
Dara menekuk wajahnya, dan Merisa mulai terkekeh saat Dara menghubunginya lagi.
Merisa mengabarkan bahwa rapat Harry benar benar baru selesai tengah malam. Merisa tau kabar itu, dari kenalannya yang berada digedung 3.
"Pagi ini, belanja sepuasnya saja, sebelum bos Harry membuatmu sungkan membeli barang apapun di sana!" ucap Merisa dengan spontan.
Ini membingungkan.
Tidak ada satu halpun selain Harry, satu-satunya hal yang membuatnya semakin tidak mengerti.
Pesawat telah mendarat dengan baik kemarin sore. Jika Dara tidak memutuskan menyusul Harry ke kantor kemarin, dan tidak terbang mengikuti jadwal pesawat yang Harry berikan, mungkin Harry akan berpikir bahwa Dara tidak terlalu mau bulan madu. Sungguh, Dara mulai penasaran dengan maksud Harry membawanya ke pulau ini.
Suasana hati Dara tetap tidak sebaik angan yang pupus, karena Harry membiarkannya terbang melintasi langit sendirian bahkan langit yang belum pernah ia lewati selama ini.
"i'll shopping, thanks for offering me the car, but i'll go with taxi" singkat Dara seraya menjawab pelayan hotel yang sangat ramah. Harry telah memesan sebuah kamar yang sangat besar nan megah dan seperti biasa pula tanpa Harry di dalamnya.
Dara mulai menikmati hari itu di pulau kecil yang indah.
Tersenyum lebar melihat megahnya lautan biru yang seolah bersinar, berkilau memantulkan cahaya surya.
Nyiur menari mengiringi suara ombak yang berdebur hangat.
Mungkin rasanya tidak akan sesepi ini jika Harry ada disini, jika pun ada Harry, entahlah Dara bahkan sudah tidak terlalu akrab lagi dengannya sejak menikah.
Dara benar benar menghabiskan pagi di pantai, menyusuri jalan dan mampir ke pusat oleh-oleh, menikmati kesendiriannya.
Apa benar Harry akan datang? Terkadang bisikkan itu justru muncul seenaknya mengolok-olok harapan yang besar.
Mustahil Harry lupa, tapi bisa saja ia lupa.
Dara benar benar risau.
Awan bahkan berubah kelabu.
Air hujan turun dari langit membasahi Dara yang berjalan tak berarah di pulau ini. Semakin malam, hujan justru semakin deras. Sinyal menghilang dan semua barang belanjaan Dara basah.
Dara berlari mencari kendaraan apapun yang bisa membawanya kembali. Udara justru semakin dingin hingga dengan gemetar, Dara mengambil kartu apartemen dalam tas slempangnya.
Dara tersenyum tipis.
Harry justru telah duduk di sofa besar ruang tamu dalam kamar hotel itu seraya membaca buku tebal taktik bisnis konglomerat.
"Saya kehujanan pak" singkat Dara spontan saat Dara terkejut melihat Harry ternyata benar-benar datang. Harry bahkan belum mengatakan apapun, dan baru melirik kearah Dara.
"Kamu juga melewatkan waktu makan malam" singkat Harry yang masih duduk di sofa ruang tamu seraya kembali meletakkan bukunya diatas meja kaca yang mewah.
"Saya akan kembali setelah mengganti pakaian" singkat Dara.
Dara menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia baru menyadari bahwa hanya ada satu kamar utama di hotel mewah ini.
Dara membuka lemari, dan sudah ada pakaian Harry yang telah tertata rapi di lemari kamar itu juga.
"Apa ini benar-benar bulan madu?" tanya Dara spontan pada dirinya sendiri.
Dara spontan menggelengkan kepalanya dan segera mengganti pakaian basahnya.
Dara keluar dari toilet, lalu menoleh.
Harry sudah bersandar, lalu menoleh kearah Dara, dan mulai berdiri seraya melepas setelan atas piyamanya.
Harry tetap berjalan menghampiri Dara.
"Apakah anda ingin mandi?" tanya Dara spontan.
"Saya ingin melakukannya sekarang" tanya Harry spontan.
Dara melotot.
"ma..maaf?!" tukas Dara spontan.
"Bulan madu" singkat Harry.
Dara tersenyum tipis.
"Tapi, bukankah saya dan pak Harry belum melakukan hal yang romantis?" tanya Dara spontan.
"Untuk apa? Kita sudah lama saling, sudah menikah dan itu sudah cukup. Bukankah kamu juga mengerti kenapa saya memintamu datang ke tempat ini?" ucap Hanry.
Dara terdiam sejenak.
Mulai kaku mencoba menatap dalam dalam kedua mata Harry.
