The Secret Of The Sky

The Secret Of The Sky
Dua



Hari Minggu ini Naya pergi menemui Tomoya di rumahnya karena Naya tidak punya kontak nomor Tomoya di handphone nya terpaksa Naya harus pergi ke rumah Tomoya.


Naya mengetuk pintu rumah Tomoya tak lama seorang laki-laki yang lebih dewasa dari Naya membukakan pintu.


"Saya Naya teman Tomoya, Tomoya ada?" tanya Naya.


"Tomoya seseorang mencarimu."


Tomoya langsung turun dari kamarnya ke pintu utama di rumahnya.


"Eh Naya." ucap Tomoya ketika bertemu Naya.


"Emm gue ganggu lo gak?" tanya Naya.


"Enggak emang kenapa?" tanya balik Tomoya.


"Gue mau lo ngajarin gue bahasa Jepang lagi boleh kan?" ucap Naya.


Tomoya mengajari Naya di rumahnya di sebuah ruangan paling depan di rumahnya.


"Gue gak bisa." ucap Naya.


"Kau bukan tidak bisa kau hanya belum bisa." ucap Tomoya kepada Naya.


Tiba-tiba ibu Tomoya membawakan makanan yang dia simpan di atas meja untuk Naya.


"Silahkan di coba." ucap ibu Tomoya.


"Iya tante makasih." ucap Naya.


Ibu Tomoya hanya tersenyum kemudian dia meninggalkan Naya dan Tomoya.


"Silahkan kamu coba dulu." ucap Tomoya.


"Sekarang?" tanya Naya.


"Iya nanti kita lanjutkan belajarnya." ucap Tomoya sambil merapihkan buku.


Naya mencoba makanan yang sudah di buat ibu Tomoya.


"Itu namanya Taiyaki." ucap Tomoya. Naya menganggukkan kepalanya sambil fokus makan.


"Bagaimana rasanya?" tanya Tomoya.


"Enak gue suka." jawab Naya.


"Eh jam berapa sekarang?" tanya Naya sambil menggigit taiyaki.


"Setengah tiga." jawab Tomoya.


Naya langsung membuka leptop miliknya membuka bagian cerita yang dia sedang buat Tomoya hanya melihat Naya mengetik di laptopnya.


"Yah writer's block." ucap Naya. Tomoya langsung melihat ke layar leptop Naya.


"Kau sedang apa?" tanya Tomoya sambil masih memakan taiyaki.


"Gue nyoba jadi penulis tapi kayanya gue gak ada bakat buat nulis." ucap Naya.


Tomoya melihat tulisan Naya yang sudah di ketiknya, tangan Tomoya meneruskan tulisan Naya.


"Bagaimana kalau begini?" tanya Tomoya.


Naya melihat hasil Tomoya di laptopnya yang Tomoya ketil benar-benar membuat Naya menjadi kembali semangat melanjutkan ceritanya.


Seperti bumi yang butuh panas dari matahari dan hujan dari langit, seperti hati yang butuh seseorang untuk dapat di mengerti dan hati yang dapat di jaga.


Naya langsung melanjutkan ceritanya yang dia buat.


Arsa mengusap air mata Nayla dengan lembut di pipinya.


"Thanks yah." ucap Naya sembil senyum kepada Tomoya.


Tomoya mengangguk dan tersenyum kepada Naya.


Jam 17.00 Naya pulang dari rumah Tomoya, karena jemputan Naya lama Tomoya mengantar Naya dengan sepedah yang dia sering pakai.


Naya naik di bagian belakang sepedah berpegangan kepada bahu Tomoya.


"Gue takut." ucap Naya sambil memejamkan matanya.


"Kenapa harus takut?" tanya Tomoya.


"Gue takut jatuh." ucap Naya sambil mempererat pegangannya.


"Kamu harus bisa membuka mata melawan rasa takut itu." ucap Tomoya.


"Gak gak mau." ucap Naya.


"Saya akan selalu menemanimu jangan takut." ucap Tomoya.


Perlahan Naya membuka matanya walau dia masih takut.


