
***
“Hallo! kalian jam segini kenapa belum siap berangkat kerja, yang satu main game, yang satu masih memakai pakaian tidur pink yaampun aku sudah seperti mempunyai anak 5 tidak?" kata Raymond melangkahkan kaki, melewati satu demi satu anak tangga Villa mewah miliknya, dengan jas hitam ditangan kanannya.
"Kak lebih baik kita pergi gendang telingaku akan cepat rusak jika mendengar ocehan kakak tua itu, apa kau akan pergi denganku kak?" kata Alvin berbisik kepada Alvaro yang tak lain adalah kakaknya sendiri.
"Kau saja sana pergi" ketus Alvaro, Alvin tidak marah ketika Alvaro menjawab pertanyaannya dengan ketus karena Alvin tau benar dengan sikap Alvaro, begitupun dengan yang lainnya sudah menganggap kejutekan Alvaro itu hal biasa, mereka sering kali memilih diam ketika Alvaro sudah berbicara dengan ketus, namun pada dasarnya Alvaro adalah lelaki baik hati.
"Bisik bisik ko kedengaran sampai sini dasar bocah, ini yang satu lagi mana? Kenapa tidak keliatan batang hidungnya?" kata Raymond lagi lagi mengomeli Alvin, Alvaro, dan Kevin jelas Raymond peduli karena mereka sudah seperti keluarga.
"MASIH NGEBO DI KANDANG" teriak Alvin dan Alvaro dengan kompak , kemudian berlalu pergi meninggalkan Raymond.
Raymond tersenyum ketika Alvaro meneriaki dirinya, karena tingkah dia yang jarang sekali berinteraksi, membuat Raymond sangat senang ketika dimarahi/ diteriaki oleh Alvaro, sangat bertolak belakang memang dengan adiknya, namun ketika mereka kompak seperti tadi merek sangatlah mirip dengan film kartun upin&ipin.
"KEVIN!!!!!!!!!" teriak Raymond dari ruang tamu villa, tangannya berkutik dengan cepat membuat satu teh hangat untuk dirinya, Kevin sebagai yang termuda kedua memang sangatlah tengil seperti Alvin, bukan hanya tengil, tetapi dia juga TUMOR, tukang molor.
"Susah yah kalo tinggal di hutan, yang bangunin aja Tarzan" ucap Kevin keluar dari kamarnya, sama seperti Alvaro yang masih setia mengenakan pakaian tidurnya, teriakan Raymond adalah yang paling ampuh untuk membangunkan mereka.
"Apa kau bilang? Tarzan?, kau pintar sekali kau memang benar aku Tarzan dan kalian para Gorila nya!" kata Raymond tersenyum memperlihatkan deretan gigi putih miliknya, menikmati secangkir teh yang tadi dibuat oleh dirinya sendiri.
"Jelas salah, karena Gorila itu sama seperti Tarzan yang hobby nya berteriak setiap pagi" celetuk Kevin setelahnya pergi berlalu meninggalkan Raymond, sebelum Raymond bereaksi karena ucapan Kevin.
"Masa cogan ditinggal terus si, pokonya jam 9 sudah harus siap pakai pakaian kerja!" lagi lagi Raymond berteriak.
***
"Lexa!!!" teriak Olivia berlari memeluk Lexa.
"Apa kau tidak pergi bekerja?" tanya Lexa.
"Ini mau siap siap kerja, Lexa selama aku bekerja kau baik baik dirumah, makan yang banyak karena kau terlihat sangat pucat" kata Olivia mengambil jas, dan tasnya.
"Tenang aja kali aku bukan anak TK lagi hahah" kata Lexa santai.
Lexa, aku pergi dulu" teriak Olivia berlari meninggalkan Lexa.
Lexa yang sedari tadi berdiri diambang pintu kini melangkah berniat untuk duduk di sopa rumah milik Olivia yang kini milik dirinya juga, namun belum sempat ia duduk, perutnya berputar seperti ingin mengeluarkan isi seluruh didalamnya..
Hoek!!!Hoek!!!
"Mengapa rasanya sangatlah mual, apa hamil pertama seperti ini" batin Lexa
***
"Dok, apa yang terjadi sama saya?" tanya Letta kepada dokter yang memeriksanya, berharap Lexa baik-baik saja.
"Kamu hanya kurang makan, dan terlalu banyak pikiran" jelas dokter dengan senyum yang terukir di bibirnya.
"Dok, apakah muntah setiap hari itu, tidak apa" tanya Lexa meyakinkan.
"Tidak apa, makanlah makanan yang bergizi agar bayi kamu sehat, dan pada saatnya nanti kamu tidak akan muntah terlalu sering lagi" jelas dokter dengan yakin.
"Baik dok, saya sudah mengerti, saya pamit dulu" kata Lexa berlalu pergi meninggalkan ruangan dokter yang memeriksa dirinya.
Dokter itu dokter termahal dan dokter internasional, namanya dokter Jeanette
"Aku memang tidak menginginkan kehamilan ini, tetapi kau sudah hadir diperutku maka aku akan menjagamu semampuku, kau tau sayang, bunda sangat menyayangimu meskipun kau belum lahir ke dunia ini" batin Lexa melamun memikirkan janin yang ada di perutnya dan kelanjutan penyelidikan yang merupakan tugas dari ayah dan bundanya.
Brukkk!!!!
"Aduh! jalan pakai mata dong sakit sekali, tubuh kamu sudah seperti batu beton saja, sangatlah keras" kata Lexa menggerutu.
"Kau yang melamun saat berjalan, mengapa aku yang dimarahi?" kata Raymond.
Lexa sontak Mengangkat wajahnya melihat pemilik suara beriton itu.
"Kau? Apa yang kau lakukan disini?" kata Raymond penasaran dengan apa yang Lexa lakukan dirumah sakit miliknya.
"Kau salah! karena aku tidak sedang melamun, aku disini sedang menjenguk temanku, apa kau membuntutiku? " jelas Lexa membohongi Raymond.
"Apa dia bener-benar mau menjenguk temannya, takutnya dia sedang memeriksa kehamilannya " batin Raymond mata hitam pekat miliknya menatap mata Lexa, mencari kebenaran yang mungkin bisa meyakinkan dirinya.
Jantung Lexa berdegup sangat kenjang, Lexa yakin itu bukan karena dirinya menyimpan perasaan pada lelaki itu melainkan Lexa sangat takut jika Raymond mengetahui, dirinya sedang mengandung anak lelaki yang kini berdiri dihadapannya.
***
Please Vote & Comment
thankyouuuuuuu