
Dara terkejut. Harry berkata "Kamu menghabiskan gajimu untuk membeli pakaian seperti ini? Baju ini terlalu mahal untuk desainer yang tidak profesional" ucap Harry seraya menarik label harga yang masih tergantung di pinggang pakaian.
Dara melihat label harga dan menghela nafasnya.
"Oh, label harga ini salah, lalu saya masih mendapatkan potongan 30% lagi. Jadi saya tidak menghabiskan..." tanggap Dara.
"Tetap saja, sejak tadi pakaian ini terlihat mahal karena label salah ini! Mungkin ini juga yang membuat orang-orang bodoh tadi melakukan itu. How many times i had been wondering, apakah kamu tidak berpikir sebelum masuk?" ucap Harry seraya menunjukkan label harga dari genggamannya.
Dara terdiam.
"Maaf pak. Saya pikir ini bukan keputusan yang bodoh, karena saya bisa mendapatkan pakaian yang pas dengan harga yang murah. Tentu saja saya berpikir. Menurut saya, ini baju yang pas agar saya diizinkan masuk ke tempat seperti itu". Tanggap Dara kemudian.
"That's not the main point" tanggap Harry kemudian.
Dara menghela nafasnya akan berhcap, namun Harry segera melanjutkan ucapannya lagi.
"Ah sudahlah. Cepat ganti pakaian dan kita ambil mobilmu!" ucap Harry seraya mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Dara menghela nafasnya.
"Baik pak" singkat Dara.
Harry justru menoleh lagi seraya mengambil ponselnya diatas meja.
"Eh tidak-tidak. Biar pegawai saya saja yang datang, dan dia yang mengantar mobilmu. Jadi siapkan kunci dan STNKnya saja. Tidak lama lagi dia akan datang mengambilnya" ucap Harry dengan spontan.
Dara mengangguk, dan segera mengeluarkan kuncinya.
"Terimakasih pak. Maaf merepotkan anda malam ini. Selamat beristirahat dan saya izin ke dapur, lalu keatas untuk mengganti pakaian saya juga sebentar" ucap Dara.
"Mendengar ucapan mu justru membuat saya seperti sedang bekerja selama seharian penuh. Perlukah kamu meminta izin memasuki ruangan di rumahmu sendiri?" ucap Harry mulai berdiri, kemudian naik ke kamarnya.
Dara terdiam, lalu tersenyum menggaris bawahi ucapan terakhir Harry.
"Iya terimakasih pak Harry" ucap Dara dengan spontan seraya mengambil mangkuk sarapan Harry tadi pagi beserta kotak obatnya juga.
Dara spontan teringat wanita yang bersama Harry tadi, namun Dara menggelengkan kepalanya.
"Jangan! jangan sekarang menanyakan hal bodoh itu! Pak Harry baru pulang. Dia baru pulang, Dara! Lagipula kalian juga akan bercerai" ucap Dara lirih pada benaknya sendiri
Petugas pun datang membawa kunci. Lalu beberapa saat kemudian setelah kuncinya dibawa, mobil Dara pun sampai diapartemennya.
Seperti apa yang sudah Dara duga, makanannya telah dingin.
Tapi setidaknya Dara masih bisa bernafas lega karena masakan lokal tidak akan berubah rasanya jika di hangatkan. Tapi sayang, Harry telah lebih dulu tidur.
Maka Dara memutuskan tetap duduk di sofa menunggu Harry, karena ia sangat berharap jika Harry akan merasa lapar di tengah malam.
Sayangnya tetap saja, Harry terlalu lelah untuk bangun malam ini.
Malam ini Karisa melirik Adit yang masih meringis menahan sakit dibeberapa anggota tubuhnya.
"Lebih baik Karisa pulang. Ini sudah malam" singkat Adit.
"Maaf Karisa keterlaluan. Harusnya tadi tidak seenaknya meminta bantuan bang Adit soal mba Dara" ucap Karisa.
Adit justru tersenyum.
"Justru bang Adit akan kecewa, kalau bang Adit tidak Karisa minta datang ke tempat itu" ucap Adit.
"Sekarang, Karisa takut pak Harry membawa pengaruh buruk ke mba Dara. Jujur Karisa baru tau mba Dara berani datang ke tempat itu dengan pakaian seperti itu. Apa mungkin mba Dara dijual untuk mendapatkan kesepakatan bisnis? Utang budi keluarga kami pada pak Harry memang besar, tapi apa perlu sampai seperti ini?" ucap Karisa dengan serius.
Adit terdiam, lalu menghela nafasnya.
"Semua ini pasti ada alasannya. Jangan berpikir yang tidak-tidak tentang mba Dara. Bang Adit tau, Dara tida akan pernah melakukan hal yang tidak baik" ucap Adit.
Karisa terdiam. Karisa yakin bahwa Adit sedang berusaha menutupi rasa ragunya tentang Dara dan pernikahannya dengan Harry.
"Saya berangkat" ucap Harry spontan dengan suara yang sengaja ia keraskan.
Tak di sangka malam ini Dara justru tertidur pulas di sofa.
