
"Kamu pasti berencana merebut harta pak Harry dengan bekerja di perusahaannya kan? Menghilangkan fokus pak Harry melalui mba Dara. Kata mba Dara kamu juga ditempatkan bagian keuangan. Pasti kamu sedang menyabotase laporannya kan? Iya kan?" sambung Karisa lagi.
Dika menoleh dan justru memandang dengan heran.
"Harusnya aku tau kalau aku dan Lea adalah korban penipuan" ucap Karisa lagi.
"Apa yang membuatmu berpikir aku seperti itu?" tanya Dika dengan spontan.
"Lea bilang kamu tidak mudah dekat dengan wanita, perempuan secantik Lea juga kamu abaikan. Jika kamu tidak bisa mencintai wanita, artinya kamu tertarik dengan hal lain selain itu" singkat Karisa lagi.
"Seperti apa?" singat Dika.
"Apa lagi kalau bukan harta?! Eh. Tidak-tidak. Jabatan! Iya pasti jabatan kan? Ya kan?" ucap Karisa lagi.
Dika menghela nafasnya menyadari sikapnya yang tidak seharusnya mendengar dengan serius setiap apa yang Karisa katakan.
"Bukan keduanya" singkat Dika.
"Bukan?" tanya Karisa dengan spontan.
Karisa justru terus menebak-nebak sepanjang perjalanan dengan menyebutkan banyak kata tak beraturan yang tak dibenarkan oleh Dika.
"Jadi apa?" tegas Karisa lagi
"Mulailah untuk tidak berpikiran buruk soal orang lain" jawab Dika.
"Banyak alasan kenapa aku harus berhati-hati" ucap Karisa lagi.
Dika menoleh sesaat, melirik Karisa dengan serius. Bertanya di dalam hati, benarkah semua ini buruk?
Semua rangkaian hidup Dika mulai seperti lelucon saat melihat gadis tak tau apa-apa menebak nebak seluruh kemungkinan akan nama Dika. Semua tidak sesederhana itu.
"Rumahmu dimana? Biar aku antar" singkat Dika tiba-tiba.
Karisa menoleh. "Aku pulang sendiri! Motorku masih di parkiran apartemen" singkat Karisa.
"Nanti petugas akan mengantarnya ke rumahmu setelah kita sampai di rumahmu" singkat Dika.
"Tidak-tidak. Aku tidak mau memberikan data priadiku. Ini sama saja aku justru membantumu melakukan rencana sabotase" ucap Karisa lagi.
"Aku tidak pernah berniat menjadi seorang kriminalitas. Memangnya aku memiliki tampang kriminalitas? Motor-motor yang jatuh tempo hari juga segera aku ganti rugi. Kata pak satpam kau datang marah-marah malam itu, mereka takut melihat emosimu sampai-sampai menghubungiku berulang kali" singkat Dika.
"Aku tidak mau bertemu denganmu lagi setelah ini! Aku janji tidak akan melaporkanmu ke polisi, tapi berhentilah mengganggu keluarga mba Dara setelah ini!" singkat Karisa.
"Aku tidak bisa mundur, apalagi kita baru beberapa pekan menjadi sepasang kekasih. Seorang pria disebut buaya kalau hanya menjalin hubungan sebentar! Silahkan saja melaporkanku ke polisi, tapi setidaknya kau harus memiliki bukti!" ucap Dika.
"Apa yang sebenarnya sedang kamu incar?!" tebak Karisa dengan spontan.
"Waktu!" ucap Dika mulai merasa kesal.
Dika pun menghentikan mobilnya saat mereka sampai di pelataran gedung apartemen.
"Waktu? aku tau jawaban yang paling tepat sekarang. Yang ini pasti tidak salah" singkat Karisa tiba-tiba.
Dika mulai melepas stir mobilnya, lalu menghela nafasnya dalam-dalam.
"Oke kekasih. Jadi apa yang akan kamu bahas lagi kali ini? Aku memang terlihat cukup tampan dari sisi ini. Apa kamu mulai terpesona?" tanya Dika seraya menoleh.
"Aku tidak akan pernah menyukaimu, dan aku tau begitu juga denganmu. Bersikaplah normal, karena kita tidak akan pernah saling mencintai! Sampai kapanpun!" ucap Karisa dengan spontan seraya melepas sabuk pengamannya, lalu turun.
Dika tersenyum, lalu mengusap kepala Karisa.
