
Hyoma pergi ke rumah Tomoya dengan membawa buku catatan harian mikil Naya.
"Akhirnya kamu pulang." ucap seorang laki-laki tua.
"Dimana dia?" ucap Hyoma.
"Siapa." tanya laki-laki itu.
Tomoya datang kerumahnya dengan muka yang tidak menyenangkan.
"Ini apa!" ucap Hyoma kepada Tomoya.
"Aku pernah melihat ini dulu di sekolah milik Naya kan?" tanya Tomoya.
"Lo tahu apa isinya?" tanya Hyoma dengan nada sangat kesal.
"Memang kenapa ada yang salah?" tanya Tomoya.
"Lo liat sendiri supaya lo gak anggap gue bohong sama lo." ucap Hyoma sambil memberikan buku harian Naya kepada Tomoya.
Tomoya membaca buku harian milik Naya disana Naya menceritakan tentang seorang laki-laki yang berasal dari Jepang mengajarinya belajar bahasa Jepang.
"Gue gak tahu perasaan apa ini yang gue rasain setiap gue ketemu cowok ini, dia baik bantu gue dalam belajar Jepang tapi sayang gue sama dia gak mungkin bisa bersatu dia selalu bilang kalau langit tidak akan selalu dengan pelangi melainkan langit selalu dengan awan dan awan itu bukan dia."
Tomoya terkejut membaca tulisna di buku harian milik Naya, Tomoya tidak tahu kalau Naya sebenarnya juga memiliki perasaan yang sama sepertinya.
"Tapi bukan maksud-" ucap Tomoya.
Hyoma langsung memukul Tomoya dengan kencang hingga membuat Tomoya terjatuh.
"HYOMA!" ucap ayahnya sambil menampar Hyoma.
"Tampar aku lagi." ucap Hyoma kepada ayahnya.
"Tak masalah pukul aku lagi." ucap Hyoma.
"Siksa aku seperti ayah menyiksa ibu." ucap Hyoma yang meninggikan suaranya.
Tiba-tiba ayahnya terjatuh menangis di depan Hyoma.
"Gomen'nasai." ucap ayahnya.
"Terlambat." ucap Hyoma.
"Hyoma sudah.... Jangan seperti itu." ucap Tomoya sambil berusaha bangkit berdiri.
"Lo gak tahu gimana sakitnya gue gak punya siapa siapa yang perduli sama gue!" ucap Hyoma kepada Tomoya.
"Dan sekarang lo mau rebut Naya dari gue! Satu satunya orang yang ngertiin gue! Yang gue sayang!" ucap Hyoma.
"DASAR SAMPAH!" ucap Hyoma.
Hyoma pergi dari rumah Tomoya tetapi Hyoma tidak pergi pulang ke rumahnya dia justru pergi sejauh mungkin Naya semakin panik mencari Hyoma.
Naya mencoba menelpon Tomoya jam 10 malam Naya dan Tomoya masih mencari Hyoma yang sampai saat ini belum mereka temukan.
Hyoma berjalan di pinggir jalan dengan keadaan yang sudah sangat lelah Hyoma tetap berjalan tanpa melihat jalan tiba-tiba sebuah mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi menabrak Hyoma. Hyoma di bawa ke rumah sakit Naya dan Tomoya masih mencari Hyoma sebuah mobil ambulan melintas di depan Naya.
"Gak gak mungkin Hyoma baik baik aja kan." ucap Naya.
"Kamu kenapa Nay Hyoma pasti baik baik aja." ucap Tomoya.
"Gue takut kalau Hyoma-" ucap Naya sambil mulai menangis.
Tomoya memeluk Naya mengusapnya agar Naya bisa lebih tenang.
Pagi datang menyambut hari baru sebuah telpon yang tidak di kenal masuk ke dalam telpon rumah keluarga Tomoya ayahnya yang berada dekat dengan telpon langsung mengangkatnya.
"Apa! Hyoma......." ucap ayahnya yang sangat terkejut.
"Ayah kenapa?" ucap Tsuyoshi sambil menghampi ayahnya.
