The Secret Of The Sky

The Secret Of The Sky
Tujuh



Selesai bertemu dengan bibi Tomoya yang menjadi penerbit untuk cerita Naya mereka berjalan pulang waktu sudah menunjukkan jam 19.00


"Nay bukannya itu Hyoma?" tanya Tomoya.


Naya melihat Hyoma sedang bersama perempuan baru saja mereka keluar dari caffe perempuan itu menggenggam tangan Hyoma mereka pulang dengan motor yang biasanya Hyoma gunakan sangat jelas perempuan itu sekarang memeluk Hyoma.


"Naya?" ucap Tomoya.


-------------


"Gue gak nyangka dia pergi sama cewek lain padahal gue udah suruh dia buat nemenin gue hari ini." ucap Naya sambil menangis.


"Nay mungkin itu adiknya." ucap Tomoya.


"Dia gak punya adik Hyoma itu tinggal sama gue di rumah gue." ucap Naya.


"Udah Nay bisa jadi kamu salah liat." ucap Tomoya.


"Enggak gak mungkin kalau gue salah liat." ucap Naya yang masih menangis.


Tomoya terdiam dia menarik Naya ke dalam pelukannya Tomoya menenangkan Naya dia mengusap Naya dengan lembut.


"Aku mencintaimu Naya jangan sedih aku disini." ucap Tomoya dalam hatinya.


Mereka melanjutkan jalan pulang mereka tapi tiba-tiba rintikan hujan mulai turun semakin lama semakin deras Naya dan Tomoya berhenti di sebuah halte. Naya merasa kedinginan dia mulai menggigil Tomoya yang melihat Naya kedinginan dia langsung melepas jaket yang dia pakai. Tanpa bicara Tomoya memberikan jaketnya kepada Naya.


"Eh jangan nanti lo yang kedinginan." ucap Naya.


"Ga papa aku udah biasa sama dingin." ucap Tomoya.


"Tapi Tomoya-"


"Di Jepang ada musim salju semua penuh es lebih dingin dari hujan." ucap Tomoya.


Mereka terdiam menatap hujan yang turun dari langit Tomoya menggosok gosok kan kedua tangannya lalu dia menegang tangan Naya. Naya langsung melihat Tomoya dia sedang menggenggam tangan Naya lebih erat sambil menipunya.


"Lo bukan cuman pelangi tapi lo juga matahari." ucap Naya dalam hatinya.


"Tangan kamu dingin banget Nay." ucap Tomoya. Naya tetap terdiam Tomoya masih terus membuat Naya agar tetap hangat.


Cukup lama mereka menunggu hujan reda di halte sampai waktu sudah menunjukkan pukul 20.30


"Nay dari mana kamu?" tanya Hyoma ketika Naya baru saja pulang.


"Naya!" ucap Hyoma karena Naya tidak memperdulikan nya.


Naya masuk ke kamarnya dia langsung mengunci pintu kamarnya Hyoma beberapa kali mengetuk pintu kamar Naya tapi Naya mengacuhkannya.


-


Tringgg.


Naya duduk di kursi taman sekolahnya sambil melihat ke arah langit.


"Karena awan nya itu Hyoma."


Ucapan Tomoya selalu menghantui isi kepala Naya setiap waktu ucapan itu muncul.


Seperti kamu langitku selalu ada ku lihat tapi tak bisa ku raba.


Naya juga sering teringat dengan qoutes yang ada di buku novel dia miliki.


"Woy!" ucap Koki yang membuat Naya terkejut.


"Lo apaan sih buat kaget aja!" ucap Naya sambil memukul Koki.


Koki hanya menertawakan Naya yang terkejut olehnya sampai Naya marah.


"Eh Nay lo harus berhati hati sama orang sekarang." ucap Koki.


"Maksud lo?" tanya Naya.


"Lo mau tau rahasia gak." ucap Koki.


"Rahasia apaan? Rahasia siapa?" tanya Naya.


"Jadi si cowok itu-"


"Hey!" ucap Hyoma yang menghampiri mereka.


Tomoya hanya melihat Naya perempuan yang dia suka dari jauh secara diam dia memendamnya.


"Woy! Liat apa lo." ucap Deva.


"Oh bener kan apa kata gue." ucap Deva kembali.


"Apa sih." ucap Tomoya sambil melangkah pergi.


"Eh! Tomoya tunggu!" ucap Deva.


Bell masuk berbunyi pelajaran di mulai seperti biasa di kelas mereka. Selesai jam pelajan ke 6 bell istirahat berbunyi kembali untuk istirahat yang ke dua.


"Hyoma mana sih." ucap Naya yang mencari pacarnya.


Naya berjalan ke arah koridor di sana dia melihat pacarnya Hyoma yang sedang tertawa bersama perempuan Naya melangkah pergi dari pandangannya.


Brug


Semua murid melihat ke arah Naya yang memukul meja perpustakaan.


