The Secret Of The Sky

The Secret Of The Sky
Tiga



"Duduk." ucap Hyoma sambil melepaskan pelukannya.


Naya dan Hyoma mulai membuka obrolan mereka dengan menceritakan kehidupan mereka saat ini.


"Eh Koki mana gak ikut sama lo?" tanya Naya.


"Gak dia gak ikut kita juga di Jepang beda sekolah udah jarang chat gue sama dia juga." ucap Hyoma.


"Terus lo balik lagi ke Indonesia mau ngapain?" tanya Naya.


"Cuman mau ketemu lo." ucap Hyoma sambil tersenyum Naya menjulurkan lidahnya kepada Hyoma.


"Gue serius, udah lama juga kita gak ketemu." ucap Hyoma.


Sedangkan Tomoya yang sibuk sendiri di kamarnya memikirkan jalur cerita untuk cerita yang Naya buat.


Seperti embun di pagi hari yang datang membawa kesejukan, seperti juga hati yang mendapatkan kelembutan di setiap kejutan tuhan


Tomoya terus merangkai kata untuk jalan cerita Naya.


Hyoma dan Naya menghabiskan waktunya bersama sampai malam tiba mereka memutuskan untuk makan malam bersama.


"Nay, foto in gue dong." ucap Hyoma.


"Mana sini hp lo." ucap Naya.


Hyoma memberikan hpnya kepada Naya.


1


2


3


"Udah nih." ucap Naya sambil memberikan hp Hyoma.


Selesai makan malam di luar Hyoma dan Naya berjalan di sepanjang jalan.


"Gue punya kabar yang cukup mengejutkan buat lo." ucap Hyoma.


"Apa?" tanya Naya.


"Tebak dong." ucap Hyoma.


"Ih apaan." ucap Naya.


"Gue sama Koki mau pindah ke sekolah lo." ucap Hyoma.


"Apa?" ucap Naya yang kaget dengan ucapan Hyoma.


Keesokannya harinya Naya bersekolah seperti biasanya dia belajar di sana.


"Kenapa?" tanya Tomoya yang ada di sebelah Naya.


"Ga papa." jawab Naya.


"Oh iya sudah saya kirim untuk alur cerita yang kamu buat." ucap Tomoya, Naya langsung melihat ke arah Tomoya yang duduk di sampingnya.


"Sungguh aku sudah mengirimnya pada mu kemarin." ucap Tomoya kepada Naya.


"Sudah mending sekarang kita pergi ke perpustakaan saja agar mendapat ide baru untuk menulis." ucap Tomoya.


Naya dan Tomoya pergi ke perpustakaan tapi sebelum mereka sampai di perpustakaan langkah mereka sempat terhenti karena Naya melihat Hyoma yang berjalan ke arahnya.


"Nay?" ucap Tomoya tapi Naya hanya diam.


"Lo mau ke kantin kan?" tanya Hyoma sambil memegang tangan Naya.


"Udah bareng gue aja yuk." ucap Hyoma sambil menarik tangan Naya.


"Eh tunggu, Tomoya ini Hyoma dia kembali lagi ke Indonesia jadi murid baru di sekolah ini." ucap Naya.


Tomoya dan Hyoma terdiam saling menatap.


"Bodoh." ucap Hyoma di dalam hatinya.


"Mengapa ku harus bertemu dengannya." ucap Tomoya di hatinya.


"Udah lah ayo ke kantin gue udah lapar banget nih." ucap Hyoma sambil menarik tangan Naya meninggalkan Tomoya.


Naya tiba-tiba melepaskan tangannya secara kasar dari Hyoma.


"Lo gak ada sopan nya yah jadi orang!" ucap Naya.


"Terus gue harus gimana Naya harus selalu senyum jaga image gue." ucap Hyoma.


"Gue lagi sama temen gue kenapa kelakuan lo kaya gitu Hyoma." ucap Naya.


"Lo gak tau Tomoya itu siapa!" ucap Hyoma.


"Gue pake keceplosan lagi." ucap Hyoma di hatinya.


"Apa yang lo tau dari dia gue yang lebih tau dari lo jangan so tahu deh lo!" ucap Naya.


Naya pergi meninggalkan Hyoma datanglah Koki sambil memakan permen karet.


"Apa yang terjadi?" tanya Koki.


"Sial!" ucap Hyoma dengan kesal.