Naya dan Tomoya tetap mencari Hyoma dari pagi mereka sudah mencari sampai sore mereka belum menemukan Hyoma.
Tringgg tringgg
Naya mengangkat telpon yang masuk ke dalam ponselnya.
"Hallo mah." ucap Naya.
"Nay kamu pulang yang mamah butuh kamu." ucapa mamah Naya di telpon.
"Mamah mohon Naya." ucap mamah Naya.
Naya mematikan telponnya.
"Yuk Nay lanjut nyari." ucap Tomoya sambil memegang tangan Naya.
"Ga, udah gak bisa." ucap Naya.
"Kenapa?" tanya Tomoya.
"Gue mau balik ke Indonesia sekarang." ucap Naya.
"Apa?! Nay Hyoma pasti bisa di temuin." ucap Tomoya tapi Naya menggelengkan kepalanya.
Naya pergi meninggalkan Tomoya ketika Tomoya akan mengejar Naya handphone Tomoya mendapat panggilan masuk.
"Ada apa?"
"Apa!"
Tomoya dengan panik pergi ke sebuah rumah sakit.
Terlihat keadaan Hyoma yang sedang sangat buruk dia koma hingga sulit untuk sadar kan diri.
Besok harinya Naya sudah siap di penerbangan yang kebetulan jam penerbangan dari Jepang ke Indonesia di mulai jam 10.00 Naya terpaksa meninggalkan Jepang dan meninggalkan Hyoma yang masih belum bisa dia temui.
Selesai dari rumah sakit Tomoya pergi menyusul Naya ke bandara Tomoya selalu mengingat kata kata Hyoma sebelum dia pergi ke bandara.
"Dia sepertinya sangat mencintaimu." ucap Hyoma yang tersadar dari koma dia.
"Apa maksudmu." ucap Tomoya.
"Kejar." ucap Hyoma sambil tersenyum kepada Tomoya.
"Sungguh." ucap Tomoya.
"Bawa juga buku harian dia kasian kan kalau nyariin terus." ucap Hyoma.
Sebelum pergi ke bandara Tomoya mengambil terlebih dahulu buku harian milik Naya yang masih ada di rumahnya.
"Naya!"
Naya tiba-tiba terdiam ketika mendengar suara yang memanggilnya suara itu sudah tidak asing lagi di telinga Naya untuk di dengar Naya langsung membalikkan badannya dan Tomoya langsung berlari ke arah Naya.
Tomoya membawa sebuah buku harian milik Naya di tangannya.
"Lo yang bawa buku harian gue!" ucap Naya.
"Enggak Nay bukan cuman aku baca aja ceritanya menarik gimana kalau kita jadiin novel lagi." ucap Tomoya.
"Maksud lo?" ucap Naya.
"Nay, aku suka sama kamu." ucap Tomoya sambil memegang kedua tangan Naya.
"Emm... Ta-tapi aku sama-" ucap Naya.
"Dia tahu kok, kamu gak mau pisah dari dia?" ucap Tomoya.
"Enggak sih bukan gitu tapi kan -"
Tringgg Tringgg
"Apa hai, sugu ni ikimashita. Aku segera pergi ke sana." ucap Tomoya dalam telpon.
"Kenapa?" tanya Naya.
"Hyoma mulai tidak stabil lagi kondisi dia memburuk." ucap Tomoya.
Naya dan Tomoya segera pergi ke rumah sakit keadaan Hyoma memang sangat menurun jauh dari keadaannya saat koma dia benar benar sudah sangat kritis.
Semua berdoa untuk Hyoma dokter dan beberapa perawat juga menolong Hyoma dengan cepat karena ini keadaan sangat parah.
Dokter mulai menggunakan pacu jantung kepada Hyoma beberapa kali dokter itu melakukannya sambil melihat monitor.
Tapi sayang Hyoma tidak bisa di selamatkan dia meninggal semua orang yang ada di sana sangat sedih Naya berusaha masuk ke ruang Hyoma.
Tapi dokter dan perawat menahan Naya agar tidak bisa masuk ke ruangan Hyoma. Naya sangat sedih dia melihat Hyoma untuk yang terakhir kalinya.