
***
Raymond pergi meninggalkan Villa, mengendarai Lamborghini hitam nya dengan cepat, emosi nya kini tidak bisa tertahan, yang biasanya dia selalu menahan emosi didepan adik-adiknya tetapi kini Raymond sudah benar-benar lelah mengurusi semuanya, tanpa sadar Raymond menangis disepanjang jalan, dia terlalu mengerutuki nasibnya, kebahagiaan selalu menghindar pada dirinya, setelah apa yang dia lakukan, dia selalu membuat orang disekitarnya untuk tetap merasa nyaman jika bersama Raymond, tetapi mengapa kebahagiaan selalu menghindarinya, itu yang kini ada di benak Raymond.
“Aku sungguh tidak mengerti lagi apa yang harus aku lakukan untuk membuat kalian sadar, kekuasaan memang bukan segalanya tetapi dengan kekuasaan orang memandang kita, tidak semua orang tulus dengan keadaan kita, tetapi mengapa sekarang kalian lupa akan apa yang sudah kita jalanin, bahkan aku harus kehilangan bunda” batin Raymond, tangannya menyeka sisa-sisa air matanya.
Raymond berhenti di club mewah milik dirinya, wanita-wanita cantik mulai mengerumuni Raymond di VIP CLASS ROOM, Raymond menyandarkan kepala nya diujung sopa, dan 3 wanita memulai aksinya, bahkan Raymond hanya terdiam pasrah, pikirannya benar-benar kabur.
“Lakukan apa yang membuatku senang dan melupakan semua beban pikiranku, jika berhasil aku akan memberikan kalian TITANIUM CARD” ucap Raymond yang dengan cepat membuat 3 wanita club tersenyum bahagia.
Didunia ini hanya ada 10 Titanium Card, dan 8 Golden Card, Raymond memilii 5 Titanium Card dan 2 Golden Card, Alvin, Kevin, dan Alvaro masing-masing memiliki 1 Titanuim Card dan 1 Golden Card untuk pemilik sisanya, sedang diselidiki pemiliknya, pasalnya isi 1 Titanium Card maximal 50triliun dan maximal Golden Card 200Triliun.
***
Alvin, dan Kevin sangat merasa bersalah kini mereka masih terduduk di ruang keluarga, mereka seakan-akan membeku karena ucapan Raymond selama ini mereka tidak pernah melihat Raymond semarah itu bahkan mengancam akan mengambil kembali perusahaan Varo dan Jason, selama ini mereka sangat diperbudak dengan kemalasan, bahkan tatapan Kevin kosong, Kevin memang paling lemah jika sudah dimarahi oleh Raymond belum lagi Alvaro yang sejak Raymond pergi sudah menatap Alvin dan Kevin, tatapan yang sangat sulit diartikan.
"Aku harus melakukan sesuatu, untuk meminta maaf pada kak Raymond, tetapi mengandalkan Kevin tidak memungkinkan" batin Alvin. "Lexa, aku sungguh minta maaf karena aku sudah menculikmu dan membuatmu mengandung anak Raymond, tapi sungguh aku tidak pernah ingin melakukan itu, aku melakukannya karena perintah dari kak Raymond, mengertilah dan maafkan aku, karena aku tidak pernah bisa dan tidak akan pernah bisa menolak perintah dari kak Raymond’ jelas Alvin dengan nada memelas, mungkin itu karena ucapan Raymond yang membuat Alvin dan Kevin 100% menyesali semuanya.
“Aku sudah memaafkanmu, dan aku mengerti kau tidak perlu berbaik hati seperti itu, cepat katakan apa yang kau mau” ucap Lexa yang menyadari perubahan sikap Alvin, Raymond benar hanya beberapa jam mengenal mereka, aku sudah mengerti kebiasaan mereka, mungkin karena mereka tidak bisa berbohong sehingga sangat mudah untuk menebaknya sangat berbeda dengan Alvaro yang sangat dingin dan tertutup.
“Lexa, kami sangat membutuhkan bantuanmu tolog bantu kita, hanya kamu yang dapat membuat kak Raymod kembali tenang” ucap Kevin.
“Tapi bagaimana caranya? aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan” ucap Lexa dengan polosnya, tangannya memegang sendwich yang baru saja ia buat, saat suasana memang menurutnya benar-benar tidak nyaman, ketika Kevin, Alvin, dan Alvaro saling diam disitula Lexa memilih untuk pergi dan membuat makanan.
