The White Glove

The White Glove
diKarisa



"Aku tau kau punya segudang rahasia milik Harry, tapi aku harap tetaplah seperti ini. Menjaga nama baik suami itu lebih penting, walaupun bukan pak Harry, aku akan lebih dulu memberimu pernghargaan kenaikan level sebagai seorang istri ideal" ucap Merisa seraya tersenyum lebar.


"Thanks a lot Mer. Penghargaan ini lumayan membuatku semangat" ucap Dara.


Merisa tersenyum lebar.


Dara tersenyum.


Jam kantor selesai. Harry kembali meminta Dara pulang lebih dulu.


"Pas sekali, saya bertemu kamu di sini" ucap Dara seraya tersenyum pada Dika setelah Dara keluar dari lift menuju basement parkir.


"Apakah bu Dara yang tetap mengemudikan mobil pak Harry?" tanya Dika seketika, sesaat setelah ia melihat kunci mobil di tangan Dara.


Dara tesenyum lebar.


"Ya. Saya tetap menjadi sekertarisnya saat dikantor" singkat Dara dengan tenang. Dika mulai mengubah gurat wajahnya. "Oh ya, Dika. Apakah hubunganmu dengan Karisa berjalan dengan baik? Agenda akhir tahun memang padat, tapi tolong usahakan tetap menjaga komuniasi kalian ya?" ucap Dara lagi.


Dika hanya mengangguk seraya tersenyum lebar.


Dara melambai membawa mobilnya tanpa Harry. Hari ini jadwal Harry cukup padat, sedangkan Dara harus menyiapkan berkas pentingnya untuk dibawa besok pagi bersama Harry.


Dika melambai pada Dara. Ia bertetangga dengan Dara, namun rasanya semakin lama rasanya semakin tidak memiliki alasan bertamu sekalipun. Maka Dika pun mulai mengeluarkan ponselnya dan menelpon Karisa.


"Tersambung, tapi tidak diangkat" ucap Dika seraya membuka pintu mobil dan menghidupkan mesinnya.


Dika membuka sepatunya, meletakkan semua barang-barangnya dengan sangat teratur.


Ponsel Dika berdering, dan ketika akan diangkat justru segera mati.


Dika kembali menelponnya.


"Jangan berani-berani menelpon lagi!" tukas Karisa sebelum Dika berbicara, dan Karisa justru menutup ponselnya.


Dika menatap layarnya dengan terkejut.


"Jangan berani-berani? Memangnya apa yang membuatku takut? Kelihatannya dia masih marah besar atas kejadian itu" ucap Dika dengan spontan, namun ia pun tidak menggubris Karisa lagi.


Beberapa saat berlalu, dan ponsel Dika berdering lagi setelah Dika selesai menyantap makan malamnya.


Dika tersedak, dan segera keluar dengan terburu-buru.


Namun saat ia keluar dari unit apartemennya, ia justru menghentikan langkahnya saat melihat Karisa sedang berdiri di depan pintu apartemen Dara. Karisa mencoba memejamkan kedua matanya tidak ingin Dika menyapanya, dan begitu pula Dika tidak berniat berbincang dengan siapapun setelah mendengar kabar buruk dari ponselnya.


Pintu apartemen Dara justru terbuka saat Dika akan melewatinya. Dika pun menghentikan langkahnya.


"Selamat malam bu Dara" ucap Dika dengan spontan.


"Ah bertemu dengan kamu lagi. Sepertinya Karisa yang merencanakan datang seraya membawa makanan kemari" ucap Dara seraya tersenyum lebar dan mengambil kantong makanan yang Karisa bawa.


"Kalau ayah tidak memaksa, maka tidak mungkin aku mau kesini" ucap Karisa dengan ketus seraya melirik kesal pada Dika.


Dika memandang Karisa dengan serius.


"Kami memang tidak sengaja bertemu di sini bu" singkat Dika.


Dara tersenyum lebar melirik Karisa.


"Benar mba!" ucap Karisa dengan spontan.


"Bu, sepertinya saya ingin berbicara dengan Karisa sebentar di luar" ucap Dika dengan spontan.


"Dia penipu!" ucap Karisa spontan.


"Menipu?" tanya Dika dengan heran.


"Iya. Kamu menipu saya dan mba Dara!" ucap Karisa dengan spontan.


Dika menghela nafasnya dalam-dalam.


"Biar aku jelaskan di luar supaya kamu mengerti. Tidak disini karena ini hanya tentang kita berdua" ucap Dika dengan serius.


"Tidak. Semua ini juga ada hubungannya dengan mba Dara dan soal sikapmu waktu itu!" ucap Karisa lebih tegas.


"Kenapa jadi menghubungkannya dengan mba?" singkat Dara spontan.


"Mengaku lah! Waktu itu apa yang yang kamu lakukan di sini dan aku memergokimu dan.." ucap Karisa spontan.


"Apanya?!" tanya Dika spontan.


