukankah saya tidak pernah mengulangi ucapan saya dua kali?" tanya Harry lagi.


Dara mengangguk dan tetap menyetir mobilnya dengan banyak tanda tanya di dalam kepalanya.


Pedal rem diinjak.


"Pak, bolehkah kita berciuman sebelum berpisah?" ucap Dara spontan.


Harry justru menoleh, lalu tersenyum. Dara tersenyum lebar.


"Saya tidak melakukan itu di ruangan sempit yang sepi" ucap Harry dengan spontan, lalu keluar dan berlari meyebrang.


Dara tau, ini benar-benar mustahil.


Dara terdiam sejenak merasakan penolakan yang sama lagi.


Dara menghela nafas dalam-dalam. Seorang wanita turun dari mobil mewahnya.


Hyrin


Dara justru mengingat pesan Merisa mentah-mentah. "Harus agresif". Dara pun segera turun dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam restauran.


Harry mulai tesenyum lebar seraya berdiri menyambut Hyeri, lalu mereka berpelukan.


Dara melotot.


"Tidak ada kata murahan untuk seorang istri" singkat Dara lirih.


Harry menoleh.


"Ada apa Dara?" tanya Harry spontan saat Dara tersenyum lebar mengepal tangannyannya di dalam tas jinjingnya.


"Ya, ada yang tertinggal di sini pak...." ucap Dara seraya berjalan semakin dekat.


Dara spontan mengeluarkan tangannya dari tas seraya mengecup Harry yang sedang duduk.


Harry sangat terkejut dan Hyrin melotot. Dara mengecup bibir Harry dengan cepat, lalu menoleh dengan cepat seraya berjalan menjauh.


Harry spontan menarik tangan Dara.


"Apa yang kamu lakukan?!" tanya Harry spontan seraya berdiri.


Dara mendongak.


"Saya hanya berinisiatif pak" ucap Dara spontan.


"Jangan lakukan itu lagi!" ucap Harry.


"Maaf pak, saya tidak bisa" singkat Dara.


Harry terdiam beberapa saat.


"Hyrin maaf untuk ini, kita berbincang di tempat lain. Dara pulanglah!" ucap Harry spontan.


Hyrin melirik Dara dari ujung kaki sampai ujung kepala seraya tersenyum tipis.


Harry membuka pintu apartemen dan Hyrin mulai mengecup pipi Harry, lalu membuka jas dan dasi yang Harry pakai.


Hyrin mengecup Bibir Harry, namun Harry melepaskannya dengan segera.


"I'm Married" singkat Harry dengan spontan, saat Hyrin mulai melepas stockingnya dan naik ke atas ranjang.


Hyrin tertawa.


"So, what wrong with our own habit?" tanya Hyrin lagi.


"Aku tidak setuju membiarkan diriku membiasakan perilaku seperti ini setelah menikah. Bagaimana kalau aku terbiasa melakukan ini setelah menikah denganmu nanti?" tanya Harry spontan.


"Wah, aku kira ucapanmu waktu itu hanya main-main. Kalau seperti ini aku akan menghubungi dokter Kim" ucap Hyrin dengan tenang.


"Aku sudah menghubunginya belum lama ini" singkat Harry.


"Well, kedengarannya akan buruk. Sekarang pertanyaannya hanya ada dua. Pertama, kau lebih memilih kembali ke titik nol atau melanjutkan apa yang kamu perjuangkan?" tanya Hyrin spontan.


"Aku sudah membuatnya rugi dalam berbagai hal, aku tidak bisa lebih egosentris" singkat Harry.


"Dia akan menikmatinya, dan kamu bisa menggunakannya selama tidak bersamaku kalau begitu. Mutualisme untuk cinta yang dia miliki" ucap Hyrin.


"Jujurlah berapa pria yang bermalam denganmu sebelum ini?" tanya Harry spontan.


Hyrin tertawa.


"Tidurlah, aku lelah. Biarkan aku memelukmu malam ini" ucap Hyrin.


Harry membuka lengannya dan Hyrin tidur diatas lengan Harry.


"Bagaimana kabar nyonya Wijaya?" tanya Hyrin spontan.


"Untuk apa menanyakannya? Dia bahkan tidak pernah menyukaimu dalam hidupnya" ucap Harry.


"Ayolah, kalau aku punya seorang putra dan seorang putri, aku juga tidak akan membiarkan mereka dekat dengan pria sepertimu atau wanita sepertiku" ucap Hyrin.


Harry menghela nafasnya.


"Dia tidak pernah tidur, dan mulai mengkonsumsi obat penenang setelah wanita itu dibebaskan" ucap Harry.


"Datanglah bersama istrimu, kedengarannya nyonya Wijaya cukup parah. Mungkin kedatanganmu dengan Dara bisa membuatnya senang" singkat Hyrin.


"Biarkan saja dia menyingkir dari semua bisnis gila ini" ucap Harry.


"Kau mulai perhatian" singkat Hyrin.


"Tapi ku akui dia benar benar menyayangimu sampai-sampai bersedia melakukan semua ini" jawab Hyrin


"Aku justru mulai menghkawatirkanmu, jika memaksa bergabung" ucap Harry.


"Bonus saat bisa menikah denganmu. Aku bersedia" ucap Hyrin.


"Apa gunanya pernikahan jika semua mengarah pada hal yang tidak masuk akal lain yang akan terjadi" Jawab Hyrin.


"Kalau begitu, sentuhlah Dara, aku justru khawatir jika terjadi apa-apa denganmu" ucap Hyrin spontan.