“Biasanya kak Raymond ketika marah akan pergi ke club, kami akan mengantar kamu ke club untuk membujuk kak Raymond, tapi kami hanya akan menunggu kamu diluar kami takut kak Raymond akan memarahi kami lebih dari yang tadi terjadi” jelas Alvin, mereka berdua berusaha keras untuk membujuk Lexa, sementara Lexa hanya menikmati sendwich nya, semenjak Lexa hamil dia seakan-akan berubah kembali seperti anak kecil, sering memakan ice cream, bahkan makan banyak dalam sehari.
“Aku akan bantu kalian, tetapi kalian harus membelikanku makanan yang banyak ketika pulang nanti”
“Deal!!!” ucap Kelvin, dan Alvin bersamaan kecuali Alvaro yang hanya diam karena menurutnya posisi dia aman, jelas aman karena Alvaro yang selalu membantu Raymond, hanya saja Alvaro ikut dimarahi atas nama perusahaan Varo.
Alvin, Kevin, dan Lexa kini pergi untuk menemui Raymond di club, mereka bertiga seakan-akan sudah saling mengenal lama, karena terlihat jelas seperti keluarga yang sedang berbahagia, mereka tertawa sesekali karena tingkah Lexa yang menurut Alvin dan Kevin sangat menggemaskan bahkan lebih menggemaskan dari seorang bayi.
“Aku tidak menyangka ternyata Lexa sangat menyenangkan dan menggemaskan” goda Kevin yang berhasil mendapat pukulan kecil dari Lexa, Alvin yang kembali menertawai Kevin.
“Kevin, berhenti menggoda Lexa atau aku akan melaporkanmu agar perusahaan Varo benar-benar gulung tikar, hahah” kini Alvin yang menggoda Kevin.
“Lexa, sudah sampai cepat bujuk Raymond kumohon lakukanlah yang terbaik, kami akan menunggu kamu disini” ucap Alvin tersenyum.
“Baiklah aku akan berusaha untuk kalian” ucap Lexa, membuka pintu mobil dan masuk ke club.
“Bagaimana aku mencari Raymond, club ini sangat mewah dan luas, mengapa aku mempersulit diriku, Olivia bilang Raymond pewaris perusahaan ternama, pasti banyak yang mengenalinya”, ini kali pertamanya Lexa masuk club dengan sukarela sungguh menjijikan pikirnya, “Mba apakah mba mengenal lelaki yang bernama Ray?” tanya Lexa pada salah satu pelayan club.
“Ray? maaf mba tapi saya tidak pernah mendengar nama itu”
“Maksud saya Raymond mba, pasti mba mengenalnya kan? Jika mba mengenalnya beritahu saya dimana dia sekarang” ucap Lexa.
“Kalo Raymond saya kenal mba, dia kan pemilik club ini, dia ada di VIP CLASS ROOM, lantai 2 ruangan itu khusus untuk pak Bill”.
“baik mba terimakasih” ucap Lexa, kini berjalan menaiki satu persatu anak tangga.
“Ternyata club ini milik Raymond, pantas saja Villa Raymond sangat mewah” batin Lexa.
Ceklek!!!
Lexa dibuat diam saat memasuki VIP CLASS ROOM, melihat Raymond yang kini sedang dimanja oleh 3 perempuan, bahkan Raymond tidak mempermasalahkannya sedikitpun, Lexa terdiam kaku di ambang pintu, Raymond dengan cepat membereskan pakaiannya, dan ingin menghampiri Lexa, tetapi belum sempat Raymod menghampirinya, Lexa sudah pergi meninggalkan club itu, Lexa berlari sekuat tenaga nya, bahkan dia tidak memperdulikan bayi yang sedang ada diperutnya.
“Alvin, Kevin cepat pergi dari sini” teriak Lexa.
“Tapi kenapa kau menangis?”
“CEPAT PERGI SEKARANG!!!” bentak Lexa pada Alvin.
“Buset ga cewe, ga cowo suka banget marahin orang” ucap Kevin, kaget dengan perubahan sikap Lexa.
“Sebenarnya apa yang terjadi” tanya Alvin, sebenarnya Alvin sudah tau apa yang membuat Lexa menangis, tetapi Alvin mencoba meyakinkannya, karena Alvin berpikir Raymond tidak akan bermain-main lagi setelah mendapatkan Lexa, apalagi Lexa sedang mengandung anak Raymond.
“Tidak terjadi apa-apa, antarkan aku ke Apartemen onenight, aku akan menemui adik-adikku” ucap Lexa singkat.
***