"Apa, saya disini hanya untuk ini? Bukankah saya akan diceraikan juga?" tanya Dara spontan.
"Kamu pernah mengatakan kamu ingin menunjukkan rasa cinta yang kamu miliki, bagaimana maksudnya?" tanya Harry.
"Apakah rasa cinta saya sudah berbalas?" tanya Dara lagi.
Dara spontan berjalan mundur, lalu bersandar di dinding.
"Jadi hal romantis seperti apa yang sedang kamu maksud?" tanya Harry.
Semua kata dalam benar Dara hilang seketika.
"Makan malam" ucap Dara spontan, menjawab tatapan tajam menawan, memenjarakan hati siapapun yang berani memandangnya.
"Saya sudah makan malam" singkat Harry.
"Saya belum" singkat Dara.
"Lalu setelah makan?" tanya Harry mendesak
Dara justru terdiam lagi, mulai mengendalikan hatinya.
"Apakah cinta saya sudah berbalas?" tanya Dara lagi.
Dara menatap Harry lamat -lamat. Wajah Harry terlihat kesal meski ia tak menunjukkan sikap apapun selain hanya diam.
"Bagaimana rasa romantis yang kamu inginkan selama ini?" tanya Harry spontan.
"Sangat enak" singkat Dara.
"Setelah ini, apa maksud lain dari kata romantismu?" tanya Harry lagi.
Dara tertegun
"Kenapa saya masih diberikan pilihan?" tanya Dara lagi.
"Saya ingin mendapatkan bulan madu itu sebagai balasannya" singkat Harry.
Wajah dara justru memerah.
Kenapa rasanya justru tidak siap saat Harry yang memintanya?!
"Bagaimana jika kita berkeliling pulau lebih dulu?" tanya Dara lagi.
"Lalu?" tanya Harry lagi.
"Mungkin" singkat Dara.
Harry menghela nafas, tak mengerti jalan pikiran Dara sedikitpun, Harry justru menyandarkan tubuhnya di punggung kursi.
"Lain kali, sebaiknya ada pesan yang kamu titipkan, meski kamu hanya ingin berkeliling melihat pulau ini" ucap Harry mengalihkan pembicaraan.
"Ponsel saya hilang sinyal setelah keluar dari hotel. Saya baru menyadari tidak ada koneksi internet, akhirnya saya membeli kartu provider baru, tidak ada masa hangusnya juga" ucap Dara dengan antusias.
Harry melirih heran.
"Apa yang kamu pikirkan saat memilih pakaian untuk masuk diskotik, dan mengganti nomor ponsel hanya karena sinyal?" tanya Harry spontan.
"Hanya memikirikan pilihan yang paling tepat" ucap Dara spontan, dan Harry justru menatap Dara lebih tajam.
"Kamu bisa memakai jaringan internet di semua wilayah ini, saya pernah memberimu lembar akses internet tanpa batas yang bahkan bisa kamu gunakan, jika kamu berada di ujung garis laut sekalipun. Kemudian diskotik itu bebas, mana mungkin wanita cukup umur dilarang masuk?" ucap Harry lagi.
Dara justru tersenyum lebar mendengar ucapan panjang Harry.
"Ada apa?" tanya Harry heran.
Dara hanya menggeleng. Bagi Dara ucapan Harry seperti ungkapan perhatian.
Harry mulai menggenggam jemari Dara.
Dara salah tingkah, lalu mengangkat gelas teh yang cukup panas. Ia spontan tak sengaja menumpahkannya dan gelas itu pecah.
Harry spontan menggenggam jemari Dara dengan erat di atas meja, saat Dara bersiap menunduk mengambil pecahan gelas.
"Apa keberadaan saya sering membuatmu bersikap kacau dengan tiba-tiba? Terkadang kamu benar-benar terasa berbeda, dari sekertaris Dara yang saya lihat sempurna di hadapan semua orang dengan Dara yang saya lihat saat ini" ucap Harry spontan, masih menatap Dara *****-***** dan menggenggam jemarinya.
"Ha.haatchu" ucap Dara dengan bersin.
Harry melepaskan dekapan tangannya lalu bersandar membuang wajahnya.
Dara justru bersin berulang kali.
"Ma.ma... Hatcuuh Maaf pak!" ucap Dara spontan.
Harry berdiri dan beranjak, namun Dara justru mendahului Harry masuk ke kamar seraya mengambil bantal dan tambahan selimut.
"Sepertinya saya akan flu. Lebih bik saya istirahat di luar" ucap Dara spontan, lalu mulai merapikan bantal dan selimut diatas sofa ruang tamu.
Harry masih terdiam.
Dara menoleh, Harry justru menarik tangan Dara, dan keduanya terjatuh diatas Sofa...