
***
Alvin dan Kevin menatap Raymond serius, mungkin Alvin memang playboy tetapi dirinya tidak pernah menghamili anak orang, sedangkan Raymond yang jelas hanya satu kali berpacaran sudah menghamili anak orang.
“Good game” celetuk Kevin, yang berhasil mendapat tatapan tajam dari Alvin.
“Kau ini, pacaran hanya satu kali sekarang sudah menghamili anak orang, jika tidak bisa bermain dengan baik dan rapih tidak usah melakukan itu, apa kau mengerti?” oceh Alvin seakan-akan dirinya menjadi orang tua yang sedang memarahi anaknya.
“Oh c’mon brother, jika kau berada diposisi seperti aku, kau pasti tidak bisa menahannya, ayolah kita bicara dari hati ke hati tidak usah kau memarahiku” ucap Raymond, dengan memasang muka memelas kepada Alvin, karena Raymond tau Alvin sangatlah lebih berpengalaman tentang hal itu daripada Raymond.
“Kau tinggalkan saja wanita itu, tidak usah memikirkannya” celetuk Kevin, kini berhasil mendapat tatapan tajam dari Alvin dan Raymond.
“Pohon belakang villa sepertinya ada tali yang menggantung, apa kau sudah bosan hidup?” ucap Alvin, mulai geram dengan Kevin si tukang molor.
“Kevin cobalah untuk serius, kakakmu ini sedang dalam kesulitan”
“Kak Raymond, cobalah sedikit berpikir apakah itu seperti azab untuk orang yang suka meneriaki adik adiknya setiap pagi?” ucap Kevin, bibirnya tersenyum dan kakinya ia langkahkan secepat mungkin sebelum Alvin benar-benar menggantungnya di pohon belakang Villa.
Raymond dan Kevin hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Kevin yang sangat seperti anak kecil, akibat dimanja oleh Alvaro.
“Tapi, sejujurnya wanitaku belum mengatakan jika dia sedang hamil” ungkap Raymond.
“Apa kau bilang? kau ini memikirkan sesuatu yang tidak pasti itu sangat tidak berfaedah, mengapa kau memikirkan sesuatu yang belum pasti?” ucap Alvin.
“Tapi, tadi aku bertemu dengan dia di rumah sakit” ucap Raymond.
“Aku punya ide, bagaimana jika kau besok membawa dia ke Villa ini? nanti setelah dia ada di Villa ini, kita buatkan minuman yang sudah kita campuri dengan obat buang air kecil, setelah itu kau pinjamkan kamar mandi mu, dan kita harus merusak apapun yang bisa menyalurkan air ke kamar mandi mu, untuk membersihkan dirinya, kita siapkan saja tissue” jelas Alvin merancang rencana dengan begitu yakin.
“Kau serius? bagus sekali aku bisa pergi ke club dan menyewa beberapa wanita, apa aku juga diperbolehkan untuk pulang malam?” tanya Alvin dengan penuh harap.
“Coba saja, berani kau pulang malam aku akan mengadu pada bibi agar kau tidak usah diberi kekuasaan atas harta keluargamu, kau berani?” acam Raymond dengan tatapan penuh arti, jelas tatapan mengejek adiknya.
“Kau ini kejam sekali” ucap Alvin, yang tidak didengar oleh Raymond lebih tepatnya Raymond lebih memilih untuk pergi ke kamarnya, Alvin yang sudah terbiasa dengan sikap Raymond hanya menghela nafas karena Raymond selalu datang padanya ketika memang membutuhkan bantuan dirinya.
***
Raymond selesai membersihkan dirinya, kini dia sibuk dengan beberapa dokumen di tangannya, begitupun dengan Laptop yang sedang digunakan untuk bekerja, Raymond memang sosok yang pekerja keras meskipun kini dia sudah menjadi konglomerat no 1, menurutnya itu kurang untuk melawan ayahnya yang sudah menelantarkannya, yang membuatnya menderita bahkan hanya untuk makan pun Raymond harus mencari dari sisa sisa makanan orang, tetapi kini dia menjadi orang yang sangat terpandang.
Setelah semalaman bergelut dengan pekerjaannya, Raymond memilih untuk menenangkan pikirannya dengan sebatang rokok dan menikmati keindahan di sekeliling Villa nya, Raymond terbiasa merokok bukan karena keinginannya, karena keadaan yang memaksa dirinya.Orang lain mengetahui Raymond itu lelaki yang hebat beruntung karena bergelimang harta tetapi sebenarnya bukan itu yang dirasakan Raymond, sepeninggalan bundanya, Raymond selalu merasa kehilangan karena Raymond selalu dihantui rasa bersalah ketika dirinya tidak bisa membantu bundanya, Raymond merasa gagal menjadi seorang anak untuk seorang single mom yang sudah membesarkannya.
“Meskipun Alvin, Alvaro, dan Kevin selalu membuatku kesal karena tingkah kekanakan mereka tetapi aku sangat beruntung bertemu dengan mereka, karena mereka hidupku kembali berarti dan aku mendapat keluarga berkali lipat dari yang aku bayangkan, memang tuhan selalu tau apa yang terbaik untuk hambanya, aku tidak tau apa yang akan terjadi jika mereka meninggalkanku” gumam Raymond lirih berbicara denga dirinya sendiri.
Alvin, dan Kevin yang berniat akan bermain PS di ruang keluarga, sontak bersembunyi mendengarkan apa yang sedang dibicarakan ole Raymond, Alvin dan Kevin sangat terharu atas apa yang diucapkan Raymond,.
“Aku tidak menyangka ternyata lelaki yang selama ini selalu meneriaki kita setiap pagi sangat menyayangi kita, aku sangat merasa bersalah” ucap Kevin, cairan putih berhasil lolos dari mata indah Kevin.
“Kau menangis? ya aku pikir kau memang pantas menangis karena kau sudah sangat menguji kesabaran kak Raymond, sudahlah ayo kita berbagi tempat tidur ini sudah malam kita tidak usah mengganggu Raymod sepertinya dia sangat butuh waktu untuk sendiri” ajak Alvin kepada Kevin, dengan cepat Kevin menuruti perkataan Alvin, mereka berdua memang satu kesatuan yang selalu kompak, meskipun Alvin lebih muda dari Kevin tetapi Alvin lah yang jadi panutan Kevin entah apa yang dilihat dari diri Alvin.
***
Please jangan lupa Vote & Comment, dukung author ya supaya author gaakan pernah libur update heheheh.
TERIMAKASIH