-


"Stop stop!" ucap Naya sambil menepuk nepuk bahu Tomoya.


Naya turun dari sepedah Tomoya tak lupa juga untuk berterima kasih.


"Naya." ucap Tomoya sambil memegang tangan Naya membuat Naya berbalik.


"Saya tidak mau seperti tadi kamu harus pergi ke rumah saya itu sangat jauh jaraknya." ucap Tomoya.


"Ga papa kok, kalau lo aja bisa sebagai orang jepang yang jalan kaki setiap hari gue juga harus bisa." ucap Naya.


"Kita bisa belajar lewat apapun Naya." ucap Tomoya.


"Maksud lo?" tanya Naya.


"Berikan pulpen milikmu." ucap Tomoya.


Naya langsung memberikan pulpennya kepada Tomoya.


"Kau tulis di tanganku nomor telpon mu, nama instagram, twitter, facebook, line, semuanya kau tulis." ucap Tomoya.


Naya menuliskan apa yang Tomoya suruh kepadanya.


"Sudah?" tanya Tomoya.


"Sedikit sekali." ucap Tomoya.


"Terus gue harus tulis apa lagi." ucap Naya.


"Tidak sudah." ucap Tomoya.


"Ih kebiasaan anehnya keluar." ucap Naya dalam hatinya.


"Yasudah kalau begitu saya pulang dulu." ucap Tomoya.


Tomoya langsung membalikkan sepedahnya pergi pulang.


Malam berlalu Naya berdiam di kamar membaca komik jepang kesukaannya.


Tring.


Naya melihat di layar ponselnya ada sebuah notifikasi yang masuk.


"Sudah tidur? Ini aku Tomoya."


Melihat notif dari Tomoya yang masuk ke handphone miliknya Naya langsung membalasnya.


Keesokannya Naya bersekolah seperti biasanya.


"Oke hari ini bapak anak membagikan kelompok secara acak kepada kalian." ucap pak Bani sambil menuliskan pembagian kelompok di papan tulis.


Kelompok 1


-Devina


-Aurel


-Fasya


-Adel


-Raka


Kelompok 2


-Farrel


-Rafly


-Putri


-Amelia


Kelompok 3


-Rahma


-Erica


-Bagas


-Geraldy


-Tiffany


Kelompok 4


-Deva


-Naya


-Kevin


-Erik


-Tomoya


Kelompok 5


-Fazrul


-Nadin


-Chelsea


-Ayu


-Bobby


"Oke bapak sudah membagikan kelompok sekarang kalian bergabung bersama kelompok kalian untuk berdiskusi." ucap pak Bani kepada anak-anak.


Naya segera bergabung dengan kelompoknya.


-


Tringgg.


Bell istirahat berbunyi seperti biasa Naya dan Tomoya pergi ke perpustakaan mencari buku.


Naya dan Tomoya tanpa sadar mengambil buku yang sama sampai tangan mereka bersentuhan, Naya langsung membalikkan dirinya tanpa melepas tangannya.


Tiba-tiba Tomoya melepaskan tangannya yang membuat Naya ikut melepaskan tangannya. Tomoya hanya tersenyum dan mengambil buku tadi.


Mereka melanjutkan membaca buku di perpustakaan sampai bell masuk berbunyi.


Sepulang sekolah jemputan Naya sudah ada di depan sekolahnya Naya langsung masuk ke dalam mobil.


"Pak kok kita berhenti di sini sih?" tanya Naya kepada supirnya.


"Saya cuman di suruh non buat anter non Naya ke sini pas pulang sekolah." ucap supir Naya.


Naya turun dari mobilnya dia masuk ke dalam caffe Naya kebingungan dia melihat sekitar di dalam caffe.


"Naya!"


Naya melihat ke belakangnya terdapat seorang laki-laki yang barusan memanggilnya.


"Hyoma!" ucap Naya yang terkejut melihat Hyoma teman kecilnya kembali ke Indonesia.


Naya segera menghampiri Hyoma, Naya langsung memeluk Hyoma begitu juga dengan Hyoma yang membalas pelukan Naya.