
Dara melangkahkan kakinya lebih dekat.
"Apakah anda merasa takut untuk mencintai seseorang?" tanya Dara dengan serius.
Harry kembali memandang Dara.
"Bagaimana kalau perjanjian pernikahan ini kita perjelas?" tanya Harry spontan.
"Kalaupun harus diceraikan, saya ingin sungguh-sungguh menunjukkan rasa cinta saya dan izinkan kita mencobanya lagi" ucap Dara dengan tegas.
Harry menarik tangan Dara, kemudian meraih wajah Dara dan mengecup Dara lagi.
Harry spontan meredupkan lampu utama kamar megah itu.
Harry tertegun melihat Dara gemetar. Ia pun berbisik pada Dara perlahan.
"Apa.. ini sungguh pertama kalinya?" tanya Harry.
Dara mengangguk memandang Harry dalam-dalam.
Keduanya menenggelamkan diri pada malam yang panjang. Suasana membawa ketenangan di malam kedua bulan madu mereka.
Bagi Dara, malam ini adalah pembuktian cinta, namun bagi Harry, tujuan Harry datang telah terpenuhi.
Namun, entah mengapa rasanya justru berbeda.
Hari berganti.
Harry membuka kedua matanya, melirik melihat jam dinding. Jam 10 pagi. Ia tidur sangat nyenyak tadi malam. Kenapa bisa senyenyak ini bermalam bersama Dara?.
Harry berjalan keluar kamar dan mendapati hidangan sarapan sudah tersaji di atas meja, namun ia tidak mendapati Dara dimanapun.
Apa mungkin Dara pulang lebih dulu? Rasanya tidak mungkin.
Harry pun segera membuka lemari pakaiannya. Ternyata benar pakaian Dara masih tertata rapi didalamnya.
Harry kembali berjalan keluar hendak menyantap sarapannya, tapi ia spontan melotot. Ia teburu buru mencari ponselnya, mencoba menghubungi Dara.
Dara meninggalkan memo singkat diatas meja untuk Harry.
💌Selamat menyantap sarapan anda pak, maaf saya tidak bisa menemani anda pagi ini. Saya bertemu nyona Madona saat berbelanja tadi pagi, ia menawarkan kopi dan ia bahkan bersedia menunggu saya selesai memasak sarapan anda. Saya tidak bisa menolaknya💌.
Dara tersenyum lebar
Nyonya Madona mengangguk, lalu tersenyum.
"Ya, saya memutuskan pergi menenangkan diri 3 tahun lalu setelah keluar dari tempat itu. Saya bersyukur, itu keputusan yang benar, dan masyarakat justru lebih menghargai saya disana" ucap nyonya Madona mulai menyeruput kopinya.
"Tapi nyonya, setelah film dari novel anda dirilis dan masyarakat dalam negeri akhirnya mengerti cerita yang sebenarnya, anda benar-benar memiliki banyak penggemar, bahkan saya salah satunya" ucap Dara seraya tersenyum lebar.
Nyonya Madona tertawa riang.
"Kalau saya menolak wawancara dengan stasiun tv di pulau ini, mungkin saya tidak akan mendapatkan obrolan semenarik ini dari istri Tuan Harry. Ah, Tuan Harry... dulu sampai sekarang, dia sangat luar biasa. Anak yang pintar, sangat pintar" ucap Nyonya Madona lagi masih tersenyum riang.
Dara mengangguk membenarkan ucapan nyonya Madona. Sejak berada di pulau ini, Dara merasa, bahwa ia benar-benar sangat beruntung memiliki harapan-harapan yang berangsur berubah menjadi kenyataan. Bahkan Dara mulai memberanikan diri untuk berharap, agar Harry merubah keputusan dan tidak jadi menceraikannya.
Dara dan nyonya Madona menoleh, saat Harry membuka pintu kedai kopi. Harry segera menghampiri Dara dan nyonya Madona.
"Mengapa anda berkenan datang dan berada disini?" tanya Harry spontan.
"Kami sedang minum kopi. Tadi pagi kami tidak sengaja bertemu" ucap nyonya Madona.
Dara justru masih terdiam memandangi penampilan Harry.
"Tapi benar-benar tidak terduga jika sampai bertemu di pulau ini"ucap Harry spontan.
"Sudah sejak jauh jauh hari saya menjadwalkan wawancara dan jumpa penggemar di pulau ini" ucap nyonya Madona.
Harry tak menanggapi dan segera menoleh kearah Dara.
"Apa masih ada yang ingin dibicarakan?" tanya Harry spontan.
Dara menoleh kearah nyonya Madona.