"Nay kamu kenapa jangan berisik ini perpustakaan." ucap Tomoya pelan.


"Kesel gue!" ucap Naya.


Tomoya dan Naya pergi keluar perpustakaan mereka berjalan di sepanjang koridor sekolah.


Dred dred


Naya mengangkat telpon yang masuk di hp nya.


"Iya saya Naya kenapa?" tanya Naya dalam telpon.


"......................."


Naya berteriak sangat kencang Tomoya langsung melihat ke aranya.


"Ada apa?" tanya Tomoya.


"Iya iya terimakasih." ucap Naya dalam telpon.


Naya menutup telponnya dia tersenyum kepada Tomoya.


"Kenapa Nay?" tanya Tomoya.


"Tadi bibi lo bilang kalau mereka setuju buat terbitin cerita gue." ucap Naya dengan senang.


"Serius Nay?"


"Iya"


Tomoya langsung memeluk Naya dengan erat begitu juga Naya yang memeluk Tomoya.


"Eh.."


Naya dan Tomoya langsung melepaskan pelukan mereka saling tersenyum malu.


------


"Kamu pulang duluan aja." ucap Naya kepada Hyoma.


"Kenapa?" tanya Hyoma.


"Aku masih ada yang harus di kerjain." ucap Naya.


"Gak gausah." ucap Naya.


Naya dan Deva berada di sebuah caffe tempat biasanya mereka bertemu di sana.


"Lo mau denger kabar baik gak?" tanya Naya.


"Apa?" tanya balik Deva.


"Sebentar lagi cerita gue mau di jadiin buku." ucap Naya.


"Cerita lo yang sama Tomoya?" tanya Deva.


"Iya." ucap Naya sambil menganggukkan kepalanya.


"Wahhhh selamat Nay." ucap Deva sambil memeluk Naya.


Tomoya setiap dia pulang sekolah dia selalu menemui bibi nya akhir-akhir ini untuk membicarakan novel nya.


"Naya itu pacar kamu?" tanya bibi Tomoya.


"Apa? dia bukan pacarku." ucap Tomoya.


"Bukan berarti belum kan." ucap bibi Tomoya dengan nada mengejek.


Naya yang masih menggunakan baju seragam sekolahnya pergi kerumah Tomoya untuk belajar bahasa Jepang seperti biasanya ketika Naya akan mengetuk pintu tiba-tiba......


"Nyari siapa?"


Naya langsung membalikan badannya Tomoya hanya tersenyum melihat Naya yang terkejut.


"Ngapain ke sini? Masih pake baju sekolah lagi." ucap Tomoya.


"Emang kenapa? Gak boleh!" ucap Naya.


"Oke pulang." ucap Naya sambil melangkah pergi dengan cepat tangan Tomoya menahan Naya.


"Cuman bercanda, jangan gitu nanti langitnya turun hujan." ucap Tomoya.


"Tomoyaaaa." ucap Naya sambil memukuli Tomoya.


Tomoya mengajari Naya seperti biasa bahasa Jepang kata per kata jam sudah menunjukkan pukul 20.00 waktunya makan malam tiba.


"Tomoya ini udah terlalu malem gue pulang dulu yah." ucap Naya.


Tiba-tiba ibu Tomoya datang menghampiri Naya dan Tomoya.


"Yu Nay makan dulu dari tadi pasti belum makan, makan bareng di sini aja." ucap ibu Tomoya.


"Engga tante soalnya ini udah terlalu malam jadi saya harus pulang." ucap Naya.


"Udah nanti Tomoya bisa anterin kamu kok." ucap ibu Tomoya.


Akhirnya Naya makan malam bersama keluarga Tomoya, dari tadi Koki dan Hyoma terus menghubungi Naya karena hp Naya lowbat jadi mereka tidak bisa terhubung.


"Tomoya lo itu punya semuanya apa yang langit butuhin semuanya ada di lo."


"Lo bisa jadi matahari, bulan, bintang, hujan, awan, angin, pelangi-"


"Nay?" ucap ibu Tomoya.


"Eh iya." ucap Naya.


"Di makan apa kamu gak suka?" tanya ibu Tomoya.


"Suka tante saya suka kok." ucap Naya.


"Dia suka banget sama Jepang dia sekarang lagi belajar bahasa Jepang." ucap Tomoya.


"Luar biasa." ucap ibu Tomoya.


"Walau dia gak ada yang ngerti." ucap Tomoya pelan.


"Apa lo bilang gue ngerti kok!" ucap Naya.


Tomoya menertawakan Naya karena kelucuan tingkah Naya.


"Sudah sudah Tomoya tidak baik." ucap ibu Tomoya.


"Naya. Dia sepertinya menyukaimu." ucap Tsuyoshi kakak Tomoya.


Naya terdiam sedangkan Tomoya menutupi rasa malunya.