Dara terbangun dengan spontan dan segera berdiri dengan gusar.
Menoleh dan melihat jam dinding
"Maaf pak, saya ini, tadi, begini" ucap Dara tidak beraturan.
"Overslept? Ada apa denganmu akhir-akhir ini? Lain kali tolong tidak seperti ini di hari kerja!" ucap Harry lagi.
"Baik pak. Oh ya sarapan, sarapannya dulu pak" ucap Dara dengan spontan.
"Sarapan basi di piring terbuka yang kamu siapkan diatas meja untuk sarapan saya pagi ini?" tanya Harry dengan serius.
"Basi?" tanya Dara lebih heran.
"Baik akan saya bersihkan pak" ucap Dara seraya menunduk menepuk dahinya berulang kali setelah Harry keluar dari apartemennya.
Ponsel Dara berdering.
"Halo?" tanya Dara setelah ia menerima panggilan suara tanpa nama kontak di ponselnya.
"Maaf, aku mendapatkan nomormu dari Karisa" ucap Adit dalam panggilan.
"Kamu baik-baik saja kemarin malam?" tanya Dara spontan.
"Ya, semalam Karisa datang. Bagaimana dia tau aku ada di Cafe lama? Apa darimu?" tanya Adit.
Dara terdiam.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Aku harus berangkat ke kantor. Aku tutup dulu" tukas Dara.
"Dara, aku selalu merindukan Cafe lama" singkat Adit.
"Baiklah aku tutup. Selamat tinggal" ucap Dara seraya menutup ponselnya.
Dara mulai mengigit bibirnya dan menghela nafasnya panjang-panjang.
Tidak boleh seperti ini.
Tidak boleh.
Dara justru menoleh kearah jam dinding, dan segera membuka pesan di ponselnya.
"Karisa. Lain kali jangan seenaknya memberikan nomor ponsel mba ke orang lain!" singkat Dara dalam ponselnya.
Karisa menekuk wajahnya setelah melihat pesan dari Dara dan ditambah dengan melihat namanya yang tak lolos seleksi beasiswa pertukaran pelajar tahun ini.
"Masih ada semester depan sa... Sudahlah. Pak...Baksonya satu ya pak!" ucap teman dekat Karisa, namanya Imel.
Karisa menoleh.
"Saya Bakso juga pak. Satu porsi paling besar ya pak!" ucap Karisa lagi.
Imel melotot.
"Benar apa kata orang. Depresi sama laper itu kembar identik. Lagipula yang lolos semester ini hanya anak-anaknya sultan. Rahasia umum, mereka punya jalan belakang" ucap Imel seraya memandang heran Karisa.
"Masalahnya dulu, mba Dara bisa langsung lolos pertukaran pelajar. Bisa langsung jadi sekertaris pribadi di perusahaan besar. Bisa menikah sama bosnya pula!" ucap Karisa dengan kesal.
"Benar juga. Mba Dara itu super cantik, super baik dan super smart. Perfekto" timpal Imel lagi seraya tersenyum melihat semangkuk bakso yang sudah selesai dihidangkan.
Karisa melirik kesal.
"Pak punya saya dibungkus saja ya!" ucap Karisa dengan serius.
"Lah?! Jangan.. Pak jangan pak! Come on sa.. Just looking back from now about her sa. Lagipula yang namanya kebahagiaan juga perepsi kita sendiri" ucap Imel dengan serius.
Karisa menghela nafasnya dalam-dalam memikirkan kejadian kemarin ketika ia bertemu dengan Adit dalam kondisi babak belur sendirian.
Imel justru tersenyum "eh, Lagipula sang kekasihmu juga sudah turun dari langit. Artinya masih ada pelipur lara" ucap Imel.
Karisa menoleh.
"Bukan pelipur lara, tapi orang aneh! Aku pastikan tidak lama lagi, topengnya akan terbuka" ucap Karisa spontan.
"Rumornya yang kerja di kantornya mba Dara kan good looking semua sa. Keren kan dia artinya?" tanya Imel lagi.
"Walaupun keren, tapi kalau sikapnya aneh memangnya ada yang mau sama dia?" ucap Karia spontan.
"Tapi kalau yang cocok sama dia sih ada" celetuk Imel seraya melirik Karisa.
Karisa menyandarkan tubuhnya dipunggung kursi.
"Mel, kalau wanita punya perasaan ke seseorang yang jauuuh lebih tua, gak masalah kan?" ucap Karisa dengan spontan.
"Yap, rata-rata ada yang 3 sampai 5 tahun, eh dosen bisnis sama dosen bahasa bahkan beda 10 tahun katanya" ucap Imel spontan.
"Mel, kalau seorang adik punya perasaan lebih ke mantan kekasih kakaknya sendiri, apa wajar?" tanya Karisa lagi.
"Wajar, teman ada yang...." ucap Imel lalu melotot.
"Bang Adit?" tanya Imel lagi.
"Iya Mel" singkat Karisa.
Imel justru tersedak.
"Are you insane?!" ucap Imel dengan spontan.