"Aku sudah bilang, itu tidak mungkin" ucap Harry.


"Bagaimana caramu bertanggung jawab dengan kekhawatiran yang kau buat padaku sekarang?" tanya Hyrin lagi.


"Lalu bagaimana kalau aku terjebak dengannya? Ini keputusan yang serius" tanya Harry spontan.


"Aku tidak melihat dia lebih hebat dariku" singkat Hyrin.


"Aku harap kita benar-benar bisa saling jatuh cinta" ucap Harry.


"Memang hanya aku yang bisa membuatmu jatuh cinta suatu hari nanti" singkat Hyrin


"Tapi terkadang dia bisa melakukan satu hal di luar dugaan" ucap Harry lirih mulai mengantuk.


"Apa itu? Apa aku harus berhati-hati?" tanya Hayrin mulai serius.


Harry justru tersenyum lebar


"Aku bilang terkadang" singkat Harry.


"Sudahlah, tapi untuk yang satu ini tidak mungkin" ucap Hyrin.


"Ya, mungkin saja" ucap Harry.


"Kalaupun mungkin, aku tidak akan mengalah"seraya mematikan lampu dan mengecup pipi Harry.


" Jangan pernah mengalah untuk apapaun" ucap Harry seraya memeluk Hyrin lebih erat.


Hyrin terdiam sejenak membuang jauh-jauh kemungkinan dari maksud ucapan Harry. semua itu baru kemungkinan.


Malam berganti.


Dara duduk di meja kerjanya seraya menunggu Harry.


"Selamat pagi pak" ucap Dara dengan spontan.


Harry mengangguk, lalu berjalan dan kembali lagi ke meja kerja Dara.


"Masuklah ke ruangan saya sebentar" ucap Harry spontan.


"Baik pak" ucap Dara spontan.


Harry membuka pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian yang Dara bawa.


"Pekan depan, saya ada keperluan ke luar kota. Tolong tunda semua kegiatan saya selama satu pekan itu dan temani saya selama saya disana" ucap Harry spontan.


"Apakah ada berkas khusus yang perlu saya persiapkan sejak awal pak?" tanya Dara.


"Tidak ada" singkat Harry.


"Satu pekan tanpa agenda pak?" tanya Dara lagi.


Harry terdiam sejenak.


"ya" singkat Harry.


Dara menggangguk, lalu keluar dari ruang kerja Harry.


Dara termenung memikirkan ucapan Harry.


Dara menatap Harry lagi dari meja kerjanya.


Harry menopang kepalanya dengan satu tangan dan tidak melakukan aktivitas apapun selain terdiam.


'Apa nona Hyrin marah padanya karena kejadian tadi malam?' benak Dara menerka-nerka.


Hari ini, bahkan esok, Harry tidak pulang lagi. Katanya ada beberapa hal yang perlu dikerjakannya sebelum pergi ke luar kota.


Pagi cepat berganti, dan Harry terlihat tidak tidur beberapa malam ini. Kedua matanya tampak merah, dengan kantung mata yang hampir terlihat jelas.


"Permisi, saya membawakan kopi untuk anda pak" ucap Dara spontan.


"Apa saya memintamu melakukan ini?" tanya Harry lagi.


"Tidak, saya berinisiatif" singkat Dara.


"Bukankah saya pernah mengatakan, untuk tidak melakukan semua inisiatif itu lagi?" tanya Harry.


"Apakah anda masih memikirkan sikap saya di hari itu? Jika iya, saya sangat menyesal pak" tanya Dara spontan.


Harry mendongak.


"Sekertaris Dara, selama satu pekan nanti, kita hanya akan berbulan madu" ucap Harry.


Dara sangat terkejut.


"Bulan madu?" tanya Dara spontan.


"Ya. Siapkan semua tiketnya hari ini, kita berangkat besok pagi" ucap Harry.


"Maaf pak, kenapa tiba-tiba?" tanya Dara lagi.


"Saya sudah memintamu mengosongkan semu jadwal sejak beberap hari yang lalu" ucap Harry.


Dara terdiam sejenak.


"Maaf jika saya lancang, hmm. Apa hubungan nona Hyrin dan pak Harry kurang baik karena sikap saya pak?" tanya Dara spontan.


"Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?" tanya Harry.


"Jika hubungan pak Harry dan nona Hyrin tidak baik sekarang, maka maafkan saya pak " ucap Dara.


Harry terdiam sejenak.


"Apa maksudmu? Apa kamu keberatan jika kita berbulan madu?" tanya Harry.


"Bukan, bukan itu maksud saya" singkat Dara.


"Apa saya perlu menyampaikan semua privasi saya sebelum kita pergi?" tanya Harry lagi.


"Tidak, tidak perlu. Maaf saya akan mengikuti keputusan pak Harry" ucap Dara spontan.


Dara menutup pintu Harry dengan tenang.


Merisa melotot.


"Pergi keluar kota bersamanya, selama satu pekan?" tanya Merisa spontan.


"Sepertinya aku tau kenapa sikap pak Harry seperti itu selama ini" ucap Dara.


"Dia selingkuh?" tanya Merisa spontan.


Bagaimana bisa tau? Salah. Bagi Dara, dirinyalah yang telah menyelingkuhi Harry dari Hyrin. Kekasih Harry yang sebenarnya adalah Hyrin.


Dara menggeleng.


"Ceritanya cukup rumit, tapi bukan itu" singkat Dara.