
Tomoya mengantar Naya pulang ke rumah Hyoma tanpa Hyoma tahu.
"Nay aku-"
"Aku capek." ucap Naya.
"Aku juga gak tahu dia kenapa dia cuman-"
"Udahlah aku cape anggap aja tadi itu udah selesai." ucap Naya sambil berjalan ke kamarnya.
Keesokkan harinya Naya seperti biasa membantu Hyoma di kedai usaha ramen miliknya.
"Eh kalau ramen pake pedes level 100 gimana bakal masih enak gak?" tanya Naya.
"Masih kok buat yang suka pedes." jawab Hyoma.
"Kamu mau coba?" tanya Naya.
"Ih buat apa?" tanya Hyoma.
"Kita challenge, siapa yang paling kuat makan pedes." ucap Naya.
Naya menantang Hyoma untuk memakan ramen paling pedas buatan mereka.
1
2
3
Naya dan Hyoma mulai menghabiskan ramen mereka.
"Pedes ih." ucap Naya sambil memakan ramen.
"Serius gak boleh minum." ucap Hyoma.
"Boleh tapi yang minum kalah." ucap Naya.
"Kalau kamu kalah ku ajak aku jalan besok." ucap Naya.
"Kok gitu." ucap Hyoma.
"Iya dong kan kamu kalah." ucap Naya.
"Kalau kamu kalah kamu harus traktir aku makan." ucap Hyoma.
Naya dan Hyoma terus memakan ramen pedas itu sampai mereka berkeringat.
Glek
Glek
Glek
"PEDES!!!" ucap Naya dan Hyoma bersamaan.
Naya dan Hyoma meminum air secara bersamaan karena mereka berdua sama sama kalah akhirnya mereka memutuskan untuk menepati janji mereka kalau kalah.
"Gemes ih." ucap Naya.
Hyoma mencopot kaca mata yang dia gunakan dia pakaikan kepada Naya.
Hyoma dan Naya pergi ke sebuah tempat makan barbeque.
"Nay lebih panas api cemburu atau lebih panas api pemanggang?" tanya Hyoma.
"Apaan sih kaya sinetron aja." jawab Naya.
"Aku masih bisa nahan cemburu, apa lagi pemanggang." ucap Hyoma.
"Panas matahari?" ucap Naya.
"Matahari bukan panas tapi menghangatkan." ucap Hyoma.
Tiba-tiba Naya teringat kembali kepada Tomoya ketika mereka berteduh di sebuah halte.
"Nay?"
"Naya?"
"Eh iya kenapa?" ucap Naya.
Naya dan Hyoma melanjutkan makannya mereka berjalan sampai malam hari mereka baru pulang setelah mengunjungi beberapa tempat.
Jam 22.00
Naya mendapatkan sebuah notifikasi yang masuk ke handphone miliknya.
Tomoya
"Nay, aku mau ajak kamu jalan besok bisa?"
Naya tersenyum membaca pesan dari Tomoya dia segera membalasnya.
"Bisa, emang mau ke mana?"
Naya tersenyum menatap layar ponselnya.
Tomoya
"Aku tunggu nanti jam 10 di taman kemarin nanti juga kamu tahu kita mau kemana."
-
Jam 10.00
Naya menunggu Tomoya di taman kemarin dia bertemu dengannya.
"Nay maaf aku telat." ucap Tomoya.
"Iya gak papa." ucap Naya.
Tempat yang pertama Naya dan Tomoya datangi adalah sebuah gramedia versi Jepang di sana banyak buku-buku.
Naya melihat salah satu buku yang memiliki cover menarik membuat Naya mengambilnya.
"Nay?" ucap Tomoya sambil menghampiri Naya.
Naya menyimpan buku tadi.
"Gimana gramedia versi Jepang." ucap Tomoya.
"yah... Lumayan.." ucap Naya sambil melihat buku.
Selesai dari sana mereka pergi berjalan kaki di jalan.
"Nay, aku mau tanya sama kamu boleh?" tanya Tomoya.
"Boleh, tanya apa?" tanya Naya.
"Kamu masih berhubungan sama Hyoma?" tanya Tomoya.
"Kenapa?" tanya Tomoya.
"Gue akhir akhir ini selalu ada masalah sama dia." jawab Naya.
"Permasalahan tidak selalu berakhir dengan pertengkaran kan." ucap Tomoya sambil duduk di bangku taman.