Naya mencari Tomoya pikiran Naya langsung tertuju ke perpustakaan biasanya Tomoya selalu ada di sana ketika jam istirahat.


Benar saja Tomoya ada di sana dia sedang menulis sesuatu di meja perpustakaan Naya berjalan ke arah Tomoya.


"Tomoya." ucap Naya, Tomoya hanya melihat Naya dalam hitungan detik dan kembali menulis.


"Lo lagi nulis apa?" tanya Naya sambil berusaha melihat apa yang Tomoya tulis.


"Tidak bukan apa-apa." ucap Tomoya dia langsung menutup bukunya.


"Kamu jangan marah ini hanya tulisan biasa." ucap Tomoya.


"Gue gak marah." ucap Naya.


"Kamu berbohong." ucap Tomoya, Naya terdiam memalingkan muka nya.


"Naya." ucap Tomoya sambil memegang tangan Naya yang otomatis membuat Naya melihat ke arahnya.


"Kamu itu seperti langit yah." ucap Tomoya.


"Langitkan gede lo mau bilang gue gendut!" ucap Naya.


"Kamu marah atau sedang kesal itu seperti hujan dan badai ketika kau tersenyum kau seperti pelangi yang indah." ucap Tomoya.


"Hah? Gimana? Gue gak ngerti." ucap Naya.


"Tidak bukan apa-apa." ucap Tomoya sambil berdiri merapihkan bukunya.


"Tomoya ih lo buat gue-"


"Itu hanya untuk kata-kata di cerita mu saja yang aku buat." ucap Tomoya sambil membawa bukunya.


Pulang sekolah Naya langsung pergi ke kamarnya seperti biasa untuk melanjutkan cerita yang dia buat.


Tok


Tok


Tok


"Nay?"


Naya membukakan pintu kamar nya setelah Naya membukakan pintu dia kembali ke meja belajarnya tidak memperdulikan Hyoma yang masuk ke dalam kamarnya.


"Nay, gue minta maaf deh." ucap Hyoma.


"Nay gue serius." ucap Hyoma kembali.


"Gue capek mau tidur." ucap Naya sambil mendorong Hyoma.


Sampai di depan pintu Hyoma menahan pintu kamar Naya sebelum Naya menutupnya.


"Maafin gue dulu." ucap Hyoma.


"Gue udah maafin lo." ucap Naya.


"Gak percaya gue." ucap Hyoma.


"Maafin yang tulus dong yang bener." ucap Hyoma.


"Gue bilang gue udah maafin lo!" ucap Naya.


"Tulus gak." ucap Hyoma.


"Iya tulus." ucap Naya.


"Serius gak?" tanya Hyoma.


"Hyomaaaaa." ucap Naya. Hyoma hanya tersenyum dan mengacak rambut Naya.


-


Keesokan harinya tetap sama menjalankan aktivitas yang sama Naya bersiap-siap pergi ke sekolahnya.


"Pagi Nay." ucap Hyoma.


"Kok lo-"


"Kok gue lupa sih dia sama Koki kan ikut di rumah gue sementara." ucap Naya di hatinya.


"Nay?"


"Eh iya sorry sorry."


Setelah semua selesai Naya mengambil tas dan handphone di kamarnya.


Tomoya


"Selamat pagi Naya cepat bangun kau harus sekolah hari ini."


Naya tersenyum senyum melihat chat yang Tomoya kirimkan kepadanya.


-


Tringgg.


Bell masuk sudah berbunyi Naya duduk di kursinya Tomoya yang baru datang tiba-tiba langsung duduk di sebelah Naya.


"Tomoya awas dong gue mau duduk udah bell nih." ucap Deva teman duduk Naya.


"Kau duduk di kursi ku saja." ucap Tomoya.


"Ga mau lo yang pindah." ucap Deva.


Pak Bani masuk ke dalam kelas Deva dan Tomoya masih memperebutkan kursinya mereka di marahi oleh pak Bani yang akhirnya Deva mengalah dan duduk di kursi Tomoya.


"Oke anak-anak hari ini adalah ulangan fisika siapkan alat tulis kalian." ucap pak Bani.


"Mampus gue!" ucap Naya dalam hatinya.


Ulangan berlangsung dengan tanpa adanya suara dari para murid.


"Nay kenapa?" bisik Tomoya.


"Gue gak belajar." ucap Naya.


Tomoya memperlihatkan jawaban miliknya kepada Naya secara diam-diam.