
Bayang Dara dan Harry kian jatuh melawan surya yang membungkuk menjatuhkan dirinya. Mereka tiba di kota ketika sore hampir menyapa dengan dingin.
Harry membuka ponselnya, ponselnya berdering, tepat saat ia sampai di bandara kota.
Nyonya Wijaya dalam panggilan.
"Harry!Sangat keterlaluan tidak ada satupun orang yang berani memberitahu keberadaanmu satu pekan ini!" ucap Nyonya Wijaya kalut.
"Kenapa tidak bertanya pada ibu mertua?" tanya Harry lagi.
Dara menoleh.
Nyonya wijaya tersenyum lebar.
"Ide bagus. Pertemuan keluarga besok malam pasti lebih meriah" ucap nyonya Wijaya.
"Pertemuan keluarga?" tanya Harry.
"Kita memerlukan kongsi baru untuk mengantisipasi kondisi tidak terduga. Tidak disangka pertemuan keluarga nanti akan menguntungkan. Aku akan segera membuat undangan" ucap nyonya Wijaya.
Harry berjalan lebih cepat mendahului langkah kaki Dara.
"Jangan libatkan orang lain untuk keuntungan bisnis gila ini" ucap Harry.
"Dara sudah menjadi bagian keluarga bukan?" tanya nyonya Wijaya.
Harry mendengus.
"Apa bedanya semua ini dengan caranya melakukan bisnis dulu?!" ucap Harry.
Nyonya Wijaya tersenyum.
"Apa kau sedang merindukannya nak?" ucap nyonya Wijaya mulai merubah sebutannya.
"Saya sedang memperingatkan" ucap Harry.
"Tapi Video dan foto yang akan kamu dapatkan beberapa detik lagi akan mengubah keputusanmu" ucap Nyonya Wijaya terdengar mengendalikan.
Harry memutus sambungan ponselnya.
Harry melotot, ia pun menoleh pada Dara.
"Dara, besok pagi akan saya bawakan 1 tangkai bunga, dan reschedule agenda hari ini, padatkan di lusa" ucap Harry spontan.
"ah, untuk workshop divisi sekertaris, tolong kamu pastikan semua sudah siap pada akhir pekan ini" ucap Harry lagi tanpa menunggu tanggapan Dara.
Dara mengangguk. Inilah kisah cinta yang nyata bagi Dara. Dara bisa menebak, kemana Harry akan pergi.
Dika membalikkan tubuhnya, memastikan Harry telah benar-benar pergi meninggalkan Dara. berulang kali ia melihat pergelangan tangannya memastikan waktu berjalan sesuai dengan perkiraannya.
Kini saatnya Dika yang menyetir waktu.
"Dika, tolong siapkan tiket liburan untuk 3 orang. Malam ini jadwalkan penerbangan eksekutif untuk keluarga Dara" ucap Harry spontan seraya melihat berkas-berkas pembangunan lahan ratusan hektar.
Dika mengangguk tanpa bertanya apapun. Ia sudah mengerti tujuan dan maksud Harry.
"Madona, ia mengikuti saya sampai ke pulau, dan menawarkan Dara datang bergabung menghadiri acara amal. Bagaimana dia mendapat relasi dengan partai dan presiden? kenapa kamu tidak menangani ini?" tanya Harry berulang kali.
"Putrinya sudah mendapatkan donor mata pak, ia ingin merayakannya dengan kegiatan amal itu. Data royalti fantastis dari karya, dan belum lagi harta warisan keluarga mendiang suami beliau di luar negeri, ia gunakan untuk membiayai dana partai dan amal" ucap Dika dengan tegas.
"Omong kosong Harta warisan!" ucap Harry mendengus.
"Setidaknya nona Hyrin memegang telak putra mahkota pak. Semua masih bisa di kondisikan" ucap Dika.
"itu justru membuat semua kacau!" singkat Harry.
"Tapi info ini justru mengalihkan perhatian masa pak. Terlebih belum ada yang menyadari nona Hyrin putri dari pemilik landconstruction, pemenang tender besar sengketa lahan ini" ucap Dika lagi.
"Sudah kamu pastikan semua alat berat berada di sana? Tanpa atau adanya penentangan masa, proyek tetap berlangsung" ucap Harry lagi.
"Beberapa dua pekan lalu, semua alat berat yang diperlukan sudah siap di tempat" ucap Dika yakin.
"Pastikan tidak ada media manapun yang meliput!" ucap Harry tegas.
Dika mengangguk.
"Dimana?" tanya Harry tegas.
"Di lombok bersama tunangan dan para petinggi partai. Madona pasti terkejut. Aku melihat wajahnya berubah saat tau lawan ada di pihak inang, seperti benalu Hahaha" ucap Hyrin tertawa riang.
"Kali ini kau tidak berpikir sehat" ucap Harry.