Dara menghela nafasnya. Hari ini bersama kisah Harry justru lebih membingungkan. Terlebih besok katanya ia akan berbulan madu dengan Harry. Menyiapkan hal yang membingungkan dengan sikap Karisa yang lebih membingungkan.


"Dika bawalah sebentar keluar. Katanya akhir-akhir ini dia juga merasa suntuk dengan tugas kuliahnya" singkat Dara tersenyum lebar seraya mengakhiri percakapan, dan menutup pintu apartemennya lagi.


"Mba,..." singkat Karisa saat Dara justru hendak menutup pintunya.


Karisa justru menekuk wajahnya.


"Ayo bicara diluar saja" singkat Dika.


"Aku mau disini!" ucap Karisa.


"Aku tidak bisa" singkat Dika.


Karisa terus berjalan dengan cepat mengikuti langkah kaki Dika


Tak lama kemudian, Dika menghentikan langkahnya saat mereka sampai di pelataran apartemen.


"Kamu tunggu disini sebentar ya?!" ucap Dika spontan tanpa cela, lalu ia justru berlari menjauhi Karisa.


Karisa menoleh ke kanan dan ke kiri seperti sedang dipermainkan. Namun, tak lama kemudian setelah menunggu seraya terus menggerutu, suara klakson terdengar. Brian membuka jendela mobilnya.


"Masuklah Karisa" ucap Dika dengan spontan.


Karisa melotot, dan ia justru membalikkan badannya menjauhi Dika. Brian keluar dari mobilnya dan dengan spontan menghampiri Karisa.


"Iya! Jadi kuperingatkan jangan pernah menggangguku atau mba Dara!" ucap Karisa dengan penuh amarah.


"Ayolah kita bicara di jalan. Tapi kalau kamu tidak mau, kita bicarakan nanti saja ya?. Tolong jangan katakan apapun pada bu Dara tentang kita. Maaf aku benar-benar harus pergi" ucap Dika tanpa jeda, dan ia justru beranjak menuju mobilnya lagi.


Kairsa menoleh, dan ia justru berjalan mengikuti langkah Dika. Dika membuka pintu mobilnya seraya tetap melihat Karisa.


"Kita bicara sekarang, karena aku tidak mau ada urusan apapun lagi denganmu!" singkat Karisa memperingatkan.


Dika mengangguk, dan menginjak pedal gas mobilnya tanpa mengatakan apapun.


Karisa melirik lagi. Wajah Dika justru terlihat panik menoleh ke kanan dan ke kiri selama menyetir.


Karisa mendehem.


"Oh iya Karisa, Apa maksudmu tadi kalau aku menipu kamu dan bu Dara?" ucap Dika dengan spontan.


"Justru aku yang bertanya, apa yang kamu dapatkan dari menjadi kekasihku? Tidak. Tidak. Pertanyaannya ku ganti. Siapa kamu sebenarnya?" tanya Karisa dengan spontan seraya menoleh.


"Aku Dika, aku tidak sengaja mengatakan aku ingin menjadi kekasihmu, tapi tidak disangka kamu benar-benar mengatakannya pada bu Dara kalau kita ini sepasang kekasih. Lalu apanya yang disebut menipu? Aku benar-benar menghubungimu dan mengajakmu berkencan seperti seorang kekasih pada umumnya" ucap Dika lagi.


"Harusnya ada kesepakatanku juga! Kamu bahkan menghubungiku seperti seorang penguntit. Bagiku semua itu menjadi sangat menakutkan, tapi aku harus melawan orang sepertimu!" tukas Karisa dengan spontan.


Dika justru terdiam sejenak memfokuskan pandanganya kearah seberang jalan.


Dika mulai menghentikan mobilnya. Tiba-tiba.


"Dika?!" tukas Karisa dengan spontan saat Dika justru keluar dan segera berlari menyebrang kearah trotoar.


Karisa pun keluar ketika Dika menarik tangan seorang wanita muda yang menoleh ke kanan dan kekiri.


Wanita muda itu terkejut, namun saat ia menyadari bahwa yang menariknya adalah Dika, wanita itu spontan memeluk Dika dengan sangat erat seraya tetap memegang tongkatnya. Dika pun mendekapnya dengan erat seraya membelai kepala wanita itu berulang kali.


Karisa mulai mengerti, betapa berartinya gadis dalam dekapan Dika itu.


Dika pun menuntun gadis itu kearah mobil.


Sebelum Karisa berbicara, Dika justru mengisyaratkan Karisa untuk tidak mengatakan apapun. Maka Dika mulai membuka pintu mobilnya, tetapi wanita yang ia tuntun justru mengelak masuk.


"Sudah aku bilang, aku tidak mau pulang Dika! Jangan bawa aku pulang!" ucap wanita itu yang tak berkedip melihat arah yang tak beraturan.


"Itu tidak mungkin! Tolong jangan bersikap seperti ini!" ucap Dika dengan sangat serius.