Nyonya Madona tersenyum
"Saya rasa sudah waktunya saya pergi juga. Nyonya Harry Wijaya, terimakasih untuk waktunya" ucap Nyonya Madona.
Dara tersenyum lebar.
"Justru saya merasa senang dengan tawaran kopi ini. Terimakasih" ucap Dara.
"Saya akan menghubungi nyonya dilain waktu" ucap nyonya Madona seraya mengedipkan satu matanya kearah Dara.
Nyonya Madona berlalu dari tempatnya.
"Dara, lain kali tidak perlu membuang waktu melakukan pembicaraan santai yang sia-sia" ucap Harry seraya berjalan keluar.
Dara mengikuti langkah Harry yang cepat.
"Apakah anda baru saja bangun dan terburu-buru mencari saya pak?" tanya Dara, dari belakang langkah Harry.
Harry menghentikan langkah cepatnya.
"Ya, dan kenapa kamu tidak mengangkat ponsel?" tanya Harry lagi.
"Bukankah saya pernah mengatakan, saya mengganti nomor ponsel saat tiba disini?" jawab Dara.
Harry menghela nafasnya dan berjalan dengan cepat kembali ke Hotel.
"Ternyata anda belum sarapan" ucap Dara, ketika mendapati masakan Dara yang belum tersentuh sedikitpun.
"Apakah anda mulai khawatir jika saya tidak ada?" ucap Dara lagi
"Kenapa saya harus khawatir?" bantah Harry.
Dara masih tersenyum
"Semakin siang, angin semakin kencang. Jadi sebaiknya anda memakai jaket juga, jika ingin berkeliling dengan piyama" ucap Dara.
Harry menoleh, dan pantulan diri Harry dari cermin yang mengarah ke dapur membuatnya tersadar, bahwa ia berjalan mengitari wilayah hotel, masih dengan piyama dan sandal hotel.
"Dara, lain kali jangan menyiapkan piyama untuk tidur!" tukas Harry.
Dara spontan terkekeh.
Harry spontan mengerti, bahwa Dara sedang menyindir sikapnya tadi saat merasa khawatir.
"Kenapa kamu tidak menemani saya berkeliling? Besok pagi bangunkan saya. Kita tetap harus menjaga stamina untuk setiap malam, sekarang" timpal Harry.
Pipi Dara spontan merona, lalu mendehem.
"Sarapan anda sudah siap, silahkan pak" ucap Dara
Harry duduk, merasa menang.
Dara memandang Harry lamat-lamat.
"Tadi beliau mengundang saya menghadiri acara amal di gedung putih bersama presiden. Acaranya pekan depan" ucap Dara spontan.
"Tidak perlu datang" singkat Harry, mencoba tak menggubris.
"Kenapa?" tanya Dara spontan.
"Apa posisimu dalam kegiatan amal itu? Membantunya mencari dukungan politik?" Tanya Harry.
"Kenapa kesimpulan anda begitu?" tanya Dara.
"Bukankah dia selalu pergi dengan para wartawan? Terlebih bersama partai Pemerintah. Beritanya akan muncul di semua media, dia mengincar kepemerintahan" ucap Harry dengan serius.
"Bukankah beliau tidak berpihak dalam partai manapun? Beliau bahkan tidak pernah terjun dalam dunia politik" ucap Dara.
"Lalu vonisnya dalam dunia pemerintahan? Apakah pengadilan salah memberikan keputusan 20 tahun padanya?" ucap Harry semakin serius.
"Saya tidak menyimpulkan semua itu. Pak, sebaiknya anda membaca novel, atau menonton kisah beliau pak" ucap Dara spontan, saat melahap sarapannya.
"Artinya menyudutkan satu pihak dalam cerita?" tanggap Harry.
Dara menggeleng.
"Di dalamnya tidak mengungkit peristiwa lain, selain intrik para pemerintah politik yang menjebaknya masuk bui, meskipun ia tidak berada dalam lingkar politik di masa itu" ucap Dara lagi.
"Ada tangan konglomerat yang memanipulasi semuanya keterkaitannya dengan partai dan ceritanya dibalut samar dalam kisah itu" jawab Harry.
"Jadi, anda sudah menontonnya?" tanya Dara spontan.
Harry terdiam sejenak.
"Belum, dan lain kali jangan melibatkan diri dalam aktivitasnya, bahkan berinteraksi lebih akrab dengannya, dan tolong jangan menanyakan keputusan ini" singkat Harry.
Dara terdiam, dan hanya mengangguk mendapati wajah Harry yang berubah.
Harry spontan menggenggam jemari Dara.
"Masakan yang lezat. Terimakasih" ucap Harry spontan.
Dara tersenyum lebar