"Waktunya mengurus cara mengantisipasi keributan, sayang.. Jangan tutup mata soal risuhnya sosial media mengaku-ngaku pernah menjadi korban sterilisasi lahan itu. Tinggal menunggu waktu, semua bisa meledak dan mengacaukan kehidupan nyata. Jika ini gagal, maka aku tidak bisa menjadi ratu di kerajaan papi" ucap Hyrin lagi.
Harry justru tersenyum getir.
"Jadi bulan madu dan kedatangannya di pulau adalah ulahmu?!" tanya Harry spontan.
"Aku hanya ingin mengalihkanmu sebentar, khawatir kau cemburu.. Terlebih aku juga ingin ia unjuk gigi dihadapanmu bersikap sok tau dan kemudian ia jatuh tak berani mengharapkan kemenangan apapun" ucap Hyrin.
"Aku tutup diskusi gila ini! Tujuanmu bahkan tidak mempengaruhinya sedikitpun. Kau justru melibatkan Dara" ucap Harry.
"Harry, gertakan Madona hanya menggiring masa membuat kegaduhan di seluruh negeri. jika aku berhasil membuat putra mahkota membantu meredakkan masa, maka kita tetap bisa mendirikan bandara dan rumah mewah disana. Madona kalah, dan sekertaris Dara, ia tidak akan terlibat sejauh bayanganmu" ucap Hyrin yakin.
"Bukan urusan kalah menang! Skenario yang ia buat bukan hanya itu!" tukas Harry lagi.
"Oke oke cukup. Aku kalah dalam perdebatan ini. Tapi atas kematian mami, aku akan menghancurkan madona dan papi" ucap Hyrin lebih serius.
Harry menghela nafas, tak seharusnya ia tidak membahas ini melalui ponsel.
"Satu hal Hyrin. Kamu mungkin akan terjebak lebih lama dengan putra mahkota" ucap Harry.
"Aku selalu memihakmu Harry, kita berada dalam rasa sakit yang sama. Kita kelak saling mencintai. Putra mahkota itu bodoh, aku tidak akan mati bersamanya. Aku selalu mengandalkanmu. Jadi, sekarang giliranmu yang menyelesaikan resiko resiko dari keputusanku. Maaf kita baru bisa bertemu lusa" ucap Hyrin mulai menurunkan intonasi berbicaranya, dan menutup ponselnya.
Dika melirik Harry, tatapannya berubah.
"Putar kemudi. Kita menuju rumah Dara" ucap Harry spontan.
Harry kembali menghubungi Dara
"Dara, apa kamu sudah di Apartemen?" tanya Harry spontan.
"Belum pak. Rencananya saya ingin berkunjung memberikan oleh oleh" ucap Dara.
"Baik. saya juga akan berkunjung" ucap Harry.
Dara menatap layar ponselnya. Ada apa Harry dengan tiba tiba ingin berkunjung?
Dika menghentikkan mobil, kemudian turun dari mobil seperti mengerti apa yang akan Harry perintahkan. Harry memegang kemudi, meninggalkan Dika yang berdiri di halte bus.
Dika kembali melihat pergelangan tangannya, tak lama kemudian taksi yang ia pesan datang.
Kali ini Harry tidak akan mengikuti skenario Hyrin atau nyonya Wijaya, bahkan Nyonya Madona. Ia tidak akan melibatkan Dara dalam urusan keserakahan ini.
Dara tertegun. Ia menyambut Harry di pelataran rumahnya. Pak dan bu Sono juga berdiri seraya tersenyum lebar menyambut Harry datang.
"Selain buah tangan dari sana, saya juga sudah menyiapkan 3 tiket berlibur untuk ayah, ibu mertua dan Karisa" ucap Harry dengan santun.
Pak dan bu Sono saling menoleh kearah Dara.
"Maaf pak, baru saja nyonya Wijaya mengubungi kami untuk bersiap menghadiri acara keluarga besar anda. Apakah anda belum menerima kabar dari nyonya wijaya?" ucap Dara spontan.
Harry mendehem lalu tersenyum lebar.
"Sepertinya saya justru akan menjadi orang kesekian yang ia hubungi untuk kepastian acara itu, tapi senenarnya acara itu sering diadakan, jadi mungkin bisa lain waktu kita hadiri. Bagaimana dengan ayah dan ibu mertua? Apakah lebih memilih berlibur atau datang ke acara itu?" tanya Harry spontan.
"Kami sudah meng iyakan akan datang nak" ucap pak Sono.
Harry meremas tangannya, lalu tersenyum dan mengangguk.
"Kalau begitu, Dara tolong hubungi perancang busana untuk datang ke rumah" ucap Harry mengakhiri percakapan.
Dara melambai.
Mobil Harry melesat menjauh meninggalkan Dara.
Bu Sono menoleh.
"Kenapa kamu masih saja memanggilnya dengan sebutan 'anda?' dan memamgginya pak? terdengar sangat formal sekali" tanya bu Sono tiba tiba.