"Aku ingin ikut denganmu! Tinggal bersamamu dan itu yang aku mau sekarang!" ucap wanita itu lagi.


"Tidak ada yang menemanimu selama aku bekerja. Tolong mengertilah!" ucap Dika dengan spontan.


"Dan kamu, kenapa kamu justru melanggar janji?!" tanyanya spontan.


"Pekerjaanku benar-benar menyita waktuku, bahkan di akhir pekanku juga. Sekarang tanggung jawabku semakin banyak di sana. Tapi setelah akhir tahun ini, aku pastikan jadwalku kembali normal. Aku selalu berkata jujur padamu. Jadi tolong ya? Ayo kita pulang. Kita bicarakan semuanya dirumah". ucap Dika lagi lebih serius.


Wanita itu terdiam, dan Dika berhasil membuatnya masuk kedalam mobil. Karisa ikut membuka pintu mobil belakang dengan spontan. Wanita itu menoleh.


Karisa meringis.


"Siapa?. Dika?! Kamu bersama siapa?" tanya wanita itu dengan spontan.


Dika masuk dan ia hanya tetap diam tak bersura seraya memakaikan sabuk pengaman wanita disisinya. Wanita itu justru memegang tangan Dika dengam erat masih menanyakan pertanyaan yang sama.


"Teman" singkat Dika.


"Temannya Dika? Oh Aku Lea. Maaf aku tidak menyadari ada orang lain disini" singkat Lea seraya tersenyum ramah.


"Ya, tidak mengapa. Oh kamu bisa memanggilku Karisa" singkat Karisa seraya tersenyum juga.


"Seorang wanita? Dika tidak pernah berteman akrab dengan wanita. Maaf, apa kamu ini kekasihnya Dika?" tanya Lea dengan tiba-tiba.


Karisa melirik Dika, lalu terdiam sejenak.


"Bukankah kita juga berteman Lea?" tanya Dika lagi.


"Jadi dia memang kekasihmu. Aku tau kamu sedang tidak berkata jujur." ucap Lea dengan spontan.


Dika dan Lea justru terdiam cukup lama, Dika mengemudikan mobilnya tanpa mengatakan apapun.


"Maaf Karisa situasinya jadi seperti ini. Aku hanya belum mengetahui hubungan kalian" singkat Lea lagi beberapa saat kemudian.


Sesungguhnya Karisa masih tidak mengerti dengan situasi seperti ini. Tapi satu hal yang Karisa mengerti bahwa wanita ini sangat menyukai Dika. Sangat kentara dari caranya berbicara. Harusnya mereka bisa saling menyukai, karena harusnya Dika juga terlihat merasakan rasa yang sama saat mereka berpelukkan.


"Lea, saat ini cobalah saling menghormati privasi masing-masing. Hanya itu yang kita butuhkan" singkat Dika dengan tegas.


Karisa tau. Lea sedang mencoba menutupi air matanya atas ucapan Dika. 'Dika keterlaluan' hanya kalimat itu yang sejak awal berbisik di benak Karisa.


Karisa juga turun dari mobil setelah wanita itu sampai di rumahnya. Wanita muda itu segera meminta izin masuk untuk beristirahat. Karisa tau perasaan wanita itu sedang sangat hancur berkeping-keping sekarang.


"Lea, aku benar-benar tidak ingin kamu beranggapan buruk tentang kami" ucap Karisa dengan spontan.


Lea tersenyum.


"Tidak. Tidak mungkin aku seperti itu. Justru aku senang bertemu denganmu Karisa, lain kali mampirlah kemari" ucap Lea seraya menggenggam jemari Karisa.


Seorang wanita paru baya membuka pintu seraya memeluk dan mengecup putrinya dengan erat tanda khawatir yang telah terobati.


Setelah Dika berpamitan, ibunya mengatakan bahwa semangat Lea semakin lama semakin menurun sejak Dika tidak pernah datang di beberapa bulan terakhir ini, ia juga meminta Dika untuk sering-sering datang lagi mengunjunginya.


Dika terdiam sesaat, lalu hanya mengangguk kecil.


"Dia gadis yang baik. Cantik juga. Apa kamu menolaknya karena kekurangannya? Memangnya sudah tidak ada cara lain untuk mengobatinya?" tanya Karisa dengan spontan setelah ia dan Dika berada dalam perjalanan kembali ke apartmen.


"Sebentar lagi dia mendapatkan donor untuk kedua matanya. Aku hanya tidak mau dia berharap banyak tentang hubungan kami setelah ia bisa melihat lagi" ucap Dika.


"Memangnya kenapa? Memangnya ada wanita lain?" tanya Karisa dengan spontan.


"Bukankah sekarang aku sudah memilikimu? Bukankah kita sudah berciuman? Sebenarnya ciuman kita saat itu sangat mengesankan karena tulang hidungku hampir patah karenamu" singkat Dika spontan, mulai tersenyum