"Binggo. Hubungi aku kalau kau sudah sampai rumah" singkat Dika.
Karisa mendehem, menatap Dika dengan tatapan tajam.
"Tidak akan, karena aku tidak pernah punya urusan denganmu lagi setelah ini, dan jangan pernah menghubungi karena pasti tidak terlalu penting!" ucap Karisa.
Karisa segera turun dan pulang ke rumahnya dengan terburu-buru. Ia baru ingat, bahwa ia harus segera pulang agar ibunya tidak mengomel memintanya keluar dari grup futsal. Memang selalu itu ancamannya.
Ponsel Karisa bergetar.
Layar bertuliskan "penguntit" menghubungi Karisa.
"Sudah ku bilang jangan menghubungiku lagi!" ucap Karisa spontan.
"Kenapa kamu mau mengangkatnya?" singkat Dika.
"Karena kau pasti akan menelponku terus!" ucap Karisa dengan ketus.
"Benar. Aku ingin memastikan kekasihku sudah sampai dirumah atau belum" ucap Dika spontan.
Dika justru tersenyum lebar.
"Mana yang dunia nyata untukmu dan untukku?" tanya Dika spontan.
"Pilih saja sendiri. Intinya aku akan memblokir nomormu setelah ini!" ucap Karisa Tegas.
"Tapi kunci-kunci, dengan gantungan berinisial "A", bolehkah dibuang?" tanya Dika
Karisa segera merogoh tasnya.
"Kamu pengganda kunci atau penjaga kampus?" tanya Dika lagi.
"Jangan di buang! Ada di kursi belakang mobilmu! Awas ya! Jangan dibuang!" ucap Karisa spontan.
"Mungkin sudah dibuang. Aku meminta petugas parkir membersihkan mobilku juga tadi" singkat Dika mulai terkekeh.
"Cari sampai ketemu! Awas ya kalau hilang!" ucap Karisa lebih kesal.
"Kapan bertemu lagi?" tanya Dika.
"Berikan saja ke pos satpam kampusku! Aku tidak mau bertemu denganmu selamanya" ucap Karisa tegas.
"Aku buang saja, karena tidak terlalu penting"
"Jangan seenaknya!" ucap Karisa mulai berbicara dengan lantang.
"Kapan berkencan?" singkat Dika lagi.
"Jangan mengancam!" ucap Karisa
"Di kafe lama, pekan depan, sore hari. Kita berkencan di sana" ucap Dika dengan tegas
Karisa justru menutup ponselnya
"Dasar bapak-bapak menyebalkan" ucap Karisa dengan lirih.
"Bapak-bapak menyebalkan?" tanya bu Sono dengan spontan yang muncul tiba-tiba dari pintu Toko.
"Ya bu. Temannya mba Dara memang rata-rata sudah jadi bapak-bapak, ada juga yang menyebalkan" singkat Karisa seraya berjalan memasuki kamarnya.
"Eeeh! Itu ada makanan dari bu Ani. Tadi beliau mampir" singkat bu Sono.
Karisa menoleh.
"Sama mas Adit juga bu?" tanya Karisa dengan spontan.
"Tidak. Tapi katanya salam untukmu. Kapan kekasihmu dibawa ke rumah? Katanya bukan anak futsal, artinya harus segera direstui" tanggap bu Sono lagi.
"Aku sudah putus" singkat Karisa.
"Hah? Yang benar?" tanya bu Sono lebih heran.
Karisa terkekeh.
"Tergantung mba Dara. Tidak tau lah... Oh, bu.. Mana kuenya mas Adit?" tanya Karisa spontan.
Bu Sono menoleh.
"Nanti dulu, ibu belum selesai! Kamu tau, pulau Islandunia ada dimana?" tanya bu Sono spontan.
Karisa tersenyum lebar. Karisa mengangguk.
"Di surga! Katanya kalau ke sana berdua, pulangnya jadi bertiga" singkat Karisa.
Bu sono mengerutkan dahi.
"Kabar baik artinya" ucap bu Sono mulai terkekeh sendirian
"Memangnya ada apa?" tanya Karisa spontan.
"Ibu akan menjadi nenek dari keturunan Wijaya kalau begitu" ucap Bu sono mulai berjalan masuk dengan riang.
Karisa melotot.
"Hah?! Ini serius?! mba Dara dan pak Hanry?!" ucap Karisa spontan.
Karisa menghela nafas. Mungkinkah ada yang hal yang sedang pak Hanry rencanakan?