"Iya, tapi gue gak suka aja kalau dia deket sama cewek lain apa lagi cewek yang suka datang ke kedai." ucap Naya.
"Kamu cemburu?" tanya Tomoya.
"Enggak." ucap Naya.
"Kamu sayang Hyoma." ucap Tomoya.
"Iya... Dia pacar gue." ucap Naya.
Naya pulang kerumah jam delapan dia membawakan Hyoma makanan untuk makan malam.
Naya memeluk Hyoma dari arah belakang .
"Main game terus kamu, udah makan? Aku bawain ini." ucap Naya.
"Aku lagi males masak tadi jadi nungguin kamu pulang." ucap Hyoma sambil mematikan hpnya.
"Nay." ucap Hyoma.
Hyoma mendekatkan wajahnya dengan wajah Naya.
Tringgg
Tringgg
Tringgg
Bell rumah berbunyi Hyoma pergi ke pintu utama di rumahnya membukakan pintu Naya yang penasaran mencoba untuk mengamati siapa yang datang ke rumah.
"Itu kan kakaknya Tomoya!"
Hyoma menutup pintu rumahnya setelah selesai berbicara dengan tamu tadi.
"Nay? Naya?"
Naya langsung pergi menghampiri Hyoma.
"Ini tadi dari tetangga dia ngasih makanan yang dia buat." ucap Hyoma.
"Taiyaki? Kayanya keluarga Tomoya emang suka makanan ini." ucap Naya di hatinya.
Dred dred
Tomoya
"Paket taiyaki sudah kamu terima?"
Naya tersenyum senyum melihat pesan text dari Tomoya.
"Kenapa gak kamu yang nganter."
Naya masih tersenyum melihat layar ponselnya.
Tomoya
"Nanti Hyoma cemburu."
Naya tertawa membaca pesan dari Tomoya.
"Kenapa Nay?" tanya Hyoma.
"Eh kamu tuh orangnya cemburuan yah." ucap Naya.
"Kata siapa." ucap Hyoma.
"Iya bener kan." ucap Naya.
-
Tringgg
Naya terbangun di pagi hari dia segera langsung bersiap-siap untuk membantu Hyoma membuka kedai ramen.
"Selamat datang di kedai kami mau pesan ramen apa?" ucap Naya kepada seorang laki-laki yang menggunakan hoodie hitam di ber topi menutupi matanya.
"Saya hanya ingin berbicara dengan anda." ucap laki-laki itu Naya terdiam melihat laki-laki itu berbicara.
"Duduklah." ucap laki-laki itu kembali.
Naya duduk di kursi depan laki-laki misterius itu.
"Aku inginkan kamu."
Naya terdiam laki-laki itu menaikkan topinya hingga terlihatlah mata coklat miliknya Naya tersenyum karena laki-laki.
"Apa yang kamu inginkan dariku?" ucap Naya sambil tersenyum.
"Naya." ucap Hyoma sambil berjalan ke arah Naya.
"Kok kamu di sini? Siapa dia?" tanya Hyoma.
"Emm dia cuman pembeli karena dia emm.... Pesan lama jadi .... Aku menunggunya saja." ucap Naya.
"Oh ya sudah buatkan pesanannya." ucap Hyoma.
"Oke boss." ucap Naya sambil berdiri lalu hormat kepada Hyoma.
Sehabis dari kedai Naya pergi bersama Tomoya berjalan bersama di sore hari.
"Senja." ucap Tomoya.
"Kenapa emangnya?" tanya Naya.
"Apa senja lebih indah dari pelangi?" tanya Tomoya.
"Sama aja." jawab Naya.
"Tidak itu jelas berbeda, sebelum ada senja ada matahari yang memberi kehangatan tapi setelah matahari pergi dingin pun datang seperti rasa cinta lalu yang tidak bisa di katakan lalu di simpan dalam hati sendiri." ucap Tomoya.
"Setelah hujan ada pelangi, setelah menangis pasti akan bahagia kembali." ucap Tomoya kembali.
"Kamu pilih yang mana?" tanya Tomoya.
"Apa mereka akan tetap ada di langit?" tanya Naya.
"Itu tergantung pada langitnya." ucap Tomoya.
"Apa lo bakal terus sama gue seperti pelangi di dalam bagian langit?" tanya Naya.
"Kamu akan tetap menjadi langitku Nay." ucap Tomoya.